Monday , November 19 2018
Home / Agama / Rahbar Tentang Kebangkitan Umat Islam

Rahbar Tentang Kebangkitan Umat Islam

kh

 

Tahun lalu dalam pertemuan dengan para tokoh perjuangan Palestina tahun lau, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menjelaskan transformasi di kawasan dan isu Palestina. Pada kesempatan itu beliau menegaskan, Allah telah berkehendak bahwa di kawasan ini akan lahir Timur Tengah baru, yaitu Timur Tengah yang Islami.

Berkenaan dengan transformasi terkini di Mesir, Situs Kantor Penerangan dan Dokumentasi Karya Ayatullah al-Udzma Khamenei menerbitkan sebuah kumpulan pandangan Rahbar dalam edisi khusus. Edisi khusus tersebut pada bagian ini membicarakan soal kebangkitan Islam.

Bangsa di Timur Tengah Membenci Amerika

Kita sekarang berada dalam situasi yang benar-benar krusial. Jika saya hendak memaparkan klaim dan persepsi saya soal ini – dalam kesempatan yang terbatas ini mungkin saya tak sempat mengajukan argumentasi, tapi yang jelas saya memiliki argumentasi- maka saya harus menjelaskan bahwa kekuatan-kekuatan arogan dunia sedang mengerahkan segenap upayanya untuk melumpuhkan gerakan Islam yang kini termanifestasi dalam Republik Islam. Dalam banyak kasus mereka sudah mengalami kebuntuan total. Jurus yang paling mereka andalkan di tengah isu-isu global dan polarisasi yang mereka lakukan di Timteng yang notabene kawasan paling vital di muka bumi ini sudah berantakan, atau minimal sudah sangat lemah dan tidak dapat diandalkan lagi.

Semoga Allah Swt merahmati Almarhum Syeikh Husain Lankarani, ulama sekaligus politisi kawakan. Pada sekitar tahun 1974-1975 atau mungkin sebelumnya, beliau mengumpamakan rezim despotik Pahlevi seperti orang yang bertengger di atas kubah besar sambil memegang kantung yang terbuat dari kain sutera berisi biji-bijian buah walnut (sejenis kenari). Salah satu sudut kantung itu bocor sehingga bijian walnut berhamburan satu persatu di permukaan kubah. Dia mencoba bergerak meraih bijian yang berserakan tapi gerakannya justru membuat bijian yang lain berjatuhan dan dia masih tetap ingin bertahan di atas kubah. Padahal seandainya ada di bawah dan di atas permukaan tanah yang rata dia akan dapat dengan mudah meraih dan mengumpulkan lagi bijian yang berjatuhan.

Menurut hemat saya, kekuatan hegemonik dunia sekarang mengalami kondisi serupa ketika berhadapan dengan gerakan Islam. Mereka tidak memiliki pijakan kaki yang kuat sebab sebagian besar trik propaganda mereka yang semula kokoh kini sudah rapuh. Masyarakat di AS sendiri sekarang gusar menyaksikan eskalasi lobi Zionisme di negara ini. Ketidakpuasan ini terjadi secara gradual di AS yang notabene basis gerakan Zionis dan sarang para raksasa kapitalias Zionis. Rezim AS tentu saja sudah berusaha memperkatat ruang gerak rakyatnya dengan trik baru, yaitu menyibukkan publik dengan urusan kehidupan sehari-hari sehingga publik tak sempat berbuat banyak dalam soal ini. Meski begitu, kekecewaan itu tetap saja mengemuka. Data kita tentang ini sangat akurat. Di negara-negara Eropa juga demikian, meskipun polanya berbeda. Sedangkan di negara-negara Islam tentu sudah jelas, apalagi di Timur Tengah. Alhasil, kebencian dan bahkan rasa muak terhadap rezim AS dan para cs-nya di dunia sudah mewabah di tengah bangsa-bangsa dunia. Seperti perumpamaan tadi, wabah ini tak dapat mereka atasi, walaupun mereka sudah bersusah payah untuk mengatasinya.

 (Cuplikan Pidato Rahbar di Depan Anggota Basij Dewan Sains Universitas Iran, 23 Juni 2010)

Mereka Tak Mampu Meluruskan Kondisi

Kita sudah semakin kuat dibanding kondisi tiga dekade yang lalu. Kita sudah lebih berpengalaman dan matang. Kemampuan kita juga semakin tinggi. Sementara, kubu lawan semakin lemah. Dulu, seluruh dunia arogansi berbaris dalam satu front untuk melawan Iran. Saat itu, Iran benar-benar tidak memiliki ruang sedikitpun untuk beristirahat. Itulah kondisi pada dekade awal revolusi Islam. Uni Soviet saat itu adalah satu kekuatan besar dunia, bukan hanya sebuah negara tapi sebuah negara serikat yang meliputi banyak negara. Pusatnya adalah kawasan ini tepatnya Rusia hari ini. Kawasan Eropa Timur seluruhnya berada di tangannya. Tak hanya itu, Uni Soviet juga menguasai sebagian besar negara Afrika dan Amerika Latin, juga sebagian negara di benua Asia. Blok kekuatan ini bermusuhan dengan Republik Islam Iran. Saat itu, untuk pengadaan senjata konvensional saja tidak ada tempat yang bisa kita datangi. Artinya, tidak ada negara yang bersedia menjual senjata konvensional misalnya tank kepada kita. Waktu itu saya menjabat sebagai presiden dan untuk keperluan itu saya berkunjung ke Yugoslavia. Mereka nampak akrab dan ramah saat menjamu, namun bagaimanapun kita berusaha membujuk untuk menjual senjata konvensional kepada kita mereka tidak bersedia. Padahal secara lahirnya, Yugoslavia termasuk anggota Gerakan Non Blok, bukan masuk dalam Blok Timur atau Barat. Meski demikian, mereka tidak mau menjual senjata kepada kita. Negara-negara yang lain lebih parah lagi.

Di pihak lain, ada Blok Barat yang iconnya adalah Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Prancis yang saat ini rajin menebar propaganda terhadap kita, saat itu menyuplai pesawat ‘mirage’ dan ‘super standar’ kepada lawan kita untuk digunakan menyerang kita. Artinya, kejahatan yang mereka lakukan terhadap kita zaman itu lebih besar dibanding saat ini. Jika sekarang para petinggi Jerman -misalnya Kanselir Jerman atau petinggi lainnya di negara itu- melontarkan pernyataan yang menyudutkan kita, saat itu mereka menyuplai Saddam dengan senjata-senjata kimia bahkan membuatkan pabrik senjata kimia untuk rezim Baath. Artinya, permusuhan mereka waktu itu lebih terbuka dan lebih aktif.

Kondisinya sekarang sudah jauh berbeda. Mereka sudah tidak bisa lagi melakukan cara-cara permusuhan seperti dulu. Bukannya mereka sudah berubah baik tapi tidak ada peluang lagi. Dari hari ke hari, bangsa yang besar ini semakin kuat dan matang. Masalah yang penting ini sudah disadari oleh Barat. Mereka merasa hegemoni dan kekuasaannya di Dunia Islam semakin rapuh. Jika dulu mereka merasa bebas melakukan apa saja di negara-negara Islam dan Arab tanpa ada halangan apapun, kini gerak langkah mereka terhenti. Gelombang kebangkitan Islam bahkan telah memaksa mereka untuk mengubah strategi, dan itupun sulit mereka lakukan. Di sebagian negara yang rezimnya secara nyata bergantung kepada Barat, ketidakpuasan rakyat terhadap kebijakan pemerintah di sana terlihat jelas. Ada upaya untuk mengubah strategi supaya ada jalan keluar, tapi mereka tidak menemukan kecuali jalan buntu. Demikianlah kondisi Dunia Barat saat ini.

 (Cuplikan Pidato Rahbar dalam Pertemuan dengan Dewan Ahli Kepemimpinan, 16 September 2010)

Tidak Intervensi dalam Urusan Negara Lain

Satu poin cemerlang lagi dalam khittah Imam Khomeini ialah universalitas kebangkitan beliau. Beliau memandang kebangkitan dan revolusi ini sebagai gerakan universal yang berkaitan dengan seluruh umat manusia, khususnya umat Islam. Beliau selalu konsisten pada prinsip ini. Ini sama sekali bukan dalam konteks intervensi urusan internal negara-negara lain dimana kita memang tidak mungkin akan melakukannya. Ini juga bukan berarti ekspor revolusi ala kaum imperialis yang juga tidak akan kita lakukan dan kita memang bukan ahlinya. Sebaliknya, makna dari semua ini ialah berkah dari kebangkitan penuh rahmat ini harus tersebar ke seluruh penjuru dunia, yakni berkah yang sekiranya bangsa-bangsa dunia dapat memahami kewajiban mereka, dan umat Islam dapat menyadari bagaimana dan ada di mana identitas mereka.

 (Cuplikan Khutbah Jumat Rahbar Pada Hari Haul ke-21 Imam Khomeini (RA), 4 Juni 2010 M)

Langkah-Langkah Umat Islam yang Mantap

Luasnya gelombang kebangkitan Islam di dunia hari ini adalah hakikat yang meniupkan kabar gembira akan hari esok yang baik bagi umat Islam. Sejak tiga dekade silam, geliat kebangkitan yang agung ini telah terlihat dengan kemenangan revolusi Islam dan pembentukan pemerintahan Repulik Islam. Sejak saat itu, umat Islam terus bergerak maju, menerjang setiap rintangan yang menghadang dan menaklukkan barak demi barak.

Kian pelik dan sistematisnya modus permusuhan kubu arogansi dan upayanya dalam melawan Islam dengan dana raksasa, adalah bukti lain dari kemajuan yang dicapai ini. Propaganda musuh dalam skala luas untuk menebar Islamophobia, tindakan mereka yang tergesa-gesa untuk menciptakan perselisihan antara kelompok-kelompok Islam dan menyulut sentimen madzhab, upaya mereka dalam mengobarkan permusuhan antara Syiah dan Sunni, langkah mereka dalam menebar perseteruan antara negara-negara Islam serta usaha memperuncing perselisihan yang ada dan mengubahnya menjadi permusuhan dan konflik yang tak berkesudahan, pengerahan badan-badan intelijen dan spionase untuk menyuntikkan kebobrokan dan amoralitas di tengah kaum muda, semua itu menunjukkan reaksi kepanikan mereka menghadapi gerakan yang mantap dan langkah umat Islam yang kokoh menuju ke arah kesadaran, kemuliaan dan kebebasan.

 (Cuplikan dari Pesan Rahbar untuk Hujjaj di Musim Haji Tahun 1431 Hijriyah)

Ekspor Revolusi

Kita tidak merencanakan untuk mengekspor revolusi. Sebab ekspor revolusi ini terjadi secara langsung dan sudah terwujud. Anda menyaksikan bawha hari ini kecenderungan dan keimanan kepada Islam telah hidup kembali di seluruh penjuru dunia. Anda menyaksikan pula kebangkitan bangsa-bangsa Muslim di kawasan utara Afrika, Timur Tengah, dan seluruh penjuru timur dan barat Dunia Islam. Demikian juga kecenderungan para pemuda di negara-negara Islam kepada keindahan agama dan al-Qur’an. Semua itu menunjukkan bahwa revolusi Islam ini sudah terekspor sejak awal kelahirannya. Kita bukan berpikir untuk mengekspor revolusi di tahun 14 usianya. Revolusi ini sudah terekspor sekali dan sekaligus. Ketika revolusi ini menang dan berita serta daya tariknya menjadi sorotan dunia, apa yang mesti terjadi sudah terjadi saat itu. Dan itulah yang tidak kalian maukan. Itu pula yang membuat kalian berang. Kalian tidak bisa berkutik dan tidak ada yang bisa berbuat apa-apa. Sebab, masalahnya sudah terlambat.

 (Cuplikan dari khutbah Idul Fitri 24 Maret 1993)

Masa Depan Milik Umat Islam

Padahal pada masa ketika revolusi Islam menang, Israel di mata pemerintah dan negara-negara Islam, khususnya bangsa Arab, dipandang sebagai rezim yang tak terkalahkan. Hal inilah yang membuat rezim Zionis kini mengetepikan slogan Israel Raya dari Nil hingga Eufrat dan lantas melupakannya. Bangsa-bangsa Muslim -dari Afrika hingga Asia timur- berlomba memikirkan pembentukan sebuah negara dan pemerintahan Islam dengan berbagai format yang tidak mesti sama dengan format Republik Islam milik kita. Namun yang jelas mereka memikirkan kedaulatan Islam di negara mereka. Sejumlah negara berhasil, dan sebagian sedang menantikan masa depan yang cerah lewat gerakan Islam yang mereka lakukan.

 (Cuplikan dari Pidato Rahbar pada Peringatan Haul Imam Khomeini RA ke-20, 4 Juni 2009)

Amerika Versus Kekuatan Kubu Islam

Amerika menyadari tak akan punya tempat di masa depan dunia Islam. Karena itu, untuk mencegah kesadaran Islam berubah menjadi gerakan revolusioner, AS melakukan tindakan antisipasi. Dengan berbagai cara, mereka berusaha untuk memperlambat terjadinya apa yang sudah pasti terjadi pada bangsa-bangsa di dunia. Baru-baru para pejabat Amerika mengakui, jika AS tidak mengagresi Irak, rezim Saddam sudah pasti tumbang di tangan orang-orang Irak yang mukmin dan Muslim. Jika itu terjadi, AS tidak akan mendapat bagian. Itulah yang mereka cemaskan. Sikap reaktif itu disebabkan oleh kecemasan mereka akan akibat dari kebangkitan umat di Dunia Islam. Apa yang dilakukan Amerika bukan menunjukkan kekuatannya, tapi sebagai reaksi atas kekuatan di kubu Islam, serta kebangkitan dan kesadaran Islam yang mereka saksikan.

 (Cuplikan dari pidato Rahbar di Haram Imam Khomeini RA 4 Juni 2005)(IRIB Indonesia / Khamenei / SL)

About admin

Check Also

Bukti Kongkrit Akidah wahabi-salafi adalah Akidah Yahudi

Para pembaca sekalian, mungkin banyak yang tidak mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya akidah wahabi-salafi, orang-orang ...