Thursday , August 22 2019
Home / Relaksasi / Renungan / Renungan Renungan Sufistik

Alkisah, ada seorang ustad. Ia tidak mempunyai pekerjaan tetap. Beberapa orang kaya memanggilnya untuk mengajarkan Al-Qur'an kepada anak-anaknya. Pada waktu yang ditentukan ia datang ke rumah murid-muridnya dengan teratur. Ketika ia mempunyai uang, ia datang dengan kendaraan umum. Ketika tidak ada ongkos, ia berjalan kaki. Setelah habis satu bulan, dengan penuh harap ia menunggu honorariumnya.Orang kaya yang pertama berkata,"Pak Ustad,saya yakin Bapak orang yang ikhlas. Bapak hanya mengharap ridha Allah. Saya akan merusak amal Bapak bila saya membayar bapak. Saya berdoa mudah-mudahan Allah membalas kebaikan Bapak berlipat ganda." Pak Ustad termenung. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia kebingungan. Ia merasa ada sesuatu yang salah dalam ucapan orang kaya itu, tetapi dimana. Ia tidak tahu. Yang terbayang dalam benaknya adalah hari-hari yang dilewatinya untuk mengajar di situ; ketika ia datang berjalan kaki atau dengan ongkos hasil pinjaman. Yang terasa adalah perutnya dan perut keluarganya, yang tidak dapat diisi hanya dengan ikhlas.

Renungan Renungan Sufistik

 

Ia diam. Dan air matanya jatuh tak terasa.

 

Orang-orang kaya lainnya memberinya uang transpor yang sangat kecil, hampir tidak cukup untuk menggantikan ongkos angkot yang telah dikeluarkannya. Seperti orang kaya yang pertama,mereka juga menghiburnya dengan kata “ikhlas”. Ia bingung.”Kata ikhlas” adalah kata yang agung,tetapi kini terasa seperti pentungan baginya. Ia merasa diperas, dieksploitasi. Tetapi bila menuntut haknya, ia kuatir menjadi tidak ikhlas.

 

“Dahulu Rasulullah Saw. berdakwah dengan membagi-bagikan hartanya kepada pendengarnya.Sekarang mubaligh menerima pesangon dari jamaah yang didatanginya. Bukankah itu berarti menjual ayat-ayat Allah? Tidakkah mubaligh itu mendagangkan ayat-ayat Allah? Tidakkah mubaligh itu mendagangkan agamanya dan keyakinannya untuk dunia? Bukankah ia tidak ikhlas dalam berjuang?

 

Betapa seringnya kata-kata digunakan untuk menyembunyikan kenyataan, dan bukan untuk mengungkapkannya. Korzybsky – ahli general semantics – benar ketika ia menyatakan bahwa ada hubungan antara kekacauan penggunaan bahasa dengan penyakit jiwa; dan bahwa masyarakat hanya dapat disehatkan kembali dengan menertibkan istilah-istilah yang mereka ganti.

 

Nabi Saw, mengirimkan pasukan terdiri dari tiga puluh orang. Mereka tiba pada sebuah perkampungan. Mereka menuntut hak sebagai tamu, tapi tak seorangpun menjamu mereka. Pada saat yang sama, pemimpin kaum itu digigit ular. Mereka meminta bantuan para sahabat untuk mengobatinya. Abu Sa’id AL-Khudhri bersedia mengobatinya, asalkan mereka membayarnya dengan tiga puluh ekor kambing. Ia membacakan Surah Al-Fatihah tiga kali. Orang itu sembuh. Ketika Abu Sa’id membawa kambing-kambing itu, para sababat lain menolaknya. “Engkau menerima upah dari membaca Kitab Allah?” tanya mereka.

 

Ketika sampai di Madinah, mereka menceritakan kejadian itu kepada Nabi yang mulia.”Bagikan di antara kalian. Tidak ada yang paling pantas kalian ambil upahnya seperti membaca Kitab Allah.” sabda Nabi Saw. (HR Bukhari Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan lain-lain; lihat tafsir Al-Durr Al-Mantsur).

 

Nabi Saw. tidak menyebut Abu Sa’id Al Khuduri menjual ayat-ayat Allah. Ia bahkan mengatakan bahwa mengambil upah dari membaca Kitab Allah itu sangat pantas. Dalam Al-Qur’an,orang yang menyebarkan ajaran Islam termasuk “fi sabilillah” dan berhak mendapat bagian dari upah dan zakat, walau pun ia kaya raya. Ikhlas tidak ada hubungannya dengan menerima atau menolak upah.

 

Erving Goffman dalam bukunya yang klasik The Presentation of Self in Everyday Life, ada yang disebut sebagai penyajian diri (presentation of self). Kita semua adalah pemain drama.Di tengah-tengah masyarakat, kita ingin menyajikan diri kita seperti “naskah” yang kita persiapkan. Diri yang kita tampilkan di depan umum disebut public self.Karena kita tahu, orang membentuk kesan tentang diri kita dari perilaku yang kita tampilkan (Goffman menyebutna “face”), kita “rekayasa” perilaku kita. Orang memperoleh kesan tentang diri kita dari pembicaraan kita; maka kita atur pembicaraan kita sesuai dengan kesan yang ingin kita peroleh. Rekayasa kesan ini kemudian disebut impression management (pengelolaan kesan).Untuk mengelola kesan, selain pembicaraan (yang dapat didengar atau dibaca), kita menggunakan lambang-lambang visual (yang dapat dilihat).Termasuk lambang-lambang visual adalah tindakan, penampilan,kendaraan, rumah atau benda-benda lainnya. Anda busungkan dada Anda dengan mata menatap lurus ke depan. Anda sedang menggunakan tindakan untuk menimbulkan kesan “bos”. Sambil mengenakan pakaian yang “trendy” dan parfum mahal. Anda menyerahkan credit card kepada pelayan restoran. Anda menggunakan penampilan agar orang tahu bahwa Anda pengusaha muda yang sukses.

 

Setiap hari kita melakukan pengelolaan kesan. Yang demikian itu wajar-wajar saja. Yang tidak wajar dan tidak dibenarkan oleh agama ialah menggunakan lambang verbal dan nonverbal supaya orang lain menganggap kita orang saleh. Bila Anda menggunakan lambang verbal (yangbisa didengar) untuk itu, Anda melakukan sum’ah. Bila anda menggunakan lambang nonverbal (yang dapat dilihat) untuk itu, Anda melakukan riya’. Riya’ dan sum’ah keduanya bertentangan dengan ikhlas. Bila ikhlas adalah beribadat atau beramal saleh untuk mendekatkan diri kepada Allah (karena Allah), riya’ dan sum’ah beribadat untuk mendekatkan diri kepada manusia (karena manusia).Dalam sebuah riwayat diceritakan orang-orang yang digiring ke neraka. Allah Swt. memerintahkan agar Malik (malaikat penjaga neraka) tidak membakar kaki-kaki mereka, sebab kaki-kaki itu pernah dilangkahkan ke masjid dan tidak membakar tangan-tangan mereka,sebab tangan-tangan itu pernah diangkat untuk berdoa.Malik bertanya, “Apa yang terjadi kepada kalian hai orang-orang celaka?” Ahli neraka menjawab,”Kami dahulu beramal bukan karena Allah” (BiharAl-Anwar 8:325).

 

Riwayat lain bercerita tentang orangyang membaca Al-Qur’an siang dan malam, yang terbunuh fisabilillah, dan yang menginfakkan hartanya. Ketiga-tiganya dimasukkan ke neraka. Yang pertama masuk neraka karena ingin disebut qari’, yangkedua ingin disebut pemberani, dan yang ketiga ingin dipanggil orang dermawan (Bihar Al-Anwar72:305).

 

Mengapa kamu tidakpuas dengan membatasi amal salehmu hanya untukmu saja dan apa yang kau inginkan dari pemberitahuan kepada orang lain tentang amal salehmu, karena begitu ada kesempatan kamu segera mengumumkannya. Jika perbuatan itu dilakukan karena Allah, atau kamu bermaksud agar orang menirumu,atau kamu berpikir sesuai dengan hadis ‘yang menunjukkan kebaikan sama dengan yang melakukannya’ sambil kamu melakukannya, penampakan amal seperti itu masih dibenarkan. Bersyukurlah kepada Allah, karena ia telah memungkinkan kamu bertindak dengan sepenuh kesadaran dan kemurnian hati. Tetapi hendaknya kamu selalu berhati-hati akan jebakan-jebakan setan ketika memeriksa dirimu, sebab setan dapat memproyeksikan amal riya’ sebagai amal yang suci dan ikhlas.

 

wallahu a’lam

 

http://betayanti.multiply.com/journal/item/79?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

About admin

Check Also

Khalifah Aja Dibilang Gila

Oleh : H Derajat Ini sebuah kisah nyata di kala seorang Khalifah (Pemimpin Negara) dibilang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *