Tuesday , September 25 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Perang Dagang Trump, Sebuah Analisis Intelijen
Presiden AS, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jin Ping

Perang Dagang Trump, Sebuah Analisis Intelijen

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan perang dagang kepada China mulai 6 Juli 2018, mengenakan tarif masuk 25 % untuk barang-barang yang diekspor ke AS, terutama baja dan aluminium.  Trump mulai memberlakukan tarif impor produk dari China hingga senilai US$ 34 miliar. Bloomberg melaporkan, dalam dua minggu ke depan atau lebih, AS akan mengumumkan lagi tarif impor senilai US$ 16 miliar pada produk-produk China.

China menyatakan akan membalas, mengenakan tarif yang sama terhadap hasil pertanian dan kebun dr AS. Trump yang marah mengancam akan menambah menaikkan tarif impor lebih besar lagi 10 persen  hingga US$ 200 miliar jika China melakukan langkah balasan.

China yang nekat tidak takut, justru memperluas sasaran, mengancam akan menaikkan tarif ekspor pesawat Boeing AS ke China. Ini mengakibatkan keresahan di perusahaan raksasa itu  karena pasar China bisa saja diambil alih oleh Air Bus Eropa. Kini beberapa  pemimpin Eropa dan Asia mulai  bersekutu dengan China melawan AS. Sedangkan  di dalam negerinya sendiri Trump juga dilawan oleh beberapa pengusaha besar pendukung Partai Republik.

Yang paling ekstrem melawan Trump di dalam negeri AS adalah General Motor. Dan Harley Davidson yang harus beli baja lebih mahal. Mereka memutuskan memindahkan pabriknya ke LN. Trump marah pada para pengusaha itu yang dinilai tidak mau prihatin di awal perang yang menurutnya kesengsaraan itu tidak akan lama, AS akan menang perang, tegasnya.

Perang Dagang AS Melibatkan Banyak Negara

Uni Eropa telah mengenakan bea impor sebesar 25 persen terhadap berbagai produk Amerika Serikat (AS) mulai  Jumat (22/6/2018). Komisi Eropa menyatakan putusan tersebut merupakan tanggapan atas tarif yang dikenakan AS pada baja dan aluminium Uni Eropa sejak awal bulan Juni 2018. Komisi Eropa secara resmi mengadopsi undang-undang yang memberlakukan bea senilai € 2,8 miliar atau sekitar US$ 3,2 miliar pada barang-barang AS. Di antaranya, hasil pertanian seperti jagung manis dan kacang tanah, bourbon, jins, serta sepeda motor. Tetapi Uni Eropa masih bersedia menarik kembali kebijakan bea impornya jika AS melakukan hal yang sama. Sebagai informasi, ekspor baja dan aluminium Uni Eropa saat ini dibebani tarif sebesar € 6,4 miliar.

Menurut Juru Bicara PSI Bidang Ekonomi, Industri, dan Bisnis, Rizal Calvary Marimbo, 124 produk asal Indonesia  juga sedang di-review oleh Trump, di antaranya kayu plywood, cotton, dan lain sebagainya. Bila GSP ini dihilangkan maka bea masuk ekspor produk Indonesia ke AS lebih mahal. Indonesia beruntung karena di era Presiden Jokowi sudah menjaga jarak aman dengan AS dalam perekonomian. Sehingga ketergantungan Indonesia ke AS dapat dikurangi dan posisi tawar Indonesia lebih menguat. Ketergantungan Indonesia kepada investasi AS terus menurun  secara signifikan. Pada tahun 2013, investasi Amerika Serikat sempat mencapai USD 2,4 miliar,  nilai tersebut terus menurun, tahun  2016 hanya sebesar USD 1,2 miliar. Bahkan pada tahun 2015 hanya USD 893 juta.

Beberapa negara yang dinilai sebagai  penyumbang defisit AS adalah, China USD 347 miliar, Jepang USD 68,9 miliar, Meksiko USD 63,2 miliar, Irlandia USD 35,9 miliar, dan Vietnam USD 32 miliar.Beberapa negara lain yang dinilainya juga menyumbang defisit neraca perdagangan AS adalah India, Italia, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Perancis, Taiwan, Kanada, dan termasuk Indonesia.

Tarif tersebut berlaku pasca Trump memukul Uni Eropa, Kanada, dan Meksiko dengan tarif 25% untuk baja dan 10% untuk aluminium pada awal Juni. Padahal, sejak Maret, ketiga negara tersebut memperoleh pengecualian.

Presiden AS Donald Trump dengan PM Canada Justin Trudeau (foto :NPR)

 

Sebelumnya, Kanada telah terlebih dahulu mengumumkan pemberlakuan tarif impor balasan senilai US$ 12,5 miliar terhadap AS mulai 1 Juli. Begitu pun dengan Meksiko yang telah mengenakan tarif untuk produk AS mulai dari baja hingga daging babi dan bourbon sejak dua pekan lalu.

Unsur-Unsur Utama Keterangan (Intelijen)

Unsur-unsur Utama Keterangan (UUK) atau Esential Elements of Information (EEI) biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan yang sangat luas cakupannya. Disamping kemampuan kita sendiri, juga mengenai kekuatan dan kemampuan pihak lawan. Dalam hal ini perlu di dalami kenapa Trump mengeluarkan kebijakan yang membuat resah dan marah demikian banyak negara lainnya.

Pada dasarnya, dalam formula UUK itu tercakup semua jawaban yang akan diusahakan oleh eselon-eselon intelijen sesuai kehendak user. Dalam hal ini, misi intelijen akan memberikan prioritasnya. Pada umumnya UUK itu pendek saja, cukup tiga buah kalimat misalnya “tentukan jika lawan akan menyerang posisi-posisi kita. Rekomendasi terhadap UUK itu. EEI/UUK sependek itu saja sudah mampu menggerakkan intelijen yang sangat hebat dari segi kegiatan dan koordinasinya. Kita cukup menilai khususnya perang dagang ke Indonesia, serta apa rekomendasi penyelamatan atau penghadangan. Nah, pagi ini Presiden Jokowi memimpin rapat Kabinet membahas perang dagang tersebut. BIN sebaiknya menjawab UUK.

Sebenarrnya UUK (Mengapa Trump mencanangkan perang  Dagang?) bisa dijawab sederhana. Jauh hari sebelum jadi presiden, dia mengatakan AS selalu kalah dalam masalah perdagangan. Bahkan beberapa perusahaan di AS telah diambil alih oleh China. Kini dengan  kekuasaannya, dia menginginkan  perubahan. Apakah hanya itu jawabannya? Nampaknya memang benar, tetapi di baliknya terdapat sebuah setting besar negara lawannya,  justru tujuannya untuk menghancurkan AS melalui kekuasaan di AS itu sendiri.

Sementara ini penulis menilai kebijakan Trump (AS)  sangat merugikan AS, karena memukul para mitra dan sekutu-sekutunya seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Canada misalnya, yang  ikut jd korban. AS akan dijadikan musuh bersama banyak negara. Tapi dia tidak peduli, yg terbaca, dia hanya memikirkan  dan fokus kepada kepentingan AS, tidak peduli kepada negara lainnya, apapun resikonya. Keputusan yang blunder atau menunntungkan AS? Kita bahas dalam analisis.

Keterlibatan Rusia dalam Pilpres di AS

Michael Flynn, purnawirawan Angkatan Darat Amerika Serikat (AS), yang sempat di dapuk jadi calon kuat wakil presiden Donald Trump, Jumat (1/12/2017), saat menjalani pemeriksaan oleh FBI, mengakui bersalah telah membohongi lembaga itu atas percakapan dirinya dengan Duta Besar Rusia untuk AS, Sergey I. Kislyak, Desember 2016.

Jenderal Michael Flynn, mantan penasihat keamanan nasional (Foto : CNBC)

 

“Pengakuanku dan perjanjian untuk berkerjasama dengan Penasihat Khusus FBI (Robert Mueller III) mencerminkan keputusan yang aku buat untuk kepentingan keluarga dan negaraku. Aku mengaku bersalah, dan atas keyakinanku kepada Tuhan, aku akan berusaha meluruskan ini semua,” sebut Flynn dalam petikan pernyataan yang dikutip dalam CNN, Jumat (1/12/2017).

CNN menyebut, Flynn menjadi pejabat senior Gedung Putih pertama yang membuka mulut ke FBI atas dugaan konspirasi Rusia atas kemenangan Trump pada pemilihan presiden AS, November 2016. Meski bagi Flynn, pengakuan ini sebenarnya bukan yang pertama kalinya. Flynn mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Penasihat Keamanan Nasional pemerintahan Trump pada 13 Januari 2017, atau sekitar 24 hari setelah Trump dilantik.

Analisis

Trump terlihat   terlalu jumawa untuk membenahi persoalan perdagangan AS dengan negara-negara lain, sebenarnya khusus kepada China, yang berakibat kini AS harus  melawan demikian banyak negara-negara di dunia. Trump tidak konsisten dalam keputusannya, tiga negara dan kelompok  yang awalnya dapat perlakuan khusus (Canada, Mexico dan Uni Eropa) akhirnya dikenakan juga aturannya, merekapun semakin marah. AS boleh menjadi yang terkuat dalam sisi militer serta memiliki instrumen-instrumen power lainnya. Tetapi perlu diingat pada sejarah perang Vietnam, melawan tikus-tikus  tanah Vietkong saja super power ini kalah, meninggalkan ratusan ribu korban jiwa. Selain itu korban pasukan dalam operasi militer dalam perang   Korea, Afghanistan dan Irak, puluhan ribu pasukannya telah tewas dikorbankan.

Presiden Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, banyak yang tidak tahu back ground Putin adalah orang intelijen, KGB (Foto : The Atlantic)

 

Nah, kini menurut penulis,  AS memang telah terkena operasi pengondisian (conditioning operation) saat pilpres. Terjadi infiltrasi intelijen dalam pilpres tersebut. Beberapa informasi  menyebutkan adanya keterlibatan Intelijen Rusia sehingga Donald Trump menang dari Hillary Clinton. Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah wawancara telah menolak keterlibatan Rusia, dan menyatakan tidak terbukti. Bagaimana dengan FBI?

Rusia serta China,  telah dicanangkan pemerintahan AS sebagai musuh utamanya. Apabila head to head secara militer jelas keduanya akan kalah melawan AS, oleh karena  itu dalam teori intelijen, upaya terbaik untuk mengalahkan AS, lakukan operasi penggalangan. Intinya, jadikan tokoh yang nekat, ambisius dan tdk peduli etika internasional, hanya melihat hitam-putih menjadi presiden. Maka AS akan terjebak oleh pemimpinnya menjadi negara yang arogan, tidak punya rasa takut dan diperkirakan akan menjadi musuh bersama komunitas dunia. Sadarkah warga AS?

Kini hal itu terjadi, AS menuju ke titik rawan dan serius, menjadi musuh bersama negara-negara yg terkena dampak perang dagang dari presidennya. Apakah Trump tidak sadar yg disentuhnya adalah harkat hidup masyarakat internasional. Mereka akan bertahan dan berjuang bersama baik hidup maupun mati. Demi ketertiban dunia, perdagangan diatur oleh WTO, tetapi kini organisasi itu tampak diacuhkan.

AS bisa saja menang ataupun kalah melawan masyarakat internasional. Kalau terus begini, ujungnya akan muncul  terjadinya perang fisik besar, bahkan perang dunia. Atau kemungkinan lain, bisa saja terjadi org AS yang realistis atau oposannya akan menghabisinya seperti masa lalu. Intelijen AS pernah memberikan informasi semu tentang SPM Irak kepada Presiden George Bush, seperti yang diakuinya. Kitapun hingga kini tidak faham  kenapa Presiden John Kenedy tewas ditembak mati oleh konspirasi yang tidak jelas.

Itulah Amerika, hebat di satu sisi, tetapi dalam kondisi tertentu mudah pecah dan berbeda pendapat, akibat dari sistem demokrasinya sendiri. Sebuah resiko dari sistem yang dibuat manusia. Diantara presiden-presiden  AS, memang terlihat perbedaan cara berpikir dan pengambilan keputusan antara  pemimpin dengan latar belakang bisnis/pedagang dibandingkan dengan pemimpin yang berasal dari  politisi/birokrat.

Tanggal 4 Agustus 2018 mulai pendaftaran pasangan Capres-cawapres Indonesia untuk pilpres 2019, baru dua tokoh ini yang sudah muncul, ataukah ada capres ketiga? (Foto : Pepnews)
 

Bagi Indonesia, kita tidak perlu khawatir dengan kondisi perang dagang ini, karena Indonesia bukan dianggap  lawan oleh AS dan juga neraca perdagangan kedua negara  tidak terlalu signifikan. Tetapi, para pejabat kita, jangan terlalu jumawa, angkat dada, ngomong begini-begitu, beda satu sama lainnya. Berat kalau melawan AS, lebih-lebih kalau dalam cerita wayang, presidennya itu sedang tiwikromo, merasa berubah  jadi raksasa yang sangat besar. Anggap kasus ini bagian dari  studi  untuk Indonesia yang perlu  kita cermati bersama menuju pilpres 2019.

Kalau keliru memilih pemimpin yang suka tiwikromo begitu, implikasinya berat, ada resiko-resiko yang perlu difahami, dunia makin kecil dengan teknologi dan medsos, pemimpin sebaiknya makin arif tetapi cerdas. Semoga bermanfaat. PRAY.

Penulis: Marsda Pur Prayitno Ramelan, Analis Intelijen, www.ramalanintelijen.net

 

 

About admin

Check Also

Membaca Hidden Agenda Cina di Xinjiang dari Perspektif Geopolitik

Beberapa sumber menyebut, bahwa saat ini tengah terjadi ethnic cleansing terhadap suku Uigur di Xinjiang ...