Tuesday , December 11 2018
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Rahasia Tarekat Berada Pada Murid-Muridnya

Rahasia Tarekat Berada Pada Murid-Muridnya

Asy-Sya’rani

Di antara perilaku yang harus dilakukan murid hendaknya tidak menuruti kebosanan untuk membaca wirid-wirid yang diperintahkan gurunya. Sebab setiap guru, Allah telah menjadikan sumber bantuan, rahasianya dan rahasia tarekatnya berada pada wirid-wirid yang diperintahkan sang guru kepada para muridnya. Maka barangsiapa meninggalkan wirid-wiridnya berarti telah merusak janji yang telah disepakati dengan gurunya.

Kaum sufi telah sepakat, bahwa setiap kali murid memutuskan wiridnya tentu bantuan yang diberikan juga akan terputus pada saat itu pula. Hal ini terjadi karena tarekat kaum sufi adalah pembenaran, pencarian sesuatu secara hakiki, perjuangan yang sungguh-sungguh, amal, menutup mata, menyucikan hati, tangan, kemaluan, dan lisan. Maka barangsiapa perbuatannya telah menyalahi aturan-aturan tersebut maka tarekat juga akan menjauhinya, karena tidak menyukainya.

Tuan Guru Ibrahim ad-Dasuqi mengatakan: Seorang murid harus mengumpulkan seluruh kesungguhan niatnya, agar ia bisa mengetahui tarekat dengan merasakannya, tidak sekadar keterangan dan tulisan.

Ia juga pernah mengatakan kepada muridnya: “Wahai anakku, jika engkau murid yang benar, maka bersihkan dari tubuhmu kepada hatimu. Biasakan untuk diam dan tidak menyibukkan diri dengan perdebatan yang tidak bermanfaat dan omong kosong. Kokohkan niatmu dan naiklah kuda tarekat!” Kemudian lebih lanjut berkata: “Ah … betapa manisnya tarekat ini, betapa tinggi dan mulianya, betapa pahitnya, betapa bisa mematikannya, betapa bisa menghidupkannya, betapa manisnya, betapa sulitnya, betapa besarnya, betapa banyak rintangannya, betapa banyak bantuannya, betapa mengagumkan waridnya, betapa dalam lautannya, betapa banyak binatang buasnya, dan betapa banyak kalajengking dan ularnya!

Ia juga mengatakan: Bagaimana salah seorang diantara kalian mengaku mencintai Laila, sementana siang dan malam selalu mencaci dan mengejeknya. Banyak orang yang tidak mengakuinya, dan berpaling darinya, akibat ketidaktahuannya dan telah banyak mengkhianati janjinya. Laila hanya mau menampakkan diri kepada orang yang mau mengorbankan dirinya demi cintanya dan tidak pernah peduli dengan omongan orang-orang yang tidak mengakuinya. Sebab Laila tidak akan mencintai orang yang masih mencintai selain dirinya kecuali memang mendapatkan izin darinya, bahkan ia tidak akan mencintai orang yang di dalam benaknya terbersit untuk mencintai kepada orang lain. Ia hanya mencintai orang yang dengan cintanya menjadi mabuk, dan dengan minuman cintanya ia tidak sadarkan diri. Andaikan semua makhluk berkumpul untuk memalingkan hatinya dan cintanya kepada Laila atau berusaha menggagalkan ikatan janji yang telah dijalinnya, tentu mereka tidak akan mampu.

Ia juga mengatakan: Di antara syarat-syarat murid yang benar adalah tidak memperbanyak berteman dan duduk dengan orang-orang yang memiliki banyak omong, akan tetapi berteman dengan orang yang telah diambil tarekat, dilumatkan oleh keporak-porandaan, dicerai-beraikan oleh kejujuran, sementara hati dan tubuhnya telah lunglai karena menelan pahitnya tarekat.

Kemudian lebih lanjut ia mengatakan: Barangsiapa masih ragu dengan apa yang saya katakan, bahwa berteman dan duduk bersama orang-orang yang banyak omong hanya akan mematikan hati maka hendaknya mencoba dirinya untuk merasa tenang dan terhibur dengan Allah saja, ketika sedang berdzikir kepada Allah dalam majelis dzikir. Dan apabila membaca sedikit tentang hukum-hukum syariat atau ketika menelaah Ilmu Nahwu misalnya, atau apa saja sementara hatinya kosong dari dzikir, maka dengan yakin ia akan menemukan ketenangan lebih banyak dan lebih merasa terhibur ketika ia sedang berdzikir kepada Allah daripada ketenangan yang didapatkan pada kegiatan lain.

Sedangkan kegiatan apa saja yang terdapat ketenangan lebih banyak, itulah yang lebih dekat dengan hadirat kesaksian Allah Azza wa Jalla. Sebab suatu ketenangan dan bisa merasa terhibur adalah ciri dan kedekatan dan ridha. Sedangkan tidak adanya ketenangan menunjukkan kejauhan. — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.

Seorang murid harus banyak mencaci diri (nafsu)nya dan mendorongnya untuk selalu berjalan pada jalur tarekat ketika ia berhenti untuk memenuhi kesenangan nafsunya. Ia juga harus lebih dahulu membuang segala yang berkaitan dengan nafsu daripada melakukan suatu amalan.

Kaum sufi mengatakan: Contoh orang yang menyimpan satu dirham ibarat orang yang mengikat kakinya dengan tali pengikat hewan, dan orang yang menyimpan setengah dirham ibarat orang yang mengikat dirinya dengan tali jemuran, sedangkan orang yang menyimpan satu dinar ibarat orang yang mengikat dirinya dengan tali timba. Maka barangsiapa semakin bertambah banyak dunianya maka semakin banyak pula tali yang mengikatnya.

Dan ketika seorang murid sudah merasa lelah untuk beribadah, maka sebaiknya mengatakan kepada dirinya, “Bersabarlah, karena kesenangan sudah berada di depanmu. Dengan kelelahanmu ini aku hanya menginginkan memuliakan dirimu!”

Tuan Guru Ibrahim ad-Dasuqi mengatakan: Di antara syarat-syarat murid yang benar, hendaknya selalu berjalan pada jalur kedudukan-kedudukan spiritual, baik siang maupun malam, pagi maupun sore hari, dan tidak ada yang bisa mengurungkannya, sedangkan kudanya yang lari sangat kencang tidak ada kendali, terpenuhi oleh keberanian dan kesungguhan niat, perutnya telah terbelah oleh rahasia, disakiti oleh makhluk, tak ada bahaya yang sanggup merintanginya, tidak ada pukulan yang mampu memukul mundur, sampai semua orang yang memusuhinya dalam apa yang dicintainya kembali dengan kekalahan. Tidak mengigau, tidak tidur dan tidak pula mengorbankan, akan tetapi seluruh masa yang dilewatinya sama, sampai ia bisa masuk ke tenda Laila dan meletakkan tali-tali tenda di atas pipinya dan mendengar omongannya. Maka di sana ia menjadi sembuh dan baik, lalu dikatakan kepadanya, “Beristirahatlah, betapa jauh jarak perjalanan yang telah engkau tempuh, di mana engkau telah melewati daratan tandus, gunung, lautan, kegelapan dan api! Betapa jauh kelelahan yang telah engkau dapatkan, betapa jauh saudara-saudaramu kembali dari perjalanan ini tapi engkau datang lalu Allah memuliakan tempat kembalimu! Usahamu tidak sia-sia, sekarang engkau di sisi-Ku sebagai tamu yang memiliki posisi kuat, sementara tamu-tamu Kami tidak ada batas akhir, akan tetapi kekal untuk selama-lamanya.”

Source: sufinews.com

About admin

Check Also

Sifat-Sifat Para Nabi dan Posisi Rasulullah (5)

Tablig Tablig (al-tablîgh)[1] adalah sifat ketiga yang dimiliki para anbiya. Jika Anda ingin memperluas pengertian ...