Wednesday , September 26 2018
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Secercah Cahaya dari Sufi Agung Ibnu Arabi

Secercah Cahaya dari Sufi Agung Ibnu Arabi

ibn arabi1-fullOleh: al-Ustadz al-Fadhil Falah al-Jambi al-Azhari

Ibnu ‘Arabi adalah sosok sufi yang banyak mendapatkan kritikan dan tuduhan tajam. Sebagian ulama ada yang mengatakan “Ma Ikhtalafal ulama’u fi ahadin ka ikhtilafihim fi Muhyidin Ibnu ‘Arabi”. Salah satu tuduhan yang terkenal adalah ajaran wihdatul wujud yang beliau kenalkan, Sehingga ketika nama wihdatul wujud disebutkan maka yang terlintas di telinga pendengar adalah nama Ibnu ‘Arabi, sang pencetus.

Pada kitab yang berjudul Min Aimmatil Muwahhidin Ibnu Arabi yang ditulis oleh al-Alamah al-Syekh Abdurahaman Hasan Mahmud terdapat banyak pembahasan ilmiah yang berkaitan dengan hal-hal kontroversi Ibnu ‘Arabi. 

Pada dasarnya ungkapan al-Imam lebih banyak dipahami dengan pemahaman yang salah dari pada dipahami dengan pemahaman yang benar seperti apa yang diinginkan sang Imam. Hal itu disebabkan karena banyaknya orang-orang yang tidak kenal istilahat sufiyah membaca karya-karya sufiyah kemudian dia pahami sendiri tulisan para Sufi yang berkaitan degan hakikat atau adzwaq. Mereka tidak menyadari kaidah “Likulli Qaumin Mushthalahatuhum”. Adapun untuk kaum sufi maka mereka sengaja mencampuri perkataan-perkataannya dengan al-ghazz (ungkapan-ungkapan teka-teki) atau at-tauriyah (perkataan-perkataan  yang memiliki banyak makna), dan yang mampu memahaminya adalah golongan mereka sendiri. Apa yang mereka lakukan ini semata-mata karena mereka sulit untuk mengungkapkan perasaan hati (cinta kepada Allah) yang terkadang  membawa mereka kepada makam al-fana fillah dengan ungkapan yang jelas. Jika ada seorang laki-laki sangat mencintai seorang wanita kemudian dia memuja dan menyanjung kekasihnya tersebut maka kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki tersebut banyak mengandung unsur kekufuran. Dia akan mengatakan engkau segalanya bagiku, engkau hidup matiku, engkau nyawaku (ruhku), engkau adalah diriku dan aku adalah dirimu dan seterusnya. Adakah yang mempermasalahkan ungkapan tersebut?!

Termasuk latar belakang Syekh Abdurahman mengarang kitab ini adalah banyaknya tuduhan-tuduhan dusta yang dinisbatkan kepada imam Ibnu ‘Arabi.  Sedangkan Ibnu ‘Arabi adalah imam dalam ilmu Tasawuf. Ilmu Tasawuf adalah ilmu yang tidak dapat difahami sendiri dengan modal membaca secara otodidak. Banyak ulama mengatakan bahwa imam Ibnu ‘Arabi memiliki perkataan yang berada pada tingkatan yang tinggi, tidak dapat dipahami kecuali oleh orang yang berada pada tingkatan beliau. Adapun Imam Ibnu Arabi beliau mengatakan sendiri “Man lam yasyrab masyrabana haruma ‘alaihi qiro’atu kutubina”: siapa yang tidak merasakan minuman kami (masuk dalam golongan  sufiyyah untuk mengikuti terbiyah) haram membaca buku-buku kami”. Perkataan ini tertulis di dalam kitab Penulis pada halaman 11.

