Sunday , December 8 2019
Home / Agama / Kajian / Pendapat Para Imam tentang Qadar (Takdir)

Pendapat Para Imam tentang Qadar (Takdir)

Pendapat Imam Syafii tentang Qadar (Takdir)

1.) Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, Imam Syafi’i pernah ditanya tentang takdir, jawaban beliau:

Apa yang Engkau kehendaki terjadi
Meskipun aku tidak menghendaki
Apa yang aku kehendaki tidak terjadi
Apabila Engkau tidak menghendaki

Engkau ciptakan hamba-hamba
Sesuai apa yang Engkau ketahui
Maka dalam ilmu-Mu
Pemuda dan kakek berjalan

Yang ini Engkau karuniai
Sementara yang itu Engkau rendahkan
Yang ini Engkau beri pertolongan
Yang itu tidak Engkau tolong

Manusia ada yang celaka
Manusia juga ada yang beruntung
Manusia ada yang buruk rupa
dan ada juga yang bagus rupawan

2.) Imam al-Baihaqi menuturkan dalam kitab “Manaqib asy-Sayfi’I”, bahwa Imam Syafi’i mengatakan: “Kehendak manusia itu terserah kepada Allah. Manusia tidak berkehendak apa-apa kecuali dikehendaki oleh Allah Ta’ala. Manusia itu dapat mewujudkan perbuatan-perbuatan mereka. Perbuatan-perbuatan itu adalah salah satu makhluk Allah. Takdir baik maupun buruk, semuanya dari Allah. Azab kubur itu hak (benar), pertanyaan kubur juga hak, bangkit dari kubur juga hak, hisab (perhitungan amal) itu juga hak, surga dan neraka juga hak, begitu dalam sunnah Nabi saw.”

3.) Imam al-Lalaka’i meriwayatkan dari al-Muzani, katanya, Imam Syafi’i berkata: “Tahukah kamu siapa penganut paham Qadariyah itu? Yaitu orang yang mengatakan bahwa Allah  tidak pernah menciptakan sesuatu sampai hal itu dikerjakan orang.”

4.) Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari asy Syafi’i, beliau berkata: “Kelompok Qadariyah yang oleh Rasulullah saw. disebut sebagai kelompok Majusi dari Umat Islam adalah orang-orang yang berpendapat bahwa Allah itu tidak mengetahui maksiat sampai ada orang yang mengerjakannya.”

5.) Imam al-Baihaqi juga meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman dari Imam Syafi’i, bahwa beliau tidak mau shalat menjadi makmum di belakang penganut paham Qadariyah.

Wallahu A’lam

Pendapat Imam Malik tentang Qadar (Takdir)

1.) Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Ibnu Wahb, katanya: “Saya mendengar Imam Malik berkata kepada seseorang, ‘Kemarin kamu bertanya kepada saya tentang qadar, bukankah begitu?’. ‘Ya’, jawab orang itu. Imam Malik berkata, “Sesungguhnya Allah berfirman:

“Sekiranya kamu menghendaki, kami akan memberikan petunjuk kepada semua orang. Tetapi telah tetaplah keputusan-Ku, bahwa Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia semuanya.” (QS. As-Sajdah: 13)

Maka tidak boleh tidak, ketetapan Allah-lah yang berlaku.”

2.) Qadhi ‘Iyadh berkata: “Imam Malik pernah ditanya tentang kelompok Qadariyah, siapakah mereka itu? Beliau menjawab: ‘Mereka itu adalah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah itu tidak menciptakan maksiat.’ Beliau ditanya pula tentang Qadariyah. Jawab beliau: ’Mereka adalah orang-orang yang berpendapat bahwa manusia itu mempunyai kemampuan. Apabila mereka mau, mereka dapat menjadi orang-orang taat atau menjadi orang-orang yang durhaka,.”

3.) Ibnu Abi ‘Ashim meriwayatkan dari Sa’ad bin Abdu al-Jabbar, katanya: “Saya mendengar Imam Malik bin Anas berkata: ‘Pendapat saya tentang kelompok Qadariyah adalah, mereka itu disuruh bertaubat. Apabila tidak mau, mereka harus dihukum mati’.”

4.) Imam Ibnu ‘Abdil Bar berkata: “Imam Malik pernah berkata: ‘Saya tidak pernah melihat seorang pun dari orang-orang yang berbicara masalah qadar dan ia tidak bertaubat’.”

5.) Imam Ibnu Abi ‘Ashim meriwayatkan dari Marwan bin Muhammad at-Tatari, katanya: “Saya mendengar Imam Malik bin Anas ditanya tentang hal menikah dengan seseorang penganut paham Qadariyah. Kata beliau seraya membaca ayat Al-Qur’an:

“Seorang hamba sahaya yang beriman lebih baik daripada seorang musyrik.” (QS. Al-Baqarah: 221)

6.) Qadhi ‘Iyadh menuturkan bahwa Imam Malik menyatakan: “Kesaksian penganut paham Qadariyah yang menyebarkan pahamnya yang bid’ah itu tidak dapat dibenarkan. Begitu pula penganut golongan Khawarij dan penganut paham Rafidhah (Syi’ah).”

7.) Qadhi ‘Iyadh juga menuturkan, bahwa Imam Malik pernah ditanya tentang penganut Qadariyah, apakah kita tolak pendapat-pendapatnya?. Jawab beliau: “Ya, bila ia mengetahui hal itu.” Dalam suatu riwayat Imam Malik berkata: “Tidak boleh shalat menjadi makmum di belakang penganut paham Qadariyah, dan hadits yang ia riwayatkan harus ditolak. Apabila kamu menemukan mereka di suatu tempat persembunyiannya, keluarkanlah mereka.”

Wallahu A’lam

Pendapat Imam Ahmad tentang Qadar (takdir)

1.) Imam Ibn al-Jauzi menuturkan dalam kitab “al-Manaqib” tentang kitab Imam Ahmad bin Hanbal karya Musaddad. Dalam kitab itu terdapat keterangan bahwa Imam Ahmad berkata: “Kita mengimani takdir yang baik, yang buruk, yang manis, yang pahit, semuanya dari Allah.”

2.) Imam al-Khallal meriwayatkan dari Abu Bakr al-Marwazi, katanya, Imam Ahmad pernah ditanya: “Apakah kebaikan dan keburukan itu ditakdirkan kepada hamba Allah, dan apakah Allah menciptakan kebaikan dan keburukan?” Beliau menjawab: “Ya, Allah telah menetapkannya.”

3.) Dalam kitab “as-Sunnah” karya Imam Ahmad beliau mengatakan: “Takdir itu, yang baik dan yang buruk, yang sedikit dan yang banyak, yang lahir dan yang batin, yang manis dan yang pahit, yang disuka dan yang dibenci, yang elok dan yang jelek, yang awal dan yang akhir, semuanya sudah ditetapkan oleh Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Dan tidak ada seorang pun dari hamba Allah yang dapat keluar dari kehendak dan ketetapan Allah. ”

4.) Imam al-Khallal juga meriwayatkan dari Muhammad bin Abu Harun, dari al-Harits, katanya, saya mendengar Imam Ahmad berkata: “Allah Ta’ala telah mentakdirkan ketaatan dan maksiat, kebaikan dan keburukan. Orang yang telah ditetapkan sebagai orang yang berbahagia, maka ia berbahagia, dan orang yang telah ditetapkan sebagai orang yang celaka, ia akan celaka.”

5.) Abdullah putera Imam Ahmad berkata, “Saya mendengar ayah saya, ketika beliau ditanya Ali bin Jahm tentang “Orang yang berbicara tentang qadar, apakah ia menjadi kafir?” Beliau menjawab: “Ya apabila ia mengingkari ilmu Allah. Apabila ia berpendapat bahwa Allah itu tidak mengetahui, sampai Allah menciptakan ilmu, dan barulah Allah mengetahui, maka ia mengingkari ilmu Allah, dan dengan demikian ia menjadi kafir.”

6.) Abdullah, putera Imam Ahmad juga menuturkan, saya pernah bertanya pada ayah saya sekali lagi tentang shalat menjadi makmum di belakang paham Qadariyah. Beliau menjawab: “Apabila penganut Qadariyah itu selalu berdebat dan menyebarkan paham tersebut, maka kamu jangan shalat di belakangnya.”

Wallahu A’lam

Sumber : Kajian Islami

About admin

Check Also

Isra Mi’raj; Sebuah Perjalanan Menggapai Kemurnian

Pendahuluan Isra Mi’raj bukanlah sebuah imajinasi seorang manusia yang hanya menampilkan kebohongan sejarah keagamaan. Tetapi ...