Tuesday , July 17 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / OBOR: Modus Invansi Senyap Ala Cina

OBOR: Modus Invansi Senyap Ala Cina

Hari ini, republik tercinta masih terus digaduhkan oleh isu-isu hilir seperti sentimen anti Cina misalnya, atau konflik antar-madzhab dalam agama, isu benturan antar-ormas, dan lainnya.

Geopolitik membaca, penggaduhan publik melalui hilirisasi isu dan persoalan ini tak lepas dari bagian serta upaya-upaya invisible hands melakukan deception alias penyesatan, agar segenap anak bangsa abai atas silent invasion (invasi senyap) yang tengah dilakukan oleh Cina melalui pintu Turnkey Project Management (selanjutnya dibaca: TPM).

TPM itu adalah skema investasi asing yang disukai Cina dalam membangun program One Belt One Road (OBOR) One Cina, dimana ciri utama investasi ini ialah mulai dari uang, manajemen, materiil, marketing, tenaga ahli hingga metode serta tenaga kasar (kuli) pun berasal dari Cina.

Pertanyaannya, “Apa yang didapat oleh bangsa ini dengan skema investasi (TPM) seperti ini?” Untuk saat ini, cuma kertas kontrak saja. Dengan kata lain, jangankan uang, atau alih teknologi mungkin, sedang lapangan kerja untuk warga di sekitarnya pun diambil oleh kuli-kuli dari Cina yang jumlahnya ribuan. Pertanyaan selidikpun muncul; “Siapa berani menjamin bahwa para kuli TPM itu bukan tentara merah?”

Dalam perspektif geopolitik, dapat diduga bahwa model investasi TPM pada program OBOR ini merupakan pola Xi Jinping dalam rangka meluaskan living space atau ruang hidup. Pokok teorinya, “Manusia butuh negara, negara butuh ruang hidup”. Itu pakem dasar teori ruang. Dan hanya bangsa unggul yang mampu bertahan hidup dan langgeng serta melegitimasi hukum ekspansi.

Tak boleh dipungkiri memang, model one country and two system (elabolarasi sistem kapitalis dan komunis hidup berdampingan) yang dianut Cina kini, di satu sisi mampu meningkatkan pertumbuhan ekonominya, tetapi di sisi lain, tanpa diduga justru meningkatkan pengangguran. Kenapa? Kalau ciri ekonomi komunis itu yang kaya (elit) negara tetapi mayoritas rakyatnya miskin. Sebaliknya, ciri dari ekonomi kapitalis yang kaya hanya sekelompok partikelir (elit), sedang negara dan mayoritas warganya biasa-biasa saja.

Nah, ketika Cina mengkombinasi dua ideologi di atas, maka sudah bisa ditebak, rakyat yang berjumlah 1,6 miliar hanya sedikit (elit negara dan elit swasta) yang menikmati kue ekonomi. Maka sudah barang tentu, ledakan pengangguran adalah keniscayaan di Cina.

Sekali lagi, manusia butuh negara dan negara butuh ruang. Dan tidak dapat dipungkiri, ambisius OBOR-nya Xi Jinping selain menginginkan dunia dalam satu rangkaian (one belt) ekonomi dan satu jalur (one road) di bawah kendali Cina, juga model investasi TPM secara hidden agenda —kuat diduga— merupakan taktik “kuda troya,” yaitu memasukkan kekuatan militer ke wilayah kedaulatan negara lain secara asimetris atau nirmiliter.

Inilah mengapa Cina saat ini lebih menyukai proyek-proyek infrastruktur dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), betapa selain kelak ia bisa menguasai serta mengontrol simpul-simpul transportasi dan/atau simpul ekonomi (pelabuhan laut/lapangan terbang/KEK/kereta api, dan lain-lain) —dalam skema penjajahan— simpul transportasi yang kali pertama harus dikuasai, juga dalam pembangunan infrastruktur bertempo lama serta membutuhkan ribuan tenaga kerja. Sekali dayung dua –tiga pulau terlampaui.

Dengan kata lain, selain OBOR membuka lapangan kerja atas ledakan pengangguran di Cina, ia juga menjadi bagian dari siasat kuda troya Xi Jinping dalam invasi senyap di berbagai belahan dunia, berkedok ekonomi.

Jadi, ketika hari ini, mayoritas warga masih disibukkan oleh isu-isu hilir bermenu SARA lalu sebagian warga hanyut di dalamnya, sesungguhnya kita telah terkecoh oleh salah satu strategi perang Cina kuno yang bertajuk ‘mengecoh langit menyeberangi lautan’.

Sadarkah kita?

Source: The Global Review

 

 

About admin

Check Also

Di Balik KTT Kim-Trump, Sebuah Analisis Intelijen

Pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di kawasan Resort ...