Tuesday , August 4 2020
Home / Budaya / Asal Usul / Naskah Kitab “Punika Sajarah Sadaya Kang Tedak Saking Kangjeng Nabi Adam”

Naskah Kitab “Punika Sajarah Sadaya Kang Tedak Saking Kangjeng Nabi Adam”

KATA PENGANTAR

Bahagialah kita, bangsa Indonesia, bahwa hampir di setiap daerah di seluruh tanah air hingga kini masih tersimpan karya-karya sastra lama, yang pada hakikatnya adalah cagar budaya nasional kita. Kesemuanya itu merupakan tuangan pengalaman jiwa bangsa yang dapat dijadikan sumber penelitian bagi pembinaan dan pengembangan kebudayaan dan ilmu di segala bidang.

Karya sastra lama akan dapat memberikan khazanah ilmu pengetahuan yang beraneka macam ragamnya. Penggalian karya sastra lama yang tersebar di daerah-daerah ini, akan menghasilkan ciri-ciri khas kebudayaan daerah, yang meliputi pula pandangan hidup serta landasan falsafah yang mulia dan tinggi nilainya. Modal semacam itu, yang tersimpan dalam karya-karya sastra daerah, akhirnya akan dapat juga menunjang kekayaan sastra Indonesia pada umumnya.

Pemeliharaan, pembinaan, dan penggalian sastra daerah jelas akan besar sekali bantuannya dalam usaha kita untuk membina kebudayaan nasional pada umumnya, dan pengarahan pendidikan pada khususnya.

Saling pengertian antardaerah, yang sangat besar artinya bagi pemeliharaan kerukunan hidup antarsuku dan agama, akan dapat tercipta pula, bila sastra-sastra daerah yang termuat dalam karya-karya sastra lama itu, diterjemahkan atau diungkapkan dalam bahasa Indonesia. Dalam taraf pembangunan bangsa dewasa ini manusia-manusia Indonesia sungguh memerlukan sekali warisan rohaniah yang terkandung dalam sastra-sastra daerah itu. Kita yakin bahwa segala sesuatunya yang dapat tergali dari dalamnya tidak hanya akan berguna bagi daerah yang bersangkutan saja, melainkan juga akan dapat bermanfaat bagi seluruh bangsa Indonesia, bahkan lebih dari itu, ia akan dapat menjelma menjadi sumbangan yang khas sifatnya bagi pengembangan sastra dunia.

Sejalan dan seirama dengan pertimbangan tersebut di atas, kami sajikan pada kesempatan ini suatu karya sastra daerah Jawa Banten, yang berasal dari koleksi Museum Nasional, dengan harapan semoga dapat menjadi pengisi dan pelengkap dalam usaha menciptakan minat baca dan apresiasi masyarakat kita terhadap karya sastra, yang masih dirasa sangat terbatas.

Jakarta, 1982

Proyek Penerbitan Buku Sastra
Indonesia dan Daerah

 

PENGANTAR

Naskah yang berjudul “Punika sajarah sadaya kang tedak saking kangjeng nabi Adam” ini milik Museum Nasional, dengan nomor Plt. 42.

Naskah Plt. 42 ini semula merupakan koleksi C.M. Pleyte yang tersimpan dalam peti-peti (lazim disebut Gesloten Collectie) dan belum dikatalogisasi. Ditulis dengan huruf Latin, bahasa Jawa Banten, berbentuk prosa.

Ukuran 34,6 x 21,5 cm, 35 baris, 186 halaman. Kertasnya tidak bersih karena penuh berisi catatan pensil di pinggir halamannya, mungkin berasal dari seorang sarjana yang telah membaca naskah ini dahulu. Halamannya terlepas-lepas, tetapi tulisannya masih jelas terbaca.

Walaupun judulnya tertulis “Punika sajarah sadaya kang tedak saking kangjeng nabi Adam”, namun isi sebenarnya merupakan asal usul keturunan raja-raja dan para bupati yang berasal dari nabi Adam sampai kepada prabu Siliwangi dari Pajajaran. Kemudian keturunan prabu Siliwangi inilah yang kelak memegang jabatan pemerintahan baik sebagai raja-raja maupun sebagai bupati di daerah Priangan, Cirebon, Banten dan Mataram.

Jalan ceritanya sangat ruwet, berbelit-belit dan penuh dengan cerita mitologi. Nenek moyang raja-raja yang memerintah di Pajajaran semuanya disebutkan berasal dari keturunan nabi Adam, sehingga fakta sejarahnya diragukan. Selain itu terdapat sejumlah nama raja-raja keturunan nabi Adam, yang beberapa di antaranya berlainan. Misalnya: nama raja-raja keturunan nabi Adam sampai kepada bupati Bandung yang bernama Kangjeng Dalem Tumenggung Kusuma Dilaga itu berbeda dengan nama raja-raja keturunan nabi Adam sampai kepada Sunan Gunung Jati.

Walaupun demikian, kita tidak dapat mengecilkan arti naskah ini sebagai bahan penelitian sejarah, karena ada beberapa fakta sejarah yang terdapat di dalamnya. Misalnya: pemberontakan Dipati Ukur terhadap Sultan Mataram dan tentang masuknya Islam ke kerajaan Pajajaran. Semoga naskah ini dapat memberikan manfaat kepada pembacanya.

RINGKASAN CERITA

Naskah no. Pit. 42

Judul: Punika sejarah sadaya kang tedak saking kangjeng nabi Adam.

Isinya: Naskah ini sebenarnya merupakan silsilah raja-raja dan para bupati yang memerintah di daerah Parahiyangan. Nenek moyang mereka disebutkan berasal dari keturunan nabi Adam, sampai kepada prabu Siliwangi yang memerintah di Pajajaran. Keturunan prabu Siliwangi iniiah kemudian memegang jabatan pemerintahan baik sebagai raja maupun sebagai bupati di daerah Priangan, Cirebon dan Mataram.

Isi naskah terdiri dari beberapa cerita silsilah, yaitu:

Bagian I. Halaman 1 – 63

Isinya: Menceritakan asal usui keturunan raja-raja dan para bupati yang berkuasa di Priangan. Nenek moyang mereka berasal dari keturunan nabi Adam, sampai kepada Ratu Galuh. Ratu Galuh mempunyai 3 orang putra, yaitu Hariang Banga, Ciung Manara dan Maraja Sakti. Hariang Banga dan keturunannya memerintah di daerah Jawa, yaitu Majapahit dan Mataram. Sedangkan Ciung Manara memerintah di Pajajaran. Salah seorang raja keturunan dari Ciung Manara bernama Prabu Siliwangi. Kemudian baginda menjadi seorang raja besar yang berkuasa di Pajajaran. Prabu Siliwangi menikah dengan putii Maraja Inten Dewata, yaitu salah seorang putri raja Dalem Pasehan dari Timbanganten. Raja Pajajaran inilah kemudian menurunkan para bupati Bandung; salah seorang di antaranya adalah kangjeng Dalem Tumenggung Kusumah Dilaga, yaitu putra Kangjeng Dalem Adipati Wiranatakusumah yang dimakamkan di Karang Anyar.

Bagian 2. Halaman 64 – 68

Isinya: Menceritakan asal usul keturunan raja-raja yang memerintah di Cirebon dan Banten. Nenek moyang mereka berasal dari nabi Adam, sampai kepada Sunan Gunung Jati yang memerintah di Cirebon. Sedangkan yang memerintah di Banten disebutkan sampai kepada Sultan Abunasar Muhammad Jaenal Asikin. Terdapat tahun penyalinannya, yaitu tahun 1866.

Bagian 3. Halaman 68 – 90

Isinya: Menceritakan tentang Ratu Galuh yang merupakan salah seorang raja keturunan dari nabi Adam. Ratu Galuh mempunyai 2 orang putra, yaitu Hariang Banga dan Ciung Manara. Hariang Banga menjadi raja di negeri wetan (Jawa), sedangkan Ciung Manara menjadi raja di Pajajaran.

Salah seorang raja keturunan dari Ciung Manara bernama Prabu Siliwangi. Selanjutnya disebutkan nama raja-raja keturunan dari prabu Siliwangi yang berkuasa di daerah Parahiyangan.

Kemudian terdapat cerita tentang terjadinya pertentangan antara Dipati Ukur dengan Sultan Mataram. Pertentangan ini disebabkan karena Dipati Ukur menolak membantu Sultan Mataram dalam menghadapi musuh. Akhirnya Dipati Ukur dihukum mati oleh Sultan Mataram. Selanjutnya diceritakan pula tentang hubungan kekeluargaan antara raja-raja Mataram dengan Banten, serta daerah yang berada di bawah kekuasaan mereka masing-masing.

Bagian 4. Halaman 91 – 121

Isinya: Menceritakan tentang Prabu Lingga Pakuwan dari Pajajaran mempunyai seorang putra bernama Uyang Ngalaga.

