Saturday , November 23 2019
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Orang yang Bergantung pada Amalnya

Orang yang Bergantung pada Amalnya

Dalam kitab Al-Hikam, Syaikh Ahmad bin Muhammad ‘Athaillah Assakandary atau yang lebih dikenal dengan Syaikh Ibnu ‘Athaillah mengemukakan satu nasihat yang sangat menarik buat para salikin. Nasihat tersebut adalah sebagai berikut:

مِنْ عَلَامَاتِ الإِعْتِمَادِ عَلَى العَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلَلِ

Di antara tanda-tanda orang yang menggantungkan diri pada amal ibadahnya adalah berkurangnya harapan kepada Allah tatkala dirinya melakukan kesalahan atau kekhilafan kepadaNya.

Para sahabat, nasihat dari Syaikh Ibnu Athailah di atas sangat penting bagi kita, khususnya para salikin yang sedang berupaya membangun keikhlasan dan kemurnian diri dalam beribadah kepada Allah ta’ala. Sebagaimana dijelaskan, bahwa seorang hamba yang baik yaitu dirinya tidak pernah sedikitpun membanggakan amal ibadah dan bergantung kepadanya. Sebab, kesejatian dari amal yang kita lakukan itu adalah atas kuasa Allah dan kita tidak memilik kuasa apapun. Karenanya, benar perkataan di atas, bahwa orang seperti ini menjadi kurang pengharapannya kepada Allah ta’a’a, terlebih ketika ia berhadapan dengan rintangan yang tengah menimpa kehidupannya.

Seorang hamba dikatakan bijaksana dalam beribadah dan meneguhkan keimanannya kepada Allah, maka ia senantiasa berpegang teguh atau istiqamah kepada kekuasaan yang ada pada Allah. Dia memahami, menyadari dan meyakini sepenuhnya bahwa seluruh amal yang secara lahiriyah dilakukannya itu sejatinya kembali kepada kekuasaan Allah. Dengan demikian, ia akan sangat malu apabila menggantungkan diri kepada amalnya, yang sejatinya bukanlah terwujud dari kekuasaannya itu.

Kaum arifin dalam keimanannya kepada Allah senantiasa menyaksikan kebenaran Allah dari atas permadani hidupnya. Ia tidak dapat memutuskan hubungannya dengan Allah karena telah menyaksikan kebesaran Allah dari hidupnya sendiri. Ia tidak menjadikan amal ibadahnya sebagai kebanggaan hidupnya, akan tetapi ia jadikan sebagai suatu kewajiban seoranag hamba kepada Khaliq yang senantiasa ia kuatirkan, kalau-kalau ibadah itu tidak diterima oleh Allah ta’ala.

Para ‘arifin yang senantiasa memperhatikan dirinya dan mengkhawatirkan amalnya dengan harapan rahmat dari Allah, menempatkan diri mereka dengan jiwa yang waspada dan tenang. Karena kewaspadaan jiwa dalam ibadah serta ketenangannya akan memberikan manusia sifat-sifat utama yang terdengar dari suara hati nuraninya sendiri yang suci bersih.

Adapun orang yang berbuat dosa dan kesalahan, akan tetapi ia enggan mengharapkan rahmat dan ampunan Allah, maka ia telah menumbuhkan rasa angkuh akan kemampuan dirinya tanpa rahmat dan pertolongan Allah. Orang ini telah mengesampingkan Allah dalam TauhidNya. Orang seperti ini telah melibatkan dirinya dalam dosa dan kesalahan.

Pengharapan kepada Allah selalu menjadi hiasan hati orang-orang ‘arif, selalu menjadi keinginan manusia yang beriman akan kebutuhannya kepada Allah karena meyakini pemberian Allah itu sangat luas, dan rahmat Allah sangat banyak. Apabila pada suatu saat si hamba Allah ini tergelincir dalam perbuatan maksiat, ia akan menemukan jalan keluar, karena rahmat dan kecintaan Allah akan melepaskannya. Karena si hamba yakin kasih sayang Allah akan mendatanginya, melindungi dan memberikan pertolongan kepadanya.

Pemberian Allah berupa rahmat dan pertolongan akan diterima seorang hamba, apabila si hamba yang berlumuran dosa sadar akan kelemahan dirinya, dan yakin kepada rahmatNya. Keyakinan seperti ini akan memberi peluang bagi manusia berdosa agar cepat-cepat bertobat dan memohon ampun kepada Allah, seperti yang ia yakini, sebagai satu-satunya tempat ia bersandar.

Taubat bagi seorang yang ‘arif adalah pertanda nuraninya masih hidup dan jiwanya masih dibakar oleh iman, sehingga ia tidak berputus asa menghadapi segala sesuatu yang ada padanya, sebagai kenyataan yang tak boleh dielakkan. Mereka yang berpribadi seperti ini adalah kelompok orang yang ditegaskan oleh Al-Quran sebagai golongan kanan atau ashhabul yamiin.

Sesungguhnya Allah telah menciptakan agama untuk manusia, bersamaan dengan memberikan kemampuan mereka untuk beramal. Karena dengan amal itu manusia akan berupaya melepaskan dirinya dari dosa dan kesalahan, serentak akan memberikan tempat kepadanya hiasan keutamaan diri.

Iman yang paling tinggi kualitasnya adalah iman yang mampu melepaskan dirinya dari belenggu yang membebaninya, melalui ujian. Inilah watak yang paling berharga, ketika seorang mukmin sadar akan dirinya atas pemberian rahmat dan karunia Allah yang begitu banyak yang telah ia terima. Oleh karena itu, belenggu dosa yang begitu banyak membebani dirinya dan terikat dalam hatinya, si hamba tidak merasakan rahmat dan nikmat Allah yang telah banyak diterimanya.

Berpikiran dengan akal sehat itu lebih utama dan lebih agung pahalanya dari berpikir dengan akal yang sakit, oleh karena dosa yang menjauhkannya dari rahmat Allah. Karena rahmat Allah itu dekat dengan orang beriman, sesuai dengan firman Allah: “Sesungguhnya Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik (orang beriman)“.

Demikian pula ketaatan kepada Allah bukanlah suatu amal yang harus dipamerkan, atau semisalnya, karena ketaatan adalah hiasan jiwa yang bertahtakan ketulusan di dalamnya. Ketaatan itu sendiri belum menjadi jaminan seseorang untuk masuk ke dalam surga. Karena hal ini memerlukan ujian yang sangat istimewa. Sebab pada dasarnya ketaatan adalah karunia yang sangat mahal harganya bagi hamba Allah yang perlu mendapatkan penjagaan terus menerus sepanjang hayatnya. Setiap karunia yang menjadi anugerah Allah, berupa apapun, terutama jiwa yang taat, adalah merupakan hidayah dari Allah.

Meyakini bahwa iman dan ketaatan seorang hamba kepada Khaliqnya adalah hidayah Allah, maka seorang hamba yang ‘arif akan selalu memberi bobot jiwanya, serta menghindarkan dari dirinya kedengkian, kesombongan, demikian juga kebanggaan. Sebab sifat yang disebutkan terakhir, akan memberi kesempatan kepada iblis mendapat tempat dalam ruang jiwa kita. Hal ini sangat berbahaya.

Keimanan kepada Allah sebagai penangkal bagi orang mukmin yang ‘arif, adalah perisai yang paling ampuh, senjata yang paling tajam, berhadapan dengan musuh Allah dan musuh orang beriman yakni iblis. Hanya dengan iman islam yang telah dipilih oleh Allah yang akan mampu memberikan kekuatan dan senjata pamungkas. Hamba Allah yang mempergunakan islam sebagai senjata melawan iblis itulah yang akan mendapatkan kemenangan dan kasih sayang Allah. Karena Allah telah mengingatkan;

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa yang mengikuti agama, yang bukan agama Islam, maka tidak diterima amal ibadahnya, sedangkan di alam akhirat ia termasuk orang yang rugi.” (Q.S. Ali Imran: 85).

Majelis Walisongo

 

 

 

About admin

Check Also

Khalifah Aja Dibilang Gila

Oleh : H Derajat Ini sebuah kisah nyata di kala seorang Khalifah (Pemimpin Negara) dibilang ...