Tuesday , January 26 2021
Home / Relaksasi / Renungan / Obat atau Allah-kah yang Menyembuhkan?

Obat atau Allah-kah yang Menyembuhkan?

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيم
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.

“Mohonlah kesembuhanmu kepada Allah baru minum obat”

Dalam situasi merebaknya wabah penyakit Corona dewasa ini tentunya banyak komentar menghadapinya, ada yang menyatakan penyakit buatan, konspirasi untuk menghancurkan ekonomi, ada yang menyatakan adzab Allah kepada kita karena dosa yang kita perbuat, ada yang menyatakan senjata biologi, dan ada pula yang menyatakan sebagai penyakit biasa seperti influenza. Dan ketika menghadapinya ada yang menanggapi dengan landai-landai saja, ada yang ketakutan luar biasa, dan ada pula yang cukup dengan mewaspadai penyakit itu agar tidak mengenai dirinya.

Terlepas dari polemik di atas maka saya ingin mengupas permasalahan ini dari sisi bagaimana iman kita seharusnya menghadapi ini. Ilustrasi kisah di bawah ini adalah kisah abadi bagaimana seharusnya kita menempatkan posisi obat sebagai penawar penyakit.

Alkisah, suatu hari Nabi Musa as pernah jatuh sakit. Lantas, ia mendapat isyarat, yakni berupa perintah dari Allah untuk mendatangi sebuah gua. Di gua itu, seperti disebutkan dalam perintah yang diterimanya, ada suatu tumbuhan yang bisa ia gunakan sebagai obat atas penyakit yang ia derita.

Nabi Musa pun mengerjakan apa yang diperintahkan itu, sehingga ia benar-benar sembuh dari penyakit. Alhamdulillah.

Beberapa waktu kemudian, hal sama terjadi lagi. Ia mengidap penyakit yang sama seperti sebelumnya. Nabi Musa as pun langsung mengerjakan apa yang ia kerjakan sebelumnya: pergi ke gua yang sama dan menggunakan tumbuhan yang ada disana sebagai obat.

Bedanya, kepergian Nabi musa ke gua untuk mengambil tumbuhan kali ini tanpa didahului dengan adanya perintah dari Allah. Ia bergerak atas inisiatifnya sendiri. Akhirnya, ia pun tak sembuh.

Ia lantas bertanya kepada Allah Swt.

“Tuhan, penyakitnya sama, mengapa yang kali ini saya tidak sembuh?”

“Musa, pada kasus pertama, engkau pergi ke gua atas petunjuk-Ku, maka Aku menyembuhkanmu. Sedang pada kasus kedua, engkau bertindak atas petunjukmu sendiri (tidak atas petunjuk-Ku), maka aku tak memberimu kesembuhan,”  jawab Allah Swt.

Allah Swt lalu berfirman:

“Ketahuilah Musa, dunia dan seisinya itu adalah racun yang membunuh. Dan yang bisa menyembuhkannya adalah hanya mengingat Allah Swt.”

Kisah di atas terdapat dalam kitab Syarah Ratib al-Hadad, karya al-Habib ‘Alawi bin Ahmad bin al-Hasan bin Abdillah bin ‘Alawi al-Hadad Ba’alawi, dalam bab “Dzikir Ketujuh”, yaitu tentang keutamaan kalimat :

بِسْمِ اللّٰهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Bismillaahil ladzii laa yadhurru ma’asmihii syaiun fil ardli wa laa fissamaa’, wa huwaassamii’ul ‘aliim

Artinya: “Dengan nama Allah Yang bersama NamaNya sesuatu apa pun tidak akan celaka baik di bumi dan di langit. Dialah Maha Mendengar lagi maha Mengetahui.”

Maka kesimpulannya, bersandarlah kepada Allah sebagai penyembuhnya dan obat hanyalah sebagai upaya atau sebagai perantara kesembuhan, dan yakinlah bahwa Allah bisa menyembuhkan kita baik dengan obat ataupun dengan doa.

About admin

Check Also

Inilah Hukuman Allah yang Tidak Disadari

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيم اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا ...