Wednesday , September 26 2018
Home / Agama / Reinkarnasi dalam pandangan Sufi

Reinkarnasi dalam pandangan Sufi

Reinkarnasi dalam pandangan SufiAssalamu’alaikum bang sufimuda, apakah proses turunnya ruh dan berada pada tubuh yang lain bisa dikatakan proses reinkarnasi? seperti yg orang jawa bilang “tumimbal lahir solan-salin raga” (uttama adhikari)

Pertanyaan tentang ini sangat menarik untuk di bahas karena satu sisi kita mengetahui konsep re-inkarnasi itu hanya dikenal di kalangan Hindu sementara dalam Islam tidak ada istilah re-inkarnasi, akan tetapi kita juga tidak bisa menafikan fakta ada orang yang mengaku titisan para wali, atau dalam waktu pendek sering “kamasukan” roh para wali seperti Syekh Abdul Qadir Zailani dan lain, sehingga walaupun sebagian besar menolak konsep re-inkarnasi tapi diam-diam menerima fakta yang terjadi.

Sebelum kita membahas tentang re-inkarnasi secara spesifik, ada baiknya kita baca sedikit definisi dari re-inkarnasi yang saya kutip dari beberapa sumber.

Kata “reinkarnasi” asalnya dari kata re+in+carnis. Kata Latin carnis berarti daging. Incarnis artinya mempunyai bentuk manusia. Sedangkan reinkarnasi adalah masuknya jiwa ke dalam tubuh yang baru. Jadi, jiwanya adalah jiwa yang sudah ada, tapi jasadnya baru. Maka, reinkarnasi juga dapat disebut kelahiran kembali. Kondisi ini disebut pula sebagai migrasi jiwa. Artinya, jasad lama ditinggalkan alias mati, dan pada suatu kesempatan jiwa tersebut masuk ke dalam jasad baru, alias menjadi bayi kembali. Dalam bahasa Inggris reinkarnasi disebut sebagai reborn atau reembodiment.

Bagi agama-agama di Timur, agama-agama yang tumbuh di India, Tibet, Cina, Jepang, dan di Kepulauan Nusantara; reinkarnasi bukan lagi sebagai hal yang aneh. Reinkarnasi bukan dipahami sebagai kepercayaan atau keimanan, tapi sebagai hukum alam.

Bagaimana dengan reinkarnasi di Dunia Barat? Sumber dasar filsafat Barat adalah budaya Yunani dan Romawi. Pada kedua budaya tersebut, reinkarnasi diterima sebagai kepercayaan. Di antara filsuf Yunani kuno, Plato yang hidup pada abad ke 5–4 seb. M, percaya bahwa jiwa tidak pernah mati, dan mengalami reinkarnasi berkali-kali. Lalu, kapan reinkarnasi itu berakhir? Ya, segala sesuatu pasti berakhir. Menurut agama Hindu, reinkarnasi berakhir bila sang manusia mengalami moksa. Menurut agama Buddha kelahiran kembali tak akan terjadi lagi bila roda samsara telah berhenti. Sang Jiwa selanjutnya ke alam nirwana.

Sebagaimana saya kemukakan di awal tulisan, saya disini tidak membahas perdebatan tentang re-inkarnasi dari sudut dalil Ayat-Ayat atau Hadist karena kalau anda ingin mengetahui silang pendapat tentang itu bisa anda dapatkan dengan mudah dengan hanya mengetik kata “Re-Inkarnasi Menurut Islam” di google, dan disana akan banyak sekali artikel yang berhubungan dengan hal tersebut. Pada kesempatan ini saya ingin membahas tentang re-inkarnasi menurut hakikat atau menurut apa yang diyakini dalam masyarakat berhubungan dengan arwah atau roh para wali yang konon katanya bisa ber re-inkarnasi kedalam jasad orang-orang yang masih hidup dan hal ini nyata terjadi dan diyakini oleh sebagian besar masyarakat kita.

Apa Benar Roh Wali Allah Bisa Memasuki Jasad Orang Lain?

Anda yang bergelut dalam dunia gaib tentu hal ini bukan suatu yang aneh, kemasukan roh wali, kemasukan sahabat Nabi dan saya sendiri sewaktu kecil menyaksikan sendiri orang yang kamasukan roh saidina Umar bin Khatab, berbicara dalam bahasa Arab yang fasih, membentak banyak orang termasuk imam mesjid, semua orang takut karena yakin yang masuk dalam tubuh dia adalah benar-benar saidina Umar.

Kalau kita merujuk kepada al-Qur’an dan Hadist, bahwa roh seseorang ketika meninggal akan berada di alam lain, dia tidak akan kembali lagi kedunia termasuk roh para Nabi. Rohani para Nabi dan Wali yang telah disucikan akan berada di dalam Ketuhanan, tidak lagi mengurus urusan duniawi. Keabadian rohani para Nabi atau Wali bukan berarti mereka kemudian mengurus segala urusan duniawi apalagi masuk ke dalam raga orang lain. Atas kuasa Allah SWT, siapapun yang menyebut nama kekasih Allah, berdoa dengan memohon berkat dari Wali-Nya, maka Allah akan mengabulkan permohonan tersebut, yang mengabulkan bukanlah rohaniah Wali Allah akan tetapi Allah sendiri. Atas kuasa Allah juga, para wali kemudian membantu para murid-muridnya, dalam jarak dan waktu yang berbeda, semasa hidup Allah sudah memberikan kehendak-Nya kepada Wali Allah maka setelah Wali Allah meninggal dunia juga Allah tetap memberikan kehendak-Nya.

Suatu hari, ada seorang murid guru saya kemasukan Wali Allah, tidak tanggung-tanggung yang masuk dalam diri dia mengaku sebagai Guru dari Guru saya. Sebagian besar murid-murid semua tunduk atas perintah si murid yang kemasukan salah seorang ahli silsilah. Ketika si murid yang sering kemasukan Wali itu datang menghadap Guru, dengan nada tegas Guru mengatakan, “Kalau ada yang mengaku-ngaku kemasukan Wali Allah, kemasukan Gurumu, kemasukan Syekh Abdul Qadir, kemasukan Wali Songo, itu bisa dipastikan dia sedang kemasukan SETAN karena tidak pernah Wali Allah itu masuk ke dalam diri seseorang”.

Kemudian Guru melanjutkan, “Nur Allah itu Maha Halus, ketika dia berada dalam tubuh seseorang maka tidak akan mengubah karakter dari orang tersebut bahkan terkadang orang yang disinggahi Nur Allah tidak mengetahui kalau dia sedang dilewati Nur Allah”.

Dari ucapan Guru saya itu akhirnya saya semakin yakin bahwa setan sangat halus tipu dayanya, menipu orang-orang yang ingin mendapatkan keramat, ingin sakti dan ingin dihargai oleh orang lain sehingga menawarkan tipun instan yang berbahaya. Tanpa harus zikir lama-lama, tanpa harus suluk dan ubdiyah bertahun-tahun langsung menjadi sakti, itulah tawaran Iblis beserta bala tentaranya yang sulit ditolak oleh manusia yang dalam dadanya penuh dengan nafsu.

Karena itulah di awal berguru sudah ditegaskan bahwa kalau tujuan berguru bukan karena Allah lebih baik berhenti karena tidak akan berhasil. Kalau niat berguru karena ingin terkenal, maka nanti ketika sedang belajar yang dicara adalah cara bagaimana menjadi terkenal sehingga tanpa sadar menyelengkan amanah Guru, menyelengkan amalan yang dikerjakannya untuk mendapatkan pujian dan sanjungan. Harus di ingat, orang yang sudah mempunyai Guru Mursyid kalau dia ingkar kepada Gurunya sangat mudah menjadi sakti karena wadahnya sudah besar, tinggal diganti Power saja dari Power Rasul menjadi Power Setan.

Kalau tujuan berguru ingin pangkat, dengan tegas Guru menolaknya karena khawatir setelah menjadi murid nanti yang dicari pangkat dan kedudukan. Bukan belajar menjadi murid yang baik akan tetapi bercita-cita menjadi Guru Mursyid, hal yang tabu dalam dunia tarekat.

Kalau tujuan berguru hanya untuk harta, maka dikhawatirkan dia akan gugur ketika Allah menguji dia dengan kemelaratan, hal yang memang harus dilewati oleh para pencari Tuhan. Atau dia akan lalai ketika Allah mellimpahkan harta yang banyak.

Karenanya, cara paling aman agar bisa selamat dalam menempuh jalan kepada-Nya adalah dengan “Ilahi Anta Maqsudi Waridhaka Mathlubi”, Tuhan. Hanya Engkau yang aku tuju dan Ridha mu saja yang aku inginkan.

Kembali ke reinkarnasi, kenapa saya dengan tegas mengatakan itu setan, bukan hanya karena ucapan Guru saya, sudah banyak fakta saya lihat, semua yang mengaku kemasukan Wali itu memang setan yang menyusup menyerupai wali. Saya sendiri punya pengalaman menarik, di usia 13 tahun sudah berulang kali kemasukan Syekh Abdul Qadir Zailani, baru setelah berjumpa dengan Wali Allah sebenarnya saya mengetahui bahwa yang datang kepada saya dulu adalah setan yang sangat halus dan berbahaya.

Termasuk juga orang yang menjalani kehidupan rohani tanpa pembimbing, ingin berjumpa dengan Nabi khidir kemudian menggali sumur dan membuat tempat zikir di dalam sumur atau berzikir dan bersemedi di pinggir laut, tiba-tiba didatangi sosok bersurban yang mengaku sebagai Nabi Khidir, dan memberikan amalan dan biasanya amalannya memang membuat orang tersebut menjadi sakti mandraguna. Manusia paling mudah menukar imannya dengan kesaktian, dengan harta dan dengan kedudukan. Kalau yang menjalani kehidupan gaib tanpa Guru ini seorang biasa, katakanlah ilmu agamanya dangkal tidak masalah karena nanti status dia dalam masyarakat biasanya dikenal sebagai dukun atau mbah atau sebutan lain, yang disesatkan juga orang-orang yang dengan rela menjadi sesat contohnya kepepet mendapatkan jodoh, ingin naik jabatan, ingin korupsi dengan cara aman atau ingin menang pilkada dan berbagai motif lain, yang dalam bahasa sederhana mereka dengan sadar karena desakan kebutuhan mencari jalan yang sesat. Tapi kalau orang yang ilmu agamanya dalam, seorang Kiayi misalnya, setelah sakti dengan cara illegal tetap menjadi seorang kiayi yang sakti dan menyesatkan banyak ummat manusia tanpa disadari oleh orang yang disesatkan karena kesaktiannya dibungkus dengan ayat-ayat Tuhan.

Tentang berguru Gaib, Syekh Abu Yazid al-Bisthami telah membuat garis tegas, “Barangsiapa menuntut ilmu tanpa Guru maka WAJIB setan Gurunya”.

Untuk mengetahui apakah ilmu tersebut Legal atau Ilegal bukan dari kesaktiannya, bukan dari kekeramatannya, bukan dari fasih bacaan dan hapal ribuan kitab kuning, tapi apakah dia mempunyai Guru yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah SAW atau tidak, kalau silsilahnya tidak sampai berarti ilmunya Ilegal. Bisa saja ilmunya diperoleh dari hasil bertapa di Gunung Antah Berantah, kalau dia mati dan pengikutnya mati maka rohaninya akan dimakan oleh setan yang ada di Gunung Antah Berantah bukan kembali kepada Allah. Kalau ilmu yang diperoleh dari A, A dari B, B dari C, dan C memperolehnya dari Laut China Selatan, maka kalau dia meninggal dunia dan pengikutnya meninggal dunia rohaninya akan disandera oleh Jin Laut China Selatan. Maka berhati-hatilah dalam mencari ilmu-ilmu Gaib, karena nanti akan terjebak dalam dunia gaib dan tidak akan pernah bisa kembali selamanya.

Seluruh Ulama mempunyai Guru, Seluruh Guru Mursyid mempunyai Guru bahkan junjungan kita Nabi Muhammad SAW juga mempunyai Guru yaitu Jibril AS. Siapun yang mengingkari tentang pentingnya Guru apalagi Guru yang membimbing Kehadirat Allah maka bisa dipastikan dia akan tersesat dalam terang, Buka Al-Qur’an Surat al-Khafi, 17

Kalau ada orang mengaku berhubungan langsung dengan Allah tanpa ada pembimbing, dari lahir dia sudah kontak langsung dengan Allah, bisa dipastikan orang tersebut sedang berbohong atau sedang kemasukan setan yang sangat halus. Apalagi mengaku menerima wahyu seperti pengakuan beberapa orang yang manamai dirinya sebagai “Nabi”, sudah pasti itu kemasukan setan. Kenapa ini tegas saya ketakan agar kita semua tidak terpengaruh oleh hal-hal seperti itu.

Kesimpulan dari Tulisan ini adalah Tidak ada Re-Inkarnasi dalam Islam, Roh yang sudah kembali kepada Allah akan tetap berada kehadirat Allah, sementara arwah yang tidak kembali kepada Allah karena dia bersekutu dengan setan akan terombang-ambing di alam gaib, arwah yang tidak lain adalah setan itu yang kemudian masuk ke dalam diri orang, kemudian mengaku sebagai Wali Allah dan lain-lain. Harus di ingat bahwa setan bisa bersandiwara sebagai apapun, jangankan mengaku sebagai Wali, mengaku sebagai Allah pun dia berani sebagaimana pengalaman yang dialami oleh Syekh Abdul Qadir Zailani. Bagi Iblis jangankan menyerupai orang suci atau Wali atau Nabi, Surga pun bisa di Copy Paste oleh dia.

Menutup tulisan ini, saya mengutip ucapan bang Napi, “Kejahatan Bukan Karena ada Niat Pelaku tapi karena ada kesempatan, terkadang setan tidak ada niat menyesatkankan kita, Cuma kita membuka peluang kepada setan, Waspadalah! Waspadalah!

Sumber: sufimuda.net

About admin

Check Also

Nilai-Nilai Pancasila Selaras Dengan Piagam Madinah

Sebagai orang Muslim, saya sangat bangga dengan lahirnya Pancasila. Bagi saya, Pancasila adalah anugerah terbesar ...