Saturday , July 21 2018
Home / Berita / Pelajaran dari Bobolnya Data Intelijen AS oleh Snowden

Pelajaran dari Bobolnya Data Intelijen AS oleh Snowden

Pelajaran dari Bobolnya Data Intelijen AS oleh SnowdenKasus Edward J. Snowden seorang pekerja kontrak dari National Security Agency (NSA) yang membocorkan rahasia intelijen Amerika menjadi berita besar dan hangat dikalangan intelijen dan media. Bak kisah spionase yang sering kita dengar, kasus tersebut menunjukkan bahwa seketat apapun sebuah kerahasiaan dijaga, rata-rata badan intelijen serta pejabat pemerintahan dimanapun berada yang menyimpan dokumen rahasia dalam sebuah sistem teknologi  internet tetap mempunyai kerentanan dan kerawanan. Terlebih apabila data tersimpan asal-asalan.

Pembocoran rahasia oleh Snowden yang ditayangkan The Guardian, terjadi kurang dari 24 jam setelah seorang prajurit Amerika, Bradley Manning pada akhir Juli 2013 dinyatakan bersalah karena menyerahkan 250.000 dokumen berita dari Deplu dan Dephan AS kepada WikiLeaks. Dokumen yang dibocorkan Snowden termasuk pedoman NSA untuk program XKeyscore,yaitu  program penjejakan yang canggih, memungkinkan analis lembaga tersebut untuk memonitor dan melacak pencarian komunikasi internet di seluruh dunia.

Para pembocor tersebut hanyalah pegawai kelas bawah. Manning, bertugas di sebuah pos terpencil di Irak, berhasil men-download kabel berita dari Kedutaan Besar Amerika di Beijing, kemudian mengirimkan ke WikiLeaks. Sementara Snowden, yang bekerja di sebuah pangkalan yang kecil di Hawaii, berhasil men-download tanpa terdeteksi sistem pengamanan intelijen,  dokumen-dokumen tentang operasi pengumpulan bahan intelijen dan keputusan pengadilan rahasia Amerika.

Snowden yang berhasil melarikan diri dari kejaran aparat keamanan AS, tiba di Bandara Sheremetyevo Moskow dari Hong Kong pada tanggal 23 Juni,  sejak itu, dia tinggal di area transit bandara dengan persetujuan dari Kremlin. Diperkirakan dia mendapat persetujuan para pejabat Rusia dalam menunggu proses suaka.  Di area transit tersebut,  Snowden mengadakan pertemuan dengan pengacaranya, Mr Kucherena, beberapa pejabat Rusia dan perwakilan dari organisasi hak asasi manusia.

Rusia pada awal Agustus akhirnya memberikan suaka sementara untuk Snowden, yang mana keputusan itu membuat khawatir serta geram pihak AS. Presiden Obama pada hari Rabu (7/8/2013) menyatakan membatalkan rencana pertemuannya dengan Presiden Rusia, Putin, yang semula direncanakan awal bulan September di Moskow. Gedung Putih menyebutnya  kurangnya “kemajuan signifikan” pada beragam isu-isu kritis.

Pengamat menyatakan beberapa isu kemarahan AS, yaitu ketidak sukaan AS terhadap dukungan Moskow kepada Presiden Suriah, Bashar Assad dalam perang sipil Suriah. Kedua negara juga berselisih atas tindakan domestik Rusia pada hak-hak sipil, perbedaan pendapat dengan rencana pertahanan rudal AS untuk Eropa, masalah  perdagangan, keamanan global, serta persoalan hak asasi manusia. Menurut pihak Rusia, pembatalan pertemuan pembatalan pertemuan pembatalan KTT bilateral AS-Rusia, seperti dikatakan penasihat Luar Negeri Presiden Putin, Yuri Ushakov itu jelas terkait dengan kasus Snowden, sebuah situasi yang tidak dirancang oleh pihak Rusia.

Sekretaris Pers Gedung Putih Jay Carney mengatakan Snowden adalah faktor yang membatalkan pertemuan puncak, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Dikatakannya, AS akan terus menekan Rusia untuk mengekstradisi Snowden ke Amerika Serikat untuk menghadapi tuduhan menyebarkan informasi rahasia yang tidak sah ke publik.  Pemerintahan Obama telah menekan Rusia untuk tidak memberikan suaka kepada Snowden, dan telah mendesak negara-negara lainnya untuk tidak menerimanya, terutama di Amerika Latin, di mana Venezuela, Bolivia dan Nikaragua telah mengatakan mereka bersedia untuk memberinya suaka.

Sementara Presiden Vladimir V. Putin, telah menyatakan posisinya dengan tegas bahwa mereka tidak punya niat untuk mengekstradisi Snowden ke Amerika Serikat. Putin yang mantan agen intelijen KGB mengatakan bahwa Snowden adalah hadiah Natal yang tidak diharapkan, datang dengan sendirinya ke Rusia. Pada saat kembali berkuasa, Putin dikenal kemudian mengadopsi sikap yang sangat nasionalistik dan lebih berani bersikap konfrontatif secara terbuka terhadap Amerika Serikat,  dibandingkan presiden sebelumnya Dmitry Medvedev.

Putin menyatakan bahwa Rusia tidak ingin hubungannya dengan AS menjadi terganggu, merugikan serta membahayakan bocornya ionformasi bagi negara AS. Putin juga  memberi syarat basa-basi kepada Snowden bahwa dia harus menghentikan kegiatan politiknya. Menurut Putin, saat ditanya, Snowden menyatakan, “Tidak, saya ingin melanjutkan pekerjaan saya. Saya ingin berjuang untuk hak asasi manusia. Saya percaya bahwa Amerika Serikat melanggar norma-norma tertentu hukum internasional, mengganggu kehidupan pribadi,” katanya.

Snowden kini adalah sumber intelijen berklasifikasi A-1, nilainya dimata intelijen sangat tinggi, rahasia yang dimilikinya sangat bernilai. Yang jelas pemerintah AS sangat gundah dan khawatir dengan terpegangnya Snowden ke pihak Rusia, dengan memiliki data intelijen yang tak terkira. Sikap marah dan frustrasi pemerintah AS terlihat dengan pernyataan pembatalan KTT Obama-Putin. Ini membuktikan bahwa AS sedang menjumpai masalah yang sangat serius. Bagi Rusia, entah Snowden hanyalah pembelot semata atau mungkin dia adalah orang yang dibina oleh  GRU (Badan Intelijen Rusia), yang pasti Rusia mendapat ikan yang sangat gemuk tanpa susah payah. Rusia akan mendapat informasi matang (intelijen) apa materi briefing bagi Presiden Obama, yang 70 persen bersumber dari NSA.

Dari kasus fatal intelijen Snowden,  pelajarannya lebih terletak pada bagaimana pemerintah AS tergelincir dalam upayanya untuk melindungi rahasia yang nampaknya sangat sensitif di era Internet. Dari pernyataan Snowden yang prinsip “Pemerintah AS telah melanggar norma-norma tertentu hukum internasional, mengganggu kehidupan pribadi,” bisa diperkirakan, akan ada pukulan lanjutan  terhadap pemerintah AS, yang bukan tidak mungkin dapat menggoyahkan pemerintahan Obama. Bagi Amerika, ada larangan badan intelijennya melakukan penyadapan terhadap warganya, oleh karena itu kemungkinan secara tertutup penyadapan dilakukan oleh badan intelijen luar sebagai mitranya, agar tidak melanggar hukum. Apabila diungkap semuanya oleh Snowden, nampaknya pemerintahan Obama diperkirakan akan bergetar.

Para agen rahasia selalu mencari dokumen yang berklasifikasi rahasia/sangat rahasia. Kelemahan sistem penyimpanan dokumen yang berklasifikasi rahasia kini banyak tersimpan di internet. Wakil Menteri Pertahanan AS, Ashton B. Carter menyatakan, bahwa kesalahannya, terdapat sejumlah besar informasi rahasia yang terkonsentrasi di sebuah tempat. Selain itu kelemahan dimilikinya akses seseorang untuk mengunduh data rahasia, memberi peluang terjadinya kebocoran. Seharusnya untuk mengakses sebuah data harus ditangani dua orang seperti mereka yang duduk di silo nuklir,masing-masing dengan kunci terpisah yang diperlukan untuk meluncurkan rudal.

Contoh kebocoran lain adalah operasi intelijen CIA dengan drones (pesawat tanpa awak) yang menyerang tokoh teroris  di Pakistan dan Yaman selalu bocor. Setiap operasi selesai berlangsung, selalu diberitakan oleh media lokal serta tersebar di twitter tentang korban sipil. Para pejabat pemerintah di Amerika mengatakan bahwa menanggapi kerentanan serta kerawanan bocornya data rahasia, Presiden Obama telah menetapkan kebijakan dan  berhasil mengurangi  jumlah “rahasia baru” yang diklasifikasikan oleh pemerintah pada tahun 2012 sebesar 42 persen, menjadi sekitar  72.000 buah dokumen.

Kesimpulannya, Amerika Serikat sebagai negara yang sangat majupun masih memiliki kerentanan serta kerawanan dalam menyimpan data rahasia pemerintah serta badan intelijennya. Kerawanan yang selalu penulis ingatkan, menurut pengertian ilmu intelijen adalah kelemahan yang apabila dieksploitir oleh lawan akan menyebabkan ketidak berdayaan bahkan dapat menyebabkan kelumpuhan permanen. Oleh karena itu penulis hanya dapat mengingatkan, para pejabat di Indonesia, khususnya badan intelijen serta pemegang data rahasia sensitif sebaiknya jangan menyepelekan sistem pengamanan dokumen.

Dalam intelijen terdapat pengamanan, personil, pengamanan material, pengamanan informasi dan pengamanan kegiatan. Nah dikaitkan dengan fungsi intelijen, apakah para pejabat pernah mendapat briefing intelijen soal pengamanan?. Disarankan, dilakukan pemeriksaan sekuriti terhadap hal-hal tersebut di tiap-tiap kementerian dan instansi terkait, agar kita tidak kebakaran jenggot nantinya setelah sekian tahun dokumen rahasianya bocor. Amerika saja yang demikian super maju kini kebakaran jenggot hanya oleh ulah pegawai kecilnya. Semoga bermanfaat.

Oleh : Prayitno Ramelan,

Sumber: .ramalanintelijen.net

About admin

Check Also

Jihad, G-WOT dan Humanisme

Dalam sebuah forum internasional “Transnational Islamic Movements; Network, Structure and Threat Assessment“, saya berkesempatan bertemu ...