Monday , November 18 2019
Home / Berita / Ramalan Intelijen Posisi Parpol dan Capres Menjelang Pemilu 2014

Ramalan Intelijen Posisi Parpol dan Capres Menjelang Pemilu 2014

Ramalan Intelijen Posisi Parpol dan Capres Menjelang Pemilu 2014Analis intelijen sebaiknya mampu membuat sebuah perkiraan intelijen untuk kepentingan atasannya yang dikenal sebagai user. Prinsip single client merupakan tatanan baku yang tidak boleh dilanggarnya, untuk menghindari terjadinya penghianatan. Pembuatan sebuah perkiraan intel dilakukan dengan melalui proses atau siklus intelijen dimulai dari perencanaan, pulbaket (pengumpulan bahan keterangan), pengolahan, analisis dan produksi serta distribusi. Dalam kaitan sebuah kegiatan politik, pengetahuan intelijen dapat dipergunakan untuk memenangkan persaingan, baik hasil perolehan suara parpol maupun kemenangan pasangan capres dan cawapres yang diajukan.

Ahli strategi perang China, Sun Tzu menekankan untuk memenangkan peperangan diperlukan tiga syarat yaitu kenalilah musuh/lawanmu, kenalilah dirimu dan kenalilah tempat bertarung. Nah apabila teori ini dikaitkan dengan politik, maka untuk memenangkan persaingan yang semakin ketat pada pemilu 2014 ada beberapa informasi dari sumber terbuka yang bisa dikumpulkan dan dipergunakan sebagai dasar pembuatan analisa untuk menghasilkan sebuah ramalan intelijen.

Kemarin penulis diminta sebagai narasumber atau pembicara dari sebuah instansi yang terkait dengan organisasi intelijen,  pada pelatihan analisa intelijen terapan. Menarik, ada pertanyaan bagaimana  dapat menghasilkan sebuah produk dari sebuah sumber terbuka. Memang sumber informasi bisa didapat dari sumber terbuka dan tertutup. Sumber terbuka, misalnya  dari media massa, hasil survei, penelitian, sementara sumber tertutup misalnya dari hasil penyadapan, pembinaan personil sasaran, pencurian dokumen.

Nah, kali ini penulis mencoba menguraikan hasil pulbaket informasi terbuka untuk di analisis menjadi sebuah ramalan (the future).  Analisis khusus dengan sasaran politik yaitu bagaimana perkiraan posisi parpol-parpol menjelang 65 hari lagi dilaksanakannya pemilu legislatif.

Fakta-fakta Terakhir Hingga Februari 2014

Hasik Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI)

LSI (Lingkaran Survei Indonesia) melakukan survei pada 6 Januari hingga 16 Januari 2014. Jumlah responden adalah 1200 orang dengan  margin of error 2,9 persen. Pengumpulan data dilakukan secara wawancara tatap muka dengan menggunakan kuesioner. Hasil survei LSI ; Elektabilitas  Partai Golkar (18,3 persen), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) 18,2 persen, sementara parpol lainnya berada dibawah sepuluh persen.

Elektabilitas Gerindra  (8,7 persen),  Partai Demokrat (4,7 persen), Partai Hanura (4,0 persen), Partai Kebangkitan Bangsa (3,7 persen), Partai Persatuan Pembangunan (3,6 persen), Partai Amanat Nasional (3,3 persen), Partai Keadilan Sejahtera (2,2 persen), Partai Nasdem (2,0 persen), Partai Bulan Bintang (0,7 persen) dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (0,5 persen). LSI memperkirakan empat partai politik peserta Pemilu 2014 terancam tak lolos ambang batas parlemen sebesar 3,5 persen. Keempat partai tersebut adalah PKS, Partai Nasdem, PBB dan PKPI.

Peneliti LSI Adjie Alfaraby saat merilis hasil survei di Kantor LSI, di Jakarta, Minggu (2/2/2014) siang mengatakan, jika PDIP mencalonkan Megawati sebagai Presiden, maka suaranya akan bersaing ketat dengan capres Partai Golkar Aburizal Bakrie dan capres Partai Gerindra Prabowo Subianto. Berdasarkan survei LSI per Januari 2014, elektabilitas Megawati antara 13,4 persen sampai 22 persen, Ical antara 11,5 persen sampai 21,3 persen, dan Prabowo antara 10,7 persen sampai 20,6 persen.

Menurut LSI , hasil itu akan berbeda jika PDI-P mengusung Jokowi sebagai capres. Jokowi akan mendapatkan dukungan antara 22,3 persen sampai 35,6 persen. Adapun Ical mendapatkan antara 13,2 persen-20,1 persen dan Prabowo antara 12,6 persen-19,7 persen.

Adjie mengatakan, dengan perolehan suara tersebut, Golkar dan PDIP akan sangat kuat jika berkoalisi. Mereka hanya membutuhkan koalisi dengan satu partai papan tengah untuk menguasai lebih dari 50 persen suara di legislatif. Adjie memprediksi tren suara Golkar dan PDI-P akan terus naik mencapai setidaknya 20 persen pada pemilu legislatif 2014. Jika tidak mencapai suara 20 persen, kedua parpol itu akan berkoalisi dengan satu atau dua partai kecil untuk memenuhi syarat ambang batas pengusungan calon presiden dan calon wakil presiden, yakni 20 persen perolehan kursi DPR atau 25 persen perolehan suara sah nasional.

LSI memprediksi  pada pilpres 2014 nanti, hanya akan  ada tiga pasang calon presiden dan calon wakil presiden yang akan maju. Pertama, calon dari PDIP, kedua calon yang akan diusung oleh Golkar (plus parpol koalisi) ketiga yaitu pasangan capres-cawapres lainnya, akan diusung oleh partai sisanya yang berkoalisi. Gerindra diprediksi Adjie akan menguasai koalisi karena perolehan suaranya lebih besar dibandingkan parpol lain. Oleh karena itu, menurut LSI, Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto kemungkinan besar menjadi tokoh yang dicalonkan sebagai presiden dari koalisi ini.”Selain Prabowo, opsinya bisa juga Wiranto (capres Hanura), Hatta Rajasa (capresPAN), atau capres Konvensi Demokrat yang maju,” lanjut Adjie.

Capres Konvensi Partai Demokrat menurut LSI (Adjie Alfaraby) dinilainya tidak sukses. Calon yang terkuat, Meneg BUMN Dahlan Iskan, hanya mendapatkan suara 2,5 persen. Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Pramono Edhie Wibowo hanya mendapatkan 2,1 persen. Sementara Ketua DPR Marzukie Ali hanya mendapatkan 2 persen suara. “Sisanya, Calon Presiden Konvensi Partai Demokrat yang lain, perolehan suaranya semua dibawah 2 persen,” kata  Adjie.

Lingkaran Survei Indonesia, merilis hasil survei terkait dengan Pemilu dan Pilpres 2014 dengan judul “Indeks Capres Pemilu 2014: Capres riil versus capres wacana.” Survei dilaksanakan antara tanggal  12-15 Oktober 2013 di 33 Provinsi Indonesia.

Hasil survei menunjukkan, “Dalam indeks Capres 2014 LSI kali ini ada tiga capres riil, yaitu Aburizal Bakrie (Partai Golkar dan koalisinya), Megawati (PDIP dan koalisinya), dan pemenang (konvensi) Partai Demokrat,” ujar Adjie. “Partai Golkar dengan perolehan 20,4 persen, kedua PDIP dengan capaian 18,7 persen, dan Partai Demokrat 9,8 persen, sedangkan partai lainnya di bawah 7 persen,” katanya. Oleh karena itu  LSI kali ini hanya memunculkan tiga nama capres pada pilpres 2014, yang disebut memenuhi syarat dari metodologi yang digunakan LSI yang kemudian disebut capres riil.

Elektabilitas parpol lain dari survei LSI yang berada dibawah tiga besar adalah Gerindra (6,6 persen), PAN (5,2 persen), PPP (4,6 persen), PKB (4,6 persen), PKS (4,4 persen), Hanura (3,4 persen), NasDem (2 persen), PBB (0,6 persen), dan PKPI (0,3 persen).

Mengacu dengan indikator diatas, maka LSI hanya memunculkan  nama Aburizal Bakrie dari Partai Golkar, Megawati dari PDIP, dan nama-nama capres dari peserta konvensi Partai Demokrat yang kemudian elektabilitasnya diadu satu persatu dengan Megawati dan Aburizal Bakrie. Megawati tetap menjadi calon presiden riil potensial tahun 2014 dengan rata-rata perolehan suara 31,4 persen,  Aburizal Bakrie dengan capaian rata-rata 30,35 persen. Dari capres  Partai Demokrat yang masih tahap konvensi tertinggi Dahlan Iskan  9,2 persen, Marzuki Alie 5,5 persen, Pramono Edhie 3,5 persen, Capres Demokrat hanya memperoleh angka 1,9 persen saat semuanya diadu dengan Megawati dan Aburizal Bakrie.

Survei Pol-Tracking Institute

Hasil survei Pol-Tracking Institute, yang bertema “Potret Geliat Pemberitaan Partai Politik Sepanjang 2013-Menangkap Tren Tone Berita dan Elektabilitas”  menunjukan bahwa pengaruh media massa terhadap sebuah Parpol atau pun tokoh-tokoh dalam Parpol, membawa dampak langsung terhadap pilihan politik masyarakat.

Hanta Yudha selaku Direktur Eksekutif   merilis hasil survei, Selasa (14/1/2014). Hasil survei pada bulan Oktober 2013, (74%) menyatakan bahwa media mempengaruhi pilihan politik mereka,  sisanya, (8%) menyatakan tidak berpengaruh, dan (18%) menyatakan tidak tahu/tidak menjawab. Pada survei kedua, bulan Desember 2013, hasil survei menunjukan peningkatan pengaruh media terhadap pilihan politik masyarakat. Sebanyak 75%  responden menyatakan berpengaruh, sementara (8%) menyatakan tidak berpengaruh, dan (17%) tidak tahu/tidak menjawab.

 

Hasil Survei Lembaga Survei Nasional (LSN)

Hasil Survei LSN (Lembaga Survei Nasional) yang digelar pada tanggal 1-10 Mei 2013 di 33 provinsi, elektabilitas Golkar menempati posisi teratas dengan 19,7 persen dan PDI-P di posisi kedua meraih suara 18,3 persen, Partai Gerindra  (13,9 persen), Partai Hanura (6,9 persen), Demokrat (6,1 persen), PKB (4,8 persen), Partai Nasdem (4,6 persen), Partai Persatuan Pembangunan (4,3 persen), Partai Amanat Nasional (3,8 persen), Partai Keadilan Sejahtera (3,8 persen), Partai Bulan Bintang (1,4 persen), dan PKPI (0,5 persen). Adapun undecided (yang tidak memilih)  sebanyak 11,9 persen.

Dari hasil survei  Lembaga Survei Nasional (LSN) yang dilaksanakan pada 20-30 Oktober 2013, sebanyak 42,8 persen responden meyakini perolehan suara partai Islam akan mengalami penurunan pada Pemilu 2014 dibandingkan pada pemilu-pemilu sebelumnya. Terdapat empat faktor yang menyebabkan penurunan suara partai Islam, pertama, kasus korupsi dan perilaku korup yang melibatkan sejumlah kader partai Islam tertentu telah membuat kepercayaan publik terhadap partai Islam secara keseluruhan merosot. “Isu korupsi daging sapi yang melibatkan mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq telah membuat tingkat penerimaan publik merosot dibandingkan masa-masa sebelumnya.

Kedua, pada umumnya partai Islam dinilai publik kurang memiliki kepedulian terhadap masalah-masalah riil yang dihadapi rakyat. Ketiga, hampir semua partai Islam dinilai bersifat konservatif atau kurang berpihak pada perubahan. Keempat, adanya krisis kepemimpinan dikalangan partai Islam, dimana tidak ada lagi tokoh dari kalangan partai Islam yang kuat dan disegani. Berdasarkan hasil survei LSN, sebanyak 45,6 persen responden setuju wacana koalisi partai Islam menghadapi Pilpres 2014, sementara 23,7 persen mengaku tidak setuju dengan wacana koalisi tersebut.

Menurut peneliti LSN Dita Pradipta, munculnya wacana koalisi tersebut dimaksudkan agar suara partai Islam tidak semakin terbenam. Dengan adanya koalisi di partai Islam diharapkan dapat memunculkan figur yang dapat diterima semua kalangan umat Islam. Walaupun untuk menyatukan barisan partai Islam diyakini bukan pekerjaan yang mudah. Egoisme aliran yang mendasari pembentukan partai-partai Islam diduga menjadi kendala untuk mewujudkan koalisi tersebut.

Analisis

Berdasarkan hasil survei dua lembaga survei, LSI dan LSN, penulis menggunakannya, dengan alasan hasilnya merupakan kemiripan.  Dalam dinamika politik masing-masing parpol untuk meningkatkan baik popularitas dan elektabilitasnya, sebuah parpol akan dipengaruhi dengan upayanya, berupa kecerdikan dalam menghadapi pengaruh atau serangan negatif dari luar.

Hasil survei, walaupun merupakan sebuah persepsi publik, tetapi apabila dikerjakan secara independen tanpa pengaruh pemesan, akan memberikan gambaran situasi dan kondisi dunia politik Indonesia terakhir. Dari survei-survei diatas, nampak bahwa Partai Golkar dan PDIP akan menjadi dua partai jangkar di republik ini setelah pemilu 2014. Golkar dan PDIP akan bersaing dan diperkirakan akan mendapat perolehan suara masing-masing diatas 20 persen suara nasional.

Sementara Partai Demokrat merupakan parpol yang nampaknya akan tergulung dan runtuh secara sistematis karena isu serta bukti tayangan terlibatnya kasus korupsi serta gonjang-ganjing KKN yang dibidik oleh KPK. LSN menyampaikan elektabilitas Demokrat pada bulan Mei 2013 berkisar di angka 6,3 persen, sementara survei LSI bulan Oktober 2013 menyebutkan elektabilitasnya masih berkisar 9,8 persen. Tetapi pada bulan Januari 2014 hasil survei LSI menunjukkan elektabilitas Partai Demokrat terjun bebas dan hanya menduduki posisi keempat dengan 4,7 persen.

Sementara Partai Gerindra nampaknya menjadi terangkat dengan penampilan nama Prabowo, yang secara perlahan menjadi sosok yang disukai publik. Gerindra pada survei LSN bulan Mei 2013 mendadak terangkat menjadi parpol terkuat ketiga dan diapresiasi responden, elektabilitasnya 13,9 persen. Sementara LSI mengeluarkan angka 6,6 persen kepada Gerindra pada bulan Oktober 2013, tetapi pada surveinya bulan Januari 2014, elektabilitasnya menurut LSI naik menjadi 8,7 persen.

Elektabilitas yang stabil diperoleh dua parpol papan atas Golkar dan PDIP. Terlihat pada survei bulan Mei 2013, LSN menyebutkan elektabilitas Golkar (19,7 persen) dan PDIP (18,3 persen). Survei LSI bulan Oktober 2013, Partai Golkar 20,4 persen,  PDIP 18,7 persen dan survei LSI bulan Januari 2014, Golkar diapresiasi publik 18,3 persen serta PDIP 18,2 persen. Dengan demikian maka apabila dirangkum dalam tujuh bulan terakhir, elektabilitas Golkar berada  diantara rentang 18,3-20,4 persen serta PDIP diantara 18,2-18,7 persen.

Oleh karena itu dalam kondisi terakhir sekitar dua bulan menjelang pemilu tanggal 9 April 2014, maka apabila UU pemilu dan pilpres tidak mengalami perubahan yang signifikan, hanya akan muncul tiga pasangan capres-cawapres yaitu dari Golkar (berkoalisi), PDIP dengan koalisi serta beberapa parpol dengan pimpinan Gerindra dan calonnya Prabowo. Sementara strategi Partai Demokrat yang melakukan konvensi nampaknya sangat berat untuk dapat ikut bersaing.

Parpol berbasis Islam diperkirakan tidak akan banyak mengalami perubahan posisi dan harus berkerja keras agar lolos dari jepitan parlementary threshold yang 3,5 persen. Sesuai dengan ramalan LSI, empat partai kini posisinya berada di batas bahaya dibawah PT yang 3,5 persen, yaitu PKS, Nasdem, PBB dan PKPI. Akan tetapi dengan upaya kerasnya bagi PKS dan Nasdem diperkirakan masih berpeluang akan dapat lolos.

Bagaimana dengan peluang koalisi? Melihat hasil survei serta sejarah koalisi, sebenarnya yang paling ideal, apabila PDIP berkoalisi dengan Golkar, karena dengan hanya ditambah satu parpol papan tengah maka benar akan dicapai mayoritas di parlemen. Walaupun Aburizal Bakrie kini sudah menyatakan sebagai capres, bukan tidak mungkin apabila Megawati maju sebagai capres PDIP, Aburizal atau tokoh lainnya (JK?)  akan menjadi cawapres. Pada tahun 2004 Golkar juga berkoalisi dengan PDIP, melawan koalisi yang dibentuk partai Demokrat. Dunia politik adalah dunia kompromi yang di dasari dengan kepentingan.

Bagaimana dengan posisi Jokowi yang banyak disebut lembaga survei terunggul sebagai capres? Jokowi posisinya sebagai kader PDIP, dimana PDIP sudah memberikan mandat kepada Ibu Ketua Umum Megawati untuk menentukan siapa capresnya. Lebih baik Jokowi tetap tidak bergeser dari PDIP, walaupun banyak kemungkinan lamaran dari koalisi lainnya. Bukan tidak mungkin Prabowo akan mencoba membuat gerbong koalisi dengan Partai Demokrat, serta beberapa  parpol Islam  untuk maju, dan bukan tidak mungkin juga Jokowi akan coba ditarik kedalamnya. Semuanya terserah kepada Jokowi. LSI juga masih memperhitungkan mantan Panglima TNI Wiranto dan Hatta Rajasa.

Peluang Bu Mega apabila maju dan tidak mengajukan Jokowi, diperkirakan oleh LSI masih berada di angka yang cukup untuk memenangkan persaingan. Peluang menang dari Aburizal Bakrie dan Prabowo jelas masih sangat kuat. Basic descriptive intelligence memperlihatkan Megawati merupakan figur yang kuat, kokoh, terlihat pada pilp[res 2004 dan 2009, dia menjadi runner up, hanya kalah dari SBY. Kini pesaingnya bukanlah tokoh yang menjadi pesaingnya pada dua pemilu terdahulu. Aburizal Bakrie belum pernah muncul pada 2004 dan 2009. Demikian juga Prabowo baru sekalu muncul pada 2009 dan hanya sebagai cawapres Megawati. Disinilah fakta intelijen menunjukkan bahwa Bu Mega menjadi patron fenomenal yang penulis perkirakan akan tetap unggul pada 2014.

Menurut LSI, elektabilitas Megawati berkisar antara 13,4 persen sampai 22 persen, Ical antara 11,5 persen sampai 21,3 persen, dan Prabowo antara 10,7 persen sampai 20,6 persen. Dari basic descriptive intelligence pilpres 2004 dan 2009, penulis berkeyakinan bahwa apabila bersaing di pilpres 2014, maka Bu Mega yang akan menang. Disinilah prinsip dasar strategi Sun Tzu, dengan mengenali tempat bertarung dan mengenali lawan serta diri sendiri seperti yang penulis uraikan diatas.

Satu hal lain yang sangat perlu diperhatikan oleh para elit yang akan bertarung, yaitu pengaruh dari media. Media yang disebut sebagai “silent revolution” adalah sarana pemenangan yang sebaiknya di jadikan bagian strategi pemenangan. Beberapa calon jelas memiliki media, tetapi pada era keterbukaan, kemajuan pengetahuan konstituen, pengaruh media sangat besar mendukung calon yang pada awalnya sudah disukai rakyat.

Kuncinya adalah kejujuran, keterbukaan dan dekat dengan rakyat. Karena itu bagi PDIP yang tidak mempunyai media mungkin perlu penjajakan koalisi awal dengan parpol pemilik media. Hasil survei survei Pol-Tracking Institute pada bulan Oktober 2013, menyebutkan 74% menyatakan bahwa media mempengaruhi pilihan politik mereka, ini sebuah info yang berharga dan perlu diperhatikan.

Kesimpulan

Dalam pemilu 2014, apabila tidak terjadi sebuah perubahan signifikan, Partai Golkar dan PDIP diperkirakan akan menjadi parpol papan atas. Kekuatan partai nasionalis masih sulit dikalahkan oleh partai politik berbasis Islam. Diperkirakan, apabila UU Pemilu Nr.42/2008 masih dipergunakan,  akan muncul paling banyak tiga pasang capres dan cawapres. Yaitu pasangan dari PDIP, dari Golkar dan koalisi dibawah kepemimpinan Partai Gerindra. Peluang capres yang akan maju diperkirakan Megawati, Aburizal Bakrie dan Prabowo Subianto. Menurut pendapat penulis, peluang Ibu Megawati menang lebih besar dibandingkan dua calon lainnya. Tanpa mengecilkan calon lainnya, demikianlah fakta-fakta yang ada, dan merupakan dasar dari analisis ini. Semoga bermanfaat.

Oleh : Prayitno Ramelan,

Sumber: ramalanintelijen.net

About admin

Check Also

Perang Dagang Trump di Persimpangan Jalan

Artikel singkat ini sedikit akan mengurai agenda besar di balik perang dagang yang disuarakan oleh ...