Monday , January 21 2019
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Pada Istrimu Ada Allah

Pada Istrimu Ada Allah

نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

nisaaukum hartsun lakum fa’tuu hartsakum annaa syi’tum waqaddimuu li-anfusikum wattaquullaaha wa‘lamuu annakum mulaaquuhu wabasysyiril mu’miniin.

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman“. (QS. Al-Baqarah: 223)

Kalau kita baca ayat tadi maka seperti ayat biasa saja, namun bila ditelaah dan satu persatu ayat itu direnungkan dalam hati maka kita membuat kesimpulan bahwa dengan mendatangi istri kita sebagai kebun kita, berbuat amal (bercocok tanam dengan nya) sambil bertawakal pada Allah maka Allah akan membawa kita kepada Nya jua.

Saya tidak akan menjelaskan hal ini secara vulgar karena orang dewasa tentunya hal ini sudah bisa difahami.

Berkasih sayanglah dengan istri kita demikian juga sebaliknya karena di dalamnya ada kasih Allah, yang bila dilakukan dengan bertawakal maka di sana kita akan menemui Allah kita.

Dan apa hubungannya hal tadi dengan proses bertemunya seorang manusia dengan Allah. Untuk membahasnya, marilah kita lihat sejarah hidup Nabi Muhammad Saw dalam mencari keberadaan Sang Khaliknya.

Sejak lahir sampai berumur 25 tahun, beliau telah diajarkan dan didoktrin oleh para pemuka agama kaum Quraisy bahwa Tuhan yang harus disembah adalah Tuhan-Tuhan yang berwujud patung-patung yang mempunyai nama antara lain Lata, Uza, Manata dan lainnya.

Dalam diri Muhammad pada waktu itu tidak mempercayai ajaran tersebut, sehingga beliau meminta izin kepada istrinya, Siti Khodijah untuk ber-tahannuts atau ber-‘uzlah mengasingkan diri ke dalam gua Hira di lereng Gunung Cahaya (Jabal Nur) dengan tujuan untuk mencari Tuhan yang sebenarnya.

Selama berbulan-bulan beliau ber-tahannuts di Gua Hira, tetapi belum juga menemukan cara untuk bertemu sekaligus mengenal Sang Khalik.

Tetapi berkat usaha beliau yang tidak kenal menyerah, akhirnya di usia ke 40 tahun, beliau mendapatkan wahyu yang pertama kali dari Allah yang isinya adalah perintah untuk membaca, merenungkan dan mempelajari proses awal mula penciptaan diri seorang manusia.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۞ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۞ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ۞ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۞ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia menciptakan manusia dari Alaqah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Pemurah. Yang mengajari manusia dengan Qalam. Dia mengajari manusia apa yang belum diketahuinya”. (QS Al Alaq 96 : 1-5).

Berdasarkan dalil tersebut, marilah kita renungkan…

Muhammad pada waktu itu ber-tahannuts di Gua Hira dengan tujuan untuk mencari, menemui dan mengenal keberadaan Sang Khalik yang sebenarnya, walaupun beliau tidak mengetahui cara atau metode untuk bertemu dengan Sang Khalik.

Untuk maksud tersebut, akhirnya Allah memerintahkan agar beliau mempelajari proses awal mula penciptaan seorang manusia dari Al-‘Alaqah.

Tentunya Muhammad pada waktu itu bertanya dalam qalbunya, apakah hubungan antara proses awal mula penciptaan manusia dari Al-‘Alaqah dengan proses bertemunya seorang manusia dengan Allah?

Dengan kecerdasan yang dimiliki oleh beliau dan pengajaran yang diajarkan oleh Allah, akhirnya beliau menemukan jawabannya, sehingga akhirnya beliau dapat bertemu dan melihat Allah untuk pertama kalinya di Gua Hira.

Kemudian selanjutnya beliau selalu mendapatkan pengajaran dari Allah berupa wahyu-wahyu sampai beliau berusia 63 tahun.

Demikianlah sekilas sejarah hidup Nabi Muhammad Saw dalam mencari Tuhannya.

Dari sejarah Nabi Muhammad Saw tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa untuk bertemu dengan Allah kita harus mempelajari proses awal mula penciptaan diri yang bermula dari Al-‘Alaqah.

Kata ‘Alaqah mempunyai dua arti yaitu; pertama, cinta kasih yang melekat, dan kedua, adalah segumpal darah.

Dari dua pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa proses penciptaan manusia bermula dari rasa cinta Allah kepada makhluk-Nya. Dan cinta Allah yang melekat pada makhlukNya itu adalah pada istri kita. Wallahu ‘alam.

Ketika ilmu hakikat akan dibukakan oleh Rasulullah kepada sahabat-sahabatnya beliau bertanya: “Adakah diantara kalian yang belum menikah?”, para sahabat menjawab: “Tidak ada !!”. Selanjutnya beliau SAW memerintahkan: “Tutuplah pintu”.

“Janganlah engkau berikan ilmu ini kepada yang tidak membutuhkan, karena itu adalah perbuatan dzhalim. Tetapi jangan engkau tidak berikan ilmu ini kepada yang membutuhkan, karena itu juga perbuatan dzhalim”. (Al Hadits) .

Seorang sahabat yang bernama Abu Hurairah juga pernah berkata :

“Aku hafal dua karung (kitab) hadits dari Rasulullah Saw. Yang satu karung (kitab) sudah aku siarkan kepada kalian semua. Sedang yang satu lagi kalau aku siarkan, niscaya dipotong orang leherku”. ( HR Bukhari).

Sedemikian pentingnya arti sebuah perkawinan bukan ?

Setiap kebaikan datangnya dari Allah, dan setiap keburukan datangnya dari nafsuku sendiri. Seorang H Derajat bukanlah manusia yang sempurna namun hanya seorang penyampai saja. Semoga Allah membukakan hati para pembaca artikel singkat ini agar dia berhak bertemu dengan Allah ketika di dunia maupun di akhirat kelak. Aamiin yaa Robbal alamin.

H DERAJAT
Pasulukan Loka Gandasasmita

About admin

Check Also

Hidup Hanya Sekedar Tiupan Fatamorgana

Kajian Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Kehidupan yang dimiliki makhluk semenjak ia terlahir dimuka bumi, ...