Monday , December 10 2018
Home / Ensiklopedia / Fenomena / Sakral Mekkah-Medinah yang Kian Memudar

Sakral Mekkah-Medinah yang Kian Memudar

Tak usah heran jika para jamaah haji pulang dengan tanpa rasa apa-apa. Seakan tak ada bedanya. Hanya saja nama mereka kini berawalkan “Haji made in Saudi Arabia”…..

Mekkah-Medinah, dua kota yang dikultuskan oleh Allah sebagai tanah kelahiran dan kematian kekasih-Nya. Dua kota yang terletak persis di tengah belahan bumi, sebagai awal cikal-bakal munculnya kebenaran yang sesungguhnya. Di dalamnya berdiri kokoh Ka’bah, kiblat ibadah umat Islam seluruh dunia. Di dalamnya terdapat tempat peristirahatan terakhir Nabi yang diutus untuk segala massa dan masa. Dua kota yang dipilih untuk menjadi saksi bisu sejarah dakwah yang penuh pengorbadan jiwa, raga, dan harta. Namun, keduanya tak kunjung mampu menyeka air mata.

Kedua kota itu menangis karena kebengisan sang penguasa. Artefak-artefak Islami dihancurkan tak bersisa. Literatur-literatur arab yang diajarkan lebih dari sepuluh abad dibakar tanpa iba. Merampas paksa tanah Haram dari sang khalifah dengan bantuan Inggris dan Amerika. Paham yang muncul dari tanah pijakan Musailamah Al-Kadzab disebar secara paksa. Jiwa-jiwa yang tak patuh dan sependapat dibunuh meskipun tak berdosa. Nabi memang tak pernah salah bersabda: Bahwa nantinya akan muncul generasi setan yang meluluhlantakkan akidah dan agama. Pemikiran kaku dan kolot mengkafirkan semua yang tak berkeyakinan dengannya. Mensyirikkan segala perbuatan yang tak sesuai yang persepsinya.

Aliansi pemikiran –Wahhabi-  dan kekuasaan –Saudi- bergabung kuat. Hubungannya dengan Inggris kian intim dan merapat. Inggris menginginkan kehancuran islam, Saud bernafsu menguasai Jazirah arab, dan Muhammad bin Abdul Wahhab bercita-cita sebagai imam nomer wahid, pembaharu islam di dunia. Persekongkolan berhasil dengan runtuhnya Turki Utsmani. Inggris penguasa perang dunia pertama, keluarga Saud terkabul menjadi pimpinan Negara, Muhammad bin Abdul Wahhab terharu seraya menepuk dada karena impiannya nyata menjadi pemuka agama.

Kini Mekkah-Medinah menjadi kota metropolitan. Sekelas dengan Las Vegas, Singapura, Manchester, Paris yang selalu menawan. Tempat-tempat suci dan bersejarah yang mereka hancurkan dengan dalih syirik, kini dibangun hotel berbintang lima. Kubah-kubah pemakaman para Nabi dan sahabat mereka lenyapkan sebab kata mereka bid’ah, namun mereka tegakkan atap-atap istana dengan kemegahan yang luar biasa. Jam dinding maha besar yang terletak tak jauh disebelah Masjidil Haram menjulang tinggi mengalahi kubah dan menara, seakan-akan ingin menjadi simbol yang paling dekat dengan Tuhan.

Hidup para raja dan pimpinan negaranya sangat borjuis dan hedonis karena mereka mengharamkan tasawuf, tata cara hidup sederhana ala Nabi. Mereka megahkan istana dan rumah dengan melenyapkan jejak sejarah. Mereka tinggikan bangunan modern dengan meratakan segala pemakaman. Mereka adakan pesta rutinan dengan menyantap segala macam makanan. Alih-alih menjadi pelayan tamu-tamu Tuhan, yang ada malah mereka merampok para tamu Allah dengan sebongkah tumpukan uang dolaran. Memang mereka haramkan kaum kafir memasukki tanah haram tapi mereka halalkan dan sunnahkan menaruh investasi dan saham besar-besaran. Lantas kemana ulama mereka? Ah, jangan tanya ulama mereka. Ulama mereka sibuk meratapi ayat-ayat Tuhan di depan kamera, melakukan segala cara agar jidat tampak hitam dan kelam tanpa sadar bahwa perut mereka mancung tak tertahan. Bukan agama lagi yang menjadi patokan fatwa, tapi kebijakan sang raja yang harus dinomersatukan. Memperingati hari kelahiran Nabi, haram dan bid’ah tapi memperingati hari kemerdekaan negara, sunnah sebagai rasa syukur yang harus kita panjatkan. Begitu sang raja dihina, dubes negara segera dicabut, namun tatkala Nabi dilecehkan mereka hanya diam, menyembunyikan wajah sembari menutup mulut. Hanya segelintir ulama-ulama Rabbani sekelas Sayyid Abbas, Syaikh Muhammad bin Ismail yang sabar berdiri tegap membersihkan noda-noda agama yang kian melekat di dinding Ka’bah dengan semangat yang tak pernah surut.

Tak usah heran jika para jamaah haji pulang dengan tanpa rasa apa-apa. Seakan tak ada bedanya. Hanya saja nama mereka kini berawalkan “Haji made in Saudi Arabia”. Bagaimana tidak, tempat Sa’i, yang dulunya bunda Hajar berlari-lari di bawah terik matahari yang membakar hanya untuk seteguk air, kini beratap dan beralaskan marmer dingin. Tawaf tak perlu dekat dengan Ka’bah karena empat lantai ber-AC+eskalator sudah siap digunakan.

Jangan bilang Tuhan bersikap apatis, jangan tafsirkan diam-Nya adalah bentuk kerestuan. Tidak, selamanya tidak. Tuhan tidak membiarkan. Tuhan pasti bermaksud lain. Kita tunggu, suatu saat pemerintahan Saud dan paham Wahhabi akan terkikis dari tanah yang disucikan Tuhan. Haramain terlalu suci untuk dibungkus dengan paham yang muncul dari tanah pijakan Musailamah Al-Kazdab, terlalu kultus diselimuti “Jubah buatan Inggris-Amerika “. Yah, pastinya Tuhan akan menyelamatkan tanah kelahiran dan kematian kekasih-Nya.

Walaupun sampai sekarang Mekkah-Medinah tak kunjung mampu menyeka air mata.

(Koresponden Sarkub:
Mas Yaqien)

 

About admin

Check Also

Bahasa Geram

Oleh: KH. Dr. A. Mustofa Bisri Bangsa ini sedang terserang virus apa sebenarnya? Apakah hanya ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *