Sunday , July 22 2018
Home / Relaksasi / Renungan / Perdagangan dan Hati Nurani

IlustrasiDiterjemahkan dari artikel "Commerce and Conscience" oleh Herny

Ada orang-orang yg memiliki hati nurani yg berusaha menspiritualkan perdagangan, dan ada orang-orang yg tidak memiliki hati nurani yg berusaha memperdagangkan spiritualitas. Orang biasa sulit untuk melihat perbedaan keduanya, apalagi memahaminya. Tetapi orang yg memiliki kecerdasan dapat menyadari perbedaan ini dengan mudah, karena hati nurani adalah perkembangan dari kecerdasan manusia. Pengetahuan intelektual saja tidak pernah bisa melahirkan hati nurani dalam diri manusia. 

Perdagangan dan Hati Nurani

Pengetahuan intelektual adalah logika belaka. Ia hanya mengenal satu bahasa, yaitu bahasa untung-rugi, keberhasilan-kegagalan, menang-kalah. Ia tidak dapat memahami bahasa lain. Karenanya pengetahuan intelektual tidak pernah bisa mengenal cinta. Ia mungkin pernah smembaca tentang cinta. Ia bahkan mungkin pernah membicarakan cinta berdasarkan pengetahuan pinjaman tersebut, tetapi ia tidak pernah bisa merasakan cinta. 

Ekstrim yg lain adalah emosi. Ia juga hanya mengenal satu bahasa, yaitu bahasa perasaan. Ia tidak berurusan dengan logika. Ia dapat merasakan cinta tetapi terbawa oleh perasaan-perasaan yg timbul… Dalam prosesnya, cinta menguap. Cinta menyentuhnya, menyentuh permukaannya, tetapi sebelum sentuhan itu dapat membawa perubahan apapun, pengalaman itu berakhir. 

Adalah hati nurani di dalam dirimu dan diriku yg memahami dan berbicara bahasa cinta. Sayangnya, saat ini tidak banyak dari kita yg menggunakan bahasa tersebut. Karenanya, kita tidak dapat berkomunikasi dengan hati nurani kita. Kita tidak mampu untuk mengerti apa yg berusaha disampaikannya kepada kita. Kita telah menjadi orang asing bagi diri kita sendiri. Ini adalah akar dari semua permasalahan, dari semua masalah yg dihadapi dunia saat ini. 

Mungkin kita telah melangkah terlalu jauh…

Satu persatu, mari kita mencoba untuk merangkum apa yg telah kita bicarakan sejauh ini… Hati nurani adalah perkembangan dari kecerdasan. Kecerdasan bukanlah pengetahuan intelektual ataupun emosi. Jadi, apakah kecerdasan? Bisakah pertanyaan ini dijawab? Ya, bisa, oleh seseorang yg telah mencapainya, oleh orang yg cerdas. Pertanyaan ini tidak dapat dijawab oleh orang yg belum mencapainya. 

Tetapi, maukah seorang yg cerdas menjawab pertanyaan kita? Jawabannya adalah tidak. Seorang yg cerdas tidak akan menjawab pertanyaan kita. Jawaban-jawaban tidak bisa membuat kita cerdas. Sebaliknya, mereka dapat membunuh bibit kecerdasan dalam diri kita.  

Seorang yg cerdas akan membantu kita bertanya pada diri sendiri, “Apakah kita cukup cerdas?” Orang yg cerdas membantu kita menyadari bahwa kita tidak cukup cerdas dan mendorong kita untuk mencapainya. 

Seorang yg cerdas menuntun kita pada jalur, pada jalan menuju kecerdasan. Seorang yg cerdas membuat kita berjalan, berlari, terbang, menangis dan tertawa menuju kecerdasan. Dia mendorong kita dari belakang; dia menarik kita dari depan, sampai kita belajar berjalan dan berlari sendiri, sampai kita mengembangkan sayap dan terbang sendiri.  

Ini adalah tugas yg sangat besar, sebuah tugas yg hanya dapat dilakukan oleh orang yg cerdas. Ini seperti membuat orang yg pincang berjalan atau orang tuli berbicara. Sepertinya Keberadaan selalu mencari orang-orang cerdas seperti ini untuk dipercaya menjalankan tugas tersebut. Sesungguhnya, sejarah umat manusia tidak lain daripada uraian mengenai kehidupan orang-orang cerdas tersebut. Mereka adalah pembuat sejarah. Mereka membuat sejarah. 

Bagaimana mereka melakukan itu?

Apa rahasia mereka? Rahasia mereka adalah Rahasia dari Semua Rahasia – Cinta. Itu adalah rahasia kekuatan dan kekuasaan mereka. Itu adalah misi dan visi mereka. Itu adalah bahasa yg mereka gunakan. Itu adalah jalan yg mereka tempuh. Itu adalah jalan dan tujuan mereka. 

Ijinkan benih Cinta dalam dirimu tumbuh, dan kau telah melakukan bagianmu untuk membangkitkan hati nuranimu. Dan, sekali hati nuranimu telah bangkit, bingo! Hati nurani yg telah bangkit akan menuntunmu, menuntun hidupmu. Kau tidak dapat menyimpang, tidak dapat salah jalan lagi. Setelah titik itu, hanya ada kebenaran, kebenaran, dan kebenaran. 

Apa yg dapat kita lakukan untuk memastikan tumbuhnya benih Cinta dalam diri kita? Dengan mencintai seseorang? Dengan mencintai tetanggamu atau mencintai Tuhan? Tidak, itu terjadi setelah benih telah tumbuh. Itu datang secara otomatis, secara alami. Untuk memastikan tumbuhnya benih Cinta di dalam diri kita kita harus memfokuskan perhatian kita pada benih itu sendiri. Kita harus menyiraminya dengan penuh perhatian, dan ketika ia mulai bertunas kita harus memelihara tanaman kecil itu dengan perhatian lebih.  

Ya, adalah “peduli”, “kepedulian” yg memastikan tumbuhnya benih Cinta dalam diri kita. Kita harus belajar Seni Kepedulian. Seni ini harus kita kuasai untuk menanam dan mengolah Cinta. Dimulai dari memperhatikan “diri”. Jika kau memperhatikan diri “sendiri”, kau menjadi egois. Tetapi, jika kau memperhatikan “diri”, kau akan melampaui egomu. Memperhatikan “diri” berarti memperhatikan “diri” dalam setiap makhluk – “diri” di dalam kau tidak berbeda daripada “diri” di dalam aku. 

Seni Kepedulian mengajar kita untuk peduli, menjadi peduli – menanam dan mengolah kepedulian sebagai kebiasaan. Ini tidak berurusan dengan siapa yg seharusnya kau pedulikan, dan siapa yg seharusnya tidak kau pedulikan. Seni ini tidak berurusan dengan obyek atau orang yg menerima kepedulian kita. Ia berurusan dengan subyek, aku atau kau, yang harus mengembangkan atau menanam dan mengolah kepedulian sebagai kebiasaan. Dan, tindakan kepedulian itu sendiri. Sesungguhnya, pada suatu titik, bahkan subyek pun terkalahkan oleh tindakan kepedulian itu sendiri. Dan, pada saat itulah benih Cinta dalam dirimu mulai bertunas dan hati nuranimu bangkit. 

Peduli pada “diri”mu, untuk “diri” di dalam badanmu dan badan orang lain. Peduli pada “diri” yg ada di dalam mind dan pikiranmu, dalam emosi dan perasaanmu, dan dalam mind dan pikiran, dalam emosi dan perasaan orang lain. Tetapkan perhatianmu hanya pada “diri” ini, dan saksikan keajaiban cinta terjadi! 

“Perdagangan dan Hati Nurani” adalah judul artikel ini, tema diskusi ini. Mengapa aku harus mempedulikan hati nurani dalam urusan perdagangan? Tidak ada keharusan, tidak ada yg memaksaku, mendorongku peduli terhadap hal ini. Kepedulian ini terjadi begitu saja, karena aku orang yg peduli. Kau mempedulikan moral dalam politik karena kau adalah orang yg peduli. Kita tidak berusaha untuk peduli, itu terjadi begitu saja. Hanya begitu saja, karena sifat kepedulian kita.  

Kita telah mengatakan sebelumnya: Ada orang-orang yg memiliki hati nurani yg berusaha menspiritualkan perdagangan, dan ada orang-orang yg tidak memiliki hati nurani yg berusaha memperdagangkan spiritualitas. 

Kenyataannya, orang-orang yg memiliki hati nurani “tidak berusaha” menspritualkan perdagangan. Penspiritualan “terjadi” dengan kehadiran mereka. Mereka hanyalah katalis. Manusia yg memiliki hati nurani tidak bisa tidak selain menspiritualkan perdagangan. 

Salah satu maskapai penerbangan kita kehilangan pesawatnya.

Kerugian mereka kecil, dapat diabaikan. Itu adalah sesuatu yg dapat dihitung, yg dapat dinyatakan dalam angka. Pikirkan para penumpang yg hilang, mereka diperkirakan meninggal, semuanya. Pikirkan kerugian keluarga dekatnya, teman-temannya dan sanak saudaranya. Pikirkan kerugian bangsa ini, lebih dari 100 pasang tangan yg dapat digunakan untuk melayani negara, lebih dari 100 pasang kaki yg dapat digunakan untuk mempercepat pembangunan bangsa.

Dan, pikirkan “sikap ketidakpedulian” yg ditunjukkan oleh “pemilik” maskapai penerbangan. Tanyakan pada mereka, berapa kali mereka atau keluarganya bepergian menggunakan maskapai yg mereka miliki. Aku tahu dengan pasti seseorang, salah satu dari para pemilik itu, sering kulihat bepergian menggunakan maskapai lain. Mereka tidak pernah menaruh kepercayaan pada maskapai yg mereka miliki. Tetapi, mereka ingin seluruh bangsa untuk mempercayai dan menggunakan maskapai mereka – ini adalah perdagangan tanpa hati nurani. Ini yg kusebut sikap “tidakpeduli”. Orang-orang dengan tingkah laku seperti ini dapat pergi ke tanah suci, dapat menyumbang kegiatan amal apapun yg diselenggarakan untuk tujuan apapun, dapat berdoa beberapa kali sehari – mereka tetap tidak memiliki hati nurani. Mereka belum mengenal cinta. Mereka tidak lebih baik daripada binatang yg hanya terikat pada keluarga dekatnya saja. 

Pikirkan juga perusahaan pemrosesan air mineral pertama di negara ini…

Dengan begitu mudahnya mereka dapat menjual sahamnya kepada perusahaan asing. Sekarang, air yg merupakan produk dari tanah kita sendiri harus kita beli dari perusahaan asing. Untuk menutup mulut kita, perusahaan tersebut tanpa rasa malu memberikan label “Halal” pada setiap produknya. Dan ada institusi yg merestui tindakan tidak tahu malu seperti ini. Katakan, bagaimana seseorang dapat menghalalkan kejahatan terhadap hati nurani seperti ini? 

Orang-orang kita di kabinet, para wakil rakyat kita di lembaga legislatif, orang-orang yg berkedudukan tinggi, pemerintahan kita dan mereka yg disebut pemuka agama, semuanya diam mengenai isu ini. Mengapa? Karena mereka tidak peduli. Selama ego mereka terpenuhi, dompet mereka terisi dan posisi mereka terlindungi, terjamin, apa yg harus mereka pedulikan? 

Beberapa hari yg lalu aku makan di sebuah food court.

Aku dan temanku sengaja memilih kios mie yang kami kira dimiliki oleh orang Indonesia, bangsa kita sendiri. Label Halal yg terpasang menyolok seperti menguatkan keyakinan kami. Sayangnya, kami terlambat menyadari, bahwa tampilan tersebut hanya untuk membodohi orang-orang bodoh seperti kami. Kios kecil itu dimiliki oleh orang asing, yg datang beberapa saat menjelang kios tutup pada hari itu, untuk mengecek keadaan bisnisnya pada hari itu! Tidak bisakah kita membuat dan menjual dan memakan mie buatan kita sendiri di negara ini? Apakah kita memiliki kepedulian untuk bertanya, bagaimana caranya sampai orang asing bisa memperoleh ijin menjalankan kios mie kecil di food court kita? Bisakah saya, sebagai orang Indonesia, melakukan cara yang sama di negara asing manapun? 

Perdagangan tanpa Hati Nurani telah merajarela di negara ini sejak beberapa saudara sebangsa kita menjual negara ini kepada pihak-pihak multinasional dan pemerintah-pemerintah asing pada akhir 1960 dan awal 1970 yg lalu. Beberapa waktu yg lalu, kita kembali menjual aset-aset kita kepada mereka. Apakah kita peduli? Adakah orang yg peduli? 

AKU PEDULI, SUNGGUH! 

Dan, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan berhenti berkarya sampai orang-orang zalim yg menjual aset-aset dan sumber daya negaraku terungkap dan masyarakatku disadarkan mengenai kejahatan yg mereka lakukan. 

Kau menemukan para kriminal ini yg menyamar sebagai pemuka agama menakut-nakutimu bahwa nasib bangsa disebabkan kemurkaan Tuhan. Tidak, bukan karena kemurkaan Tuhan, tetapi karena perbuatan kita sendiri. Kita telah membuat negara kita menjadi seperti yg sekarang. Jangan hanya menyalahkan para kriminal zalim itu, salahkan juga dirimu. Mengapa kau diam saja selama bertahun-tahun ini? 

AKU AKAN BICARA! 

Tidak seorangpun dapat menghentikanku, kecuali aku ditembak mati, kecuali aku mati. Tetapi, jangan kau lupa, yang akan mati hanya badan ini. Jiwaku akan berkarya terus-menerus sampai setiap laki-laki dan perempuan dan anak-anak, bahkan orang-orang cacat, orang-orang pincang dan orang-orang yang terbelakang disadarkan mengenai tanggung jawab mereka terhadap Ibu Pertiwi, Ibu Indonesia. 

AKU SELALU MEMBUKA MATAKU! 

Aku menyaksikan pemilik bisnis yang bodoh dimanfaatkan oleh orang-orang asing demi keuntungan mereka pribadi. Mereka bertingkah laku seperti anjing-anjing, puas dengan tulang-tulang yang dilemparkan kepada mereka. Kau bukan anjing, sadarilah kejantananmu, kewanitaanmu, sifat manusiamu, dan kemanusiaanmu. 

Tinggalkan saudara-saudaramu yang bodoh, bahkan para cendekiawan kita dibeli oleh pihak-pihak luar. Beberapa dibeli dengan uang, beberapa dengan kedudukan, dan beberapa dengan emosi. Aku peduli padamu, temanku, maka aku menulis baris-baris ini. Jika kau tidak ingin diingat sebagai pengkhianat, maka bangunlah. Kau tidak bisa menundanya untuk sesaat pun, saatnya adalah sekarang. Bangunlah sekarang, saat ini juga! 

Jika keluargamu dan kebutuhan mereka dapat mendorongmu untuk mengkhianati bangsa, negara – maka kau memalukan – maka, temanku, Bangunlah!

Sumber : http://www.akcbali.org


About admin

Check Also

Kisah Pemuda Berdalil Quran Hadist dan Kyai Berdalil Kitab Ulama

Pemuda: Assalamu Alaikum, Kyai Pak Kyai: Waalaikum Salam…Silakan duduk anak muda, siapa namamu dan dari ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *