Saturday , December 15 2018
Home / Deep Secret / Intelijen / Perang Ekonomi AS: Ladang Pembantaian tanpa Hingar Bingar

Perang Ekonomi AS: Ladang Pembantaian tanpa Hingar Bingar

Kita bisa membayangkan perang semacam itu akan membawa kematian para prajurit; kita bisa membayangkan medan tempur bersimbah darah, kebisingan yang mengerikan dan bangunan-bangunan hancur oleh hujan bom. Sering kita mendengar penduduk sipil menjadi korban pembantaian serangan yang dilancarkan secara brutal, dan meskipun itu dikutuk banyak orang, tetapi jatuhnya korban di kalangan penduduk sipil sangat sering terjadi dalam aksi penyerbuan semacam itu.

Dalam sejarah perang modern, Amerika Serikat mencatat rekor tertinggi sebagai negara agresor dalam perang jenis ini. William Blum, dalam bukunya Killing Hope: U.S. Military and CIA Interventions Since World War II, menyatakan bahwa sejak menyatakan kemerdekaannya di tahun 1776, Amerika Serikat terus melancarkan arus tetap pertempuran militer yang mengobarkan sembilan perang besar dan lebih dari 200 penyerbuan angkatan bersenjata. “Dari 1977 hingga 1993,” tulisnya, “Amerika Serikat telah mengirimkan tentaranya untuk menyerbu 32 wilayah di luar negaranya.” Rekor itu tentu saja sudah diperbarui dengan penyerbuan AS ke Afganistan dan Irak, dan tampaknya tidak mungkin ditumbangkan oleh negara lain mana pun, kecuali AS sendiri.

Selain agresi militer, sesungguhnya ada perang lain yang bisa berlangsung tenang dan tetap mematikan, yakni perang ekonomi. Kita tak bisa dengan mudah memahami bahwa perang yang tenang semacam itu sesungguhnya juga memiliki kekuatan yang sama mengerikannya dengan perang militer. Bahkan, dibandingkan dengan perang militer, perang ekonomi yang tidak gegap gempita juga mengabarkan sisi muram pembunuhan manusia dengan cara yang bisa jadi lebih menyedihkan. Peperangan dilancarkan untuk menghancurkan musuh tanpa meletuskan sebutir peluru pun. Di tingkat yang paling ekstrem, perang ekonomi menunjukkan daya hancur tak ubahnya bom nuklikr: ia melemahkan rakyat dan melumpuhkan infrastruktur.

Jadi, meskipun sering dinyatakan, termasuk oleh Wahington dan sekutu-sekutunya, bahwa warga sipil tidak selayaknya menjadi korban dari perang atau perseteruan politik, AS sendirilah yang dengan mudah dan sering sekali melakukan pembunuhan massal terhadap warga sipil dalam sebuah perang jangka panjang. Anda tahu, korban utama dalam perang ekonomi adalah penduduk sipil, sementara kekuatan militer hanya mengalami penderitaan yang lebih kecil. Negara agresor tentu saja hanya mengalami kerugian yang sangat kecil.

Ladang Pembantaian Warga Sipil

Irak menjadi contoh yang sangat tragis tentang bagaimana perang ekonomi yang dilancarkan oleh AS dan sekutu-sekutunya secara kejam telah melumpuhkan negara tersebut. Dan ketika Irak dalam kondisi sangat lemah, AS dan sekutu-sekutunya kemudian menyerangnya dalam perang militer besar-besaran yang menggulingkan Saddam Hussein dari kekuasaan dan melumat hancur negara tersebut.

Laporan PBB mengenai Situasi Kemanusiaan di Irak, yang diserahkan kepada Dewan Keamanan, Maret 1999, memberikan gambaran tentang bagaimana perang ekonomi telah melumpuhkan Irak.

Sebelum pecah Perang Teluk yang dipicu oleh pencaplokan Irak terhadap Kuwait, indikator sosial-ekonomi Irak secara umum di atas rata-rata negara-negara berkembang lainnya. Pada tahun 1988, pendapatan nasional kotor (GDP) per kapita Irak adalah 3.510 dolar AS. Tahun berikutnya naik menjadi 4.125 dolar AS.

Sampai tahun 1990, dengan produksi pangan domestik yang hanya mewakili sepertiga dari total konsumsi, Irak memiliki kapasitas untuk mendatangkan bahan pangan dalam jumlah besar berkat kemakmurannya. Organisasi pangan dan pertanian (FAO) PBB menegaskan bahwa saat itu Irak merupakan salah satu negara dengan indikator ketersediaan pangan per kapita tertinggi.

Menurut laporan WHO, sebelum 1991, pelayanan kesehatan di Irak mencapai angka sekitar 97% di perkotaan dan 78% di pedesaan. Angka kematian bayi turun sampai 65 dari setiap 1.000 di tahun 1989 (angka kematian rata-rata di negara berkembang menurut laporan PBB adalah 76 per 1.000 di tahun 1991). UNICEF menunjukkan bahwa sistem kesejahteraan nasional diberlakukan untuk membantu anak yatim dan anak-anak cacat dan pemberian bantuan kepada keluarga yang sangat miskin.

Sebelum 1991 Irak Tengah dan Selatan memiliki sistem air bersih dan sanitasi yang dikembangkan dengan penyediaan dua ratus perangkat pengolah air untuk daerah perkotaan dan 1.200 perangkat kecil untuk wilayah pedesaan. WHO memperkirakan 90% penduduk Irak mempunyai akses untuk mendapatkan air bersih secara melimpah.

Semua catatan baik itu tak pernah bisa dipertahankan setelah meletus Perang Teluk tahun 1990 melawan AS dan sekutu-sekutunya, dan dilanjutkan dengan penjatuhan sanksi ekonomi. Sanksi ekonomi terhadap Irak dilancarkan tanggal 6 Agustus 1990. Sekadar catatan, di tanggal dan bulan yang sama, di tahun 1945, Presiden Harry S. Truman menjatuhkan bom atom yang menghancurkan Hiroshima dan membunuh seketika 100.000 orang.

Irak pelan-pelan menuju kesengsaraan sejak itu. Lembaga Dana PBB memperkirakan angka kematian ibu melahirkan meningkat dari 50 per 100 ribu orang di tahun 1989 menjadi 117 di tahun 1997. Angka kematian balita meningkat dari 30,2 per 1.000 menjadi 97,2 per 1.000 pada periode yang sama. PBB memperkirakan angka kematian bayi melonjak dari 64 per 1.000 di tahun 1990 menjadi 129 per 1.000 di tahun 1995. Bayi yang lahir dengan berat badan di bawah 2,5 kg meningkat dari 4% di tahun 1990 menjadi sekitar 25% dari kelahiran yang tercatat di tahun 1997, disebabkan oleh ibu-ibu hamil yang kurang gizi.

Catatan buruk lainnya adalah merosotnya asupan kalori yang  semula 3.120 kalori per orang dalam sehari menjadi hanya tinggal sepertiganya di tahun 1994-95. Rentetan selanjutnya adalah meningkatnya jumlah balita kurang gizi hingga dua kali lipat dari tahun 1991 hingga 1996.

Segalanya menjadi makin suram di Irak sepanjang berlangsungnya sanksi ekonomi. Rumah sakit dan pusat-pusat kesehatan bertahan tanpa perbaikan dan pemeliharaan sejak 1991. Kapasitas pelayanan kesehatan merosot karena minimnya persediaan air dan energi, kurangnya transportasi, dan ambruknya jaringan komunikasi. Penyakit menular, seperti malaria dan demam berdarah, yang semula bisa dikendalikan, kembali mewabah di tahun 1993 dan kondisi itu berkembang makin genting dari waktu ke waktu.

Pendidikan mandek seketika dan bergerak mundur menuju ke kondisi pertengahan tahun 1980-an, di mana anak-anak kembali bertebaran di jalan-jalan, atau terpaksa bekerja untuk meringankan beban orang tua mereka. UNESCO mencatat angka murid-murid yang drop out dari sekolah meningkat pesat.

Ketika Irak dalam situasi yang serba mengenaskan memasuki tahun ke-12 diberlakukannya sanksi ekonomi, ketika petugas lapangan UNDP melaporkan bahwa “negeri ini telah bergeser dari semula yang relatif makmur menjadi sangat miskin”, George Walker Bush menggelembungkan alasan mengenai perlunya dilancarkan serbuan ke Irak. Setahun penuh ia meyakinkan publik Amerika dan dunia bahwa AS tak punya pilihan lain kecuali menyerbu Irak dan menggulingkan Saddam Hussein. Ancaman Irak, yang terus digembar-gemborkan oleh para petinggi pemerintahan Bush, sungguh sebuah retorika ganjil, karena terbukti kemudian bahwa Irak sama sekali bukanlah ancaman. Tentara Amerika dan pengikut-pengikut setianya dengan mudah meraih kemenangan di Irak. Perang yang dilancarkan 20 Maret 2003, yang mengakhiri kekuasaan Saddam Hussein di pertengahan April dan dinyatakan berakhir pada bulan Mei, bahkan berlangsung lebih mudah dibandingkan Perang Teluk yang dikobarkan 17 Januari 1991 oleh George Bush tua.

 

pemogokan_truk_cile-600x336

“Saya tidak melihat alasan kenapa kita harus diam mematung dan mengamati saja sebuah negara menjadi komunis hanya karena rakyatnya abai terhadap hal itu,” kata Henry Kissinger, 27 Juni 1970, dalam pertemuan 40 komisi Dewan Kemanan Nasional. Dan pada bulan November, dua bulan setelah Allende memenangi pemilu, Kissinger mengeluarkan memo berisi ringkasan keputusan Presiden Nixon mengenai langkah gigih dan terus-menerus yang harus dilakukan terhadap pemerintahan Allende. Memo itu disampaikan kepada menteri luar negeri, menteri pertahanan, Direktur Kesiagaan Darurat, dan Direktur CIA; tembusannya kepada Menteri Keuangan.

Pelaksanaan keputusan itu tergambar secara memadai dalam satu kalimat Edward Korry, duta besar untuk Cile kala itu, “Tidak ada sebutir kacang atau sebiji baut pun boleh memasuki Cile di bawah Allende.” Dan dalam tiga tahun AS berhasil mencekik perekonomian Cile dengan melakukan destabilisasi sampai ke tingkat yang tidak memungkinkan bagi Allende untuk memimpin negerinya bangkit. Tidak ada pinjaman bagi Cile sepanjang tahun 1971-1973. Bahan pangan nyaris tak tersedia, industri macet, angkutan dan mesin-mesin membusuk tanpa pasokan onderdil. Perekonomian betul-betul mogok seperti yang diinginkan oleh Richard Nixon karena roda ekonomi Cile sebelumnya memang sangat tergantung pada AS. Pemerintahan Allende, yang menawarkan program-program yang membawa harapan besar bagi rakyatnya dan memenangi pemilu secara demokratis, kemudian menjadi tidak bisa bekerja sama sekali.

Dua tahun setelah keberhasilan menumbangkan Allende di Cile, AS memerlukan sesuatu untuk menaikkan kembali moral yang sedang merosot. Tahun 1975, situasinya sungguh murung: Saigon baru saja jatuh dan Vietnam Selatan menyerah tanpa syarat kepada Vietnam Utara; sementara di dalam negeri peristiwa yang memalukan baru saja terjadi tahun sebelumnya—Richard Nixon mundur setelah terbongkarnya Skandal Watergate. Tahun itu AS berpaling ke Angola.

Petualangan di sana, dengan manuver bersenjata dan diikuti kemudian dengan embargo dan penghancuran infrastruktur, kelak akan melahirkan sebuah Angola yang tanpa harapan. Negeri yang, setelah lepas dari penjajahan Portugis, memiliki potensi menjadi negeri terkaya di Afrika pada akhirnya jatuh ke ke kubangan kemelaratan yang nyaris tak tertanggulangi. Washington Post, 25 Juli 1999, melaporkan jejak warisan campur tangan AS di Angola sebagai berikut: “Staf rumah sakit umum di sini bergulat dengan wabah silih berganti. Tahun lalu kolera, diikuti dengan berjangkitnya polio tahun ini. Musim malaria sedang dimulai…. Dengan beribu-ribu pengungsi yang melarikan diri dari perang di desa-desa mereka dan menetap di tenda-tenda pengungsian, dengan sampah di mana-mana, air kotor, kota-kota di Angola bisa menjadi ruang penyemaian bagi berbagai penyakit seperti polio dan malaria. Angola memiliki rating tinggi untuk penderita lepra dibanding negara-negara lain.”

Kuba yang Tak Jatuh-Jatuh

Negara pertama di Amerika Latin yang menjadi laboratorium bagi segala jenis manuver Amerika dan CIA bisa dikatakan adalah Kuba. Dua dekade sebelum keberhasilan AS melakukan destabilisasi di Cile dan menggulingkan Allende, praktek-praktek yang sangat kasar sudah dilakukan terhadap Kuba. Begitu revolusi di negara tersebut berhasil menurunkan pemerintahan diktator Fulgencio Batista, Amerika memberlakukan embargo karena terganggu oleh program nasionalisasi dan land-reform yang digulirkan oleh Fidel Castro. AS berniat melumpuhkan perekonomian Kuba dengan membuat kelangkaan suku cadang bagi mesin-mesin Kuba buatan AS yang menopang jalannya ekonomi mereka. Hanya karena kedekatan Kuba dengan Uni Soviet, maka negeri itu tidak karam oleh gempuran ekonomi AS. Di tahun-tahun sulit Uni Soviet membeli gula dari Kuba dengan harga pasar dan mengirimkan bahan-bahan strategis ke negeri tersebut. Kenyataan ini semakin memperkuat keputusan AS untuk melumpuhkan Kuba dengan segala cara.

Dan Kuba kondisi Kuba merosot sangat tajam kendati tidak sampai merobohkannya. Sebelum tahun 1990-an, Kuba mendapatkan pujian atas keberhasilannya menyingkirkan kelaparan dan kekurangan gizi, menyapu bersih penyakit menular dan menerima pujian dari World Health Organization (WHO) atas pelayanan kesehatan masyarakatnya. Namun Uni Soviet kemudian menghentikan bantuannya ketika negeri itu sendiri berada di ambang perpecahan dan kesulitan ekonomi dan kemudian benar-benar bubar. Dan AS tidak pernah mengendurkan embargonya bahkan ketika alasan untuk itu sudah tidak ada.

Kondisi Kuba di pertengahan tahun 1990-an merosot secara drastis, berkebalikan dengan keadaan sebelumnya. Embargo yang dilakukan terhadap Kuba menyebabkan negeri tersebut kurang pangan dan memburuknya pelayanan kesehatan masyarakat. Ini sungguh menyedihkan karena Kuba dikenal sebagai salah negara satu yang terbaik dalam menyediakan layanan kesehatan kepada warganya. Karena embargo, Kuba dilarang mendapatkan separuh obat baru di pasaran; dokter-dokter hanya bisa memperoleh 890 jenis obat-obatan, turun dari 1.300 di tahun 1989; kondisi air memburuk, menyebabkan meningkatnya penyakit yang disebabkan oleh air; asupan kalori menurun sampai 33 persen, sama seperti yang terjadi di Irak, antara tahun 1989 dan 1993.

Kuba pelan-pelan mulai bangkit lagi ketika banyak negara Eropa tidak mau menaati embargo itu; pendapatan Kuba dari sektor pariwisata meningkat. Perang ekonomi terhadap Kuba pelan-pelan menguap dan, perkembangan terakhir, Presiden Obama telah menawarkan langkah awal untuk memperbaiki hubungan kedua negara dengan mengizinkan transfer uang dari AS ke Kuba.

Panduan Perang Ekonomi: Langkah demi Langkah

Dalam kasus-kasus di atas, kita menjadi lebih bisa membayangkan segala bentuk perang yang dilakukan oleh AS untuk menundukkan sebuah negara: perang langsung, ekonomi, hasutan untuk membuat perlawanan, bantuan untuk kerusuhan, blokade, mata-mata, dan propaganda. Berangkat dari pelbagai manuver yang dilakukan oleh AS untuk menekuk Irak, juga Cile dan Kuba, kita bisa membaca bagaimana perang ekonomi dijalankan langkah demi langkah untuk memperlemah negara sasaran.

Sebagaimana pertempuran bersenjata, yang biasanya dimulai dengan propaganda untuk menciptakan opini buruk tentang negara atau pemerintahan yang hendak diserbu, perang ekonomi pun memerlukan persiapan-persiapan yang serupa. Mula-mula dilontarkan sebuah tuduhan, dalam hal ini inisiatif selalu berasal dari Amerika Serikat, bahwa negara yang tidak disukainya itu melakukan kejahatan besar dan karenanya merupakan ancaman besar bagi AS dan bagi dunia. Musuh yang tidak memiliki kekuatan cukup untuk mempertahankan diri kemudian distempel dengan sebutan “negara jahanam” (rogue state).

Karena si “negara jahanam” tidak bisa membela diri dan tidak bisa berkelit dari tuduhan yang diarahkan kepadanya, sekalipun kejahatan itu kemungkinan besar tak pernah ada, biasanya ia menjadi makin keras kepala. Harga diri yang terusik membuat “negara jahanam” itu enggan berkompromi demi mempertahankan integritas nasionalnya. Ini makin menjengkelkan bagi si negara penuduh; maka, aksi berikutnya harus segera diambil.

Langkah selanjutnya adalah pengucilan, yang dilakukan dengan beberapa tahapan. Tahap pertama, negara penuduh melarang semua warganya, kecuali CIA, untuk bepergian ke “negara jahanam” itu. Kuba telah berpuluh tahun sampai sekarang mengalami perlakuan semacam ini. Peraturan ini diberlakukan dengan segala tindakan yang mencakup aksi-aksi tidak demokratis seperti pemberiaan denda berat, pelecehan, dan warga negara yang tidak mengindahkan pelarangan itu sering dipermalukan di depan orang-orang di bandara, dan sebagainya. Alasan-alasan yang digunakan untuk melaksanakan tindakan ‘tidak demokratis” ini adalah: untuk melindungi pelancong agar tidak teracuni oleh virus “jahat”, membentengi mereka dari propaganda ganas, dan melindungi mereka dari penculikan dan dari tuduhan melakukan kegiatan mata-mata.

Itu alasan-alasan resmi.

Alasan yang disembunyikan di balik pernyataan resmi itu adalah: untuk menjamin bahwa negara “jahanam” tidak mendapatkan pemasukan devisa dari para pendatang yang mungkin bisa membuatnya bertahan. Dari sisi keamanan nasional: pelarangan itu dilakukan untuk memastikan agar warganya tetap tidak menyadari bahwa yang mereka dengar dan baca dari pemerintah mereka mungkin adalah propaganda, dan menghindarkan warga negara dari kemungkinan bersimpati secara mendadak kepada si jahanam. Pelayanan secara baik oleh “si penjahat” mungkin akan membuat orang-orang yang baik, warga negara yang harus dilindungi, menjadi “penjahat” pula di kemudian hari.

Pada tahap berikutnya, “negara jahanam” itu dikucilkan dari lembaga-lembaga internasional dan dari upaya-upaya bantuan (keuangan dan sebagainya). Setelah pengucilan ini, maka dilakukanlah pukulan besar: perang ekonomi. Cile roboh sekali pukul ketika pemerintahan Salvador Allende menang pemilu dan Amerika Serikat tidak menyukai pemimpin kiri itu menjadi presiden.

Sama juga dengan perang militer, di mana Amerika selalu memaksa “sekutu”-nya untuk ikut menyerang, dalam perang ekonomi pun ia memastikan bahwa negara-negara lain mengikuti ajakannya untuk mengucilkan sebuah negara. Amerika harus selalu memastikan bahwa jika ia tidak menyukai sebuah negara, maka yang lain pun harus bersikap sama dengannya. Jika ia menyerang sebuah negara, maka yang lain harus ikut menyerang; jika ia mengucilkan sebuah negara, maka yang lain juga harus mengucilkan negara tersebut. Ia tidak merasa gembira dengan negara-negara yang bersikap netral, apa lagi yang menentangnya.

Jika embargo tidak memadai untuk menghancurkan sebuah negara (ada beberapa negara yang bisa bertahan dari embargo, di antaranya Kuba dan Iran), maka negara yang memberikan embargo mungkin akan segera mengirimkan pasukan bersenjata ke dalam atau mendekati wilayah “negara jahanam” yang tidak mati-mati itu dan memerintahkan kepada mereka untuk membuat kehancuran di sana. Biasanya ada agen-agen rahasia yang disusupkan ke negara tersebut. Amerika, negara yang paling sering menggempur negara lain dengan kekuatan militer dan dengan perang ekonomi, memiliki CIA yang selalu ada di mana-mana dan membuat kehancuran di banyak negara. Badan Intelijen Pusat AS ini telah membuat kerusakan di segala benua: Asia, Amerika, Afrika, dan Eropa.

Setelah kehancuran itu, nantinya akan ada orang-orang yang melakukan pembalasan terhadap kesengsaraan yang telah ditimpakan ke negara dan kehidupan mereka, dan ini perkara yang mudah untuk diatasi: disebutlah mereka itu teroris. Dan mereka perlu diperangi; negara asal mereka juga perlu dihancurkan—dengan perang militer, perang ekonomi, dan segala manuver yang bisa dilakukan.

Source: The Gobal Review

About admin

Check Also

Jokowi Menggiring Indonesia Masuk Skema Kapitalisme Global WB-IMF

Presiden Republik Indonesia yang ke-7, Jokowi kembali unjuk gigi dalam kemahirannya beretorika. Retorikanya berbunyi seperti ...