Wednesday , August 22 2018
Home / Sains / Biologi & Anatomi / RAMBU-RAMBU MENUJU INDONESIA BARU

RAMBU-RAMBU MENUJU INDONESIA BARU

RAMBU-RAMBU MENUJU INDONESIA BARU

  1. INDONESIA BARU adalah tahap/fase ke II kemerdekaan JIWA-BANGSA INDONESIA dari belenggu penjajah jiwa bangsa. Modus/ciri-ciri penjajahan-jiwa-bangsa adalah faham-faham, ajaran-ajaran dan ideologi-ideologi yang dapat menimbulkan keberingasan, keangkuhan, kesombongan, egoisme, arogansi, otoriter, diktator, kejahatan, bunuh diri, kekerasan, kebodohan, penghancuran, pengerusakan, penganiayaan, memusuhi akal sehat/anti rasionalisme/irasonil, memfitnah, mengadu domba, pemerasan, tidak sportif, tak jujur, mementingkan diri sendiri, kelompok dan golongannya belaka, memecah belah persatuan dan persaudaraan umat manusia, menghacurkan kesatuan dan kedaulatan Negara, dan suka mengatasnamakan rakyat kebanyakan, dan gemar bercadarkan agama, dimana kaum penjajah jiwa bangsa itu telah berhasil merasuki sebagian besar jiwa-jiwa masyarakat Indonesia generasi demi generasi, dan telah bercokol lebih dari seribu tahun, didalam hati bangsa Indonesia.Perlu diketahui bahwa, kemerdekaan Indonesia tahap I yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945, baru berupa kemerdekaan LAHIRIAH belaka, sedang kemerdekaan JIWA – BANGSA, hampir tidak ada yang memikirkannya meskipun lagu “ INDONESIA RAYA “ sudah memberi isyarat ……….. bangunlah JIWA nya, bangunlah badannya untuk Indonesia raya.
  2. Ciri-ciri telah terjadinya kemerdekaan JIWA = Masyarakat tidak mudah diprofokasi terhadap hal-hal yang negatif, karena bangsa ini telah memiliki falsafah dan ideologi PANCASILA yang sudah tersingkap tabirnya, sehingga cahaya kesuciannya telah menyinari hati nurani seluruh bangsa Indonesia.
  3. Masyarakat yang tidak menyukai kekerasan, keonaran, dan kebengisan tetapi tidak pula takut membrantas segala kejahatan itu.
  4. Masyarakat yang mencintai ketertiban, kebersihan, ramah-tamah, dan lebih cinta damai dalam persatuan dan kesatuan.
  5. Masyarakat yang bertindak dan dalam menetapkan segala sesuatu, senantiasa mempertimbangkan terlebih dahulu akan dampak positif dan negatifnya serta tidak gegabah.
  6. Tidak menjadikan prodak undang-undang dan hukum sebagai pemasukan/sumber pemasukan Negara, melainkan lebih bermotif pendidikan dan penyadaran nasional demi tercapainya lingkungan dan masyarakat yang adil, harmonis, aman, tertib, mulia ahlak, cerdas, rukun damai, berkepribadian luhur, mencintai bangsa dan negaranya secara baik dan benar.
  7. Dan tidak menghukum dengan siksaan, perbuatan yang bukan kekejian dan bukan pula kejahatan.
  8. Tidak pula mengenakan sanksi denda, dengan memakai standar ukuran orang-orang berduit, melainkan disesuaikan dengan status ekonomi dan jenis bobot pelanggarannya
  9. Tidak menyukai birokrasi yang rumit, berbelit-belit dan bertele-tele melainkan lebih menyukai birokrasi yang ringkas lagi mudah dimengerti namun tak mengurangi ketelitian dan manfaatnya sehingga korupsi, kolusi, dan nepotisme tidak akan terjadi di Negara ini.
  10. Iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang apabila dianut tidak akan dapat menimbulkan kejahatan penganiayaan, pemaksaan, penjajahan, egoisme, arogansi, otoriter, diktator, keangkuhan, kecongkakan, dan perbuatan-perbuatan negatif lainnya, melainkan iman dan taqwa kepada Tuhan YME, akan menimbulkan kasih sayang demi keselamatan dan kedamaian alam raya semesta dengan segala isinya.
  11. Masyarakat yang keimanannya terhadap GAIB amat tinggi, mereka amat menyadari bahwa senantiasa terdapat para malaikat dan sekalian roh yang merupakan pesuruh-pesuruh Allah, disekeliling dan bahkan didalam tubuh mereka yang senantiasa mengawasi dan mencatat segala perbuatan, sehingga mereka takut melakukan perbuatan yang tercela.
  12. Masyarakat yang amat menyadari bahwa dunia fana manusia, adalah penempatan sementara dari semua kehidupan, guna belajar saling mengenal akan keaneka ragaman yang tercipta, dalam konteks dunia ilmu pengetahuan dan budi pekerti untuk menentukan klasifikasi kedudukan derajat disisi Allah, sesudah kehidupannya sebagai mahluk manusia berakhir.
  13. Masyarakat yang amat menyadari, bukan suku, ras, etnis, dan agama yang akan diadili di akhirat melainkan perbuatanlah yang akan diadili disana, sehingga mereka tidak pernah mempertentangkan semua itu, karena Tuhan tidak akan pernah menghukum orang-orang yang belum mengerti, melainkan membimbing dan mendidiknya dengan arif bijaksana, sampai mereka memahaminya dengan baik dan benar. (agama adalah ajang pendidikan & ilmu).
  14. Masyarakat yang tahan menderita dalam menghadapi kesulitan dan kekurangan, tidak berfoya-foya dalam kekayaan, dan tidak pula beringas didalam kejayaan.
  15. Pemimpin yang kasih sayang terhadap rakyatnya, dan rakyat yang mencintai pemimpinnya dalam berdisiplin dan pengabdiannya pada nusa dan bangsa sebagai wujud manifestasi kebersamaannya mengabdi secara tulus. Ikhlas, kepada Tuhan YME.
  16. Masyarakat yang telah mengenal secara terbentuknya alam raya semesta, secara ilmiah sunatullah dalam batasan filosofi dan bukan sekedar dongeng, irasional, dan keyakinan yang membuta, sehingga masyarakat mengenal akan hakekat keberadaan semua ini, dan megetahui pula makna, arti dan hakekat kehidupan di dalam alam raya semesta ini, sehingga mereka tidak merasa memiliki, tetapi merasa dimiliki oleh Tuhan sang empuNya alam raya semesta ini.
  17. Masyarakat yang menyadari bahwa ideologi PANCASILA itu bukan buatan manusia, melainkan ilmu Allah yang ditemukan bangsa Indonesia pada jalur sunatullah, yang sanggup mempersatukan dalam damai aneka adat istiadat, ras, etnis, suku, budaya dan agama, bahka terhadap alam sekalipun yang sukar untuk dipahami bahasanya, dalam kehidupan yang penuh harmonis dan penuh cinta kasih dikarenakan PANCASILA tidak punya nabi dan tidak pula memiliki syariat-syariat / cara-cara ibadah tertentu yang berstatus kelompok, sebagaimana ilmu eksata / ilmiah yang jujur, benar, baik, bermanfaat dan tidak dapat diputar balik, tidak dibatasi oleh suku, ras, etnis, budaya dan agama apapun. Maka demikian pula PANCASILA tidak memiliki identitas suku, bangsa, ras, etnis, budaya dan agama tertentu, karena pancasila adalah dimensi penjabaran kasih sayang Allah yang universal, pada jalur BHINEKA TUNGGAL IKA. Pancasila adalah milik bangsa-bangsa di dunia dan milik semua yang cinta damai.

“ SALAM DAMAI BEBAS DERITA SEJATI DAN ABADI ”

Sumber: padanjakaya.wordpress.com

About admin

Check Also

Terlalu Banyak Akun Media Sosial Bisa Picu Depresi

Coba cek, berapa banyak situs media sosial yang Anda miliki di ponsel Anda. Apakah Anda hanya ...