Tuesday , September 25 2018
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Perintah dan Takdir

Perintah dan Takdir

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Allah SWT berfirman :

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

‘Dan orang-orang yang menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan Balasan ketakwaannya.’ (QS. Muhammad (47) : 17)

Ayat Al Qur’an diatas sungguh sangat jelas maknanya, dikatakan bahwa orang-orang yang mau menerima petunjuk (hidayah) dan bergegas menindak lanjuti dengan tindak mujahadah, maka Allah akan menambah petunjuk-Nya dan membalas tindak mujahadahnya itu (ketakwaannya). Hal ini menunjukkan bahwa manusia hidup diantara perintah Tuhan dan Kehendak-Nya, yang di dalamnya melibatkan tindakan manusia dan tindakan Tuhan, serta ada sifat-sifat manusia dan sifat-sifat Tuhan yang termanifestasikan, yang tentunya tindakan Tuhan mendahului tindakan manusia. Seperti pada kisah nabiyullah Adam,as., yang diperintah oleh-Nya untuk tidak memakan ‘buah keabadian’, meskipun ia telah berusaha untuk mentaati-Nya, namun Allah berkehendak ia memakannya, setelah itu Allah menghukumnya.

Dalam perjalanannya, nabiyullah Adam,as., menerima petunjuk (hidayah) untuk bertobat dan ditindak lanjutinya dengan melakukan pertobatan yang keras, Allah berkehendak menerima tobatnya, sebagai manifestasi sifat Ghofur-Nya. Kisah ini, menggambarkan bahwa ada proses mentaati perintah Tuhan, dan ada ketahanan didalam menyangkal keinginan memakan buah khuldi, namun karena dorongan dari pasangannya, yakni hawa dan bujukan syaithon, maka ia tergelincir. Terkemudian, nama hawa ini mewakili ‘keinginan’ dan nafs sebagai diri, oleh karenanya istilah hawa nafsu dikenal sebagai ‘keinginan diri’. Maka dari itu, mujahadah diartikan sebagai penyangkalan terhadap keinginan-keinginan diri atau hawa nafsu. Begitu pula Allah memerintahkan seluruh malaikat bersujud dihadapan Adam,as., dan Allah berkehendak seluruh malaikat patuh, kecuali golongan iblis, tanpa melakukan peperangan melawan keangkuhannya, ia menolak untuk bersujud.

Dari kedua kisah diatas meskipun sama-sama melakukan ketidak taatan atas perintah Tuhan, namun mempunyai perbedaan yang jelas. Pada kisah yang pertama, ketidak taatan Adam,as., didahului oleh upayanya yang keras untuk menolak rayuan hawa dan bujukan syaithon, sedangkan kisah yang kedua ketidak taatan iblis tanpa adanya upaya untuk mentaati-Nya. Sangat nyata bahwa Kekuasaan dan sifat-sifat Tuhan termanifestasikan dalam kisah itu, dan terus akan demikian selama kehidupan ini ada. Perintah-Nya sungguh amat jelas, seluruhnya tertuang didalam kitab suci Al Qur’an dan al Hadist, sedangkan kehendak-Nya ghaib, dan wajib diimani oleh orang-orang yang mengaku beriman. Oleh sebab itu manusia mesti dengan seluruh kekuatannya berusaha mentaati segala perintah-Nya (riyadhah) serta terus menerus melawan hawa nafsunya (mujahadah) serta berserah terhadap takdir-Nya.

Imam Junayd,ra., ketika ditanya tentang tasawuf, beliau berkata : ‘Tasawuf adalah suatu sifat yang di dalamnya terletak hidupnya manusia.’ Lalu seseorang bertanya : ‘Apakah ini sifat Tuhan ataukah sifat manusia?’ Beliau menjawab : ‘Esensinya adalah sifat Tuhan, dan sistem resminya adalah sifat manusia.’ Ujaran ini mendukung kisah diatas, bahwa esensinya adalah melibatkan pelenyapan kualitas-kualitas manusia, yang disebabkan oleh kekekalan kualitas-kualitas Ilahi, dan inilah atribut Tuhan, sedangkan sistem resminya yang melibatkan kesinambungan manusia dalam tindak mujahadah, dan kesinambungan dalam bermujahadah ini adalah atribut manusia. Oleh karenanya sugguh sangat jelas bahwa manusia itu hidup diantara Perintah dan Kehendak Tuhan. Yakni, manusia wajib mentaati perintah Tuhan dan berserah kepada Kehendak (Takdir) Tuhan. Oleh sebab itu Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Tasawuf adalah hijrah dari kehidupan biasa kedalam kehidupan kesucian.’ Dan beliau berkata bahwa : ‘Tasawuf adalah perang yang tiada akhir melawan hawa nafsu.’

Rukun iman yang ke enam yakni qadha dan qadar menjadi pembicaraan yang paling hangat dalam pengajian tarekat, meskipun Syaikhuna sering berkata : ‘Jangan diperdebatkan masalah ini.’ Sebab semua murid akan berbicara sesuai dengan keadaan ruhaninya masing-masing, mewakili nafsnya, sehingga dikuatirkan menjadi sesuatu yang haram hukumnya karena menjadi perdebatan. Sejak dahulu kala masalah takdir memang menjadi perdebatan yang sengit, ada kelompok Qadariyah yang menganut doktrin bahwa manusia itu bebas menentukan pilihannya sendiri (free will), lalu ada kelompok Jabariyah yang berpendapat bahwa segala sesuatu itu sudah ditentukan oleh Tuhan, sehingga manusia tidak ada pilihan samasekali. Kemudian kelompok Ahlul sunah wal jamaah mengambil jalan tengah, yakni, manusia wajib berupaya dan percaya takdir. Pendapat kelompok yang terkahir inilah yang diikuti oleh mayoritas kaum muslim, khususnya oleh para syaikh sufi.

Semua orang termasuk anak-anak kecil niscaya mengetahui, bila disebutkan ciri-ciri seekor binatang yang berbadan besar, berbelalai, mempunyai kaki empat, bertelinga besar dan bermata kecil. Begitulah Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) dalam menyikapi masalah ini, tidak disebutkan ‘gajah’ melainkan menjelaskan ciri-cirinya. Seperti juga masalah takdir, beliau tidak menjelaskan secara eksplisit, namun langsung mengajak mempraktekannya. Bukankah pekerjaan tarekat itu menyikapi dengan bijaksana masalah takdir? Yakni tasawufan rajulu, yaitu yang pertama adalah sungguh-sungguh dalam menjalankan perintah-Nya, kedua menghindari dengan sekuat tenaganya segala sesuatu yang dilarang-Nya, dan ketiga berserah terhadap ketentuan-Nya. Singkatnya seseorang itu wajib berupaya dan mempercayai takdir. Jadi para sahabat, kita ini selalu berlaku bagai ikan dilautan, yang selalu merengek-rengek kepada pemimpinnya agar diantarkan kelautan, apa pemimpinnya tidak menangis sedih?

Nabi,saw., bertanya kepada Haritsah,ra., ‘Apakah hakikat imanmu?’ Haritsah,ra., menjawab: ‘Telah kutanggalkan sifat-sifat diriku, dan aku berpaling dari dunia ini, sehingga batu-batu dan emas sama saja dalam pandanganku. Dan kujalani seluruh malam hariku dengan penuh jaga, dan segenap siang hariku dengan rasa dahaga, hingga aku merasa melihat Singgasana Tuhanku menjelma, dan penghuni surga saling kunjung mengunjungi dan penghuni neraka saling melempar.’ Nabi,saw., bersabda, mengulangi kata-kata ini tiga kali : ‘Engkau mengetahui, maka tekunlah dalam upaya.’

Hadits ini jelas sekali maknanya, yakni, upaya untuk menyangkal kesenangan dengan cara terjaga di malam hari, berpuasa di siang hari adalah tindakan manusia, sedangkan pelenyapan kesenangan adalah tindakan Tuhan, sehingga Allah membuat sifat-sifat diri dan keterkaitan dengan dunia ini lenyap, dan menjadikannya sampai pada tingkatan ‘Haqul Yaqin’, namun Haritsah,ra., tidak berkata bahwa Allah sudah menakdirkanku begini dan begitu, melainkan memperlihatkan tindak upayanya dalam riyadhah dan mujahadah dan menceritakan musyahadahnya. Dan yang mulia Rasul Allah pun berkata : ‘Tekunlah dalam upaya.’ dan tidak berkata ini adalah takdir, namun beliau selalu mengedapankan upaya dalam menggapai tujuan.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata : ‘Jangan menyusahkan dirimu dengan sesuatu yang sudah ditakdirkan bagimu, dan jangan menyia-nyiakan sesuatu yang harus kau perbuat bagi dirimu.’ Ujaran ini mendukung kisah diatas, yakni, jangan menyusahkan diri dengan menggilai dunia dalam mencari penghidupan, karena tidaklah mungkin, Allah tidak memberikan sarana kehidupan bagi makhluk-Nya, khususnya bagi tumbuh-tumbuhan, binatang, jin dan manusia, karena apa yang sudah ditakdirkan dari kekekalan tak akan berubah oleh upaya, dan jangan sekali-kali menyia-nyiakan perintah-Nya, dan perintah ini hanya turun bagi manusia dan jin, atau bagi makhluk yang berakal, sebab manusia dan jin akan dihukum oleh-Nya jika menyia-nyiakannya.

Ada sebuah kisah yang dialami oleh Imam Hujwiri,ra., yang hidup sezaman dengan Syaikh Abu Ali al Farmadzi,qs., akhli silsilah Naqsyabandiyah, yang meriwayatkan : “Suatu hari aku menuangkan air di kedua belah tangan guruku yang bernama Syaikh Abuk Fadhl Muhammad bin Al-Hasan Al-Khuttali,ra., agar dia bisa membersihkan dirinya. Terpikir olehku : ‘Oleh karena setiap sesuatu sudah ditakdirkan, mengapa orang-orang yang merdeka mesti membuat diri mereka budak-budak dari pembimbing-pembimbing ruhani dengan harapan mempunyai karamah yang dianugerahkan kepada mereka?’ Gurunya berkata : ‘Wahai anakku, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Yakinlah bahwa ada seuatu sebab bagi setiap ketentuan Tuhan. Apapbila Tuhan hendak menganugerahkan mahkota dan kerajaan kepada anak penjaga pintu istana, Dia memberinya ampunan dan menggunakannya untuk melayani salah seorang sahabat-Nya, agar dengan demikian pelayanan ini bisa menjadi sarana baginya untuk mendapatkan karamah.’”

Karena itu, selama ia disebut manusia, ia terikat untuk melaksanakan aturan-aturan ketaatan kepada Tuhan, dengan usaha dan jerih payahnya (takalluf). Seseorang yang melalaikan aturan-aturan, tak mungkin ia bisa mencapai kedekatakan dengan-Nya, karena perilaku-perilaku yang baik adalah ciri khas orang-orang yang dicintai Tuhan. Bilamana Tuhan menganugerahkan suatu kejaiban (karamah) atau maunah kepada seseorang, ini suatu bukti bahwa Dia menyebabkannya memenuhi tugas-tugas agama. Ini bertentangan dengan pandangan sebagian orang, yang menyatakan bahwa usaha atau upaya manusia dalam ketaatan pelaksanaan perintah Tuhan, merupakan tindakan Tuhan tanpa melibatkan tindakan manusia sama sekali.

Hadis riwayat Imam Ali,ra. Beliau berkata: ‘Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.’

Makna hadist ini adalah bahwa, didalam takdir itu ada penetapan dan penerapan, penetapan adalah qadha dan penerapan adalah qadar. jika kebahagiaan ditetapkan bagi seseorang, maka hal itu ditetapkan dengan suatu sebab, dan sebabnya menjadi mudah, yaitu ketaatan. Dan sebaliknya, jika kemalangan ditetapkan naudzubillah mindzalik, maka hal itu ditetapkan melalui suatu sebab pula, yaitu kemalasan. Imam Al Ghazali,ra., berkata : ‘Ditentukan-Nya sebab-sebab universal yang asli, pasti dan stabil, seperti bumi, tutujuh langit, bintang gemintang dan benda benda langit, dengan gerakan-gerakanya yang harmonis dan konstan yang tidak berubah sampai apa yang tertulis terpenuhi, inilah takdir-Nya.

Seperti yang difirmankan oleh Allah SWT :

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا

‘Kemudian Dia menakdirkan mereka tujuh langit dalam dua hari dan menginpirasikan pada tiap-tiap langit mendatnya.’ (QS. Fushshilat (41) : 12).

Qadha-Nya adalah menetapkan sebab-sebab universal dan konstan. Qadar-Nya menerapkan sebab-sebab universal dengan gerakan-gerakannya yang sudah ditentukan dan terukur pada akibat-akibatnya, menurut ukuran yang sudah ditentukan yang tidak bertambah dan tidak berkurang. Dan karena itulah maka tidak ada yang lolos dari qadha dan qadar-Nya.’

Seorang ayah menasihati anaknya, Jika engkau berkeinginan menjadi imam, maka bekerja keraslah, belajarlah, dan rajinlah. Anak itu menjawab : ‘Jika Allah sudah menakdirkan saya menjadi imam, maka tak perlu berusaha, namun jika Dia sudah menakdirkan saya akan menjadi bodoh, maka tak ada gunanya berusaha.’ Sang ayah berkata : ‘jika Dia tidak memberikan daya berpikir kepadamu, itu menunjukkan bahwa Dia menakdirkanmu menjadi bodoh.’ Ini berarti bahwa, jika Dia menakdirkan anak itu menjadi imam, maka Dia menetapkannya dalam sebab-sebab, sehingga sebab-sebab itu akan datang kepadanya, dan Dia akan menentukannya melalui sebab-sebabnya, dan Dia akan menyingkirkan darinya pikiran-pikiran yang akan membuatnya malas dan tidak bersemangat. Sesungguhnya orang yang tidak berusaha tidak akan mencapai kedudukan imam sama sekali, sedangkan bagi orang yang berusaha dan menemukan sebab-sebabnya yang dapat dijangkaunya, maka harapannya untuk mencapainya niscaya akan menjadi kenyataan. Oleh karenanya, tidak ada seorang pun yang mencapai kebahagiaan kecuali mereka yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih. Kebersihan hati merupakan kualitas yang didapat melalui upaya, yakni riyadhah dan mujahadah atau dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah.

Dalam menyikapi takdir, bisa digolongkan menjadi empat tingkatan. Pertama, ada sebagian yang melihat awalnya dengan mempertimbangkan bahwa Ketentuan Allah ini tidak lepas sedikit pun dari hukum azali dan tidak akan berubah oleh upaya. Kedua, sebagian yang memandang akhirnya dengan melihat bagaimana akhir kehidupan mereka, namun karena akhir dari sesuatu itu masih merupakan misteri, maka ia berupaya. Ketiga, sebagian kehilangan masa lalu dan masa mendatang, dan merupakan putra-putra waktu (ibn waqttihi), karena mereka merenungkan Allah. Dan bahagia dengan hasil takdir Allah SWT dan apa yang muncul dari takdir itu. Kemudian yang keempat, ada sebagian orang yang kehilangan masa kini, masa lalu dan masa mendatang, yang hati mereka terserap dalam Sang Hakim, yang terus memandang-Nya.

Semoga Allah SWT berkenan memberikan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua, dan mengampuni serta mensucikan kita semua, amiin ya Allah ya Rabbal Alamiin.

About admin

Check Also

Sejarah Masuk dan Berkembangnya Tarekat Sammaniyah di Palembang

Pada masa-masa awal penyebaran tarekat Sammaniyah di Palembang tidak terlepas dari adanya peranan keraton Kesultanan ...