Thursday , October 22 2020
Home / Ensiklopedia / Analisis / Sains dan Irasionalitas tentang Korona
Pemerintah China memberlakukan ketentuan karantina selama 14 hari bagi warga di daerah yang terkena dampak virus Korona baru atau COVID-19. Tidak hilang akal, Pan Shancu akhirnya berolahraga di dalam rumah saja. (PHOTO BY HANDOUT / PAN SHANCU / AFP)

Sains dan Irasionalitas tentang Korona

Wabah virus korona baru membuka tradisi baru ilmu pengetahuan yang ditandai masifnya hasil studi terbaru yang dibuka bagi publik. Hal itu sekaligus memberi bekal pengetahuan bagi publik.

Wabah virus korona membuka tradisi baru ilmu pengetahuan, yaitu masifnya hasil kajian ilmiah terbaru yang dibuka untuk publik. Pengetahuan dengan akses terbuka ini telah membantu publik memahami virus baru ini sebagai bekal untuk menghadapinya. Namun di Indonesia, narasi anti-sains masih mendominasi dan justru itu kerap dilakukan otoritas pemerintah.

Serangan COVID-19 yang dimulai di Wuhan, China, menjadi ujian penting bagi risiko dan manfaat open science , yaitu gerakan komunitas riset global yang secara cepat memublikasikan temuan ilmiah, gratis, dan terbuka untuk publik.

Contoh dari sains terbuka ini adalah cepatnya data genom tentang virus korona baru ini diungkap ke publik. Hanya dalam waktu sepuluh hari sejak virus baru korona diidentifikasi di Wuhan, kolaborasi sejumlah ilmuwan dari beragam institusi di China, telah merilis genom virus ini. Urutan genom ini kemudian disimpan di GenBank.

Berikutnya, Universitas Sydney, Australia juga merilis urutan genom virus ini yang berhasil diisolasi dari pasien di negara mereka, yang kemudian disusul para ilmuwan berbagai negara. Hingga saat ini sudah ada 90 versi genom SARS-Cov2 dari berbagai negara.

Data lengkap tentang genom virus korona baru ini sudah bisa diakses di Nextstrain.org , laman terbuka yang dikembangkan Richard Neher dari University of Basel dan Trevor Bedford dari Fred Hutchinson Cancer Research Center di Seattle. Tak hanya itu, situs ini kemudian mengompilasi semua genom virus korona ini dari berbagai negara melalui bagan filogenetik atau pohon keluarga, yang jika ditelusuri semua berasal dari Wuhan

Dengan peta genom ini, para ilmuwan dari berbagai dunia, kini bisa mempelajari secara intensif asal-usul dan proses penyebaran SARS-Cov2, nama virus pemicu COVID-19. Laboratorium di seluruh dunia pun kini bisa mengembangkan diagnostik mereka sendiri untuk virus ini. Informasi itu juga bisa digunakan untuk mengidentifikasi target obat atau mengembangkan vaksin.

“Salah satu informasi terpenting (dari urutan genom virus) adalah untuk mengetahui ada hewan perantara yang membawa virus ini ke manusia dan kemudian penyebaran dari manusia ke manusia,” kata Trevor Bedford, seorang spesialis bioinformatika di University of Washington, kepada Sciencemag.org.

Dari laman nextstrain.org , dengan menggeser tetikus, publik awam bisa melihat bahwa SARS-Cov2 berbeda hampir 1.100 nukleotida dengan virus korona pada kelelawar. Itu membuat peneliti lain, curiga ada spesies inang “perantara” antara kelelawar dan SARS-Cov2 ini.

Melalui urutan genom ini, peneliti akhirnya bisa memiliki bukti kuat bahwa virus korona baru ini berasal dari Pasar Grosir Makanan Laut Huanan di Wuhan, China. Data ini sekaligus juga meruntuhkan informasi hoaks bahwa patogen ini sengaja dibuat di laboratorium, di antaranya yang kerap diberitakan adalah dari lembaga virologi di Wuhan, bahkan ada juga yang disebut dari Amerika Serikat.

Sepasang suami istri merayakan Hari Valentine ketika mereka mengenakan masker wajah untuk berjaga-jaga terhadap wabah koronavirus di Orchard Road, Singapura, 14 Februari 2020. (REUTERS / EDGAR SU)

 

Penjelasan ilmiah

Pemahaman terhadap keberadaan hewan perantara ini, selain berguna bagi ilmuwan untuk memahami sumber wabah dan menemukan cara mengeliminasinya, juga memberi bekal pengetahuan yang baik pada publik. Dengan literasi ini, publik seharusnya bisa menangkal penyebaran informasi hoaks yang beredar.

Publikasi ilmiah tentang genom virus ini dan kemiripannya dengan korona pada kelelawar, hanya sedikit di antara penelitian yang telah diterbitkan para peneliti. Catatan dari Nature.com , lebih dari 50 penelitian terkait virus korona baru ini dalam 20 hari, tidak termasuk jurnal berbahasa Mandarin. Lebih dari 30 penelitian ini berada di server pracetak atau belum tereview . Beberapa yang lain muncul di jurnal peer-review, termasuk di The Lancet , Journal of Medical Virology , hingga Nature .

Selain studi yang fokus pada susunan genetik virus, beberapa makalah berisi perkiraan seberapa cepat virus menyebar, atau lamanya masa inkubasinya, yaitu berapa lama setelah terinfeksi virus orang mulai mengalami gejala. “Karena virus ini baru, pengetahuan tentangnya terus berubah. Karena itu menjadi amat penting melihat perkembangan ilmiah terbaru,” kata Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman David Hadojo Muljono.

 

Karena virus ini baru, pengetahuan tentangnya terus berubah. Karena itu menjadi amat penting melihat perkembangan ilmiah terbaru.

Meski banyak berguna untuk memberikan pemahaman saintifik kepada publik, namun sebagian penelitian ini justru memicu respon negatif. Contohnya, penelitian oleh ahli epidemologi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, Amerika Serikat, Marc Lipsitch dan tim di MedRxiv pada 5 Februari 2020.

Berdasarkan pemodelan matematika yang didasarkan pada jumlah orang yang melakukan perjalanan dari Wuhan ke berbagai negara, peneliti ini menyebutkan, Indonesia seharusnya sudah melaporkan kasus positif korona. Setidaknya lima kasus pada saat itu. Tiadanya kasus positif, kemungkinan karena adanya persoalan dalam deteksi.

Hoaks tentang infeksi virus korona di sebuah grup percakapan instan

 

Namun, Menteri Kementerian Kesehatan Terawan Agus Putranto menilai, penelitian itu merupakan penghinaan, karena peralatan deteksi dari Indonesia juga berasal dari Amerika Serikat. Dalam berbagai kesempatan, Terawan juga mengatakan, tiadanya kasus positif di Indonesia harus disyukuri, dan itu berkat kekuatan doa bersama.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy, yang membawahi Kemenkes, menyatakan, “Saya sudah datang sendiri ke laboratorium Litbang Kesehatan. Mereka memiliki peralatan yang tersertifikasi WHO untuk mendeteksi korona ini. Sementara reagennya dapat dari CDC (Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) Amerika Serikat,” kata dia, ditemui Jumat (14/2/2020).

Namun, saat ditanya tentang CDC yang menarik reagen kit mereka karena hasilnya dianggap tidak meyakinkan, Muhajir mengaku akan mengevaluasi lebih lanjut. Selebihnya, dia mengajak masyarakat Indonesia banyak berdoa.

Narasi tentang doa, selain kekebalan orang Indonesia, santai, dan tak perlu panik, diulang-ulang para pejabat negara ini dalam menjelaskan ketiadaan infeksi COVID-19 di negeri ini. Namun, tanpa penjelasan ilmiah, hal ini justru memicu tanda tanya dan turut melemahkan literasi sains di masyarakat.

Wawancara mahasiswi Indonesia Nadhira Nuraini Afifa yang tengah belajar di Harvard Chan School of Public Health, terhadap Marc Lipsitch di youtube , juga banyak mendapat komentar negatif masyaraka kita, di antaranya menggunakan isu nasionalisme. Padahal, wawancara itu dengan gamblang menjelaskan alasan profesor Harvard itu melakukan studi, di antaranya untuk memberi peringatan agar Indonesia meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk kemungkinan infeksi domestik.

Di tengah arus deras hoaks yang beredar terkait korona, sesungguhnya banyak pengetahuan yang dipaparkan para peneliti dengan penuh dedikasi. Kita hanya butuh lebih banyak membaca, terbuka terhadap kritik, dibandingkan berkomentar. Jangan sampai, pengabaian terhadap sains ini menjerumuskan Indonesia dalam wabah korona.

  • Oleh: Ahmad Arif
  • Editor: Evy Rachmawati
  • Source: Kompas.Id

 

About admin

Check Also

Bagaimana Ilmuwan Akhirnya Bisa Memotret Black Hole?

Pada 1915, Albert Einstein melahirkan teori relativitas umum. Ia menegaskan gravitasi tercipta bukan karena gaya, tetapi merupakan ...