Tuesday , August 20 2019
Home / Relaksasi / Renungan / Partai Allah

Partai Allah

Saya sedikitpun tidak tertarik untuk membahas politik di ruangan ini, apalagi membahas partai politik. Publik di tanah air dihebohkan atas pernyataan Amin Rais tentang Partai Allah (Hizbullah) dan Partai Setan (Hizbusy Syayathin) sehingga banyak yang merasa tersinggung. Di awal tulisan ini saya menegaskan bahwa Hizbullah di dalam surat Al Maidah 56 tidak ada hubungan sama sekali dengan partai politik yang kita kenal sekarang walaupun itu sebuah partai Islam.

Surat Al-Maidah 56 memberikan petunjuk kepada kita untuk mengikuti seorang pemimpin secara dzahir bathin yang bisa membawa kita ke hadirat Allah SWT. Ketika rohani sampai ke hadirat Allah maka secara otomatis kita akan mencapai kemenangan secara absolute di dunia dan akhirat.

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

Barang siapa yang mengangkat Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi pemimpinnya (lahir bathin telah menerima Nurun ala Nurin dengan sempurna) maka (ia masuk partai mereka, dan) sesungguhnya Partai Allah-lah yang mendapat kemenangan”. (Q.S. Al-Maidah, 56).

Maka tugas kita untuk mencari pemimpin/Imam yang menjadi ikutan kita secara dzahir bathin kapan dan dimanapun agar rahmat Allah senantiasa menghampiri kita.

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan kami jadikan mereka ikutan (lahir bathin) untuk menunjuki manusia dari perintah Kami ketika sabar serta yakin dengan keterangan kami” (Q.S. As-Sajadah, 24).

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۖ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ ۗ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَىٰ لِلْعَالَمِينَ

Mereka itulah orang yang telah diberi Allah petunjuk, maka ikutilah mereka (lahir-bathin) dengan petunjuk itu” (Q.S Al-An-Am, 90).

اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Ikutilah (lahir bathin) orang yang tiada meminta upah kepadamu itu, karena mereka mendapat pemimpin yang benar” (Q.S. Yasin, 21).

Pada hakikatnya pemimpin segenap orang beriman adalah Rasulullah SAW yang ketika jasad Beliau wafat maka fungsi kepemimpinan itu tetap berlangsung dibawah bimbingan pewaris Beliau yaitu para ulama yang mendapat warisan dari Rasulullah SAW berupa Nurun ala Nurin.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya bagimu sudah ada pada diri Rasulullah ikutan yang baik (Pemimpin diri Rohani dan Jasmani), yaitu bagi orang yang mengharapkan (ridha) Allah dan Hari Kemudian, dan bagi orang yang banyak mengingat Allah (dzikir).” (Q.S. Ahzab, 21).

Maka siapapun kita harus menemukan seorang pemimpin yang memberikan petunjuk sejak di dunia ini agar tidak tersesat sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Kahfi ayat 17 “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang WALIYAMMURSYIDA/pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

Pemimpin yang dimaksud di dalam surat al-Maidah 56 adalah Seorang Mursyid yang membawa cahaya Allah, membawa Kalimah Allah yang ASLI dari sisi-Nya diturunkan lewat wasilah-Nya sehingga apa yang dirasakan oleh ummat di zaman Nabi Muhamamad SAW masih hidup sama dirasakan oleh ummat di zaman sekarang karena isi dan kandungannya sama. Partai yang dimaksud tentu saja Tarekatullah, metodologi agar bisa memperoleh kemenangan dunia akhirat, metodologo melaksanakan Islam secara kaffah, zahir dan bathin.

Menutup tulisan ini kami kutip Surat Al-Kahfi ayat 28 yang mengingatkan kita agar mencari seorang pemimpin (Mursyid) yang benar bukan menjadikan orang yang dipenuhi hawa nafsu duniawi untuk dijadikan pemimpin yang terkadang tanpa sadar menjual ayat-ayat Tuhan untuk kepentingan duniawi.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Sabar engkau bersama (berkawan atau ber-imam) orang-orang yang menyeru Tuhannya pagi dan petang, sedangkan mereka itu menghendaki keridhaan Allah, jangan engkau palingkan pemandanganmu (tetap hadir/tetap dalam frekwensi) dari mereka karena mengharapkan perhiasan hidup di dunia. Janganlah engkau ikut orang-orang yang lalai hatinya dari mengingat Kami dan ia turutkan hawa nafsunya dan adalah perbuatannya itu lebih dari patut/melampaui batas (tak baik)”.

Source: Sufi Muda

 

About admin

Check Also

Khalifah Aja Dibilang Gila

Oleh : H Derajat Ini sebuah kisah nyata di kala seorang Khalifah (Pemimpin Negara) dibilang ...