Monday , November 19 2018
Home / Ensiklopedia / Sejarah / Tokoh / Republik Islam Iran dan Cita-cita Imam Khomeini ra

Revolusi Islam Iran telah berumur lebih dari tiga dekade sejak tahun 1979 silam. Imam Khomeini ra sebagai arsitek revolusi Islam telah mengguncang puak materialisme Barat melalui pemikiran murni keislaman dan menghidupkan identitas Islam di dunia Islam serta identitas spiritual di seluruh penjuru dunia. Pada hari itu, rakyat bersiap menyambut momen paling penting dalam sejarah Iran. Imam Khomeini ra ketika meninggalkan Paris, menyampaikan ucapan terimakasih dan salam perpisahan kepada rakyat Perancis. Menjelang penerbangan ke Iran, Imam Khomeini ra menunaikan shalat dan dengan penuh ketenangan memasuki pesawat menuju Tehran. Padahal waktu itu, semua pihak mengkhawatirkan peledakan atau pembajakan pesawat oleh pihak tertentu. 

Republik Islam Iran dan Cita-cita Imam Khomeini ra

Pada awal musim dingin tahun 1979, Imam Khomeini ra setelah bertahun-tahun hidup di pengasingan, mendarat di Iran dengan kemuliaan dan harga diri. Tak ada yang menyangka bahwa revolusi Islam mencapai kemenangan hanya sepuluh hari setelah kedatangan Imam. Para penguasa rezim despotik dan sekutunya beranggapan mampu menumpas gerakan itu. Mereka bahkan jauh sebelum itu tidak pernah memikirkan akan muncul sebuah gerakan akbar yang meruntuhkan pilar-pilar kekuasaannya.

Pada Agustus 1978, Dinas Intelijen Pusat AS (CIA) setelah mengevaluasi kondisi masyarakat Iran, menyatakan bahwa Iran tidak berada dalam kondisi revolusi atau bahkan kondisi sebelum revolusi. Badan Intelijen Partahanan AS (DIA) dalam analisanya juga mengatakan, “Shah Iran tampaknya secara aktif akan memegang tampuk kekuasaan hingga 10 tahun ke depan.”

Politikus dan analis Amerika Serikat, George Ball menyodorkan tujuh skenario untuk mencegah kemenangan revolusi Iran dan salah satunya adalah mengontrol front gerakan rakyat Iran. Namun, kebangkitan rakyat secara bertahap menapaki jalan kesempurnaan dan berkat bantuan Allah Swt serta bimbingan Imam Khomeini ra, mencapai kemenangan pada 11 Februari 1979.

Pada kenyataannya, kepulangan Imam Khomeini ra ke Iran dan sambutan jutaan rakyat kepada beliau, memiliki peran signifikan dan dominan seorang ulama dalam membimbing umat manusia. Hal ini juga menunjukkan bahwa revolusi rakyat Iran adalah sebuah revolusi yang terjadi secara sadar, dengan tekad yang kuat, dan punya hubungan erat dengan pemimpinnya. Tekad mereka sudah mantap untuk mencapai kemenangan dan mengejar cita-cita revolusi. Imam Khomeini ra ketika menafsirkan kemenangan revolusi, mengatakan, “Sebuah transformasi spiritual telah lahir di tengah masyarakat dan terlepas dari apa yang saya katakan, ini adalah sebuah mukjizat dan kehendak Allah Swt. Saya tidak dapat menyebutkan dengan nama lain selain itu.”

Seorang fotografer perang dan sutradara film dokumenter dari Perancis, Patrick Chauvel sempat menemui Imam Khomeini ra di Neauphle-le-Chateau, Perancis. Chauvel terkenal dengan film-film dokumenter, termasuk peristiwa Perang Enam Hari Arab-Israel dan Perang Vietnam. Dia sempat berkunjung ke Iran untuk mengabadikan peristiwa revolusi Islam Iran. Mengenai Imam Khomeini ra, Chauvel menuturkan, “Sejak pertama kali saya melihat Ayatullah, firasat saya mengatakan bahwa dia akan menang. Dia berbeda dengan seluruh tokoh-tokoh yang pernah saya temui. Ada pancaran maknawi di raut wajahnya dan saya belum pernah melihat seperti itu. Revolusinya juga berbeda dengan seluruh revolusi yang pernah saya dokumentasikan. Rakyat Iran telah membulatkan tekad, tapi mereka tidak emosi.”

Ulama besar ini ingin revolusi Islam yang dicetuskannya terus hidup dan abadi. Dalam sebuah kesempatan, Imam Khomeini ra menuturkan, “Semua itu adalah mukaddimah untuk menghidupkan Islam. Kita harus mempersembahkan semua ini kepada generasi berikutnya dengan kekuatan yang kita peroleh hari ini.” Pada kesempatan lain, Imam Khomeini ra menegaskan, “Tujuannya adalah negara kita harus menjadi sebuah negara Islam. Negara kita harus diatur di bawah kepemimpinan al-Quran, Rasul Saw, dan seluruh pewarisnya yang hakiki.”

Pada hari itu, seorang pakar hubungan internasional, Doktor Michael Johnson menjelaskan, “Revolusi Iran merupakan kemenangan pertama Muslim terhadap Barat sejak abad ke-16 Masehi hingga sekarang. Poin pentingnya terletak di sini, yaitu Islam menjadi faktor pengarah revolusi tersebut dan faham-faham Barat seperti nasionalis, kapitalis, komunis dan sosialis, sama sekali tidak punya peran di dalamnya.”  

Sejak kemenangan revolusi Islam, kekuatan-kekuatan Barat dalam konfrontasi dengan keagungan Imam Khomeini ra dan revolusi, mulai menyadari potensi tersembunyi dan kapabilitas besar Islam. Dengan kata lain, Imam Khomeini ra tidak hanya mengakhiri perang yang dilancarkan atas agama, tapi juga telah menghidupkan Islam dan keagungannya di seantero dunia. Sekarang kita menyaksikan bahwa dampak-dampak menghidupkan Islam telah menemui dimensi global serta menciptakan kemuliaan dan kebanggaan di seluruh penjuru dunia.

Meskipun kekuatan-kekuatan arogan senantiasa berupaya melancarkan Islamphobia dan ingin memusnahkan revolusi Iran, tapi daya darik dari pesan dan pemikiran Imam Khomeini ra telah menyeret masyarakat untuk mengenal Islam dan menambah tumbuh suburnya gerakan-gerakan Islam. Imam Khomeini ra berpendapat bahwa setiap ulama dan umat Islam harus melawan budaya tirani dan kebijakan ekonomi kapitalis. Beliau juga menekankan kebangkitan dan kesadaran bangsa-bangsa.

Kini, revolusi Islam Iran menjadi satu-satunya revolusi yang independen, di mana tampil sebagai manifestasi melawan penindasan dan ketidakadilan di dunia. Revolusi Islam Iran juga telah menjadi teladan bagi semua orang yang ingin melawan sistem hegemonik. Penulis Turki, Binaz Toprak dalam sebuah artikelnya dengan judul “Penerimaan Revolusi Islam Iran oleh Media-media Muslim Turki” menulis, “Revolusi Islam Iran adalah sebuah model bagi negara-negara Muslim di bawah sistem imperialis. Revolusi ini telah membuktikan kepada Muslim dunia dan juga pemerintah-pemerintah di dunia bahwa sangat mungkin untuk membangun sebuah negara merdeka dan bebas dari pengaruh kekuatan asing serta berpijak pada kepentingan nasionalnya.”

Cita-cita Imam Khomeini ra yang paling besar adalah melepas ketergantungan pemikiran  – tidak hanya bagi bangsa Iran, tapi semua bangsa Muslim – dari Barat. Menemukan budaya dan identitasnya serta mengenal budaya luhurnya yang diperkaya oleh nilai-nilai Islam dan memperkenalkannya kepada pihak lain. Imam Khomeini ra melalui revolusinya telah menanamkan benih-benih rasa percaya diri di hati setiap orang dan merawatnya dengan baik. Tanda-tanda tumbuhnya rasa percaya diri adalah seseorang telah menemukan jati diri dan identitasnya, meyakini kemampuannya, dan tidak menaruh harapan kepada pihak lain.

Pada ulang tahun ke-34 kemenangan revolusi Islam Iran, pemikiran dan ide-ide Imam Khomeini ra telah menyebar ke seluruh dunia dan perjuangan tulusnya juga telah membuahkan hasil. Bangsa Iran telah menemukan jati diri dan berjuang demi pembangunan dan kemajuan negara. Mereka meraih berbagai kemajuan di bidang sains dan teknologi. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei mengatakan, “Segala puji bagi Allah Swt karena di Iran sekarang telah berkibar bendera Ahlu Bait as dan kita menyaksikan bahwa seluruh Muslim dunia menghormati bendera Islam itu dan bangga dengannya.” (IRIB Indonesia)

 

About admin

Check Also

Abu Bakar al-Shiddiq: Pakar Genetik dan Penafsir Mimpi di Zaman Rasulullah

Sudah diakui secara luas, bahwa Abu Bakar adalah seorang intelektual Quraisy yang paling tahu tentang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *