Monday , December 10 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Pembelian Sistem Pertahanan Aegis Ashore; Indikator Agresifitas Militer Jepang

Pembelian Sistem Pertahanan Aegis Ashore; Indikator Agresifitas Militer Jepang

Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Korea Utara mulai mereda menyusul pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Donald Trump dan Kim Jong-un di Singapura Juni lalu. Namun Jepang sebagai kekuatan adikuasa di bidang ekonomi di Asia Pasifik saat ini, nampaknya bakal jadi kekuatan militer yang cukup mengkhawatirkan di masa depan.

Belakangan ini berkembang  informasi bahwa Jepang berencana membeli sistem pertahanan anti rudal Aegis Ashore seharga 2 miliar dolar AS dari Amerika Serikat.

Informasi yang dilansir oleh kantor berita Reuters berdasarkan sumber-sumber dari Kementerian Pertahanan Jepang, nampaknya cukup valid dan patut jadi bahan bahasan khusus bagi Kementerian Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri RI. Mengingat Jepang saat ini merupakan salah satu dari empat negara yang tergabung dalam Persekutuan Empat Negara atau QUAD bersama AS, Australia, dan India. Apalagi dalam skema persekutuan QUAD ini, Presiden Trump dan Perdana Menteri Shinzo Abe telah sepakat untuk mendukung Skema Kerjasama regional Indo Pasifik bersama India.

Skema Indo Pasifik yang digagas India dan Jepang dan kemudian didukung oleh Presiden Trump, diyakini beberapa kalangan merupakan ide gagasan Inggris dan AS dari balik layar.

Dalam situasi demikian, niat Jepang untuk membeli sistem pertahanan anti rudal Aegis Ashore seharga 4 miliar dolar AS, semakin memperkuat indikasi bahwa Washington sedang mendorong Jepang untuk semakin meningkatkan postur pertahanannya secara lebih agresif.

Apalagi dalam rencana pembelian Aegis Ashore ini, dalih yang digunakan Jepang adalah untuk mengantisipasi ancaman militer dari Korea Utara maupun Cina. Dengan kata lain, Jepang menggunakan ancaman dari Korea Utara dan Cina sebagai pembenaran untuk meningkatkan eskalasi militernya di kawasan Asia Pasifik.  

Kapal selam Jepang gelar latihan militer di Laut China Selatan (Foto: kompas.com)

Nampaknya rencana Jepang membeli Aegis Ashore semakin mendekati kenyataan, dengan disebut-sebutnya Raytheon Co’s SPY-6 dan Lockheed Martin Corp’s Long Range Discrimination Radar (LRDR). Yang menurut beberapa kajian mampu mendeteksi pesawat-pesawat tempur musuh.

Indikasi semakin agresifnya angkatan bersenjata Jepang di balik rencana pembelia sistem pertahanan anti rudal Aegis Ashore semakin menguat dengan keterlibatan Kapal Selam Jepang Kuroshio di perairan Laut Cina Selatan 13 September 2018 lalu.

Hal ini saja kemungkinan akan memancing kemarahan Cina mengingat kapal selam Jepang ini baru pertama kali terlibat dalam latihan militer di Laut Cina Selatan. Bukan itu saja. Kapal selam dipandang lebih berbahaya daripada kapal yang berada di permukaan laut. Sehingga keterlibatan kapal selam Jepang dalam latihan militer di Laut Cina Selatan yang notabene merupakan perairan yang sedang jadi wilayah konflik, mengindikasikan semakin agresifnya militer Jepang di kawasan Asia Pasifik.

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Source: The Global Review

 

 

About admin

Check Also

Tak Sekadar Trend Pembalikan Nilai, Sinau Bareng Sengkuni; Memaknai Proses Menuju #Sengkuni2019 – Bagian 2

Dunia saat ini sedang mengalami kembali pembalikan nilai baku. Di setiap masa sejak dulu ketika ...