Saturday , October 20 2018
Home / Deep Secret / Intelijen / Perebutan SDA di “Bogor Timur” (2)

Taman Makam QuilingMakam Quiling

INTELIJEN.co.id - Sejumlah perusahaa berebut untuk mendapatkan ijin penambangan di wilayah Bogor Timur. Rio Tinto piawai melakukan lobi di level pemerintah pusat, tetapi Bintangdelapan menjadi jawara di pemerintah daerah.

Perebutan SDA di “Bogor Timur” (2)

Sejumlah tanda tanya pun muncul, terkait “kesaktian” Bintangdelapan. Direktur Jenderal Pengusahaan Mineral dan Batu Bara, Mangantar S. Marpaung, termasuk yang belum mengetahui sepak terjang Bintangdelapan. Mangantar juga melihat sejumlah keganjilan, di mana ada satu perusahaan memiliki berbagai kuasa pertambangan. 

Tak aneh jika Ketua KMTB, Karta Sukarta, mempertanyakan kelihaian Bintangdelapan dalam menguasai bumi Buana Jaya. Karta pun tidak menampik kemungkinan adanya lobi Bintangdelapan ke oknum pemerintah daerah. 

Menurut sumber INTELIJEN, kehadiran Bintangdelapan di Bogor Timur memang atas rekomendasi pemerintah kabupaten. Awalnya, pemerintah kabupaten membutuhkan investasi tambang galena di Cibereum. Keberadaan Taman Makam Quiling mendukung kondisi itu, mengingat banyak pengusaha keturunan sering berkunjung ke Quiling. 

Atas lobi pejabat di lingkungan pemerintha kabupaten, disepakati investasi tambang galena di Cibereum. Kabarnya, putra seorang tokoh penting Bogor sering berkunjung ke lokasi tambang Bintangdelapan ditemani pengusaha terkenal dari Jakarta yang memiliki kavling di Makam Quiling. Disebut-sebut kedua tokoh terkenal itu memiliki saham di Bintangdelapan. 

Menurut penduduk Buana Jaya yang ditemui INTELIJEN, ada hubungan erat antara pengelola Taman Quiling dengan Bintangdelapan. Dikatakan bahwa kepala keamanan Bintangdelapan juga menjabat sebagai security Taman Quiling. 

Yang pasti, satu-satu jalan yang bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat untuk sampai ke gudang Bintangdelapan, maupun pertambangan galena, harus melalui pintu gerbang Taman Quiling. 

Dari informasi yang didapat INTELIJEN di lapangan, pemilik Bintangdelapan dan Taman Quiling memiliki hubungan khusus dengan pengusaha asal Singapura dan China. Kolaborasi antar pengusaha itu memungkinkan bagi ekspor galena Buana Jaya ke Negeri Singa atau China. Tentu saja, hubungan itu menggunakan kover kepemilikan saham yang diatasnamakan pihak lain. 

Disebut-sebut, salah satu pemilik kavling Taman Quiling yang berasal dari Singapura mengatasnamakan kepemilikannya kepada Ko Awi. Sementara pengusaha asal Jakarta, yang dekat dengan orang penting di Bogor, mengatasnamakan kavling seluas tiga hektar di Taman Quiling kepada Soewito. 

Menurut sumber INTELIJEN, aliran perdagangan galena Buana Jaya pada akhirnya berujung pada satu pintu, meskipun KMTB dan Bintangdelapan bersaing memperebutkan hasil tambang galena.  

Hasil tambang Bintangdelapan digunakan jalur khusus melalui Group Bintangdelapan Mineral. Sementara, KMTB, yang kabarnya dimiliki pengusaha asal Sulawesi, Andi Karyawan, menjual hasil tambang galena kepada pengusaha asal Korea, Ko Achu.  

Pengusaha itu disebut-sebut melego galena kepada salah satu mediator Group Bintangdelapan. Mediator itulah yang mengatur ekspor bahan mentah galena ke Singapura dan Cina.  

Lee Kuan Yew  

Sejatinya, menurut sebuah sumber, penguasaan tambang galena Bogor Timur tidak lepas dari peran orang-orang dekat Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew. Kelompok berpengaruh inilah yang meneruskan ambisi Lee menguasai sumber daya alam Indonesia, utamanya wilayah Bogor.  

Di era pemerintahan Orde Baru, orang dekat Lee sudah mendapat tawaran untuk melakukan eksploitasi di wilayah milik Perhutani, Pegunungan Sangga Buana. Sebagai kompensasi, pemerintahan Orde Baru memperoleh bantuan dana. 

Setelah UU No. 33/2004 tentang Dana Perimbangan Keuangan Daerah diundangkan, pemerintah daerah berlomba memburu investasi asing. Walhasil, perburuan pengusaha Singapura yang berkolaborasi dengan pengusaha Cina atas sumber daya alam mendapat angin. 

Lihat saja, pada November 2006, sejumlah pejabat Pemkab Bogor dan anggota DPRD sempat berkunjung ke Kota Nanning, Provinsi Guan Xi, Cina untuk menawarkan peluang investasi di Kabupaten Bogor serta kerjasama “sister city” Bogor-Nanning. Belakangan kunjungan itu dipermasalahkan oleh kalangan anggota DPRD. 

Ketika itu Wakil Bupati Bogor, Albert Pribadi menyatakan bahwa kunjungan itu  berdasarkan Kepmendagri) No. 009/2362/ SJ dengan tembusan kepada Gubernur Jawa Barat. 

Ketua Lembaga Indonesia-Cina (LIC), Luddy Setiady sempat mengakui bahwa investor Cina memang telah mengincar potensi tambang Jawa Barat, khususnya Bogor. Menurut Luddy, sudah sejak lama Cina berinvestasi pada sektor pertambangan timah hitam di wilayah Bogor.  

Diakui ataupun tidak, konspirasi “menjual tanah air” memang dimulai dengan mengundang investor asing yang sebenarnya core bisnis-nya bukan kepada mining atau migas. Selanjutnya, dengan sejumlah “modifikasi”, pemerintahan pusat atau daerah  memanfaatkan regulasi pro investor asing untuk dijadikan alasan pembenar. 

Selanjutnya, perusahaan-perusahan “kover” itu menjual langsung bahan mineral ke buyer-buyer di Singapura ataupun Cina. Alasan pembenarnya, di Indonesia belum ada industri pertambangan hilir yang piawai dan mampu mengolah endapan mineral menjadi barang jadi.

(Repro INTELIJEN, bagian 2)

About admin

Check Also

Mengurai Agenda Strategis AS di East Asia Summit 2018

November mendatang di Singapura akan digelar forum East Asia Summit (EAS) yang mana baik negara-negara ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *