Tuesday , December 11 2018
Home / Budaya / Cerita Rakyat / Petruk Milari Jati Diri

Petruk Milari Jati Diri

Petruk milari jati diri 1

“Kamu ini kenapa sih Gar? Nggak jelas kamu bicara apa,” suara Bagong makin terdengar aneh karena berbicara sambil mengunyah gumpalan gumpalan singkong.

“Dasar anak nggak tahu adat, silahkan kamu panggil aku dengan sebutan Reng, atau Gar, atau Gareng, atau apa saja, tapi memanggil Romo dengan dengan langsung menyebut Semar tanpa embel-embel, sangat tidak sopan, tahu?” kemarahan Gareng semakin menjadi

“Gareng ini ngawur, nama Semar kok dibilang nggak sopan. Untung aja Semar nggak ada di sini. Ck ck ck bathuk mu panas barangkali Reng, Truk carikan dhadap serep untuk obat demam Gareng.” Senyum Petruk semakin lebar mendengar jawaban Bagong yang terdengar asal-asalan.

Lain dengan Gareng, dia semakin umup, semakin mendidih, “Tobat, tobat Gusti. Hei yang tidak sopan itu caramu memanggil Romo. Tidak boleh njangkar begitu, segala sesuatu itu ada adab sopan santunnya, ada tata caranya, tidak boleh telanjang begitu”

“Apa? Aku telanjang di hadapan Semar? Lha kok enak dia bisa lihat auratku.”

“Duh, Jagat Dewa Bathara…” Gareng kesulitan menemukan kosa kata untuk menjawab kalimat makhluk yang terlahir dari bayangan Ki Semar Bodronoyo ini, dia merasa akan lebih mudah kalau diminta berdialog dengan dinosaurus yang dihidupkan kembali.

“Meskipun Semar itu goblok, tapi tidak segoblok Gareng ini. Aku setuju dengan pendapat Semar yang tadi dibicarakan Gareng,” suara sengau Bagong seperti suara dari balik kubur,”Aku setuju kalau Semar bilang bahwa semua penduduk Karang Kedempel ini bisa menjadi pemimpin tidak hanya di Karang Kedempel tetapi di dunia. Referensi dan dasarnya sangat jelas, nggak percaya? Coba dengar ya.”

“Kita tilik saja terlebih dahulu dari dunia musik. Soal cengkok. Memang aku ini tidak bisa menyanyi, tapi yang namanya anak-anak Karang Kedempel Idol itu dahsyat karena mampu ber­cengkok apa saja. Cengkok Negro-nya Whitney Houston tidak bisa dinyanyikan oleh penyanyi bule, tetapi Bertha yang orang Karang Kedempel bisa melagukan semua cengkok, ya Arab ya Negro. Orang Karang kedempel bisa semua cengkok. Orang Arab hanya bisa cengkok Arab. Orang kulit putih cuma bercengkok kulit putih yang lurus-lurus dan kaku-kaku. Orang Negro bisa mengeluarkan suara yang melilit-lilit tetapi derajat dan sudutnya berbeda dengan Jawa dan Arab. Orang Arab tidak akan bisa membawakan lagu Negro dan begitu sebaliknya. Tetapi, orang Karang Kedempel bisa melantunkan lagu-lagu Arab, Negro, Barat, Cina dan lain-lain. Blues oke, Rock juga oke. Dangdut apalagi.”

“Suatu hari mudah-mudahan ada festival musik internasional di mana setiap grup harus membawakan satu lagu Jawa, satu lagu Sunda, satu lagu jazz, satu lagu Arab klasik, satu lagu Arab modem, dan satu lagu Afrika Utara, dan aku kira orang Karang Kedempel yang bakal menang. Sebab orang Karang Kedempel bisa menyanyikan lagu apa saja. Jumlah qari di Karang Kedempel mungkin seratus kali lipat dari jumlah qari di negara ­negara Arab. Jadi kalau kita mau mencari orang Karang Kedempel yang mumpuni membawakan lagu-lagu Arab sampai yang paling canggih sekalipun itu bertebaran di mana-mana, tetapi kalau mencari orang Arab yang sanggup menyanyi Jawa itu sulitnya setengah mati.”

“Itulah sebabnya orang Karang Kedempel berbakat menjadi pemimpin dunia. Kalau dalam bahasa sepakbola, bangsa Karang Kedempel berpotensi menjadi kapten kesebelasan dunia. Kapten adalah pemain yang memiliki determinasi dan penguasaan terhadap seluruh sisi lapangan dan pemain. Ia bisa berdiri pada posisi manapun. Sekiranya kiper terkena kartu merah, si kapten bisa menggantikannya. Bila back-nya cedera, dia bisa menggantikan perannya. Kalau gelandangnya kurang oke, dia bisa menopang peran si gelandang. Begitu pula jika ada masalah dengan ketajaman striker, kapten bisa mengambil peran ujung tombak itu. ltulah kapten yang sebenamya. Maka bangsa yang paling berbakat untuk menempati segala posisi adalah bangsa Karang Kedempel. Orang-orang Karang Kedempel memiliki potensi dan kecakapan berkelas dunia.”

Gareng seperti tersihir mendengar kalimat kalimat Bagong. Petruk memutuskan duduk mendekat, mengabaikan bau penguk adiknya yang mandinya belum tentu setahun sekali.

“Dari sudut gen, gen bangsa Karang Kedempel adalah campuran dari semua gen yang ada di muka bumi. Misalnya, kamu inggat nggak mantan Pak Kades kita yang pernah mengaku memiliki gen dan darah Cina, Arab, Persi, dan Ajisaka. Ajisaka itu bukan orang Jawa melainkan Asoka yang tak lain adalah India. Jadi orang Karang Kedempel tidak sepenuhnya keturunan Homo Sapiens sebagaimana orang Arab, Amerika, atau Latin. la adalah campuran dari Homo Sapiens dan sisi-sisa Homo Erectus. Sehingga, antropologi, sosiologi, dan psikologi orang Karang Kedempel sangat berbeda dari mereka yang keturunan homo sapiens. Maka, gen warga Karang Kedempel adalah gen campuran dan karena itu berpotensi menjadi manusia kaliber dunia. Orang-orang seluruh dunia tidak paham siapa sesungguhnya warga Karang Kedempel itu. Mereka akan kaget bahwa temyata warga kita tidak bisa dikalahkan. Orang miskin saja masih bisa sombong dan dengan penuh percaya diri akan bilang -Lho, sudah miskin kok ndak boleh sombong. Rugi dua kali dong!- Orang tidak punya saja masih bisa nraktir. ltu hanya terjadi di Karang Kedempel. Seratus bangkai motor diserahkan kepada orang Karang Kedempel dan dalam waktu satu minggu semua motor itu berfungsi kembali atau menjadi sesuatu yang baru.”

“Bukan cuma itu. Orang Karang Kedempel memiliki term atau konsep wibawa. Wibawa itu tidak ada di tempat­ tempat lain di seluruh dunia. Malaysia pun sudah mulai kehilangan wibawa. Coba temukan orang Malaysia yang punya wibawa! Datanglah ke sana dan kamu berdiri tegap tangan bersedekap sambil memandang tajam ke orang-orang, pasti tidak ada orang yang berani balik memandang kamu. Coba kalau kamu lakukan di sini, misalnya di pasar TanahAbang, ooo.. ya kujamin jadi pertengkaran. Aku punya teman-teman Chinese dari Jakarta atau Surabaya. Kalau mereka pergi ke Hong Kong, mereka sangat unggul dibanding orang Cina asli. Mereka methenteng teriak-teriak ala Jakarta, Siapa lu! atau ala Surabaya dengan suara keras, Yo opo, rek! Mereka unggul secara kewibawaan karena sudah terlatih di Indonesia. Sebab di Cina asli sana orangnya baik-baik, tertib, lugu, tetapi di sini siapa yang menjamin hidupmu. Kanu harus liar di sini. Dirampok atau tidak, kamu mesti bertanggungjawab sendiri karena tidak ada perlindungan.”

“Maka tidak ada pilihan lain bahwa di Karang Kedempel ini kamu harus menjadi pendekar. Kondisi inilah yang menumbuhkan sesuatu yang dalam bahasa dan konsep Jawa disebut awu. Awu itu bukan aura. Aura baru sebatas indikatif terhadap awu. Kalau krentek itu dhoq dalam bahasa Arabnya. Krentek adalah titik akurasi dari daya intuisi terhadap suatu hal. Awu tidak sama dengan aura dan krentek. Awu itu sernacam kekuatan elektromagnetik dari dalam jiwamu yang memancar kepada orang lain. Awu itu kekuatan batin yang keluarnya sedikit fisik sedikit nonfisik tapi dia bisa menguasai orang lain. Dan ini tidak ada di mana­ mana di seluruh dunia. Hanya orang Karang Kedempel yang kenal wibawa atau awu.”

“Di luar negeri dikenal istilah kharisma, tetapi itu tidak bisa melawan dimensi wibawa dan awu. Maka di Jawa, orang yang tidak bisa dikalahkan atau dilawan disebut ngawu-ngawu. Ini serius lho Reng, Truk dan hanya kamu kamu ini yang punya wibawa di seluruh dunia.

Biarpun profesor di London atau di manapun, mereka pintar tapi tidak punya wibawa. Pintar secara akademis, tetapi ndlahom. Lain halnya dengan orang Karang Kedempel: tidak punya pekerjaaan dan tidak pemah sekolah tapi kereng (galak) setengah mampus. Tidak punya uang tetapi berani kawin, seperti Gareng ini, rokoknya Dji Sam Soe lagi! Nah, sayangnya, justru karena kita punya wibawa maka kita malas melakukan apa saja. Muncullah bonek-bonek. Bonek tidak hanya di Surabaya melainkan di seluruh Karang Kedempel. Semua orang ber-bondo nekat. Apakah bukan bonek jika orang berani-beraninya menjadi Kades, padahal tidak punya kemampuan untuk mengatasi masalah. Kalau bonek di Surabaya ngamuk, tentu aku tidak setuju kriminalitasnya, tetapi mari kita pelajari kenapa sampai timbul bonek seperti itu. Harus kita temukan apa keistimewaan dan keburukan bonek. Sebagai potensi, bonek tidak bisa dilawan dan karena itulah Surabaya digelari sebagai kota pahlawan. Masak berani perang, jika bukan bonek. Kalau dibaca secara positif, sesungguhnya bonek adalah bahasa Jawanya tawakkal. Padahal kita tahu bahwa tawakkal, beserta jihad dan syahid, adalah tiga senjata yang sangat ditakuti di mana-mana.”

“Sesungguhnya pemerintah Karang Kedempel ini adalah pemerintah yang paling enak, sebab masyarakatnya adalah masyarakat yang paling mandiri. Bencana begitu rupa dahsyatnya bisa dihadapi dengan tenang dan serba bersyukur. Sementara Badai Katerina yang melanda California membuat orang-orang di sana panik dan marah-marah kepada pemerintah Amerika. Mereka mendemo pemerintahnya yang tidak antisipatif dan tidak becus mengurusi masalah bencana alam itu. Badai di New Orleans yang tidak ada sekukunya Tsunami di Aceh menyebabkan terjadinya dehumanisasi total dan pemerintahnya dimarahin habis-habisan. Di Karang Kedempel mana ada rakyat sampai seperti itu? Harga BBM dinaikkan, bergejolak sejenak, setelah itu rakyat tenang-tenang saja, jalan­ jalan tetap macet penuh mobil seolah kenaikan harga BBM tidak mempengaruhi konsumsi bensin mereka. Pemerintah silih berganti dan naik turun, tetapi rakyat tetap stabil.”

“Orang­ orang di luar negeri serba serius dan mentelheng. Aku pernah ke Arab lho Truk, Reng, dan berteriak di keramaian mengucapkan salam, Asslamualaikum…. Tidak seorang pun menjawab. Ketemu polisi di sana dan saya tanya di mana makam Siti Khadijah, jawabnya cuma Wallahu a’lam……! Gila nggak sih? Orang-orang Karang Kedempel sangat mudah tersenyum, ceria, tidak tegang, dan punya banyak cara untuk menertawakan keadaan, dan itu di satu sisi sangat menyehatkan jiwa mereka.”

“Semua sifat dan potensi orang Karang Kedempel bisa sangat positif dalam menyongsong masa depan. Lebih-lebih ketika saat ini kita sedang memasuki tahap lingsir wengi alias kegelapan total di berbagai bidang. Musibah di darat, udara, dan lautan bertubi-tubi menampar bangsa Karang Kedempel. Belum lagi krisis internasional yang sudah mengintai, di antaranya krisis biji-bijian, padi, kedelai dan lain-lain, pada skala internasional, sehingga akan terjadi ketidakseimbangan antara produksi dan tingkat konsumsi yang pasti berdampak pada munculnya gejolak dan konflik vertikal maupun horisontal.”

Kalimat-kalimat Bagong mengalir lacar, membuat kedua kakaknya tak sempat untuk berkedip sekalipun.

“Potensi bangsa Karang Kedempel sangat besar untuk bisa tampil dalam panggung kepemimpinan dunia, asal saja kita mau dan serius. Formulasinya bisa dicari. Pada tingkat nasional, Jakarta sudah melakukan eksperimentasinya dan hampir gagal. Sehingga, misalnya, harus ada pemecahan ibukota. Ibukota ekonomi tetap di Jakarta, tetapi ibukota politik kita pindah entah ke Bandung atau Surabaya. Pemisahan ini dimaksudkan untuk mengurangi KKN dan menormalkan restrukturisasi dan deregulasi atas apa yang selama ini menciptakan madharat bagi rakyat. Tetapi tawaran ini lebih luas dan berskala internasional. Bukan curna soal kepemimpinan politik nasional atau pada level kabinet melainkan menyangkut krisis internasional, menyangkut konstelasi internasional.”

“Kita juga harus mulai menggali dan mengeksplorasi kekuatan lokal serta melengkapinya dengan ilmu. Maka kegiatan yang kita lakukan di berbagai tempat adalah majelis ilmu. Orang Karang Kedempel budayanya kuat, imannya kuat, tawakkalnya kuat, namun ilmunya kurang serius, tetapi bukan berarti bodoh. Ilmu yang serius bisa berarti mau mempelajari bahwa sesungguhnya bangsa Karang Kedempel itu hebat dan saking hebatnya sampai-sampai menjadi malaikat pun pintar dan jadi setan pun juga jagoan. Sehingga yang namanya Karang Kedempel itu kontraversial. Di lain pihak kelihatannya miskin dan dilanda krisis, tetapi aku tidak bisa menemukan tingkat kemewahan hidup melebihi orang-orang Karang Kedempel ini. Ilmu yang serius bisa juga berarti menyadari bahwa hanya bangsa yang besar yang diberi ujian beruntun dan mau mengolah kejadian­kejadian itu menjadi kekuatan untuk bersiap menyambut masa depan: menjadi kapten kesebelasan dunia. Menjadi pemimpin jagad raya”

“Mengerti tidak kalian ini? Truk…, Reng…” Gareng mengakhiri khotbahnya. “Oooo dasar orang gila! Lha wong diajak ngomong malah melongo, ya sudah aku pergi…” Dan Bagong pun berlalu.

Petruk dan Gareng tidak bisa memberikan reaksi apa-apa. Seharusnya mereka tidak perlu heran dan kaget atas apa yang baru saja mereka dengar, yang keluar dari mulut Bagong. Mereka juga sadar bahawa sesakti apapun mereka, Bagong hanya perlu menjentikkan telunjuknya untuk membuat mereka terpental hingga ke seberang Galaxy.

Mereka hanya pangling akan bentuk utuh dari Bagong yang sesungguhnya. Bagong terlahir dari bayangan Semar, tentu saja kebijaksanaan Semar juga menurun ke dalam jiwa Bagong. Dan kalau selama ini Bagong kelihatan liar dan bertingkah laku serta bicara sesukanya, hal itu dikarenakan peran yang harus dijalani Bagong memang harus seperti itu.

Petruk seratus persen sadar bahwa yang baru saja diucapkan Bagong melalui pidatonya yang panjang lebar hanyalah sebuah satire. Sebuah sindiran bagi warga Karang Kedempel untuk berfikir dan berindak lebih produktif dan konstruktif.

Gareng pucat, jiwanya terguncang. Dia seakan tertampar dan diingatkan bahwa sopan santun yang palsu seringkali membuat manusia menjadi tumpul nalar dan batinnya. Dan dia pun ngeloyor pergi meninggalan rumah Petruk tanpa pamit, dan tanpa memperdulikan guyuran hujan yang mulai deras.

Sepergi Bagong dan Gareng, Petruk baru tersadar dan segera tersenyum lebar melihat bahwa dua bakul yang sebelum nya penuh berisi singkong rebus telah tandas. Pastinya sudah pindah ke dalam perut si Bagong. Tiba-tiba Petruk dikagetkan suara isterinya yang keluar dari bilik sambil menenteng payung,”Kang, saya mau antri elpiji dulu ya. Katanya di kelurahan ada pembagian elpiji gratis.

Petruk milari jati diri 2

Truk, Bapak hilang, Bapak hilang!!!” suara cempreng yang sangat dikenal Petruk, suara Gareng. Yang tergopoh-gopoh datang dengan nafas terengah. “Romo Semar hilang, Romo Semar hilang!!!”

Petruk tersenyum-senyum saja sambil menikmati hisapan terakhir rokok siongnya. Kemudian berdiri dan mengikat kayu bakar yang telah dibelahnya.

“Hei… Romo Semar hilang! Romo Semar hilang! Romo Semar hilang!” Gareng mengulang lagi dengan nada lebih sengit. “Apa sih yang dimaui si tua udel bodong itu? Pakai acara ngilang segala. Apa dia memang nggak tahu atau pura-pura nggak tahu kalau desa kita ini masih membutuhkan keberadaannya? Desa kita yang semakin rusak ini membutuhkan keprigelannya!”

Tapi Petruk memang selalu lebih cool dalam menanggapi permasalahan. Dia hanya tersenyum sambil melirik kakaknya. Kemudian malah masuk ke dalam rumah.

“Dasar Petruk Kanthong Bolong! Kamu ini memang nggak punya telinga! Nggak punya perasaan! Nggak punya keprihatinan! Romo Semar hilang! Bapak kita hilang! Dengar nggak sih kamu ini?” Atas nama segala kejengkelan, kalimat Gareng jadi berbelok memaki adiknya.

Namun ketika sesaat kemudian Petruk keluar membawa sebakul singkong rebus, Gareng mengembalikan kata-kata ke jalur awal, “Bapak itu manja dan jual mahal. Sudah tua bangka masih pakai acara ngambeg segala. Desa kita ini membutuhkan kepiawaian Romo Semar. Kalau dia menghilang begini, seluruh penduduk desa menjadi yatim piatu sejarah. Bahkan bukan hanya penduduk Karang Kedempel saja, tapi seluruh alam semesta akan meratap. Menagisi nasibnya. Apakah dia jengkel kepada Pak Kades, sehingga tidak mau lagi jadi Punakawan?”

Gareng mengambil singkong, sekaligus dua biji, menggigit dan mengunyahnya sambil meneruskan pidatonya, “Apakah Bapak menganggap Pak Kades demikian tak pantasnya untuk ditemani karena sudah sedemikian tak tahu diri. Salahnya orang-orang juga sih, memanggil Bapak dengan sebutan Ki Lurah Semar. Pak Lurah yang asli jadi jengkel, sehingga sebutan Lurah diganti menjadi Kades!”

Sampai disini Petruk sadar keadaan, dia langsung mengambil singkong rebus sekaligus tiga biji. Kalau keadaan tetap seperti ini, dia nggak bakalan kebagian singkong. Karena Petruk sangat faham, sebentar lagi Kang Gareng akan melanjutkan pidato kenegaraannya yang tentu akan sangat panjang, serta diikuti dengan mengunyah semua singkong-singkong rebus itu sampai habis.

“Apakah Bapak sudah memuntahkan kembali bumi dari perutnya? Apakah dia sudah masuk kembali menyelusup ke dalam rahim Dewi Wirandi ibundanya? Ataukah Semar sudah pupus di cahaya mata Sang Hyang Tunggal ayahandanya yang memang sudah lama sekali dirindukannya?” Gareng meneruskan bait-bait sajaknya sambil memasukkan gumpalan-gumpalan singkong ke dalam mulutnya.

“Hidup Kang Gareng! Hidup Gareng! suiit.. suit” Petruk berteriak, bertepuk tangan, dan bersiul panjang.

Petruk merasa perlu memotong orasi Gareng. Karena kalau tidak, pidato Gareng akan jadi berkepanjangan. Bahkan mungkin sampai berhari-hari tanpa henti. Yang lebih dikhawatirkan oleh Petruk adalah bahwa hilangnya Semar hanyalah refleksi khayalan kakaknya yang berhidung extra large ini.

Sekali lagi Petruk dibuat terheran-heran. Bagaimana mungkin di sebuah dusun seperti Karang Kedempel ini ada orang seperti Gareng, yang mempunyai wawasan mengagumkan melebihi punggawa-punggawa desa. Bahkan pengetahuan Gareng lebih hebat ketimbang kemampuan Pak Kades sendiri. Padahal Gareng ini tidak pernah makan bangku sekolahan.

“Berapa sih cicilan utang yang harus Kang Gareng bayar hari ini? Debt colectornya sudah datang toh? ” tanya Petruk.

Mata Gareng semakin juling, “Kurang ajar kamu Truk, apa kamu kira aku ini pura-pura gila?”

“Atau barangkali Kang Gareng habis berantem sama Mbakyu?” tanya Petruk lagi.

“Sialan kamu, apa kamu anggap aku main-main? Heh, dengar ya! Buka telingamu lebar…”

“Dari dulu telingaku ya sebesar ini mana mungkin dibuat jadi lebih lebar. Kang Gareng ini nganeh anehi lho,” Petruk memotong, sebelum sumpah serapah kakaknya ini keluar. Dia ingin sedikit membuat kepala Gareng lebih dingin. Dan berhasil!

Nada suara Gareng merendah, “Truk, apa jadinya dusun kita ini kalau Bapak menghilang tanpa pesan seperti ini?”

“Kang, Bapak tidak pernah dan tidak akan pernah hilang. Bapak tidak akan kemana-kemana kok. Tapi memang dia ada dimana mana”

“Lho, kamu mau adu filsafat dengan aku?” nada suara Gareng meninggi lagi.

“Adu filsafat bagaimana toh Kang?”

“Lha itu tadi, bicaramu seperti ahli filsafat saja, mungkin kamu sudah mulai ketularan romo Semar, atau barangkali Bapak sudah merasuk dalam ragamu ya Truk…”

“Hus…, Kang Gareng ini lho ada-ada saja, tubuhku yang kurus ini apa ya muat dimasuki Bapak yang gedenya hampir sama dengan satu kontainer peti kemas itu,” Petruk mencoba melumerkan ketegangan Gareng, tapi tidak berhasil.

“Kita harus segera menemukan Bapak, Truk. Romo Semar harus bertanggung jawab akan keadaan Dusun Kareng Kedempel saat ini. Ini semua juga gara-gara ajarannya.”

“Ajaran Romo yang mana, Kang?”

“Romo Semar mengajarkan bahwa kita harus berjiwa besar dan rendah hati. Saking merasuknya ajaran ini ke dalam jiwa setiap penduduk Karang Kedempel, sampai-sampai mereka sulit membedakan mana kerendahan hati dan mana yang namanya kesombongan,” Gareng duduk di atas lincak sembari menaikkan satu kakinya. Tak lupa sambil mengunyah singkong rebus.

Kali ini Petruk memutuskan untuk membiarkan saja Si Gareng yang mulai berancang-ancang berkhotbah. Bahasa tubuh kakaknya sudah sangat dikenal oleh Petruk.

“Semar bilang bahwa penduduk Karang Kedempel adalah bangsa bibit unggul, lebih dari itu: dalam konteks evolusi pemikiran, kebudayaan dan peradaban- kita adalah bangsa garda depan, avant garde nation, yang derap sejarahnya selalu berada beberapa langkah di depan bangsa-bangsa lain di muka bumi.”

“Bapak juga bilang, bahwa pakar dunia di bidang ilmu sosial, ilmu ekonomi, politik dan kebudayaan, sudah terbukti “terjebak” dalam mempersepsikan apa yang sesungguhnya terjadi pada bangsa kita. Penduduk seluruh dunia membayangkan Karang Kedempel adalah kampung-kampung kumuh, banyak orang terduduk di tepi jalan karena busung lapar, mayat-mayat bergeletakan, perampok di sana sini, orang berbunuhan karena berbagai macam sebab. Negeri yang penuh duka dan kegelepan.” Sekali tarikan nafas, dan Gareng melanjutkan orasinya.

“Padahal di muka buni ini mana ada orang yang bersuka ria melebihi warga Karang Kedempel. Tak ada orang bersuka ria melebihi orang Karang Kedempel. Tak ada masyarakat berpesta, tertawa-tawa, jagongan, kenduri, serta segala macam bentuk kehangatan hidup melebihi kebiasaan masyarakat kita. Tak ada anggaran biaya pakaian dinas pejabat melebihi yang ada di Karang Kedempel. Tak ada hamparan mobil-mobil mewah melebihi yang terdapat di dusun kita ini. Import sepeda motor apa saja dijamin laku, berapa juta pun yang kau datangkan kenegeri ini.”

“Kata Romo Semar lagi, bahwa penduduk dunia menyangka kita sedang mengalami krisis, padahal berita tentang krisis dusun kita adalah suatu ungkapan kerendahan hati. Penduduk dunia sering tidak mengerti retorika budaya masyarakat kita. kalau kita bilang “silahkan mampir ke gubug saya” -mereka menyangka yang kita punya adalah gubug beneren, padahal rumah kita adalah Istana, yang Gubernur di Argentina dan Menteri di Mesir pun tak punya macam kita punya”

“Kalau kita bilang kalau dusun kita sedang krisis, itu adalah semacam tawadlu’ sosial, suatu sikap yang menghindarkan diri dari sikap sombong. Kalau pemerintah kita terus berhutang trilyunan dolar, itu strategi agar kita disangka miskin. Itu taktik agar dunia meremehkan kita. Karena kita punya prinsip religius bahwa semakin kita direndahkan oleh manusia, semakin tinggi derajat kita dihadapan Allah. Semakin kita diperhinakan oleh manusia di muka bumi, semakin mulia posisi kita di langit.”

“Dulu ketika Kades kita seorang yang buta, sejumlah orang di luar dusun mengejek kita: Apa dari 210 juta penduduk dusunmu tidak ada lagi seorang pun yang punya kemampuan menjadi Kades sehingga harus mengangkat seorang pimpinan pesantren yang buta? Ketika kemudian kita mempunyai seorang Ibu Kades sebagai pemimpin dusun ini, mereka juga bertanya dengan sinis: Apa penduduk dusunmu itu 99% wanita sehingga tidak ada satu lelakipun yang mungkin menjadi Kades?”

“Aneh memang bahwa bangsa-bangsa di luar Karang Kedempel yang katanya lebih terpelajar dan lebih beradap ternyata hanya memiliki pemikiran linier dan tingkat kecerdasannya tidak bisa diandalkan. Mereka tidak punya fenomena budaya sanepo, misalnya. Juga tak punya pekewuh. Kita sebagai bangsa yang berkebudayaan tinggi dan berperadaban unggul – tidaklah akan pernah memilih suatu sikap sosial yang gemedhe atau adigang adigung adiguna. Kita tak akan pernah pamer keunggulan kepada bangsa lain, dan itulah justru tanda keunggulan budaya kita. Kita tidak akan mencari kepuasan hidup dengan melalui sikap ngendas-sendasi bangsa lain. Kita adalah bangsa yang memiliki kemuliaan batin karena sanggup memprakekkan budaya andap asor, budaya rendah hati.”

“Jangankan soal Kepala Desa. Tim nasional sepakbola kita pun dirancang sedemikian rupa sehingga jangan sampai menangan atas kesebelasan bangsa bangsa lain. Sudah berpuluh tahun kita mempraktekkan filosofi ngalah kuwi dhuwur wekasanane, mengalah itu luhur derajatnya. Olah raga bulutangkis yang dulu dusun kita pernah membuktikan sebagai bangsa yang tidak bisa dikalahkan oleh tim dari bangsa manapun termasuk Cina yang berpenduduk 1,2 milyar. Sekarang kita menyesal kenapa mempermalukan Cina, sehingga bulutangkis kita sekarang kita bikin bagus, tapi sering mengalah…” Terengah-engah Gareng menyelesaikan kalimat-kalimatnya.

“Coba bayangkan Truk, ajaran Romo Semar yang macam itu apa tidak terlalu tinggi untuk dicerna warga Karang Kedempel? Bukannya mereka jadi rendah hati, bahkan sebaliknya, mereka semakin sombong”

“Wah, jadi Kang Gareng menganggap tingat kecerdasan warga Karang Kedempel masih dibawah standar untuk bisa menyerap ilmu Romo Semar, begitu?”

“Lha wong Gareng itu memang goblog kok, sama goblognya dengan Semar, kamu jangan ikut-ikutan goblog Truk!!!” Tiba-tiba Gareng dan Petruk dikejutkan oleh suara parau, sengau dan kalimatnya sangat tidak sopan.

Suara dan gaya bahasa yang sudah sangat mereka kenal. Dan mereka segera sadar bahwa sudah ada sosok ketiga berada diantara mereka. Makhluk berbadan bulat tak berbentuk, seakan hanya onggokan daging. Bermata sebesar baskom, hidung pesek, mulut lebar sampai ke telinga. Siluetnya sekilas mirip Semar. Dia adalah Bagong, anak bungsu Semar.

Dan yang membuat Gareng dan Petruk lebih terkejut adalah singkong yang masih tersisa kira-kira sepuluh biji langsung habis sekali tenggak kedalam mulut Si Bagong.

Petruk hanya tersenyum, lain halnya dengan Gareng, “Kampret! Anak nggak kenal sopan santun! Manggil orang tua yang sopan! Panggil dengan sebutan Bapak atau Romo, jangan asal panggil Semar Semar! Romo Semar itu bapak kita, tahu nggak?”

“Lha wong namanya Semar kok minta dipanggil Romo, Semar ya Semar,” Bagong memang selalu apa adanya.

“Duh Gusti nyuwun ngapuro, tunjukkanlah bagaimana caranya menyadarkan dan mengajarkan kebudayaan kepada seekor munyuk ini…” juling mata Gareng semakin menjadi-jadi.

http://sindangsosonoan.blogspot.com/

 

About admin

Check Also

Naskah Carita Parahyangan (Basa Sunda Buhun/Kuna)

ASK-PASUNDAN JAYA déh nihan Carita Parahiyangan. Sang Resi Guru mangyuga Rajaputra. Rajaputra miseuweukeun Sang Kandiawan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *