Thursday , November 15 2018
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Sang Guru: Perspektif Sufisme

Sang Guru: Perspektif Sufisme

 

“Hanya ada satu guru, pembimbing semua jiwa yang senantiasa membawa pengikutnya menuju cahaya.”

Sufi memahami, bahwa kendati Tuhan adalah sumber segala pengetahuan, inspirasi dan biumbingan. Namun, manusia adalah sarana yang dipilih oleh Tuhan untuk menanamkan pengetahuan, sebagaimana Adam diajar oleh Tuhan perihal nama-nama segala sesuatu yang tidak diketahui oleh seluruh penghuni langit. Dia memberikan kepada seorang manusia yang memiliki kesadaran tentang Tuhan. Orang ini berjiwa matang yang mendapatkan berkah dari surga. Dalam sejarah panjang manusia, Tuhan telah mengutus manusia-manusia pilihan untuk ditugaskan menjadi pembimbing hidup bagi sekalian manusia Dengan kata lain para pembimbing manusia ini adalah manusia pilihan, atau nabi yang muncul dalam berbagai bentuk yanng berbeda-beda.Kong Hu Cu, Lao Tze, Shiva, Budha, Rama, dan Krhesna di satu sisi dan Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad di sisi lain, dan masih banyak lagi yang tidak diketahui oleh sejarah.

Sebenarnya guru sejati bagi kaum sufi hanya satu, namun dalam sejarah panjang manusia namanya berbeda-beda dan dia selalu datang untuk membangunkan kemanusiaan dari kesuraman ilusi dan membimbing manusia menuju kesempurnaan. Setiap mereka “bangkit” dari manusia di zaman dan di tempatnya, untuk mengembalikan kesadaran manusia di zamannya yang mulai hilang. Mereka berbahasa dengan bahasa kaumnya dengan risalah dan bimbingan yang dibutuhkan oleh kaumnya.

Perbedaan dikalangan guru-guru sufi tersebut hanyalah pada perbedaan momen dan bahasa yang digunakan, serta nama mereka yang tampil berbeda-beda. Namun, pada intinya risalah mereka berasal dari Yang Satu, dengan kata lain manusia-manusia pilihannya tersebut adalah khalifah Allah di muka bumi yang mewakili setiap zaman dan tempat. Semakin jauh para sufi melangkah, dia akan mengenal guru sejatinya atau isyarat-isyaratNya, bukan hanya dalam bentuk orang-orang suci, tetapi juga orang-orang bodoh, awwam, wali atau penjahat. Dan mereka tak pernah sejenak pun kehilangan pandangannya terhadap Gurunya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Kata Persia untuk menyebut guru adalah mursyid, dan para sufi hanya mengenal satu mursyid (yakni Tuhan) di segala keberadaan, dan siap belajar pada semuanya tanpa mengeluh. Kemudian ia mulai melihat cahaya risalah, yang merupakan suluh kebenaran bagi seluruh makhluk dan benda-benda di alam semesta. Dan karenanya itulah, mereka melihat Rasul, utusanNya dihadapan dirinya. Para seufi menyaksikan sisi Ilahi atau Ketuhanan dalam imanensiNya yang maujud di alam semesta, dan baginya kehidupan menjadi penyingkapan sempurna lahir dan batin. Pada saat kita berusaha untuk membangkitkan potensialitas roh bimbingan dalam diri kita, maka kita akan menemukannnya dalam wujud Bodhi satva, guru-guru spiritual, para rasul atau para imam. Roh bimbingan itu akan selalu ada dan dengan cara inilah pesan Tuhan akan disampaikan dari masa ke masa.

Seringkali yang menyebabkan pertengkaran serta peperangan di antara manusia adalah kebergantungan pada guru-guru tertentu. Masing-masing mereka mengklaim guru yang satu lebih superior ketimbang yang lain dan merendahkan guru-guru yang lain yang dihormati oleh orang-orang yang dari bukan golongannya. Pembeda-bedaan seperti ini tentu saja sama dengan membeda-bedakan manifestasi-manifestasi Ilahi dalam wujud bimbinganNya. Pada dasarnya guru atau mursyid kita hanyalah media atau guide yang mengantarkan kita pada JalanNya, sedangkan guru atau mutsyid yang lain juga sama pembimbing bagi orang lain di tempat dan waktu yang berbeda dengan kita. Dan oleh karena itu, klaim superioritas guru kita dengan menafikan guru-guru spiritual yang lain bertentangan dengan ajaran sufi yang memandang bahwa risalah kebenaran itu satu tanpa mesti membeda-bedakannya.

Menurut Inayat Khan, meskipun para sufi meyakini akan ketunggalan mursyid dalam pencapaian perjalanan spiritual. Beliau juga meyakini bahwa dalam melakukan perjalanan mesti dilakukan oleh bimbingan seorang mursyid. Peran seorang mursyid adalah memberikan inisiasi spiritual bagi muridnya agar siap dalam melakukan perjalanan spiritual. Kemestian adanya sang mursyid ini sebagaimana yang diutarakan oleh Murtadha Muthahhari. Bahwa dalam melakukan perjalanan spiritual sangat dimestikan bimbingan seorang pembimbing spiritual yang sesungguhnya, yang telah mengalami sendiri perjalanan itu dan mengetahui prosedur setiap tahapan. Tanpa adanya bimbingan seorang mursyid seorang pejalan spiritual akan tersesat. Dengan pengetahuannya inilah sang mursyid akan menginisiasi muridnya untuk bersiap melakukan perjalanan serta memberikan petunjuk-petunjuk yang dibutuhkan selama melakukan perjalanan.

Belajar tanpa berpikir itu sia-sia, berpikir tanpa belajar (mendapatkan bimbingan) itu bisa berbahaya. (Lao Tze as)

Source: al-Muntazhar

About admin

Check Also

Dosa dan “Sebab – Akibat”

Dalam sudut pandang sebab-akibat, dosa yang digambarkan sebagai bentuk kemahabijakan Allah Swt. dapat dirunut sebagai ...