Thursday , October 18 2018
Home / Berita / NETWORK CENTRIC WARFARE, DOKTRIN CYBER MILITER AMERIKA

NETWORK CENTRIC WARFARE, DOKTRIN CYBER MILITER AMERIKA

NETWORK CENTRIC WARFARE, DOKTRIN CYBER MILITER AMERIKA
Sketsa Gambar Network Centric Warfare / Doktin Perang Terkoordinasi

Network-centric warfare atau yang biasa di kenal dengan network-centric operation adalah salah satu doktrin militer atau teori perang yang dipelopori oleh Amerika Serikat pada Tahun 1990-an. Doktrin perang ini sangat efektif dan terbukti ampuh sampai saat ini, konsep perang semacam ini memang dibuat untuk mengintegrasikan dan mensingkronisasikan komunikasi terpusat dalam mendukung sebuah pertempuran. 

Apakah Network Centric Warfare (NCW) itu?

Network Centric Warfare (NCW) merupakan konsep siskodal ( sistem komando dan pengendalian)  operasi militer   modern yang mengintegrasikan seluruh komponen atau elemen militer ke dalam satu jaringan komputer militer NCW berbasis teknologi satelit dan jaringan Internet rahasia militer yang disebut SIPRNet (Secret Internet Protocol Router Network).

Dengan adanya teknologi NCW yang didukung infrastruktur SIPRNet, berbagai komponen atau elemen militer di mandala operasi dapat saling terhubung (get connected) secara on-line system dan real-time, sehingga keberadaan lawan dan kawan dapat saling diketahui melalui visualisasi di layar komputer atau laptop.

Warfare Keterhubungan   secara   elektronik   berlaku   mulai dari tataran strategis, taktis  hingga  operational  dari suatu  operasi  militer  gabungan,   mulai   dari  para panglima  perang  di   markas   komando  atau  para komandan pasukan di Puskodal hingga ke unit-unit pasukan tempur di medan pertempuran.

Dengan  adanya  teknologi  Internet   SIPRNet  serta penggunaan  satelit   mata-mata   dan   satelit   GPS, memungkinkan NC memvisualisasikan seluruh kegiatan operasi militer, memungkinkan NC memvisualisasikan seluruh kegiatan operasi militer gabungan yang sedang berlangsung di medan pertempuran (battle field) ke layar lebar ruang yudha (military operation room), yang mungkin jaraknya terpisahkan ribuan kilometer jauhnya. Maksudnya, pusat komando dapat secara  on-line system dan real-time mengendalikan operasi militer yang sedang berlangsung secara jarak jauh (remotely).

Berbagai informasi tempur digital (video, grafik, peta, suara, data dan sebagainya) yang tersedia terkait dengan pelaksanaan operasi militer gabungan,  tidak hanya dapat di akses oleh para Pimpinan di markas komando saja, tetapi juga dapat diteruskan (information sharing) ke seluruh komandan unit pasukan tempur di lapangan.

Tujuan utama dari NCW, dalam lingkup Siskodal, adalah tercapainya keunggulan informasi (information superiority) sehingga dapat membantu Panglima Perang atau Komandan Pasukan mengambil keputusan (decision making) secara tepat, cepat dan akurat guna memenangkan suatu pertempuran (battle).

Namun,  konsep NCW hanya dapat diimplementasikan  dengan cara melakukan revisi  atau  penyesuaian doktrin operasi militer gabungan terlebih dahulu, sebagai acuan dalam penyelenggaraan operasi militer gabungan (joint military campaign). Hal ini dimungkinkan karena  doktrin operasi militer selalu bersifat  dinamis menyesuaikan laju perkembangan zaman dan perkembangan lingkungan global.

Di dalam doktrin operasi militer gabungan, siskodal NCW “mengharuskan”  seluruh elemen atau komponen militer beroperasi secara bersama-sama (interoperability) di dalam suatu Joint Task Force Command (JTFC). Sehingga konsep NCW pada akhirnya akan merubah paradigma militer lama yang menyatakan bahwa suatu medan pertempuran dapat dimenangkan hanya oleh satu komponen militer saja.

Dengan penggunaan teknologi informasi yang intensif, mendorong terjadinya penyesuaian konsep atau doktrin seiring dengan kemajuan teknologi. Suatu waktu, rasanya sudah cukup untuk membicarakan konsep tentang Komando dan Kendali (K2), yang pada prinsipnya merupakan hubungan intern antara komandan dengan anak buahnya dalam kaitan tugas operasi. 

Tetapi kemudian ternyata komunikasi dengan kesatuan lain dalam suatu operasi menjadi suatu keharusan. Dengan demikian lahirlah konsep baru yaitu Komando, Kendali, dan Komunikasi (K3). Dengan teknologi komunikasi yang semakin mutakhir, keterangan atau data intelijen yang sangat penting dalam operasi militer dapat diperoleh dari kesatuan lain atau bahkan badan lain di luar kesatuan militer. Ini menghasilkan konsep baru yakni Komando, Kendali, Komunikasi dan Intelijen (K3I). Saat ini dengan kemajuan teknologi komputer banyak analis menulis mengenai Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer dan Intelijen (K4I). Meskipun K4I masih menjadi angan-angan tetapi paling tidak menyiratkan suatu pandangan bahwa sistem informasi yang berbasiskan komputer menjadi fungsi yang sangat penting dalam peperangan. 

Saat ini menurut para analis militer ada konsep baru yaitu Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer, Intelijen, dan Manajemen Pertempuran (K4I/MP) sebagai satu kesatuan yang bulat dalam rangka memenangkan pertempuran. (command, control, communications, computers, intelligence and battle management -C4I/BM). Ada pula yang merumuskan dengan Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer, Intelijen, Pengamatan dan Pengintaian (K4IPP) – command, control, communications, computers, Surveillance and Reconnaissance – C4ISR)

Karakteristik Network Centric Warfare

Sistem Network Centeric Warfare dibuat menggunakan sistem informasi secara peer to peer, Kuntungan jaringan semacam ini mampu memberikan redundansi dan ketahanan dari topologi jaringan peer-to-peer kalau diterapkan pada medan perang. bahkan Kolonel Robert Wardell mengatakan sistem ini mampu memberikan suatu keputusan lebih cepat dari pada orang yang ingin berbuat jahat |||0|||0 berbagai sumber.

 

Sumber: www.momosergeidragunov.com

About admin

Check Also

Asia Pasifik dalam Pusaran Kekuatan-kekuatan Global

Jika pada Perang Dingin kehadiran dan peran negara-negara besar di Asia Pasifik banyak dipengaruhi oleh ...