Sunday , November 19 2017
Home / Ensiklopedia / Analisis / Penyakit Jiwa Sistemik Kapitalisme Adalah Teroris Sebenarnya

Penyakit Jiwa Sistemik Kapitalisme Adalah Teroris Sebenarnya

Menjadi hal yang lazim di amerika seorang dokter jiwa lebih sejahtera dari dokter-dokter biasa. Hal ini dikarenakan meningkatnya jumlah masyarakat amerika dikarenakan stress, gangguan jiwa yang diakibatkan maslah pekerjaan, rumah tangga, kebutuhan hidup.

Di tahun 2015 saja 62 % tentara amerika serikat divonis gangguan jiwa lantaran trauma terhadap perang-perang yang dialami selama ini dan tidak adanya dukungan moril dari  pemerintah AS. dan sebanyak 23 persen tentara Amerika Serikat yang diberhentikan. Itu tidak diberhentikan dengan hormat sehingga mereka berpotensi tidak memenuhi syarat mendapatkan manfaat kesehatan dari Departemen Urusan Veteran.

Tidak cukup dengan itu  satu dari lima amerika mengidap penyakit kejiwaan, yang indikasinya berjalan sendirian dalam keadaan bingung dan tidak bisa diajak berkomunikasi seperti yang dikatakan Peter Delany, PhD, Direktur Penyalahgunaan Obat dan Pusat Pelayanan Administrasi Kesehatan Jiwa untuk lembaga Behavioral Health Statistics and Quality

“Saya rasa banyak orang berpikir bahwa penyakit kejiwaan atau mental sama yang dialami oleh tuna wisma yang berjalan sendirian dalam keadaan bingung dan tidak bisa diajak berkomunikasi.

Tapi penyakit mental ini lebih kompleks dan bisa saja terjadi dengan teman, tetangga, bahkan Anda sendiri”

Penembakan di Amerika Serikat

Terdapat survey yang mengatakan di amerika bahwa mayoritas orang percaya bahwa penyakit jiwa berkorelasi langsung dengan kekerasan. Penelitian didukung bahwa hanya tiga sampai lima persen dari semua tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seseorang dengan penyakit jiwa.

Apalagi dalam kasus terakhir yaitu penembakan yang terjadi las vegas menewaskan 58 orang oleh seorang yang bernama Stephen Paddock. Pria ini dikenal sebagai orang yang kaya raya dan tak mempunyai teman. sering berjalan sendirian, adapula yang mengatakan pria ini berbahaya dan penganggu.

Kasus ini menambah rentetan catatan baru penembakan di AS yang telah mencapai 16.114 selama tahun 2017. Dari situ telah merenggut 4.050 nyawa tak berdosa. 165 anak yang berusia 0-11 tewas dan terluka. 820 remaja tewas dan terluka. Dan terjadi penembakan massal sebanyak 90 kali.

Kasus-kasus penembakan yang terjadi tidak cukup dengan adanya gangguan jiwa, tetapi adanya kebebasan kepimilikan senjata di AS yang bebas dimiliki oleh setiap warga. Kebebasan ini dibungkus propaganda Hak Asasi Manusi(HAM) “milisi diatur dengan baik, diperlukan untuk keamanan negara yang bebas, hak orang untuk menjaga dan memegang senjata, tidak akan dilanggar”

Donald Trump, Presiden AS
Donald Trump, Presiden AS

Amerika boleh bangga sebagai mercusuar peradaban dengan memegang tampuk polisi dunia. Menghentikan aksi terror di seluruh dunia. Anehnya di negara sendiri aksi-aksi terror senantiasa meningkat tiap tahunnya.

Pantas, sebab Amerika No. 1 dalam hal senjata api per kapita, dengan 88,8 % senjata per 100 orang dan memiliki tingkat pembunuhan tertinggi dengan senjata api di dunia. Masalah yang tidak semakin terselesaikan tersebut, padahal telah menjadi penyebab kematian ke-3 untuk anak-anak di Amerika dengan rata-rata  1.297 yang meninggal setiap tahunnya dalam kurun 10 tahun terakhir.

Rusaknya Kapitalisme

Rupanya, kondisi di atas tidak terlalu diherankan oleh pemerintahan AS, sebab hal ini berkaitan dengan penjualan senjata dalam negeri yang dimanfaatkan produsen-produsen dalam negri. Sekalipun terdapat wacana bahwa Trump ingin membatasi produksi persenjataan, namun diprotes keras oleh produsen persenjataan melalui Asosiasi senapan Naional(NRA) dan akhirnya disetujui oleh senat dengan menganggarkan 700 Milyar dollar AS untuk persenjataan militer untuk tahun 2018.

Apalagi terdapat konstitusi membebaskan warga untuk memiliki senjata guna membuat warga lebih aman. Perlu diketahui NRA adalah pelobi kuat kepada senat dalam rangka menolak pengetatan senjata yang dimiliki warga. Hal ini dilakukan secara serius dengan menghabiskan 3 juta dollar AS hanya untuk melobi.

Kita masih ingat apa yang dikatakan Jaffrey Garten, staf Mentri Perdagangan Amerika Serikat untuk urusan perdagangan internasioal pada masa pemerintahan Bill Clinton

“Perusahaan-perusahaan besar telah menimbulkan ketidakseimbangan dalam proses pembuatan undang-undang nasional. Undang-undang kita yang penuh skandal demi sumbangan kampanye telah menyisakan prasangka bahwa perusahaan-perusahaan besar itu akan memiliki pengaruh yang sangat besar atas para politisi”

Dengan semakin akut dan kompleksnya permaslahan di atas hingga meerenggut 4050 orang di tahun 2017 yang hampir setara 2 kali lipat dari korban WTC, dan tidak ada cap teroris terhadap pelaku dikarenakan bukan indikasi ideologis, melainkan penyakit kejiwaan. Lantas siapa yang disalahkan atas banyaknya korban tersebut?

Kapitalismo

Inilah yang disebut permaslah sistemik yang berasal dari rusaknya system kapitalisme. System ini memisahkan agama dari kehidupan serta menjauhkan prinsip-prinsip moral dalm berkehidupan. Agama hanya dianggap suatu identitas yang bisa membawa konflik SARA, sehingga bukan hanya memisahkan bahkan bisa jadi meninggalkan aspek agama.

Selain itu dengan kekuatan kapitalis yang bekerja sama dengan negara industri telah menguasai 97% kekayaan dunia. Tidak ada ruang bagi masyarakat kelas menengah untuk hidup layak. Mereka terlunta-lunta untuk mengais rezki dan hidup dalam keterombang-ambingan kejiwaan yang seperti dialami oleh warga Amerika saat ini.

Olehnya tidak ada pilhan lain selain meninggalkan system yang rusak ini. Dan beralih ke system Islam yang memberikan rahmat dan keselamatan untuk semua makhluk. Semua ini akan dapat diaplikasikan dalam sebuah intitusi politik pemerintahan yang bernama Khilafah. Wallahu a’lam [MO]

Oleh: Abd Khaliq S. Taupik, Aktivis Muda Gema Pembebasan

About admin

Check Also

Kebijakan Satu Cina AS Bayangi Pertemuan Trump-Jinping di Beijing

Minggu lalu sempat terbetik kabar bahwa Kementerian luar Negeri Cina sangat gusar dengan rencana Presiden ...