Beberapa keistimewaan kitab ini, adalah banyak menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan al-Imam yang dikutip dari kitab monumentalnya Futuhat Makiyah. Penulis selalu menukil perkataan para ulama sebelum menuliskan penjelasan pribadi. Kitab ini sulit untuk didapatkan karena kitab yang ada ditangan resentator adalah cetakan pribadi yang dicetak atas permintaan Maulaya Syekh Yousef Muhyidin al-Bakhur al-Hasani hafidzahullah. Adupun kekurangan kitab ini adalah sulitnya untuk dibaca dan dipahami sendiri tanpa ada penjelasan dan bimbingan dari seorang guru.

Diantara  pembahasan di dalam kitab ini adalah sebagai berikut:  Perkataan Ibnu ‘Arabi: “Asal semua ciptaan adalah tiga (Tatslits), satu tidak dapat menghasilkan sesuatu. Dua adalah awal dari pada bilangan dan dari dua tidak dapat menghasilkan sesuatu selama tidak ada unsur ketiga yang menghubungkan di antara keduanya.” Dari perkataan ini banyak keritikan yang ditujukan kepada Imam Ibnu ‘Arabi. Di antara ulama yang mengkritik adalah Syeikh Muhammad Ghazali Rahimahullah. Beliau memberikan komentar: “Seumur hidup, saya belum pernah membaca perkataan yang lebih jelek dari ungkapan ini. Tidak diragukan lagi bahawasanya perkataan ini adalah justifiaksi diperbolehkannya akidah trinitas pada agama terdahulu (Nasrani). Sebagaimana firman Allah “Laqad Kafara al-ladzina qalu innallaha tsaalitsu tsalatsah”. Sedangkan  Allah yang maha Esa berfirman “Allahu khaliqu kulli syai’in”. 

Munaqasyah: Ringkasan jawaban yang ditulis oleh Syeikh Abdurrahman adalah sebagai berikut, “Satu yang dimaksud oleh Imam Ibnu ‘Arabi adalah Dzat Allah. Dua yang dimaksud imam ‘Ibnu Arabi adalah Sifat Allah. Tiga yang dimaksud Ibnu ‘Arabi adalah Af’al Allah. Jadi yang dimaksud bahwa ciptaan itu bersumber dari tiga adalah segala ciptaan dihasilkan dari Af’al Allah bukan dari Dzat Allah, karena dzat Allah menghasilkan Sifat Allah, Sifat Allah menghasilkan Af’al Allah, dan Af’al Allah menghasilkan semua ciptaannya. Perkataan ini dikenal dengan istilah Tauhid Martabah. Penjelasan ini sesuai dengan syariat dan akal. Di dalam al-Quran banyak disebutkan af’al Allah yang memiliki makna menciptakan, memberi rezki, menurunkan rahmat dan lain-lain.

Sedangkan secara akal adalah jika makhluk keluar dari Dzat Allah maka makhluk itu adalah bagian daripada Allah dan dia memiliki sifat Qadim. Sebagaimama seorang anak adalah bagian dari dzat ayah dan ibu. Hal ini  tentu tidak sesuai dengan akidah islam. Oleh kernanya apa yang dimaksud tatslits (trinitas) dari ungkapan Ibnu ‘Arabi bukanlah trinitas yang difahami oleh Nasrani  yaitu Tuhan Bapa, Tuhan ibu Maryam,atau Ruh Qudus dan Tuhan Anak (Nabi Isa alaihi salam).

Tatslits yang dikenalkan Imam Ibnu Arabi sesugguhnya adalah pemahaman beliau dari kalimat Basmalah.

 بسم الله الرحمن الرحيم  . الله = الذات, الرحمن = الصفة ,الرحيم = الفعل..

pembahasan ini ada didalam kitab penulis dihalaman 29-33.

Kitab: Min Aimmatil Muwahhidin al-Imam Muhyiddin Ibnu Arabi

Tebal: 188 Hal

Penulis: Al-Syekh Abdurahman Hasan Mahmud

Cetakan: Pertama 1998 M

Percetakan: Maktabah Alamul Fikri

 

About admin

Check Also

Sejarah Masuk dan Berkembangnya Tarekat Sammaniyah di Palembang

Pada masa-masa awal penyebaran tarekat Sammaniyah di Palembang tidak terlepas dari adanya peranan keraton Kesultanan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *