Sunday , December 17 2017
Home / Relaksasi / Renungan / Perpindahan dan Meditasi (Al-Hijrah wal-Muraqabah)

Perpindahan dan Meditasi (Al-Hijrah wal-Muraqabah)

Apakah makna sesungguhnya dari perjalanan Haji atau perpindahan (migrasi)? Dapatkah makna sesungguhnya hanyalah perpindahan dari satu kota ke kota lainnya, atau antar-negara atau memperoleh sebuah kewarganegaraan baru? Itu adalah makna fisik: meninggalkan satu tempat untuk pergi ke tempat lain.

Kini, dunia sudah menjadi sebuah desa yang global. Kamu dapat berada di berbagai tempat, secara praktis pada waktu bersamaan. Dimana kamu berada -dibulan atau di sebuah gunung- kamu dapat berkomunikasi dengan orang dari setiap bagian belahan bumi menggunakan teknologi. Kamu dapat melakukan urusan kamu dari ketinggian Gunung Himalaya jika mempunyai sebuah komputer dan bisa dihubungkan ke sebuah satelit.

Dunia ini menjadi sangat kecil sehingga manusia mencari cara memperbesar wilayah kekuasaan mereka. Itulah alasan mereka berusaha mencapai planet Mars, karena mereka membayangkan dapat pergi ke sana –bahkan tinggal disana. Mungkin itulah sebuah perpindahan yang sesungguhnya, karena siapa pun yang pergi ke sana tidak akan pernah kembali lagi. Perpindahan menuntut agar kamu meninggalkan satu tempat tetapi tidak boleh kembali. Jika kamu kembali, itu bukanlah sebuah perpindahan yang benar.

Perpindahan spiritual sejati, hijrah, adalah ketika Sang Nabi Muhammad (saw) memimpin para Shahabat beliau melaksanakannya. Inilah ajaran beliau. Ajaran Sang Nabi (saw) mengandung pemahaman tertinggi dari perpindahan; beliau memberikan kita prinsip-prinsip perpindahan yang sempurna.

Jika kita amati, pengalaman dan perbuatan pada prinsip-prinsip ini, kita akan memperoleh perpindahan sejati yang dirindukan oleh setiap orang. Bukan sebuah perpindahan dari Bumi ke Mars, atau dari Bumi ke Bulan. Perpindahan semacam itu akan tetap berada di perbatasan dunia ini, karena “dunia ini” termasuk seluruh yang dapat kamu lihat bintang-bintang, planet-planet dan galaksi-galaksi di angkasa. Apa yang Sang Nabi (saw) ajarkan kepada kita adalah perpindahan karakter, dari karakter korupsi menjadi karakter jujur, dari keburukan menjadi karunia, dari kegelapan menuju cahaya. Beliau mengajarkan kita untuk memahami nilai-nilai moral, dan itu diperoleh dengan kesempurnaan karakter sehingga kita dapat mendulang keridhoan Allah dan kebahagiaan.

Ketika kamu melakukan perpindahan dari hasrat-hasrat dan perangai jelek ke karakter baik dan beradab, ketika kamu memperoleh tingkat tertinggi kebajikan moral, kamu mencapai kenaikan kekuatan spiritual dan kesadaran diri. Pada titik tersebut, ego kamu berada pada batasnya, tidak melanggar batas moralitas dan tata cara. Keajaiban akan dibukakan kepada kamu pada waktu tersebut. Namun, ketika kamu meraih tingkat itu, jangan berlagak bahwa kekuatan atau penglihatan tersebut adalah milik kamu; kenyataannya, hal itu berasal dari Allah. Kembalikan segala sesuatu kepada sumbernya: Nama-nama Illahiah (Asmaul Husna) dan Atribut-atribut Allah.

Pada kesempatan itu, perpindahan sesungguhnya -tingkat tertinggi pemahaman- akan dibuka bagi kamu melalui meditasi kamu, muraqabah. Banyak orang merindukan tingkatan itu, dan berusaha berlatih meditasi dalam setiap kesempatan yang memungkinkan untuk melakukannya. Beberapa orang membayangkan bahwa mereka memperoleh tingkat tertinggi melalui meditasi mereka, karena telah mencapai apa pun yang mereka berusaha capai. Tetapi melampaui apapun yang mereka peroleh, tetap ada tingkatan-tingkatan lebih tinggi yang tidak terbatas untuk dicapai.

Mereka berkata, “Kami melakukan meditasi.” Tapi apa yang mereka meditasikan? Mereka berkata, “Kami berusaha berhubungan dengan energi semesta yang tertinggi, dengan kosmos. Kami berusaha mencapai Hadhrat Illahiah…

Meditasi (muraqabah) bukanlah sesuatu yang dapat kamu genggam. Ini seperti sebuah ibadah, sebuah bentuk permohonan. Sejujurnya, meditasi tidak mempunyai struktur, tidak berbentuk; tapi universal. Setiap orang berpikir, dan meditasi adalah sebuah pikiran. Benar, ini tidak lebih dari pikiran. Mungkin pikiran datang kepada kamu untuk menjadi seorang teknisi. Itulah meditasi. Belajar kedokteran adalah meditasi. Belajar perkayuan adalah meditasi. Belajar filosofi adalah meditasi. Belajar spiritualitas adalah juga meditasi.

Meditasi bukanlah sesuatu yang dapat kamu peroleh, tapi lebih kepada sebuah cara untuk mendapat sesuatu. Saat kamu meraih apa yang kamu pikirkan, perenungan kamu ini bukan lagi meditasi, tetapi sesuatu hal yang lain sejak kamu meraih apa yang kamu renungkan. Meditasi hanya sebuah cara pencapaian, langkah demi langkah. Ini seperti sebuah tangga. Jika tangga hilang ketika kamu sedang menaikinya, kamu akan jatuh terjerembab. Demikianlah, sekali kamu meraih langit-langit, tangga tidak dibutuhkan lagi, karena telah tiba ditujuan kamu.

Itulah mengapa Sang Nabi (saw) bersabda, “Sejam ber-tafakkur lebih baik daripada 70 tahun peribadahan“. Ini lebih efektif dibanding dengan peribadahan biasa. Ini lebih cepat dalam hubungannya dengan peribadahan seperti sebuah roket dibanding sebuah mobil. Demikianlah, keuntungan selama sejam mempercepat menyaingi keuntungan 70 tahun.

Apakah kamu melihat betapa pentingnya Nabi Muhammad (saw) memberikan meditasi? Meskipun demikian, meditasi hanyalah sebuah bantuan untuk mencapai tingkat tertentu. Ketika tingkat itu dicapai, tidak diperlukan lagi jenis meditasi itu. Proses renungan (tafakkur) tidak lagi sepatutnya disebut “meditasi” ketika obyek meditasi sudah dicapai. Orang mungkin akan keberatan dengan penggunaan kata itu.

Sekalipun demikian, inilah kenyataan dan ada dalam Kitab Suci Al Qur’an:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“…Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. [QS. Ar-Ra’d (13) :3]

Ketika kamu meditasi dan memutuskan untuk meninggalkan sifat-sifat buruk dan pindah menuju sifat-sifat baik, kemudian meditasi menjadi seperti sebuah tangga yang kamu naiki, naik ke posisi yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Sebagaimana firman Allah:

وَٱلَّذِينَ جَاهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. [QS. Al-‘Ankabuut (29) : 69]

Sang Nabi (saw) berkata kepada para Shahabat, “Kini kita kembali dari jihad yang lebih kecil ke jihad terbesar.” Jihad terbesar adalah berjuang melawan ego. Mereka yang berjuang melawan ego adalah yang dibimbing ke Jalan-jalan Kami. Jihad ini menentang hasrat dengan bantuan apa yang tidak disukainya. Untuk berjuang bersama ego artinya bahwa apapun yang diminta oleh ego kamu, lakukan sebaliknya.

Meditasi sendiri bukanlah sebuah perjuangan melawan ego; oleh karena itu ini bukanlah tingkat tertinggi. Kenyataannya, dengan melakukan meditasi kamu bahagia dan mungkin saja membuat ego kamu bangga. Kamu bisa berkata, “Aku melakukan meditasi; aku mencapai sesuatu.”

Ketika kamu pikir dan mencari perolehan dan ganjaran, apa yang kamu lakukan tidaklah sebuah bentuk murni meditasi kepada Allah. Kamu masih menginginkan pamrih pada setiap tingkah laku kamu. Para wali tidak pernah memohon pamrih atas ibadah mereka. Mereka memahami bahwa Allah menciptakan mereka dan membawa mereka ke dunia ini dengan Takdir-Nya. Apapun yang mereka lakukan, dimanapun mereka diambil, semuanya tergantung Takdir-Nya. Mereka tidak meminta pahala atau bahkan Surga.

Bertentangan dengan beberapa orang yang berkata, “Berikan kami Hadhrat Illahiah“. Itu menjadi seperti urusan bisnis atau perdagangan. Ini seperti jika mereka berkata, “Berikan kita ini, dan kami akan memberikan kau itu.” Pada tingkat-tingkat spiritualitas yang lebih tinggi, hal itu tidak bisa diterima.

Pada tingkat yang lebih tinggi kamu harus seperti sebuah daun kering, ditiup hembusan angin musim gugur. Daun tidak berkata, “Mengapa kau menggerakkan aku ke kanan?” atau “Mengapa kau menggerakkan aku ke kiri?” Daun itu seperti sebuah kapal layar di lautan, pergi ke manapun angin menggerakkannya.

Jangan pikir kalau segala sesuatunya akan menjadi seperti yang kamu kehendaki. Kapal layar di lautan bergerak berdasarkan angin. Angin itu bukanlah ada ditangan kamu; ini ada dalam Tangan Allah.

Jika ada sesuatu yang kamu cari dalam meditasi, maka itu tidak akan pernah selesai. Langkah-langkah pada tangga meditasi tidak pernah selesai. Ketika kamu berkata, “Ya Allah, aku datang kepada-Mu, tidak memohon apa-apa,” kemudian kenaikan memakan waktu sebentar. Jadi katakan, “Apapun yang ingin Kau lakukan terhadapku, lakukanlah, Ya Tuhan-ku. Agamaku adalah agama cinta; mencintai-Mu adalah agamaku. Kau mengutus para Rasul-Mu, para Nabi-Mu dan kau mengutus Nabi Muhammad (saw), dan aku mencintai-Mu dan mengikuti-Mu.”

Kini, mereka kadang berbicara tentang “cinta tanpa syarat”. Cinta tanpa syarat adalah cinta yang universal. Jika kamu mempunyai cinta seperti itu, kemudian setiap orang adalah sama di matamu, semua manusia. Allah menciptakan mereka sama. Kau punya telinga, mereka punya telinga; kau punya mata, mereka punya mata; kau punya satu buah mulut dan setiap dari mereka punya sebuah mulut. Mereka tidak berbeda. Mereka sama.

Allah memberikan 3 buah set titik kepada kita semua. Satu set mempunyai 7 buah titik focal yang harus kita kenali dan amati. Set yang lain mempunyai 4 buah titik penting. Set ketiga mempunyai 9 buah. Empat, 7 dan 9: angka-angka ini merupakan mata rantai ke aritmetika dasar dan komposisi zat dari tubuh kita. Dengan mempelajarinya, kamu akan belajar aritmetika itu dan memahami komposisi itu. Jika kita menjaga kelompok 4, kelompok 7 dan kelompok 9 tetap bersih/murni, lalu kita akan memperoleh sesuatu.

Kelompok pertama, meliputi 4 buah titik, yang dinamakan “Rahasia (sirr)”, “Rahasia dibalik Rahasia (sirr as-sirr)”, “Tersembunyi (khafa)”, dan “Paling Tersembunyi (akhfa)”. Keempat maqam ini ditemukan dalam rahasia qalbu (hati).

Empat titik lain sudah diberikan kepada kita berdasarkan perkataan Sang Nabi (saw): “Hamba-Ku terus mendekati-Ku melalui ibadah-ibadah sunnah sampai Aku mencintainya. Dan ketika Aku mencintainya Aku akan menjadi telinga yang dengannya dia mendengar, Aku akan menjadi mata yang dengannya dia melihat…”

Dengan demikian, mata dan telinga adalah 4 titik. Perkataan ini masih berlanjut: “…Aku akan menjadi lidah yang dengannya dia berkata, Aku akan menjadi tangan yang dengannya dia berbuat, dan Aku akan menjadi kaki yang dengannya dia berjalan”.

Di sini ada 3 buah titik tambahan, melengkapi kelompok 7. Ketujuh titik ini sangatlah penting bagi kita. Susunan perbuatan-perbuatan yang telah disebutkan sebelumnya disusun banyak artinya. Langkah terakhir di dalamnya adalah berjalan, kamu memulai dengan melihat dan mendengar, ketika kamu mampu mendengar dan melihat apa yang orang-orang tidak bisa lihat dan dengar, lalu kamu akan menerima bimbingan. Kemudian barulah kamu bisa bicara. Lalu kamu akan mulai diberikan sebuah kekuatan tangan, untuk mengubah apapun yang kamu kehendaki di dunia ini, sebagaimana Sang Nabi (saw) bersabda: “Barang siapa melihat sesuatu yang salah, berusahalah untuk mengubahnya dengan tangannya..”.

Satu perbuatan yang kau lakukan dengan tanganmu adalah suatu pertanda. Untuk menandatangani sebuah dokumen yang mempunyai arti dalam dunia ini. Ketika kamu menandatangani Perjanjian Illahiah lalu takdir semua hal pun berubah; kemudian kau akan berjalan di Jalan yang Lurus.

Kesembilan titik diwakili oleh Enneagram. Kita harus mengaktifkan ke-9 titik ini sebagai cara untuk mencapai sebuah titik meditasi yang lebih tinggi.

Allah memerintahkan kita sebagai kaum Muslim untuk mengambil wudhu terlebih dulu. Dalam wudhu, hal pertama yang kita lakukan adalah mengucurkan air ke tangan kita dan membasuhnya. Kita membasuh tangan dan kemudian melewati jarak antara jari-jari tangan kita. Jika kau mengamati kedua tangan kau, akan dilihat angka 18 tertulis dalam bahasa Arab pada tangan sebelah kanan dan angka 81 tertulis dalam bahasa Arab pada tangan sebelah kiri. Bila digabungkan, jumlah penambahan kedua angka ini adalah 99.

Ada 99 buah Nama-nama Indah dan Atribut-atribut Allah. Dengan membasuh dan menggosok kedua tanganmu, maka kau mulai mengaktifkan energi tangan, memasuki Kode Illahiah itu. Dalam ilmu angka, 18 dan 81 bila masing-masing diuraikan menjadi angka 9. Sembilan dan sembilan ditambah hasilnya 18, dan lagi-lagi 18 secara angka akan menghasilkan angka 9. Diatas 9, nol diperkenalkan. Titik ketiadaan itu adalah ada di pusat Enneagram, dimana perpindahan sejati memimpin.

Terjemahan dari The Sufi Science of Self-Realization
Bagian Awal Bab: 10 Langkah Menjadi Murid (Al-Khathuwat Al ‘Asyar)
Oleh: Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani

Source: Mistikus Cinta

 

About admin

Check Also

Doa Orang-Orang Yang Bersyukur

“Atha menceritakan bahwa suatu hari ia bersama Ubaid bin Umair bertamu ke rumah Siti Aisyah ...