Tuesday , July 17 2018
Home / Relaksasi / Renungan / Puncak Penghambaan

Puncak Penghambaan

Ridha merupakan bagian dari kesempurnaan penghambaan seseorang kepada Allah, dan penghambaan seseorang itu belum sempurna tanpa kesabaran, ketawakkalan, keridhaan, kepatuhan, kerendahdirian, dan berhajat kepada Allah Swt.

Terdapat banyak hasil (buah) yang dapat dipetik dari ridha, dan yang terpenting di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, ridha, gembira, dan senang kepada Allah Swt seperti yang dilakukan oleh Nabi Saw bahwa beliau adalah orang yang paling ridha, paling gembira, dan paling senang dengan Tuhannya. Sesungguhnya ridha dengan Allah akan membuahkan ridha Allah kepada hamba yang bersangkutan. Karena sesungguhnya Allah meridhai orang yang menyembah-Nya; apabila Anda meminta dengan mendesak kepada-Nya dan merendahkan diri kepada-Nya, niscaya Dia akan menerima Anda.

Kedua, ridha akan menyelamatkan seorang hamba dari kegundahan, kecemasan, kesedihan, kekacauan hati, tertutupnya mata hati, dan buruknya keadaan. Oleh karena itulah, pintu surga dunia dapat dibuka dengan ridha sebelum surga akhirat. Ridha memastikan tumbuhnya ketenangan, kesejukan, ketenteraman, dan keteguhan dalam kalbu. Sebaliknya, perasaan marah akan menimbulkan keguncangan, keraguan, keterkejutan, dan tidak adanya keteguhan dalam hati.

Ridha akan menurunkan ke dalam kalbu seorang hamba perasaan tenang yang tidak dapat diturunkan kecuali dengannya dan tiada yang lebih berguna bagi kalbunya selainnya. Karena sesungguhnya manakala ketenangan telah bersemi dalam kalbu seorang hamba, maka dengan sendirinya dia menjadi istiqamah, baik keadaannya dan baik pula hatinya, sementara dia pun merasa aman, tenteram, dan berada dalam kehidupan yang baik.

Ketiga, ridha akan membebaskan seorang hamba dari sikap menentang Tuhannya dalam semua perintah, hukum, dan keputusan taqdir-Nya.

Ketika iblis diperintahkan untuk bersujud kepada Adam, dia mendurhakai perintah Tuhannya dan enggan melakukannya. Dia tidak ridha, katanya: “Mengapa aku mesti sujud kepada manusia yang Engkau ciptakan dari tanah?”

Ketiadaan ridha dalam diri iblis mengakibatkan dia menentang perintah Tuhannya. Kalau demikian, berarti orang-orang munafiq masa kita sekarang ini, mereka tidak ridha dengan hukum Allah yang telah mengharamkan riba, hijab, dan polygami melalui ungkapan mereka dalam bantahannya terhadap Allah Rabb semesta alam.

Ucapan mereka berkisar mengenai perdebatan mereka terhadap Tuhannya tentang ketetapan hukum yang telah dibuat-Nya, meskipun mereka tidak mengutarakannya secara terang-terangan. Singkatnya, ridha akan membebaskan manusia dari perdebatan seperti ini.

Keempat, ridha akan mewariskan rasa keadilan. Ridha akan menumbuhkan dalam diri seorang hamba rasa keadilan sifat Tuhan. Oleh karena itu, Nabi Saw mengatakan dalam do’anya: “Adalah sangat adil keputusan-Mu kepadaku.”

Orang yang tidak merasakan keadilan Tuhan, dia adalah seorang yang melampaui batas lagi dzhalim, karena Allah adalah Mahaadil di antara orang-orang yang adil hingga dalam masalah hukuman.

Potong tangan bagi pencuri merupakan hukuman, dan Allah Maha adil dalam peradilan dan hukuman-Nya. Oleh karena itu, Allah tidak boleh ditentang, baik dalam peradilan maupun hukuman-Nya.

Kelima, ketiadaan ridha adakalanya karena luputnya sesuatu dari Anda, padahal Anda menyukai dan menginginkannya; atau adakalanya karena tertimpa sesuatu, padahal Anda tidak menyukainya dan sangat membencinya. Oleh karena itulah, seseorang yang tidak punya rasa ridha selalu dicekam oleh kegelisahan dan keguncangannya apabila mengalami sesuatu yang tidak disukai atau luputnya sesuatu yang disukai darinya hingga membuatnya mengalami derita jiwa yang tak berkesudahan.

Berbeda halnya jika seseorang memiliki rasa ridha, seandainya tertimpa sesuatu yang dibencinya atau luputnya sesuatu yang disukai darinya, dia sama sekali tidak menderita dan tidak pula merasa sakit, karena ridha yang ada dalam dirinya mencegah semuanya itu, sehingga dia tidak pernah berputus asa terhadap apa yang luput darinya dan tidak pula terlalu gembira dengan apa yang telah diraihnya.

Sesuatu yang disukai darinya, dia sama sekali tidak menderita dan tidak pula merasa sakit, karena ridha yang ada dalam dirinya mencegah semuanya itu, sehingga dia tidak pernah berputus asa terhadap apa yang luput darinya dan tidak pula terlalu gembira dengan apa yang telah diraihnya.

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-Hadiid (57): 23)

Ridha sangat berguna sekali bagi seseorang hingga akan membuatnya tidak pernah merasa putus asa terhadap keinginan yang luput darinya, dan tidak pernah pula merasa bersedih hati atau kekeruhan terhadap musibah yang menimpa dirinya, karena semuanya itu telah tercatat dalam taqdir-Nya.

Keenam, ridha akan membuka pintu keselamatan dari tindak kejahatan korupsi dan membersihkan kalbu dari rasa dendam dan dengki. Karena sesungguhnya seseorang itu apabila tidak ridha dengan bagian yang telah diberikan oleh Allah kepada dirinya, niscaya perhatiannya senantiasa tertuju pada orang lain dengan pandangan yang sempit lagi penuh dengan kedengkian. Dia akan mengharapkan semoga kenikmatan lenyap dari tangan orang lain; dan rasa marah (kurang puas) akan menyuburkan hal-hal tersebut ke dalam kalbu pelakunya.

Ketujuh, ridha akan membuat Anda tidak pernah meragukan ketetapan Allah, taqdir, hukum, dan ilmu-Nya, se­hingga akan membuatnya pasrah kepada perintah-Nya dengan penuh keyakinan bahwa Dia Maha bijaksana apa pun yang terjadi. Berbeda halnya dengan orang yang marah (tidak ridha), maka selamanya dia meragukan kesemuanya itu; dan setan selalu menggodanya dengan bisikan apakah hikmahnya bisa terjadi begini dan begitu.

Oleh karena itulah, ridha dan yakin bagaikan dua bersaudara yang senantiasa bersamaan. Adapun marah dan ragu merupakan dua saudara kembar yang saling menempel satu sama lainnya.

Untuk itu, saran dari kami apabila Anda mampu berbuat dengan ridha dan yakin, maka lakukanlah; dan jika Anda tidak mampu melakukannya, maka sesungguhnya dalam kesabaran terkandung kebaikan yang banyak.

Kedelapan, di antara buah ridha yang terpenting ialah ridha akan membuahkan rasa syukur.

Orang yang marah tidak pernah bersyukur, karena dia selalu merasa merugi, haknya dikurangi, dan bagiannya diremehkan. Demikian itu karena sesung­guhnya dia berpandangan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah mendapatkan nikmat.

Marah timbul akibat dari sikap ingkar kepada pemberi nikmat dan mengingkari nikmat itu sendiri. Ridha muncul akibat dari bersyukur kepada pemberi nikmat dan mensyukuri nikmat itu sendiri.

Kesembilan, membuat seseorang tidak mengatakan kecuali hanya hal-hal yang diridhai oleh Tuhannya.

Marah akan membuat seseorang mengatakan hal-hal yang mengandung protes kepada Tuhan. Bahkan adakalanya dalam ungkapannya terkandung pengertian yang menjurus ke arah celaan terhadap Tuhan. Orang yang ridha terbebas dari kemauan hawa nafsu, sedang orang yang marah selalu mengikuti kemauan hawa nafsunya.

Adapun ridha tidak dapat dihimpunkan dengan mengikuti kemauan hawa nafsu. Oleh karena itulah, ridha dengan Allah dan ridha kepada Allah dapat mengusir hawa nafsu.

Orang yang ridha selalu mengikuti pilihan Allah. Dia merasakan bahwa dirinya mempunyai perbendaharaan yang tiada taranya apabila Allah meridhainya, sebab ridha Allah lebih besar daripada surga.

Karena sesungguhnya ketika Allah menyebutkan nikmat surgawi mengatakan dalam firman-Nya: “Dan keridhaan Allah adalah lebih besar.” (QS. At-Taubah (9): 72)

Ridha Allah apabila berhasil diraih, maka kedudukannya jauh lebih besar daripada surga dan semua kenikmatan yang ada di dalamnya.

Ridha adalah sifat Allah, sedang surga adalah makhluk; dan sifat Allah itu jelas jauh lebih besar daripada semua makhluk-Nya.

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhoan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (QS. At-Taubah (9): 12)

Jelasnya, yang tersimpulkan dari makna ayat ini menunjukkan bahwa ridha Allah lebih besar daripada surgaNya.

Kesepuluh, ridha membebaskan seorang hamba dari kemarahan manusia, karena sesungguhnya apabila Allah meridhai hamba-Nya, Dia akan membuat semua manusia ridha dengannya. Seorang hamba apabila berupaya untuk meraih ridha Allah, sudah semestinya tidak menghiraukan ucapan manusia.

Permasalahannya akan timbul manakala seseorang berupaya untuk meraih keridhaan dari sesama manusianya, maka dia akan merasakan dirinya begitu lelah, karena orang yang dikejarnya sama sekali tidak punya kemampuan untuk membuat orang lain ridha kepadanya, sehingga hidupnya berada dalam penderitaan.

Berbeda halnya dengan orang yang berusaha meraih ridha Allah, maka dia tidak akan menghiraukan ocehan orang lain sama sekali dan tidak pula akan memayahkan dirinya. Meskipun omongan orang lain sampai kepadanya, tentu tidak bakal akan menyakiti hatinya karena dia tidak mempedulikannya, selama Allah ridha kepadanya.

Kesebelas, Allah akan memberi orang yang ridha kepada-Nya berbagai macam hal yang tidak dimintanya, bukan hanya karena pemberian Allah sebab do’a yang dimintanya saja, selama hal itu mengandung kemashlahatan baginya.

Keduabelas, ridha akan mengonsentrasikan kalbu seorang hamba untuk ibadah, bila berada dalam shalatnya, kalbunya bebas dari gangguan waswas, dan bila ber­ada dalam keta’atan, hatinya tidak kacau, sehingga dia dapat meraih faidah yang optimal dari ibadahnya. Ridha dapat memusatkan dan menjernihkan hati sehingga pelakunya dapat memanfaatkannya untuk ibadah.

Ketigabelas, ridha mempunyai kedudukan yang menakjubkan bersama dengan amalan kalbu lainnya yang shalih. Pahalanya tidak pernah terputus dan tidak pula ada batasannya; berbeda dengan amalan anggota tubuh lainnya, yang pahalanya mempunyai batasan dalam waktu tertentu, maka amalan anggota tubuh lainnya terbatas, sedang amalan yang bersifat hati tidak terbatas.

Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka dan berkata: ‘Cukuplah Allah bagi kami.’”(QS. At-Taubah (9): 59)

Dalam ayat lain dijelaskan:

Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya, sebab itu, Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka,” (QS. Muhammad (47): 28)

Sehingga terhadap hal-hal yang dilarang pun sudah menjadi keharusan bagi kita untuk memahami apakah makna ridha terhadap hal-hal yang dilarang. Sudah barang tentu kita tidak diperintahkan meridhai hal-hal yang dilarang sebagaimana tidak pula diperintahkan untuk menyukainya, karena sesungguhnya Allah tidak meridhainya dan tidak pula menyukainya.

Allah tidak menyukai kerusakan dan tidak pula meridhai kekufuran bagi hamba-hamba-Nya. Orang-orang munafik menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridhai oleh Allah. Bahkan mereka mengikuti apa yang dimurkai oleh-Nya dan tidak menyukai keridhaan-Nya. Sebab itu, Allah menghapus pahala amalan mereka.

Ridha yang dikuatkan oleh nash ialah: ridha dengan Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan ridha dengan Muhammad Saw sebagai nabi anutan, ridha dengan apa yang telah disyari’atkan oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya dengan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, mewajibkan apa yang diwajibkan-Nya, atau membolehkan apa yang dibolehkan-Nya.

Oleh : DR. Asmadji Muchtar

About admin

Check Also

Nabi Muhammad SAW telah Menyaksikan Nusantara yang penuh Berkah dan Kebangkitannya di masa Depan

Seorang budayawan dan ulama Nurcholish Madjid mencatat ada indikasi sejak zaman Nabi Sulaiman bahwa Arab ...