Thursday , August 22 2019
Home / Relaksasi / Renungan / Pewaris Qabil Gentayangan di Bumi

Pewaris Qabil Gentayangan di Bumi

Al kisah, Nabi Adam dan Hawwa ketika masih di surga telah dikaruniai dua anak kembar, putra dan putri, yaitu Qabil dan Iklimah. Kemudian setelah diturunkan ke muka bumi, beliau juga dikaruniai lagi dua anak kembar, putra dan putri yaitu Habil dan Layudza. Setelah putra-putri Adam menginjak dewasa, Adam memutuskan untuk menjodohkan Qabil dengan Layudza, kembaran Habil. Sedangkan Habil dijodohkan dengan Iklimah, kembaran Qabil. Tetapi menurut Qabil keputusan ayahnya itu tidak adil. Sebab, Iklimah, kembarannya, konon lebih cantik dibanding Layudza, kembaran Habil. Maka ia pun protes kepada ayahnya, Nabi Adam as. “Wahai ayahanda, keputusan itu tidak adil. Kembaranku, Iklimah, yang cantik engkau jodohkan dengan Habil. Sementara aku engkau jodohkan dengan Layudza yang bodoh dan jelek. Maka saya mohon ayahanda merubah keputusan itu. Aku dengan kembaranku, Iklimah, dan Habil dengan kembarannya, Layudza.”

Oleh karena keputusan Nabi Adam tersebut adalah syari’at dari Allah, maka jawab Adam, “Terimalah keputusan itu wahai anakku. Allah Swt. telah mesyari’atkan bahwa saudara sekembaran adalah muhrim (haram dinikahi). Maka aku tidak bisa merubah keputusanku, dan aku takut kepada Allah untuk melanggar syari’atNya”.

Mendengar protesnya ditolak, Qabil pun tetap saja tidak mau menerimanya. Karena dalam hatinya terlanjur dipenuhi oleh rasa hasud, dengki, dan marah yang mendalam atas keputusan itu. Melihat gelagat Qabil yang tidak baik terhadap Habil, menurut Adam perlu ada uji kesetiaan terhadap kedua putranya itu. Maka Allah Swt. menurunkan perintah agar mereka berdua mempersembahkan qurban. Si Habil menerima perintah itu dengan lapang dada. Ia memilih binatang ternaknya yang paling baik untuk diqurbankan dengan mengharap keridlaan-Nya semata. Sementara si Qabil menerima perintah itu dengan rasa terpaksa. Maka ia pun mempersembahkan hasil peternakannya yang paling buruk.

Dua bentuk qurban yang amat mencolok perbedaannya itu, maka nalar sehat pun berkata, “Tentulah Allah memilih qurban yang baik dan dipersembahkan dengan hati yang ikhlas dengan penuh rasa penghambaan diri kepada-Nya”. Ternyata sungguh benar, Allah memerintahkan api untuk memakan qurban dari Habil sebagai pertanda bahwa qurban si Habil lah yang diterima oleh Allah.

Keadaan seperti ini semakin menyulut kedengkian Qabil terhadap Habil. Dendam Qabil pun semakin membara. Maka ketika ada kesempatan untuk melepaskan dendamnya, ia pun menemui Habil dan menyatakan, “Sungguh aku akan membunuh kamu”. Habil pun bertanya dengan perasaan yang amat heran, “Mengapa engkau membunuh aku?” Jawab Qabil dengan hasad yang membara di dadanya, “Karena Allah mener ima qurbanmu dan menolak qurbanku. Engkau akan menikahi saudara perempuanku yang cantik, sedangkan aku harus menikahi saudara perempuanmu yang bodoh, sehingga orang lain akan berkata bahwa engkau lebihbaik daripada aku dan keturunanmu pun akan lebih bangga daripada keturunanku”. Maka Habil menjawab, “Sesungguhnya Allah hanya menerima qurban dari orang-orang yang bertakwa” (Qs. al Mâidah 27). Ia pun meneruskan jawabannya, “Sungguh jika engkau menggerakkan tanganmu untuk membunuhku, maka aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku untuk membunuhmu. Sungguh aku tidak takut kepadamu, dan aku hanya takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam” (Qs. Al Mâidah 28). Habil berkata lagi, “Sungguh aku ingin agar engkau kembali dengan membawa dosa membunuhku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim” (Qs. Al Mâidah 29).

Mendengar jawaban Habil yang terkesan pasrah itu, Qabil merasa semakin mudah untuk bisa membunuh saudaranya itu. Maka dibunuhlah Habil (Qs. al Mâidah 30). Ternyata Qabil pun masih punya rasa takut dan khawatir kalau perbuatannya itu diketahui oleh ayahnya (Nabi Adam a.s.). “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggaligali bumi untuk memberi contoh kepada Qabil cara menguburkan mayat saudaranya itu. Berkatalah Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?”. (Qs. Al Mâidah 31).

Karena itulah Qabil merasa menyesal dengan perbuatannya itu. Dan ia pun mengira penyesalannya hanya sia-sia belaka, karena jika ayahnya mengetahui peristiwa ini tentu beliau tidak mau menerima kembali anaknya dan beliau pun akan menghalaunya. Dalam keadaan yang terbuang, Qabil telah menerima hasutan dari iblis yang akhirnya menjadikan dirinya sesat dan melakukan berbagai perbuatan keji.

Nabi Adam kemudian dikaruniai lagi putra yang bernama Syits (Nabi) yang kemudian dijodohkan dengan Iklimah, janda dari Habil. Dari Nabi Syits inilah yang akhirnya menurunkan para Nabi dan umat muslim. Sedangkan keturunan Qabil yang sesat telah dimusnahkan oleh Allah di zaman Nabi Nuh a.s.

Kisah tersebut memberi pelajaran kepada kita, bahwa hasad atau dengki menjadikan seseorang bertindak tanpa rasional, membuahkan penyesalan yang tiada kesudahan, dan juga mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan keji dan sesat. Karena itulah dinyatakan bahwa, “Sesungguhnya yang pertama kali berbuat dengki di langit ialah iblis, maka berlanjutlah sifat dengki itu seperti yang ada. Dan orang yang pertama kali melakukan dengki di muka bumi ialah Qabil, maka berlanjutlah sifat dengki seperti yang ada”. Kalau demikian para pedengki yang masih bergentayangan di zaman ini adalah cucu Iblis dan cucu Qabil, yang tidak mau berpikir untuk mengambil pelajaran dari pengalaman kakek mereka. Mungkin saja benar, wallâhu A’lam.***

Oleh : H. Asmuni Syukir

  • Jombang, 20 November 2012, Majelis Ta’lim & Bengkel Hati Al-Qolam
  • Artikel ini pernah dipublikasikan dalam Buletin Al-Qolam

About admin

Check Also

Khalifah Aja Dibilang Gila

Oleh : H Derajat Ini sebuah kisah nyata di kala seorang Khalifah (Pemimpin Negara) dibilang ...