Friday , June 22 2018
Home / Agama / Kajian / Pecinta (Muhibbin) – bagian (1)

Pecinta (Muhibbin) – bagian (1)

Rela (Al-ridha) merupakan salah satu maqam para penempuh Jalan Cinta. Maknanya adalah keadaan di mana si pecinta tidak merasa sakit meski luka menganga atau sabar menanggung kesulitan demi meraih apa yang dicari meski sakit terasa.

Tidak sabar menanggung sakit merupakan penghalang bagi dicapainya hakikat cinta. Sebab, hakikat cinta adalah seorang pecinta merasa senang dengan segala yang datang dari Kekasihnya, perpisahan sekalipun. Perpisahan yang di maksud bukanlah kenyataan di mana ia jauh dari Kekasih, tapi memaknainya sebagai sebuah kenyataan di mana ia ditantang untuk mendekati atau berjumpa dengan Kekasih.

Sariyy al-Saqathi ditanya,”Apakah seorang pecinta menemukan rasa sakit?” Ia menjawab,”Tidak.” Ditanyakan lagi,”Walaupun ditebas dengan pedang?” Ia menjawab,”Walaupun ditebas dengan pedang sebanyak tujuh puluh tebasan.” (Ihya ‘Ulumiddin hlm. 298, Kitab al-Mahabbah, penjelasan tentang hakikat Al-ridha)

Seorang pecinta yang memiliki keyakinan hati (bahwa Sang Kekasih selalu menyaksikannya) selalu terpusat perhatian dan pikirannya kepada Kekasihnya dan berpaling dari selain-Nya.

Kecondongan hati sepenuhnya ke arah Yang Dicintai dan berpaling dari selain-Nya membuat Yang Dicintai itu menjadi satu-satunya tujuan dan seluruh perhatian hanya untuk-Nya. Dalam keadaan ini cinta begitu menggelora, membuncah, meluap-luap, menguasai jiwa, dan mendorong lahirnya kerinduan yang amat kuat.

Hakikatnya, tidak ada yang dicintai melainkan Dia dan tidak ada yang dicari kecuali Dia, dan setiap kecintaan kepada selain-Nya adalah batil kecuali yang dimaksudkan untuk meraih cinta-Nya. 

Menurut para ahli bahasa, kecintaan yang mendalam dan menggelora kepada Sang Kekasih adalah rasa cinta yang mencapai syaghaf hati. Syaghaf hati adalah “pangkal” hati. Pangkal hati yang sesungguhnya adalah alam cahaya Ilahi yang merupakan sumber cinta dan makrifat.

Duhai kasihan para muhibbin yang kebingungan
Kau lihat mereka bebas padahal para tawanan
Kau kira mereka sehat dan terkendali diri
Padahal mabuk akibat arak Cinta mereka

Jika disebut nama-Nya rindu mereka meradang
Gelisah tak kenal arah
Cinta telah merasuki sepenuh hati mereka
Hati mereka pun tak tenang dan terus meronta

Mereka yang menempati posisi ini bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat kesempurnaan pengetahuan dan pengalaman ruhaninya.

Pada-Mu ada makna memanggil jiwa mencintai-Mu
Pada-Mu ada petunjuk membimbing jiwa mendatangi-Mu
Mata hatiku mengarahkanku pada-Mu
Dan hanya pada-Mu mata hatiku memandang

(Sumber Diwan al-Hallaj dalam Journal Asiatique, 1931, hlm. 79)

فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya (QS Al-Maidah [5]:54)

Dari ayat di atas dipahami bahwa kecintaan Allah kepada mereka mendahului kecintaan mereka kepada-Nya. Bahkan kecintaan-Nya kepada mereka merupakan syarat bagi kecintaan mereka kepada-Nya. Makna kecintaan Allah kepada hamba-Nya adalah bahwa Allah memudahkan si hamba untuk mencari cinta-Nya dan memberi taufik untuk mengenal-Nya. Kalau tidak ada kemudahan yang diberikan-Nya maka si hamba tidak akan mencintai-Nya dan kalau tidak ada taufik-Nya untuk mengenal-Nya maka si hamba tidak akan mengenal-Nya.

Dari mana seorang hamba (yang keberadaannya karena diadakan) dapat mengenal Dzat Yang wajib ada-Nya kalau bukan karena kemudahan dan taufik-Nya? Selain Dia, hakikatnya “tidak ada” belaka. Jika seluruh alam adalah perbuatan Allah dan Dia mencintainya, maka hakikatnya Dia tidak mencintai selain Dzat-Nya, karena keberadaan seluruh perbuatan (makhluk) adalah “dengan” dan “dari”-Nya.

Oleh karena itu, ketika Syaikh Abu Said al-Mayhani dibacakan QS [5]:54, dia berkata,”Dengan haq Dia mencintai mereka, karena sesungguhnya Dia tidak mencintai kecuali diri-Nya”, dalam makna bahwa Dia adalah Keseluruhan, Serba Menyeluruh, maka Dia adalah Yang Mencintai dan Dia juga Yang Dicintai, dan segala sesuatu pada hakikatnya tidak memiliki selain ketiadaan. Wujud Mutlak lagi hakiki hanya milik Yang Maha Benar.

Dengan demikian jelas sudah bahwa kecintaan Allah pada hamba-Nya adalah yang hakiki dan dengannya kecintaan hamba kepada-Nya terjadi. Kalau tidak ada kecintaan Allah (pada hamba-Nya) maka di dunia ini tidak akan ada yang namanya cinta sama sekali. Cinta Allah kepada makhluk-Nya merupakan simpul besar yang kepadanya segala ikatan cinta, baik yang terjadi di langit maupun di bumi, merujuk. Segala jalinan cinta makhluk adalah dari, oleh, dan untuk cinta-Nya.[]

(Sumber : Masyariq Anwar al-Qulub wa Mafatih Asrar al-Ghuyub, Abd al-Rahman Ibn Muhammad al-Anshari (Ibn al-Dabbagh); “Mari Jatuh Cinta Lagi, Kitab Para Perindu Allah”, 2011)

 

About admin

Check Also

Taubat

إِنَّ هَذِهِ تَذْكِرَةٌ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلا ، وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ ...