Sunday , July 22 2018
Home / Budaya / Kebangsaan / “Pancasila” Bukan Komunisme

“Pancasila” Bukan Komunisme

Komunisme dan Kiri Baru 

a) Sejarah Pergerakan Komunisme 

KIRI atau Komunisme, telah lama dipersepsikan sebagai ancaman bagi kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada era Soekarno, kiri atau Partai Komunis Indonesia juga dipersepsikan sebagai ancaman, mengingat pada saat itu kekuatan politik kelompok Kiri tidk bisa diremehkan karen mencakup seluruh elemen masyarakat, dari petani hingga mahasiswa. Namun dalamperkembangannya Kiri menjadi ancaman nyata pada akhir 1965 atau lebih tepatnya ketika peristiwa pembunuhan jenderal pada malam tanggal 30 September hingga 1 Oktober 1965, yang  diinterpretasikan sebagai upaya kudeta PKI. Sejak saat itu, PKI dibubarkan oleh Angkatan Darat dan Jenderal Soeharto.

Dalam sejarahnya juga dijelaskan bahwa pemberontakan PKI di Madiun merupakan puncak pengkhianatan kaum komunis dalam kurun waktu 1945 – 1948, karena padatahun 1945 terjadi perebutan kekuasaan Republik Indonesia oleh kaum komunis yang dikenal dengan Peristiwa Tiga Daerah, yaitu di Tegal, Brebes, dan Pemalang. Namun hal ini dapt dicegah serta diakhiri oleh Tentara Republik, sehingga situasi keamanan dapat dipulihkan kembali oleh Pemerintah Republik Indonesia.

b) Kiri Baru atau New Left

Kiri Baru merupakan gerakan politik pada tahun 1960-an dan 1970-an, terutama terjadi di Inggris dan Amerika Serikat, yang terdiri dari pendidik, agitator dan lain-lain. Pemikiran ini diinspirasi oleh pemberontakan putus asa kaum miskin dan kaum negro akibat moral kehidupan mewah yang dipelopori oleh orang-orang kulit putih. Namun gerakan ini berbeda dengan gerakan Marxis yang  mengambil pendekatan terhadap keadilan sosial serta fokus pada serikat pekerja buruh. Dalam perkembangannya, gerakan Kiri Baru menolak keterlibatan dengan gerakan buruh dan teori sejarah Marxisme dari perjuangan kelas. Gerakan ini percaya akan kebebasan dan demokrasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa emikiran kiri baru adalah pengembangan dari ideologi marxisme tradisonal.

Saat ini perjuangan gerakan Kiri Baru bukan melawan feodalisme maupun kelas penguasanya, juga bukan terhadap situasi ekonomi dibawah masyarakat industri. Melainkan pelestarian kepribadian dan kemanusiaan manusia yang menghadapi “kediktatoran kekuatan-kekuatan yang tak bisa dipecahkan dan selalu hadir, yang cenderung mengintegrasikan dan mengasimilasi semua unsur (termasuk manusia) ke dalam sistem. Dengan demikian dari perjuangan hari ini adalah merebut kembali otonomi pribadinya. Namun dalam perkembangannya gerakan ini lebih tertarik kepada perubahan sosial daripada kemapanan masyarakat.

Maka dapat diambil kesimpulan bahwa berdasarkan dasar pergerakannya Komunisme dan Kiri Baru memiliki sifat maupun tujuan berbeda, sehingga dapat dinilai pemahaman “Komunisme” masih menjadi ancaman nyata bagi kedaulatan NKRI, mengingat sejarahnya dan tujuan utama tidak lain adalah menggulingkan Pancasila sebagai ideologi Negara Indonesia. Namun kita sebagai masyarawat tetap harus waspada terhadap nilai-nilai Kiri Baru karena dapat berkembang mengikuti pergerakan kelompok Komunisme atau PKI.

Perbedaan Pancasila dengan Komunisme

Terdapat perbedaan yang mendasar antara Pancasila dan Komunisme dalam Ideologi, terkait hal ini nilai-nili Pancasila digali dari akar-akar kehidupan bangsa Indonesia yang berpandnagan bahwa sumber kehidupan adalah Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu Sila atau nilai pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa sedangkan komunisme berpandangan bahwa sumber kehidupan adalah Materialisme Historis.

Disisi lain Pancasila membangun Kemanusiaan yang Adil dan Beradab sebagaimana dinyatakan dalam Sila ke-2, mengingat kebersamaan dalam hidup mewujudkan harmoni atau keselarasan antara Individu atau Pribadi Peorangan dengan Keseluruhan, yang kemudian menciptakan sikap gotong royong serta kekeluargaan maupun kebersamaan dalam prinsip Perbedaan dalam Kesatuan. Sedangkan Komunisme tidak memberikan arti penting bagi Daulat Rakyat, melainkan menyatakan perlunya Diktatur Proletariat yang dikendalikan oleh Partai Komunis. Maka yang diutamakan adalah tegaknya Partai Komunis dan khususnya mereka yang memegang pimpinan.

Maka tampak jelas sekali perbedaan mendasar antara Pancasila dan Komunisme. Perbedaan ini makin tajam karena Pancasila memandang penting sekali adanya Kebangsaan atau Nasionalisme yang dinyatakan dalam sila ke-3 sebagai Persatuan Indonesia. Sedangkan Komunis menilai bahwa nasionalisme sama sekali tidak penting dan harus senantiasa di subordinasikan kepada Komunisme Internasional, yang dipimpin Uni Soviet di masa lalu.

Ancaman Ideologi 

Adanya upaya kebangkitan faham Komunis di Indonesia akhir-akhir ini, telah menimbulkan berbagai kontroversi maupun pandangan kewaspadaan terhadap beberapa kelompok tertentu yang diindikasikan masih mengikuti nilai-nilai Komunisme atau PKI seperti, Partai PRD, YPKP 1965, Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Papernas), dan beberapa kelompok lainnya. Hla ini terlihat dari adanya aksi penolakan terhadap faham komunisme melalui gerakan Komando Antikomunis,yang terdiri dari Front Anti Komunis Indonesia (FAKI), Front Pembela Islam (FPI).

Pergerakan Komando Anti Komunis ini tidak lain menuntut pembubaran Paprenas yang dinilai sebagai penjelmaan komunisme gaya baru dan dianggap melawan ketetapan MPR mengenai larangan penyebaran ajaran Marxisme dan Leninisme. Selain itu mereka juga melakukan penolakan terhadap berbagai aktivitas ataupun kegiatan yang mengangkat isu terkait korban HAM PKI ataupun penyebaran nilai-nilai yang mengarah terhadap Komunisme, terutama Komunisme gaya baru.

Maraknya aksi perlawanan kelompok anti komunis ini seharusnya sudah menyadarkan bahwa tidak ada ideologi yang lebih baik bagi negara Indonesia selain Pancasila, mengingat Pancasila mewakili nilai-nilai normatif  bangsa Indonesia secara menyeluruh. Dengan demikian seharusnya sebagai masyarakat Indonesia mari kita tolak paham Komunisme ini secara tegas, mengingat dasar-dasar nilai Komunisme sangat bertentangan dengan jati diri bangsa Indonesia.

Mari kita tingkatkan pasrtisipasi kita dalam meminimalisir penyebarang simbol serta pemahaman Komunisme di kalangan masyarakat yang cenderung dikumandangkan oleh kelompok Komunisme melalui kegiatan advokasi, sosialisasi, ataupun bantuan lain kepada masyarakat, yang ditujukan untuk mengambil simpati rakyat Indonesia agar memilih paham Komunis sedangkan berdasarkan sejarahnya gerakan Komunisme telah meninggalkan sisi gelap terhadap pemerintahan NKRI, yang juga memakan banyak korban jiwa.

Penulis : Almira Fadillah dan Linda Rahmawati, (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gunadharma Jakarta)

About admin

Check Also

Persatuan dan Kemajemukan Indonesia Mencari Visi Baru serta Perekat Sejarahnya

Tidak enak juga memulai makalah ini dengan pesimisme; atau dengan keresahan dan yang sejenis. Sebab ...