Monday , October 15 2018
Home / Agama / Kajian / Sejarah Masuk dan Berkembangnya Tarekat Sammaniyah di Palembang

Sejarah Masuk dan Berkembangnya Tarekat Sammaniyah di Palembang

Pada masa-masa awal penyebaran tarekat Sammaniyah di Palembang tidak terlepas dari adanya peranan keraton Kesultanan Palembang Darussalam. Hal ini dapat dilihat dari berbagai sumber tertulis yang ada mengenai hal tersebut. Hubungan antara keraton Palembang dan tarekat Sammaniyah dimulai dengan hubungan beberapa ulama Palembang yang pergi ke Mekkah untuk menuntut ilmu di sana diantaranya Shaykh Muhammad ‘Aqib Ibn Kgs. Hasan al-Din (1736-1818) dan berkenalan dengan salah seorang ulama Palembang yang terkenal yaitu Shaykh ‘Abd al-Samad al-Jawi al-Falimbani.

Setelah menimba ilmu di Mekkah, Shaykh Muhammad ‘Aqib Ibn Kgs. Hasan al-Din pulang kembali ke Palembang dan menetap di kampung penghulon, di belakang masjid Agung yang langsung berdekatan dengan keraton. Pemilihan tempat yang strategis ini sebenarnya amat menarik untuk disimak. Bagaimana sebenarnya hubungan antara tarekat Sammaniyah dan istana pada zaman kesultanan ?

Ada beberapa petunjuk yang membenarkan pandangan adanya hubungan erat antara sultan Palembang dan tarekat ini. Peeters[1] menyebutkan bahwa ada dua petunjuk yang menandakan penyebaran tarekat Sammaniyah di Palembang dan mendapatkan perhatian yang sangat istimewa dari Sultan Palembang, antara lain pertama dijumpai dalam versi Palembang Hikayat Shekh Muhammad Saman. Di dalamnya disebutkan bahwa sebuah zawiah tarekat Sammaniyah yang didirikan di Jeddah oleh Sultan Mahmud Baha’uddin sebagai wakafnya pada tahun 1776 dengan menggunakan pemberian mulia 500 real[2].

Jeddah merupakan pelabuhan terpenting untuk jemaah haji dalam perjalanan ke Mekkah, zawiyah ini sekaligus berfungsi sebagai penginapan jemaah dari Palembang dalam perjalanan mereka menuju kota suci. Kedua, hubungan antara keraton dan Sammaniyah dijumpai dalam bentuk naskah yang berasal dari keraton Palembang. Dalam terjemahan bahasa Melayu Bahr al-Ajaib di dalamnya disebutkan nama pengarangnya yaitu Kemas Muhammad Ibn Kemas Ahmad yang menulis naskah ini atas perintah Sultan Mahmud Badaluddin. Yang juga menulis naskah tentang Hikayat Kramat Shekh Muhammad Samman.

Sedangkan Bruinessen[3] menyatakan bahwa dalam syair Perang Menteng, yang melaporkan konfrontasi pertama dengan orang Belanda pada tahun 1818. Di dalamnya disebutkan bahwa atas perintah Sultan Mahmud Badaruddin, para haji melakukan ratib di luar dinding keraton, suatu perbuatan saleh yang disponsori Sultan. Besar kemungkinan ratib yang dimaksud disini ialah ratib Samman, suatu uraian religius yang terdiri dari sejumlah bacaan antara lain shahadah, ayat-ayat qur’an dan berbagai latihan dhikir yang semuanya disertai gerak dan sikap yang khas untuk tarekat ini.

Dari data ini dapat disimpulkan bahwa para sultan Palembang mempunyai peranan penting sebagai pelindung Sammaniyah. Runtuhnya keraton pada tahun 1821, mengakhiri pula hubungan erat antara negara dan agama. Akan tetapi, runtuhnya kesultanan bukan berarti bubarnya Sammaniyah. Untuk ningrat Palembang, tarekat ini justru menjadi kerangka alternatif pengganti masyarakat keraton. Fungsi sosial sesudah 1821 terutama dikembangkan oleh Panembahan Bupati, saudara lelaki Sultan Mahmud Badaruddin dan Sunan Ahmad Nadjamuddin II, yang diizinkan tinggal di Palembang.

Melalui Shaykh Muhammad ‘Aqib Ibn Kgs. Hasan al-Din inilah hubungan keraton Palembang dan tarekat Sammaniyah terus terjalin melalui jalinan kerjasama dengan Panembahan Bupati dan Sunan Ahmad Nadjamuddin II yang bertindak selaku pelindung Agama. Terlepas dari keterlibatannya dalam bidang politik dan hubungannya yang erat dengan mantan pembesar keraton, Shaykh Ki Agus Muhammad ‘Aqib adalah ulama dan guru tarekat Sammaniyah yang disegani masyarakat. Di dalam laporan Belanda tahun 1834 M disebutkan bahwa dia adalah guru agama (di bidang hukum Islam) dengan jumlah murid terbesar di Palembang. Kemudian pada tahun 1840-an namanya muncul lagi ketika perayaan agama yang dibiayai oleh Panembahan Bupati sehingga menimbulkan kecurigaan Belanda yang melihat ritual ini hanya sebagai kedok bagi pada pengikut panembahan agar dapat berkumpul di halaman pelindung politik mereka[4].

Keberhasilan tarekat Sammaniyah mewarnai kehidupan masyarakat Palembang mendapat reaksi dari beberapa pihak. Reaksi ini memberi akibat yang efektif untuk kemunduran tarekat ini[5]. Dimana menurut Bruinessen[6], ada dua faktor yang turut menyebabkan kemunduran tarekat Sammaniyah di Palembang, pertama berkembangnya modernisme Islam dari satu sisi dan kedua  kecurigaan pihak keamanan di sisi lain.  Kedua-duanya mewarnai kehidupan masyarakat Palembang. Amalannya juga dipakai di luar lingkungan pengikut tarekat, antara lain demi tujuan kebebasan dan kesaktian, sehingga pernah berperan dalam perjuangan anti penjajah. Meski tentu saja amalan serupa diterapkan pula oleh kalangan penjahat biasa dan kenyataan inilah yang belakangan menimbulkan kecurigaan terhadap tarekat ini.

Gambaran di atas menjelaskan mengenai adanya hubungan yang sangat erat antara keraton Palembang dan tarekat Sammaniyah pada zaman dulu dan pendapat Bruinessen yang mengatakan bahwa tarekat Sammaniyah di Palembang mengadami kemunduran. Pertanyaannya yang kemudian bisa diajukan kembali, bagaimana sebenarnya hubungan antara keraton Palembang dan tarekat Sammaniyah pada masa sekadang ini dan bagaimana eksistensi komunitas tarekat Sammaniyah itu sendiri di Palembang?

Dalam kesempatan kali ini, penulis membantah pendapat Bruinessen bahwa tarekat Sammniyah di Palembang mengalami kemunduran karena faktor-faktor yang dikemukakannya di atas tadi. Berdasarkan hasil penelusuran dan penelitian yang telah penulis lakukan terkait eksistensi komunitas tarekat Sammaniyah di Palembang itu sendiri sampai saat ini masih terus tumbuh subur dan memiliki pengikut yang jumlahnya sangat signifikan. Hal ini juga didukung dengan hasil penelitian Zulkifli[7] yang menyatakan bahwa komunitas tarekat Sammaniyah di Palembang memang tidak memiliki struktur organisasi secara formal, tetapi secara informal dan spiritual masing-masing komunitas tersebut menjalankan ajaran dan ritual tarekat sesuai tingkatan-tingkatannya.

Hal ini juga ditandai dengan digunakannya naskah al-‘Urwah al-wuthqá karya Shaykh ‘Abd al-Samad sebagai pedoman yang sangat penting bagi komunitas tarekat Sammaniyah di Palembang dalam melaksanakan dhikir, wirid dan pembacaan ratib Samman yang terus dilestarikan oleh para khalifah, guru atau murshid tarekat Sammaniyah yang diikuti oleh para salik, murid dan pengikuti komunitas tarekat tersebut hingga dewasa ini.

Di Palembang sendiri, ada beberapa tempat yang menjadi basis dari komunitas tarekat Sammaniyah itu sendiri, antara lain di Masjid Agung Palembang. Di Masjid Agung ini, masjid ini merupakan peninggalan bersejarah dari kesultanan Palembang yaitu Sultan Mahmud Badaruddin II yang bertempat di jantung ibu kota Palembang, komunitas tarekat Sammaniyah cukup banyak. Pelaksanaan ajaran tarekat Sammaniyah berupa pembacaan ratib Samman masih dilestarikan oleh seorang khalifah tarekat Sammaniyah Palembang yang sangat terkenal yaitu KH. Zen Syukri.

KH. Zen Syukri mendapatkan ijazah tarekat Sammaniyah dari ayahnya sendiri yaitu Hasan Ibn ‘Abd al-Shukur dan masih sempat menimba ilmu dengan kakeknya yaitu Shaykh Muhammad Azhari Ibn ‘Abd Allah al-Jawi al-Falimbani. Melalui KH. Zen Syukri inilah, komunitas tarekat Sammaniyah di Palembang mengalami kemajuan yang cukup pesat, beliau memiliki kelompok pengajian yang bernama Majelis Ta’lim Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang tersebar di sejumlah masjid di Palembang.

Selain KH. Zen Syukri, ada salah seorang zuriat atau keturunan ke 7 dari Shaykh ‘Abd al-Samad al-Jawi al-Falimbani yang turut serta dalam menyebarkan dan mengembangkan ajaran tarekat Sammaniyah dan memimpin pelaksanaan peribadatan komunitas tarekat Sammaniyah di Masjid Agung Palembang, yaitu Kms. H. Andi Syarifuddin. Dia memperoleh ijazah tarekat Sammaniyah dari ayahnya Kms . H. Ibrahim Umari Ibn Ki. Kms. H. ‘Umar.

Melalui kedua tokoh inilah, pelaksanaan peribadatan tarekat Sammaniyah di Masjid Agung Palembang dilaksanakan setiap hari Selasa pagi sekitar jam 7.00 sampai dengan selesai yang dipimpin langsung oleh KH. Zen Syukri dan hari Rabu malam sekitar jam 8.00 setelah salat ‘isha sampai dengan selesai yang dipimpin langsung oleh Kms. H. Andi Syarifuddin

Berdasarkan data yang penulis peroleh bahwa penyebaran tarekat Sammaniyah di Palembang pertama kali dilakukan oleh Shaykh ‘Abd al-Samad al-Jawi al-Falimbani yang memperoleh ijazah tarekat langsung dari Shaykh Muhammad al-Samman al-Madani, selain Shaykh ‘Abd al-Samad ada dua orang murid dari Shaykh Muhammad al-Samman al-Madani yang juga memiliki andil dalam penyebaran tarekat Sammaniyah di Palembang, yaitu Shaykh Kemas Ahmad Ibn ‘Abd Allah al-Falimbani (1735-1800) dan Shaykh Muhammad Muhyi al-Din Ibn Shihab al-Din. Sebenarnya ada satu orang lagi murid dari Shaykh Muhammad al-Samman al-Madani yaitu Sultan Muhammad Bahau al-Din (1728-1804), akan tetapi Sultan Muhammad Bahau al-Din tidak mengikuti jejak dari murid-murid Shaykh Muhammad al-Samman al-Madani lainnya[8].

Shaykh Muhammad Muhyi al-Din Ibn Shihab al-din hanya menerima ijazah tarekat saja tapi tidak melakukan penyebaran ajaran tarekat tersebut di Palembang. Akan tetapi, berdasarkan data yang ada keterlibatan Shaykh Muhammad Muhyi al-Din Ibn Shihab al-din dalam penyebaran ajaran tarekat Sammaniyah di Palembang banyak dikaitkan dengan karya-karya yang dia tulis, diantaranya Shaykh Muhammad Muhyi al-din Ibn Shihab al-Din menerjemahkan kitab al-Manaqib al-Kubra ke dalam bahasa Melayu dengan judul Hikayat Shaykh Muhammad Samman yang selesai ditulis pada tahun 1791 M.

Selain itu juga, perhatian Shaykh Muhammad Muhyi al-Din Ibn Shihab al-Din terhadap perkembangan tarekat Sammaniyah ditunjukkan dengan bukti bahwa dia mengusahakan berdirinya sebuah zawiyah Sammaniyah di Jeddah dua tahun setelah wafatnya Shaykh Muhammad al-Samman yang pembangunannya tersebut dibiayai oleh Sultan Bahau al-Din[9].

Dari informasi ini dapat diketahui bahwa tarekat Sammaniyah di Palembang bukan saja mendapat perhatian yang sangat besar dari pada ulama Palembang itu sendiri bahkan Sultan Palembang juga memberikan perhatian dalam upaya pemeliharaan dan penyebaran ajaran tarekat Sammaniyah di Palembang. Amat disayangkan, tidak ada satu informasipun yang menerangkan penerus ataupun murid dari Shaykh Muhammad Muhyi al-din Ibn Shihab al-din.

Penyebaran tarekat Sammaniyah di Palembang dilakukan juga oleh Shaykh Kemas Ahmad Ibn ‘Abd Allah al-Falimbani yang ditandai dengan keterlibatan dirinya dalam menulis Nafahat al-Rahman Manaqib Ustadhina al-‘Azam al-Samman. Dalam perkembangan selanjutnya, Shaykh Kemas Ahmad Ibn ‘Abd Allah al-Falimbani memberikan ijazah tarekat kepada anaknya yang juga menantu dari Sultan Mahmud Badar al-Din II yaitu Shaykh Kemas Muhammad Ibn Ahmad (1764-1837) dan Kemas Sa’id (1770-1819) serta Sultan Mahmud Badar al-Din II (1767-1852).

Melalui anaknya Shaykh Kemas Muhammad Ibn Ahmad penyebaran tarekat Sammaniyah di Palembang diteruskan yang kemudian memberikan ijazah tarekat Sammaniyah kepada Shaykh Muhammad Azhari Ibn ‘Abd Allah Ibn Ahmad (1811-1874)[10] dan kepada Pangeran Surya Kusuma Arshad Ibn Pangeran Adipati ‘Abd al-Rahman Ibn Sultan Bahau al-Din (1805-1884) dari keturunan kesultanan Palembang Darussalam.

Selanjutnya Shaykh Muhammad Azhari Ibn ‘Abd Allah Ibn Ahmad memberikan ijazah tarekat Sammaniyah kepada putranya yang bernama Kms. Haji ‘Abd Allah Azhari Ibn Muhammad Azhari (1862-1938) dan Kms. Ahmad Azhari. Kms. Haji ‘Abd Allah Azhari Ibn Muhammad Azhari dikenal sebagai ulama yang menguasai ilmu fiqih, tasawuf dan falaq yang dipelajarinya di Palembang dan di Mekkah. Kemas Haji ‘Abd Allah Azhari Ibn Muhammad Azhari ini lebih dikenal dengan sebutan Ki Pedatukan[11]. Selanjutnya Kms. Haji ‘Abd Allah Azhari Ibn Muhammad Azhari memberikan ijazah kepada KH. Amin Azhari (Kyai Cek Ming).

Ia adalah ulama Palembang keturunan Cina dan ahli dalam bidang ilmu falaq. Nama lengkapnya ialah Baba Haji Muhammad Amin Azhari atau yang lebih dikenal dengan sapaan Kiai Cek Ming bin Baba A.Azhari bin Baba H. Balkiah bin Baba M. Najib bin Baba Abdul Khaliq Ki Demang Wirolaksalo bin Baba M. Najib Ki Demang Jayo Sepuh Wiroguno bin Baba Yu Cin bin Kapiten Bela Tiku bin Raja Cina bangsa Si Sual. Mengenai sejarah asal usulnya, menurut naskah Palembang, bahwa nenek moyangnya inilah yang menurunkan zuriat Baba di Palembang hingga sekarang. Diceritakan salah seorang turunan raja Cina bernama Kongsu mempunyai tiga orang anak yang masing-masing mereka hijrah ke Palembang dan menjadi pembantu Susuhunan Palembang, mereka adalah: Kapiten Bela (di Bangka), Kapiten A Sing Minal Muslimin (wafat di Palembang, dikuburkan di Cina) dan Kapiten Bong Su (di Pulau Kemaro)[12]. Dalam proses selanjutnya melalui jalur Kyai Cek Ming tidak meneruskan penyebaran tarekat Sammaniyah di Palembang.

Dari keseluruhan proses penyebaran tarekat Sammaniyah di Palembang yang masih ada dan berkembang adalah dari silsilah Shaykh ‘Abd al-Samad. Shaykh ‘Abd al-Samad sendiri mengangkat dua orang muridnya sebagai khalifah yaitu menantunya Shaykh Kiagus Muhammad Zayn Ibn Kgs. Shamsu al-Din Ibn Faqih Jalal al-Din (1760-1819) dan Shaykh Muhammad ‘Aqib Ibn Hasan al-din (1760-1818)[13].

Dalam penyebarannya, Shaykh Kiagus Muhammad Zayn Ibn Kgs. Shamsu al-Din Ibn Faqih Jalal al-Din menurunkan ajaran tarekat tersebut hingga sampai kepada ayah KH. Amin Azhari. Kyai Amin yang menerima ijazah dari ayahnya itu sekarang tidak lagi mengajarkan tarekat Sammaniyah. Adapun Shaykh Muhammad Zayn Ibn Kgs. Shamsu al-Din Ibn Faqih Jalal al-Din menjadi pemimpin dalam perang melawan Belanda pada tahun 1819 M yang dikenal dengan perang Menteng[14].

Murid Shaykh ‘Abd al-Samad lainnya adalah Shaykh Muhammad ‘Aqib Ibn Kgs. Hasan al-Din (1760-1949), tidak banyak diketahui tentang bagaimana riwayat hidup dan pemikiran ulama ini. Ia lahir di Palembang sekital tahun 1760 M dan pada usia muda berangkat ke Mekkah untuk melanjutkan studi agama dengan Shaykh ‘Abd al-Samad al-Jawi al-Falimbani, tidak diketahui berapa lama ia belajar di tanah suci.

Shaykh Muhammad ‘Aqib Ibn Kgs. Hasan al-din[15] adalah ulama yang bertanggungjawab dalam penyebaran tarekat Sammaniyah di Palembang. Hal ini dibuktikan dengan perhatiannya yang sangat besar terhadap perkembangan tarekat Sammaniyah di Palembang sejak kepulangannya dari Mekkah dengan memiliki jumlah murid yang terbesar di Palembang dan peranannya dalam mendirikan zawiyah. Dari berbagai silsilah menyebutkan nama Shaykh Muhammad ‘Aqib bin Hasan al-din yang menerima ijazah dari Shaykh Muhammad Samman[16].

Shaykh Muhammad ‘Aqib Ibn Kgs. Hasan al-din memiliki beberapa murid yang terkenal yang memegang peranan penting dalam proses penyebaran tarekat Sammaniyah di Palembang setelah dirinya, diantaranya Shaykh ‘Abd Allah Ibn Ma’ruf, anaknya sendiri yaitu Hasan al-Din Ibn Muhammad ‘Aqib, Masagus Haji ‘Abd al-Hamid Ibn Mahmud (1811-1901) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kyai Marogan atau Ki Marogan[17] dan Masagus Haji ‘Abd al-‘Aziz Ibn Mahmud serta Sayyid Hashir Ibn Muhammad ‘Arif Jamal al-Layl (1817-1874).

Melalui Shaykh ‘Abd Allah Ibn Ma’ruf penyebaran tarekat Sammaniyah di Palembang berkembang dengan memberikan ijazah tarekat kepada muridnya yaitu Shaykh Muhammad Azhari Ibn ‘Abd Allah Ibn ‘Ashiq al-Din (1856-1932). Guru tarekat ini adalah ulama Palembang yang paling produktif menulis karya-karya keislaman[18] setelah Shaykh ‘Abd al-Samad. Kebanyakan kitab-kitab yang ditulisnya membicarakan masalah tasawuf dan ketauhidan. Adapun kitab-kitabnya yang membicarakan amalan-amalan tarekat Sammaniyah dan silsilah tarekat tersebut dalam kitab ‘Aqa`id al-Iman. Shaykh Muhammad Azhari Ibn ‘Abd Allah Ibn ‘Ashiq al-Din selanjutnya memberikan ijazah kepada menantunya yakni Hasan Ibn ‘Abd al-Shukur dan yang terakhir ini menurunkannya kepada anaknya KH. M. Zen Syukri, guru tarekat Sammaniyah yang berpengaruh di Palembang dewasa ini.

KH. M. Zen Syukri[19](lebih dikenal dengan sebutan Kyai Zen Syukri) adalah guru tarekat Sammaniyah yang memiliki banyak pengikut di Palembang, yang kesemuanya berasal dari kelompok sosial yang meliputi buruh, pedagang, pegawai dan mahasiswa. Perkembangan yang pesat ini berkaitan erat dengan ketokohan dan kemasyhuran Kyai Zen Syukri sendiri. Ia adalah seorang ulama sufi kharismatik yang diakui masyarakat Palembang. Ia adalah alumni Pesantren Tebuireng yang menjadi murid Hadarah Shaykh Hashim al-Ash’ari yang menguasai seluruh bidang ilmu agama Islam dengan spesialisasi pada tauhid dan tasawuf.

Kyai Zen Syukri pertama belajar agama dari ayahnya sendiri dan guru-guru agama di Palembang sebelum meneruskan studinya di Tebuireng. Ia kemudian meneruskannya di tanah suci. Ia juga masih sempat belajar kepada kakeknya Muhammad Azhari Ibn ‘Abd Allah Ibn ‘Ashiq al-Din. Kyai Zen Syukri menerima ijazah tarekat Sammaniyah dari ayahnya sendiri[20]. Peranan yang dilakukan oleh KH. Zen Syukri dalam memelihara dan mempertahankan tarekat Sammniyah ini dengan mengadakan pendidikan dan pengajian-pengajian di masjid dan langgar bahkan dirumahnya sendiri.

Pengajaran dan bimbingan diberikan menurut tiga tingkatan murid tersebut sehingga masing-masing tingkatan memperoleh jadwal dan materinya masing-masing. Pada tingkatan mubtadi materi utama yang diberikan adalah dasar-dasar keimanan dan ketauhidan dengan menggunakan kitab-kitab al-‘Ashariyah, pada tingkatan mutawwasit materi yang disampaikan berupa tasawuf akhlaqi dengan menggunakan kitab-kitab karya Imam al-Ghazali dan tingkatan muntahi materi yang diberikan berupa tasawuf falsafi (teosofi) dengan menggunakan kitab-kitab karya Ibn al-‘Arabi[21].

Bila melihat tahapan atau tingkatan dan rujukan bahan-bahan dan materi yang disampaikan oleh Kyai Zen Syukri kepada murid-muridnya maka ke semua hal tersebut merujuk kepada apa yang telah disampaikan oleh Shaykh ‘Abd al-Samad dalam kitabnya Siyar al-Salikina ila ‘Ibadat Rabb al-‘Alamin.  Sampai saat ini, Kyai Zen Syukri memberikan pengajaran sebanyak 30 kelompok pengajian yang tersebar di sejumlah, masjid, mushalla, langgar maupun majelis ta’lim yang ada di kota Palembang dengan beraneka ragam murid yang belajar kepadanya mulai dari kelompok terdidik dan pejabat tinggi.

Pengikut tarekat Sammaniyah di Palembang memang tidak memiliki struktur organisasi secara formal, akan tetapi secara informal dan spiritual, struktur tersebut tampaknya jelas dan masing-masing pengikut harus menjalankan ajaran dan ritual tarekat sesuai dengan tingkatannya. Juga tidak terdapat aturan-aturan yang bersifat formal yang menggambarkan tugas dan kewajiban penganut tarekat.

Tokoh lain yang juga memegang peranan dalam penyebaran tarekat Sammaniyah adalah Masagus Haji ‘Abd al-Hamid Ibn Mahmud atau lebih dikenal dengan sebutan Kyai Marogan. Kyai Marogan dikenal sebagai seorang ulama dan guru tarekat yang berhasil dalam bidang ekonomi, dia meninggalkan beberapa karya tulis dan mewakafkan dua masjid di Palembang yang cukup terkenal yaitu Masjid Ki Marogan dan Masjid Lawang Kidul. Dia juga orang yang melaksanakan kegiatan pengajaran dan dakwah Islam di sejumlah daerah di Sumatera Selatan. Murid dan sekaligus teman dekat yang kemudian menjadi guru tarekat Sammaniyah adalah Haji ‘Abd al-Rahman Delamat (1820-1896) yang lebih dikenal dengan panggilan Ki. Delamat.

Murid Shaykh Muhammad ‘Aqib Ibn Kgs. Hasan al-Din lainnya yang turut berperan dalam penyebaran tarekat Sammaniyah di Palembang adalah Sayyid Hashir Ibn Jamal al-Layl. Seorang habib yang sering mengadakan safari dakwah sampai ke pelosok desa di Sumatera Selatan. Ia mengangkat keponakannya yaitu Sayyid ‘Abd al-Rahman Jamal al-Layl Hood Penghulu (1851-1920) seorang penghulu sebagai khalifah penggantinya yang selanjutnya mengangkat seorang murid yang bernama Ki. Kms. H. ‘Umar Khatib Penghulu (1880-1953) kemudian memberikan ijazah tarekat kepada KH. ‘Ali Ibn H. ‘Abd al-Khaliq (wafat 1980) yang selanjutnya menurunkan ijazah tarekat Sammaniyah kepada Kms. H. Ibrahim ‘Umari Ibn Ki. Kms. H. ‘Umar (1939-2004) sebagai mursyidnya. Dari silsilah Sayyid Hashir Ibn Jamal al-Layl ini yang masih terus mengamalkan ajaran tarekat Sammaniyah adalah Kms. H. Andi Sharif al-Din yang mendapatkan ijazah ratib Samman dari ayahnya yaitu Kms. H. Ibrahim ‘Umari Ibn Ki. Kms. H. ‘Umar.

Penyebaran tarekat Sammaniyah tidak hanya di kota Palembang saja, akan tetapi masuk ke pelosok desa di Sumatera Selatan, antara lain dilakukan oleh Kgs. Ahmad dan Kgs. M. Arshyad menyebarkan tarekat Sammaniyah di daerah Ogan Ulu – Baturaja, Khatib Belindang, Khatib Muara Saik, Khatib Karang Lintang, Khatib Ujan Mas, Khatib Dusun Belindang dan Khatib Gelumbang menyebarkan tarekat Sammaniyah di daerah Marga – Pangendonan.

______________________________

[1] Lihat Jeroen Peeters, Kaum Tuo – Kaum Mudo, 23 – 24.[2] Uang tersebut diberikan oleh Sultan kepada Shekh Muhyiddin bin Syihabuddin al-Palimbani, seorang murid Shekh Muhammad Samman, yang diperuntukkan sebagai halaqah atau pondok sufi dan sekaligus persinggahan bagi kaum muslimin terutama yang berasal dari Palembang dalam menuntut ilmu maupun menunaikan ibadah haji, lihat Ahmad Purwadaksi, Ratib Samman dan Hikayat Syekh Muhammad Samman (Jakarta: Djambatan, 2004), 321-322. Pembiayaan tersebut menunjukkan keterlibatan kesultanan Palembang dalam pemeliharaan dan penyebaran tarekat Sammaniyah di Palembang. Tarekat Sammaniyah tampaknya tidak hanya mendapat pengikut dari masyarakat awam dan ulama Palembang tetapi juga menarik perhatian Sultan Palembang. Diceritakan bahwa dalam waktu yang tidak begitu lama tarekat ini mendapat kedudukan terhormat di Kesultanan Palembang. Akan tetapi, tidak diketahui apakah sultan tersebut menjadi pengikut tarekat Sammaniyah, lihat Zulkifli, Tarekat Sammaniyah di Palembang: Sejarah dan Perkembangannya, 79.

[3] Lihat Martin van Bruinessen, “Tarekat dan Politik: Amalan Dunia dan Akherat”, 3.

[4] Muhammad Azhari al-Falimbani, Manaqib Shaykh Muhammad Samman, 15 dan Jeroen Peeters, Kaum Tuo – Kaum Mudo, 24.

[5] Sri Mulyati (et.al), Tarekat-Tarekat Muktabarah, 194.

[6] Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, 62.

[7] Zulkifli, “Tarekat Sammaniyah di Palembang: Sejarah dan Perkembangnnya”, Makalah Seminar Jabileum ke-30 Jurnal Antropologi Indonesia Jurusan Antropologi FISIP UI, Depok, 6-8 Mei1999

[8] Hasil wawancara dan data dari Kms. H. Andi Syarifuddin pada hari Rabu tanggal 16 Februari 2011.

[9] Purwadaksi, Ratib Samman dan Hikayat Syekh Muhammad Samman, 321-322.

[10] Shaykh Muhammad Azhari Ibn ‘Abd Allah Ibn Ahmad memiliki beberapa karya diantaranya Atiyah ar-Rahman yang selesai ditulis pada tahun 1259 H / 1843 M dan diterbitkan pertama kali di Mekkah pada tahun 1887 M. Selain itu, dia juga menulis Tuhfah al-Muridin, kitab berbahasa Arab ini membicarakan ilmu falaq dan selesai ditulis pada tahun 1276 H / 1859 M. Lihat Zulkifli dan Abdul Karim Nasution (ed), Islam dan Sejarah dan Budaya Masyarakat Sumatera Selatan, 83

[11] Gelar ini diperoleh oleh Kemas Haji Abdullah bin Muhammad Azhari karena aktivitasnya dalam menyelenggarakan pengajaran dan dakwah Islam. Selain itu, dia sangat disegani oleh masyarakat, dia senantiasa memberikan bimbingan dan pelayanan kepada masyarakat dan terus memimpin berbagai ritual dan perayaan agama maupun kegiatan-kegiatan tarekat Sammaniyah hingga usia sepuh, kampung tempat tinggalnya diberi nama kampung Pedatukan. Kemas Haji Abdullah Azhari bin Kemas Haji Muhammad Azhari adalah Salah satu ulama Palembang yang lahir di Kampung 12 Ulu pada hari Senin tanggal 27 Syakban 1279 H /1862 M. Beliau merupakan keturunan dari (Ayah) Kemas Haji Muhammad Azhari bin Kemas Haji Abdullah bin Kemas Haji Ahmad bin Kemas Haji Abdullah bin Mas Nuruddin bin Mas Syahid bin Ja’far Siddiq (Sunan Kudus) bin Usman Al-Haj (Sunan Wudung), dan (Ibu) Nyimas Khodijah binti Kemas Haji Abdul Kholiq. Kiai Pedatukan belajar ilmu agama dan Tarekat Sammaniyah (hingga mendapatkan Ijazah) langsung dari ayahnya (Kms. H. Muh. Azhari) dan belajar juga dengan beberapa Kiai seperti Kiai Marogan / Masagus Haji Abdul Hamid bin Mahmud serta para ulama di negeri Arab. Lihat Zulkifli dan Abdul Karim Nasution (ed), Islam dan Sejarah dan Budaya Masyarakat Sumatera Selatan, 84 dan Kemas Ari, Profile Kiai Pedatukan (kemas Haji Abdullah Azhari),http://sukasejarah.org/index.php?topic=191.0, Kamis, 13 Januari 2011. Ki Pedatukan bernama lengkap Kemas Haji Abdullah Azhari Ibn Kemas Haji Muhammad Azhari. Ia adalah ulama Palembang yang lahir di Kampung 12 Ulu pada hari Senin tanggal 27 Sya’ban 1279 H /1862 M.

[12] Kiai Cek Ming dilahirkan oleh ibunya Nyayu Siti Aminah binti Kgs.H. Nanang Hasanuddin (Nang Lenggok) bin Kgs. H. Ajir bin Kgs. Maun bin Kgs H. Mahmud bin Kgs. Muhammad Tohir bin Ario Nandito Ngabehi Gajahnata pada tanggal 17 Rabiul Akhir 1326 H atau tahun 1910 M di Palembang. Informasi diperoleh dari Kms. Andi Syarifuddin.

[13] Azhari, Manaqib Shaykh Muhammad al-Samman al-Madani, (Mekkah: al-Mirriyah, 1331 H), 15.

[14] Zulkifli dan Abdul Karim Nasution (ed), Islam dan Sejarah dan Budaya Masyarakat Sumatera Selatan, 81.

[15] Shaykh Muhammad ‘Aqib bin Hasan ad-Din memiliki beberapa murid, antara lain Abdullah bin Ma’ruf dan anaknya sendiri Hasanuddin bin Muh{ammad ‘Aqib, Muhammad Azhari bin Abdullah bin Ahmad, Masagus Haji Abdul Hamid bin Mahmud dan saudaranya Masagus Haji Abdul Aziz bin Mahmud.

[16] Lihat Shaykh Muhammad Azhari Ibn ‘Abd Allah Ibn Ma’ruf,  ‘Aqaid al-Iman, 14 dan Zulkifli dan Abdul Karim Nasution (ed), Islam dan Sejarah dan Budaya Masyarakat Sumatera Selatan, 78 – 79.

[17] Ki atau Kyai Marogan memiliki nama lengkap Masagus Haji Abdul Hamid Ibn Haji Mahmud alias Kanang Ibn Taruddin Ibn R. Wirakesuma Ibn R. Perak, ibunya bernama Perawati, seorang perempuan keturuan etnis Cina. Dinamai dengan Kiyai Marogan karena beliau menetap di Muara Sungai Ogan. Penyebutan nama beliau mengalami penyederhaan sesuai dengan lidah masyarakat menjadi Ki Marogan. Mengenai tanggal kelahirannya masih menjadi misterius karena belum ada satu informasipun mengenai kepastian kelahirannya, akan tetapi beliau meninggal pada tanggal 17 Rajab 1319 H atau 31 Oktober 1901 M dalam usia 89 tahun. Berdasarkan tahun wafat dan usianya diperkirakan ia lahir pada tahun 1812 M. Ki Marogan merupakan ulama paling populer dalam masyarakat Sumatera Selatan, ada tiga faktor yang membuat dirinya populer pertama, ia mewariskan dua buah karya monumental saat ini yang masih terpelihara dengan baik yaitu masjid Ki Marogan di daerah Kertapati Palembang dan masjid Lawang Kidul di 5 Ilir Palembang. Kedua, semasa hidupnya, ia disebut-sebut banyak melakukan penyiaran agama ke daerah-daerah Uluan, suatu aktivitas yang membuat dirinya dikenal sampai ke pedalaman, dan ketiga ia diyakini sejumlah kalangan masyarakat sebagai ulama yang memiliki kekeramatan sehingga makamnya sampai kini masih ramai oleh kunjungan penziarah. Lihat Abdul Karim Nasution, Kiprah Ki Marogan Mengembangkan Islam di Uluan Palembang, dalam Jurnal Intizar Pusat Penelitian IAIN Raden Fatah Palembang, Volume 10 Nomor 2, Desember 2004, 267 – 269. Pada waktu Kyai Marogan lahir, kesultanan Palembang sedang dalam peperangan yang sengit dengan Kolonial Belanda. Dilahirkan oleh seorang Ibu bernama Perawati yang keturunan Cina dan Ayah yang bernama Masagus H. Mahmud alias Kanang, keturunan priyayi atau ningrat. Dari surat panjang hasil keputusan Mahkamah Agama Saudi Arabia, diketahui silsilah keturunan Masagus H. Mahmud berasal dari sultan-sultan Palembang yang bernama susuhunan Abdurrahman Candi Walang, Masagus Fauzan, Sekilas Tentang Ki Marogan, http://kiaimarogan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=13&Itemid=26,

[18] Karya-karya Muhammad Azhari bin Abdullah bin Asikin antara lain; 1.) ‘Aqa`id al-Iman, 2.) Badi’ az-Zaman, 3.) Taqwim al-Qiyam, 4.) Bidayah ar-Rahman, 5.) Bidayah al-‘Ilmiyyah, 6.) Risalah fi ‘Aqidah at-Tawhid li Ma’rifah, dan 7.) Manaqib Shaikh Muhammad Samman.

[19] KH. M. Zen Syukri lahir pada 1919, hidup di lingkungan keluarga Islam santri yang tergolong kelas menengah Palembang pada zamannya, karena itu ia memperoleh pendidikan yang memadai, terutama dalam bidang agama. Walaupun keluarganya mampu menyekolahkan ke sekolah Belanda, tetapi orang tunya melarang sekolah dan mempelajari bahasa kolonial itu, akhirnya ia hanya belajar di madrasah Ibtidaiyah Hingga tamat Tsanawiyah pada tahun 1935. KH M. Zen Syukri: Simbol Eksistensi NU Sumatera Selatan, http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=833, Rabu, 19 Januari 2011.

[20] Zulkifli dan Abdul Karim Nasution (ed), Islam dan Sejarah dan Budaya Masyarakat Sumatera Selatan, 86 – 87.

[21] Zulkifli dan Abdul Karim Nasution (ed), Islam dan Sejarah dan Budaya Masyarakat Sumatera Selatan, 89-90.

Source: Zulkarnain Yani

About admin

Check Also

Menelusuri Hati Melalui Kitab Minhajul Abidin al-Ghazaly

Hati di Tiga Persimpangan Sesungguhnya Hati yang merupakan Raja ini, berada pada 3 persimpangan; pengaruh ...