Uyang Ngalaga memerintah di Tegalluwar. Kemudian hari ia bergelar Prabu Pandaan Ukur dan membuat negeri di Cimumul. Prabu Pandaan Ukur ini kelak menurunkan raja-raja dan bupati yang berkuasa di Parahiyangan dan Banten.

Kemudian diceritakan pula tentang keturunan dari Geusan Ulun yang berdiam di negeri Bandung. Batas-batas daerahnya sebagian besar meliputi sungai-sungai dan gunung.

Pada akhirnya terdapat keterangan bahwa: cerita ini disalin pada hari Kamis 14 April 1809, dan dilaporkan kepada Resident Mayor Baron Van der Kapelen.

Bagian 5. Halaman 121 – 125

Isinya: Menceritakan asal usul keturunan para bupati yang memerintah di Bandung. Asal usul nenek moyang mereka dapat ditelusur mulai dari nabi Adam sampai kepada Ratu Galuh, yang mempunyai 3 orang putra yaitu Hariang Banga, Ciung Manara dan Maraja Sakti. Dari Prabu Ciung Manara disebutkan satu per satu raja-raja keturunannya sampai kepada Dalem Dipati Wiranatakusumah yang memerintah di Bandung sampai tahun Dari nabi Adam sampai kepada Prabu Siliwangi dan keturunannya itu ada kira-kira 30 turunan.

Bagian 6. Halaman 126 – 132

Isinya: menceritakan isi surat dari Dalem Adipati Wiranatakusumah kepada Sunan Pakubuwana di Surakarta, serta kepada Tuan Gurnadur Jenderal Johanes Sibereh van Nederland Indie di Batavia.

Bagian 7. Halaman 132 – 139

Isinya: menceritakan tentang raja-raja keturunan nabi Adam sampai kepada Dalem Pasehan yang memerintah di Timbanganten. Dalem Pasehan mempunyai 6 orang putra dan seorang putri yang bernama Maraja Inten Dewata, yang kelak menikah dengan prabu Siliwangi dari Pajajaran.

Setelah semua putranya dewasa dan pergi meninggalkan Timbanganten, Dalem Pasehan mohon seorang putra kepada prabu Siliwangi, untuk dijadikan penggantinya. Mula-mula prabu Siliwangi memberikan salah seorang putranya yang bernama Ratu Burung Baok. Tetapi karena kelakuan Ratu Burung Baok itu sangat buruk, kemudian Dalem Pasehan menghukumnya. Peristiwa itu hampir menimbulkan pertentangan antara prabu Siliwangi dengan Dalem Pasehan.

Berkat campur tangan ayahanda Dalem Pasehan, perselisihan ini dapat diselesaikan dengan baik. Akhirnya Prabu Siliwangi menyerahkan seorang putranya yang masih berada dalam kandungan Ratu Maraja Inten Dewata. Setelah lahir, putranya itu segera dibawake Timbanganten. Kelak ia menggantikan Dalem Pasehan memerintah di negeri Timbanganten. Pada bagian akhir terdapat catatan: Disalin pada hari Selasa, 20 Juni 1866.

Bagian 8. Halaman 140 – 146

Isinya: menceritakan tentang Sangkuriang dengan ibunya yang bernama Nyai Dayang Sumbi.

Bekas air seni ratu Galuh yang terminum oleh seekor babi betina di hutan, telah menyebabkan kelahiran putri Nyai Dayang Sumbi.

Setelah dewasa, Dayang Sumbi terkenal sebagai putrì yang cantik jelita yang kerjanya hanya bertenun saja di tengah hutan. Banyak lamaran para pemuda yang ditolaknya, karena ia belum menginginkan akan berumah tangga.

Pada suatu hari ketika sedang bertenun, tanpa sengaja ia menjatuhkan alat tenunnya ke bawah panggung rumahnya itu. Karena malas mengambil alat tersebut, Dayang Sumbi mengucapkan janji, bahwa siapa pemuda yang dapat menolong mengambilkan alat itu akan dijadikan suaminya. Tiba-tiba muncul seekor anjing bernama si Tumang, membawa alat tenun itu kepadanya. Terpaksa Dayang Sumbi harus menepati janjinya itu dan kawin dengan si Tumang. Beberapa lama kemudian lahir seorang putra yang diberi nama Sangkuriang.

Setelah dewasa, Sangkuriang pergi berburu dan membunuh si Tumang karena si Tumang tidak menuruti perintahnya. Hati si Tumang disuruh masak dan dimakan bersama ibunya. Setelah mengetahui kejadiannya, Dayang Sumbi sangat murka lalu memukul dan mengusir Sangkuriang.

Bertahun-tahun kemudian, Sangkuriang kembali ke daerah asalnya itu tanpa diketahuinya. Kemudian ia bertemu dengan Dayang Sumbi yang masih tetap cantik dan muda itu. Keduanya tidak saling mengenal lagi, sehingga mereka jatuh cinta. Pada suatu hari, ketika mereka bermesraan, Dayang Sumbi mendapatkan sebuah tanda di kepala Sangkuriang. Segera ia mengetahui, bahwa Sangkuriang adalah putranya yang dahulu telah diusimya.

Untuk menolak lamaran Sangkuriang secara halus, Dayang Sumbi minta dibuatkan sebuah danau lengkap dengan perahunya. Permintaan itu disanggupi oleh Sangkuriang. Dan berkat kesaktiannya, danau dan perahu hampir selesai dalam waktu yang singkat. Dayang Sumbi yang cemas hatinya itu mohon kepada dewata agar digagalkan maksud Sangkuriang mengawini dirinya itu, karena tidak mungkin seorang anak mengawini ibunya. Akhirnya maksud Sangkuriang itu gagal, karena tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan perjanjian. Karena merasa tertipu, Sangkuriang menjadi murka dan menendang perahu itu sehingga terbalik, kemudian menjadi sebuah gunung yang terkenal di Jawa Barat. Terdapat catatan: Disalin pada hari Sabtu, 8 September 1866.

Bagian 9. Halaman 151 – 186

Isinya: menceritakan asal usui keturunan para bupati yang memerintah di negeri Parahiyangan.

Mula-mula disebutkan tentang Sunan Pantena Agung dari Pakancilan yang mempunyai seorang putra bernama Serang Alun Panghulu Agung.

Serang Alun ini kemudian menurunkan raja-raja dan para bupati yang memerintah di Timbanganten dan Cianjur.

Kemudian diceritakan tentang salah seorang raja keturunan dari nabi Adam yang bernama Babar Buwana. Ia memerintah di Timbanganten dan mempunyai seorang putra yang bernama Sangiyang Tunggal. Seianjutnya salah seorang raja keturunan dari Sangiyang Tunggal ini yang bernama Dalem Pasehan, mempunyai 6 orang putra dan seorang putri. Purinya itu bernama Maraja Inten Dewata kelak menikah dengan prabu Siliwangi dari Pajajaran.

Kemudian diceritakan pula tentang Ratu Galuh yang mempunyai 3 orang putra, yaitu Dipati Hari yang Banga, Dipati Ciung Manara dan Maraja Sakti.

Selain dari itu masih ada 7 orang putranya lagi yang kelak menjadi ratu siluman. Hariyang Banga dijadikan raja di timur (Jawa). Ia mempunyai seorang putra bernama Gedeng Mintalarasa. Anak cucu dari Gedeng Mintalarasa ini kemudian memerintah di Majapahit dan Mataram.

Sedangkan Ciung Manara dijadikan raja di Pajajaran. Ia mempunyai seorang putri bernama Perbu Sari, yang menikah dengan Perbu Lutung Kasarung.

Perbu Sari itu kelak menurunkan raja-raja yang memerintah di Pajajaran. Adapun Marajasakti mempunyai 7 orang putra, namun tidak disebutkan nama daerah kekuasaannya.

Selanjutnya diceritakan tentang rusaknya negara Pakuwan Pajajaran, setelah kedatangan Keyan Santang dari Mekah dengan membawa agama Islam.

Pada waktu itu Keyan Santang tiba di Pajajaran dari negeri Mekah. Maksudnya hendak mengislamkan raja Pajajaran beserta rakyatnya. Prabu Siliwangi sangat murka dan menolak agama baru itu. Kemudian baginda mengusir Keyan Santang dari Pajajaran, namun sebagian besar para putra raja dan pembesar istana telah memeluk agama baru (Islam) itu.

Akhirnya Keyan Santang pergi meningalkan negeri Pajajaran menuju ke Cempa dengan menitipkan kedua putranya yang bernama Pucuk Umun dan Sekar Mandapa kepada salah seorang saudaranya.

Pada bagian akhir diceritakan tentang asal usul keturunan raja-raja dan para bupati yang memerintah di Timbanganten dan Panembong, yang diturunkan dari Baginda Babar Buwana. Baginda Babar Buwana mempunyai seorang putra bernama Sangiyang Tunggal, yang kemudian menurunkan Ratu Galuh. Ratu Galuh mempunyai 3 orang putra, salah seorang di antaranya bernama Ciung Manara. Putri Ciung Manara yang bernama Perbu Sari menikah dengan Perbu Lutung Kasarung. Salah seorang keturunan dari Perbu Lutung Kasarung bernama Dalem Pasehan memerintah di Timbanganten.

Disebutkan bahwa Dalem Pasehan mempunyai seorang putra yang bernama Panembong. Dari Panembong inilah kemudian diturunkan para bupati Bandung, sampai kepada Tumenggung Anggadireja, yang kemudian bergelar Dalem Dipati Wiranatakusumah.

Naskah
“Punika Sajarah Sadaya Kang Tedak saking Kangjeng Nabi Adam”

(Hal. 1) Punika sajarah sadaya, kang tedak saking kangjeng nabi Adam.

Anapon kangjeng nabi Adam nuli puputra saking ciciptan kang nama kangjeng nabi Ssis, Ssis puputra Baginda Y anas, puputra Dayad, puputra Malak, puputra Pasad, puputra kanjeng nabi Indris, puputra Rasai, puputra Lamat, puputra kangjeng nabi Enoh, kangjeng nabi Enoh puputra lilima, kang dihin Baginda Sani, kapindo Baginda Hisam, pintelu Baginda Yapat, kapingpat Baginda Yasjab, ping lima Ya Juja Warna Juja.

Anapon Baginda Hisyam, nuli puputra Palih, puputra Salih, puputra Gabir, puputra Raun, puputra Saruh, puputra Patih Ajar, kangjeng nabi Ibrahim, puputra kangjeng nabi Ismail, puputra Baginda Sabit, puputra Kiyanajat, puputra Yarab, Yarab puputra Pahtur, puputra Mukaweh, puputra Udin, puputra Malat, puputra Malal, puputra Najah, puputra Manakiyah, puputra Taliyas, puputra Naja, puputra Tapsir, puputra Malik, puputra Kahhir, puputra (Hal. 2) Galib puputra Abdulmanap, puputra Hasim, puputra Abdul Matalib, puputra Abdulloh, puputra kangjeng nabi kita Muhammad sallollohu alaihi wasalam. Nuli puputra istri namane Dewi Patimah mangka carogean maring Sayidina Alimurtallo, mangka nuli puputra Baginda Husen, puputra Jenal Abidin, apuputra Ratu Banisrail, puputra ratu Raja Yuta, puputra Raja Mesir, puputra sunan Gunung Jati, puputra Pangeran, puputra Pangeran Balebayam, puputra Panembahan Ratu, puputra Pangeran Ratu, puputra Pangeran Dipati, puputra Panembahan Girilaya, puputra Sulthan Kamaludin, puputra Pangeran Dipati Anom, puputra pangeran Raja Ningrat ing Cirebon wallahu alam.

Anapon Baginda Sani nuli puputra Baginda Ambran, puputra Babar Buwana, puputra Manapatih, puputra Gandul Gantangan, puputra Hanggalarang, puputra Gandul Larang, puputra ratu Sayar, puputra ratu Maja Kane puputra ratu Komara, puputra ratu Parmana, puputra lilima kang dihin ratu Galuh, kapingdo Sirputih, ping telu Sangrasa (Hal. 3) putih kapingpat Atmasuci, ping lima ratu Barahma. Anapon ratu Galuh nuli puputra tetelu, kang dihin Hariyangbanga, kapindo Ciung Manara, pintelu Maraja Sakti.

Islam ke kerajaan Pajajaran.

Anapon Hariyangbanga nuli puputra Gedengmantalarasa, puputra Gedengmesir, puputra ratu Majapahit, puputra Gedengjati, puputra Gedeng Martadipura, puputra Gedeng Sari, puputra Gedeng Kacung puputra Gedeng Mataram, puputra Gedeng Sewurudu, puputra Pangeran Sedangkamuning, Pangeran Sedangkamuning puputra Sultan Mataram, puputra Sunan Tegalwangi, puputra Sunan Mangkurat, puputra Pangeran Dipati. Anapon Ciung Manarah nuli puputra wadon, namane Purbasari mangka alaki dateng Perbu Lutung Kasarung, putrane Panggung Kancana, nuli puputra Perbu Linggahiyang puputra Perbu Linggawesyi, puputra Perbu Susuktunggal, puputra Perbu Mundingkawati, puputra Perbu Hanggalarang, puputra Perbu Siliwangi.

(Hal. 4) lihat lampiran.

Anapon Manaputih Sadereke namane Sangiyang Tunggal, nuli puputra ratu Dewata, (Hal. 5) henteu bener lalampahannane, di Timbanganten mangka pupusan bae, tatapi aja kaluwar getih satetes aja tugel rambut salembar, mangka lawas di Timbanganten henteu bener lalampahannane, mangka nuli dipupusan, dilebetken maring liyang, di Cawenekoneng, sareng ditutup maring batu, maring ka Sunan Burungbaok mangka elingan maring kangrama Perbu Siliwangi, mangka nuli ñeras bumi, mangka medal maring Durensewu, nuli huninga maring kangrama Perbu Siliwangi, kaula dipupusyan ku Dalem Pasehan, dilebetken maring liyang di Cawenekoneng.

Anapon Perbu Siliwangi mangka nuli bendu maring Dalem Pasehan, mangka disukur dalem Pasehan maring Pajajaran serta dicawisan kampaan beusi, mangka Dalem Pasehan kewuhan manah liwat langkung mangka nuli marek maring kangrama, Sunan Sabdi maring suci, mangka dileler paniisan, diwadahan maring kukuk tilu, ari pangwurukna hiji cicikeun di Leuweung tiis, hiji deui cicikeun dilawang Saketeng Pajajaran jadi cikabuyutan, hiji deui sanggakeun maring kang putra Ratu Mraja Inten Dewata, mangka paling lemutkeun, aya sawiyos-sawiyos manahe, kawon maring Dalem Pasehan.

(Hal. 6) Anapon Dalem Pasehan mangka nuli marek maring Perbu Siliwangi, aneda malih bade menak Timbanganten, mangka kadawuh Perbu Siliwangi maring Dalem Pasehan, mangka mulih dihin maring Timbanganten, mangka miwarang Batara pipitu, mapag maring Pajajaran, mangka kadawuh Perbu Siliwangi, maring Batara pipitu, aya jalan maring daratan, mudu jalan nerus bumi, krana hala wewetengan, mangka nuli nerus bumi, mangka medal maring Munjul Panembang, lajeng ka nagara Mandalapuntang dateng Sangiyang liyang, nuli balar diwasuhan di Cibeureum, mangka nuli diuningakeun maring Perbu Siliwangi, sampun babar sarta pameget, mangka ngadawuh Perbu Siliwangi, kang dados menak ing Timbanganten, mangka dileler nama Sunan Para na dipuntang, Perbu Panggung Pakuwan.

Anapon lawas di nagara Mandalapuntang nuli puputra Sunan Panten Rama Dewa, kang Sumareing nagarane Dayeuh Manggung, lan malih putrane kang sumare ing Gunung Satriya.

Anapon Sunan Dayeuh Manggung mangka nuli puputra, pameget kakalih, istri kakalih, kang (Hal. 7) dihin Sunan Darmakingking, nagarane Suniyasugih kang sumare ing muhara Cikambiri, pindo Sunan Darmalanggeng, kang sumare ing nagarane ing muhara Cipasawahan, pintelu istri, namane Tanduran Mas, mangka carogean maring Sunan Sirapanji, nagarane Pasirdeìnang, kang sumare ing Depok, Kapingpat Tanduran Niyacas, mangka carogean maring Batara Sayarig Mayak Maleer, mangka nuli puputra Sunan Rangga Lawe, nagarane Karobokan, mangka geus haan maring putra Sunan Darmakingking, ingkang sumare ing muhara Cikambiri.

Anapon Sunan Darmakingking mangka nuli puputra Sunan Kaceu, nagarane Dayeuh Handap, kang sumare ing Salemba Batawi, pindah Dalem Cicabe, kang sumare ing suci, pintelu Dalem Cibeureum, kang sumare ing Cipicung, pingpat Dalem Kandangserang, kang sumare ing pinggir Cilolohan, ping lima Dalem Kawang kang sumare ing Pagaden mangka puputra istri dianggo garwa maring Pangeran Rangga Gempol, Sumedang, nuli puputra istri awastane Nyi Ratu, dianggo garwa Raden Suranagara, ing Limbangan ka ping : nem istri dianggo garwa Sunan Rangga Lawe, sumare ing muhara (Hal. 8) Cikambiri.

Anapon Dalem Cibeureum, mangka garwaan maring putra Dalem Limbangan, mangka nuli puputra titiga, kang sumare ing Pangeurenan.

Anapon Sunan Kaceu mangka nuli puputra Dalem Demang Jayakusuma Wirapati, nagarane Sangkanluhur, kang sumare ing muhara Ciroyom. Mangka nuli puputra Dalem Demang Jayakusumah Wiradipura, nagarane Leuwikaso, kang sumare ing Sampireun, ka pindo Dalem Ariya Wiradikusumah kang sumare ing Cihaneut, Cijagra, pintelu Dalem Palrabangsa, kang sumare ing Gambira, ka pingpat Santowan Ciparai Sanjan maring Galuh jenengaken, Mas Bagus Sekarjingga diparini putra menak Galuh, Raden Sanjan, maring Paraju, diparinkeun putra dijenengkeun Sirdipeun istri, Nyi Raja. Kancana, diparinkeun maring Mas Ngabehi Jaya laksana, ing Pagerageung.

Anapon Dalem Sampireun mangka puputra Dalem Demang Ardi Wira Sutakusumah, nagarane ing Cilageni, mangka ngalih ing Sarsitu, lawas ing Sarsitu nuli pupus, kang sumare ing Pangkil. Sadereke Raden Karawitan, Dalem Asmara, (Hal. 9) liyan saking padmi, Nyi Panaka, Dalem Wargadipa, Nyi Wangsasuta, Dalem Alimuhammad, Dalem Wangsadiria, Kyai Astawangsa, Nyi Nalawangsa, Nyi Nayapada.

Anapon Dalem Pangkil, mangka nuli puputra Dalem Ardikusuma Wiranata kang sumare ing Tenjolaya, pindo Dalem Singataruna, ping telu Dalem Wiradimerta, pingpat Raden Brajayuda kang sumare ing Cihonje Banjaran, sadereke paminggir Kyai Tanufaya, Ki Entöl Citradiwangsa, Ki Candradiwangsa, Ki Sutawaringin, Ki Entöl Wirajiwa, istri Nyi Mangunsari, Nyi Hanggarasuta, NyiBadra, Ki Entöl Puspasinga, Nyi Panggung.

Anapon Dalem Tenjolaya mangka nuli puputra saking Padmi Raden Wirabumi, Raden Kusumah Nagara, Dalem Tumenggung Anggadireja, kang sumare ing Gorda, Raden Diriyamanggala, kang sumare ing Saranten, Raden Nimbang Karaton, kang sumare ing Karees putra Raden Puspakaraton, saking Cihaur, Raden Gandawangi, putra saking Santana Raden Nimbangkusumah, putra saking Galunggung, Gunung Tanjung, Raden Artanagara, Dalem Singalidra, putra saking Cangkuwang, Raden Brajakusumah (Hal. 10) putra saking Pasir Ipis, Raden Ratna, Raden Suryanagara, Raden Tunjung, Raden Panurat, Raden Bimadinata putra Raden Gandawulan, saking Maleer, Raden Prajadinata kang sumare ing Cicaheum, nuli puputra Raden Cakranagara, puputra Raden Prajadimanggala, Raden Gandanagara, Raden Gandamantri, putra Raden Karaton.

Anapon Raden Bimadinata, mangka nuli puputra Raden Paringgawangsa kalih Raden Yudaprana kang sumare ing Cirasea, pintelu Raden Ajeng.

Anapon Dalem Singataruna nuli puputra Mas Surawijaya, saking Timbanganten, mangka nuli garwaan malih Dalem Singataruna maring putra Dalem Anggayuda Cipicung, nuli puputra Mas Anggayuda, Mas Tarunamanggala, Mas Wangsadimanggala, istri Nyi Nimbangkusumah, Nyi Rajakusumah, Nyi Bandukusumah.

Anapon Dalem Wiradimerta, nuli puputra Mas Suradiparaya, Mas Jasinga, Nyi Wijayang, Raden Uyang.

Anapon Raden Brajayuda, nuli puputra Nyi Wanurat, Raden Lidranagara, Nyi Banjarputra, Nyi Ayukawangsa, saking Cibintunu, Raden Brajadiraksa, (Hal. 11) putra Nyi Ayu Kerta Wedana, saking Pameungpeuk, Mas Wiraditaruna, Nyi Wiradinata, putra saking Cikole Banjaran, Raden Brajayuda, malih puputra Nyi Sumalintang, Nyi Sumalarang, putra Raden Mantri, saking Cihaur, Raden Kembang, Raden Rajalintang, Raden Nerang, dalem Wiranagara, putra Nyi Panghulu, Raden Adikusumah, Raden Raja putri, Nyi Mangun, kang sumare ing Depok, Nyi Borna, Nyi Kertanadi, pütra saking Santana, Nyi Ditamanggala, Nyi Wisik, putra saking Buleud, Raden Wirajilja, putra Jibjadisura, Raden Sumakaraton, putra Raden Dipanagara, putra saking Lengkong.

Anapon kangjeng Dalem Tumenggung Anggadireja, kang sumare ing Gorda putra Dalem istri Cikupa, Raden Sumawaringin, tegesna Raden Bomakaraton, Raden Muhammad, putra Nyi Pamenggung asal Batuwangi, tegesna Raden Tumenggung Mantriyakusumah.

Anapon kangjeng Dalem Gorda nuli puputra Raden Demang Natapraja, Raden Praja, Raden Mantri, kangjeng Tumenggung Anggadireja, (Hal. 12) kang sumare ing Trikolot Bandung, putra Nyimas Giri saking Tanjung Singguru, Raden Banjar, Raden Bauten, Raden Saradipraja, Raden Kartanagara, Raden Brafanata, Raden Dateng, putra Nyi Panggung saking Maleer, Raden Pancanagara, putra Nyi Gandakarsa saking Parung Maleer, Raden Panca, putra Nyi Dunisah, saking Ujung, Raden Bandar putra Nyi Raja, saking Kahuripan, Raden Wangsanagara, kalih Raden Puspayuda, putra Nyi Banisah, saking Cihaurbeuti, Raden Raksadikusumah putra Nyi Malati saking Cijagra, ujang Almi, putra Nyi Raja paweri saking Ranca, Raden Brajamanggala, saking Cirengit, Raden Kartadikusumah, putra Nyi Purba saking Ciparai, mangka puputra Raden Lidranagara kalih Raden Puspadiraja putra Nyi Gandakawista saking Cipeundeui Cijagra, Raden Natadireja putra Nyi Bandura saking Pangeureunan, Raden Wayang, Raden Meden putra Nyi Panoran saking Cangkuwang, Raden Raksa, putra Nyi Pangenbah saking Kuwara Rajenu, Nyimas Giri garwa Dalem Gorda, putrana 2, sahiji Dalem Tumenggung Anggadireja duwa (Hal. Ì3) Raden Sumadirana, Raden Sumadirana puputra Raden Panumanggala sespuh, Raden Banten dianggo garwa ku Dalem Rangga Abdulrahman, Bupati gajah Palembang.

Anapon kangjeng Dalem Tumenggung Anggadireja kang sumare ing Trikolot Bandung, mangka nuli puputra Raden Cakradireja, putra Nyi Gilang saking Cikupa, Raden Adireja, putra Nyi Natagandrara saking Cikarokrok istri Raden Unen, dianggo gerha tuwan Haji; kalih Raden Ayu dianggo gerha, Raden Natasura; Raden Burey, dianggo geurha Raden Suryapraja, Raden Nimbangmantri dianggo garwa ku kangjeng Dalem Tumenggung Adikusumahgajah, kangjeng Dalem Adipati kang sumare ing Trikolot Bandung.

Anapon kanjeng Dalem Adipati kang sumare ing Trikolot Bandung, nuli puputra Raden Indranagara, Raden Awan, Raden Raksa, Raden Raksa, Raden Jaladri, Raden Surya, Raden Natareja, Raden Wangsanagara, istri Raden Mantri, Raden Raja Maryam, Raden Rajaena, Raden Rajainten, Raden Duriyas, Raden Boma, Raden Banten, Raden Banjar, kangjeng Dalem Adipati, Raden (Hal. 14) Arya Natanagara, Raden Paringgawangsa, Raden Ariya Natanagara, Raden Paringgawangsa, ngan saibu, ramane Mas Jangga.

Anapon kangjeng Dalem Adipati Wiranatakusumah, kang sumare ing Kaum Bandunggirang, mangka puputra Raden Bagus, Raden Pabut, Raden Rabut, Raden Lapi, Raden Indranagara, Raden Indradireja, Raden Natareja, Raden Kerta, Raden Panca, istrina Raden Galuh, Raden Panta, Raden Borna, Raden Oji lan Raden Patimah, Raden Meden.

Anapon kangjeng Dalem Adipati, kang sumare ing Cikakan mangka apuputra Raden Arya Angganagara, Raden Anggadireja, Raden Jayanagara, Raden Sastranagara, kangjeng Dalem Adipati, Raden Kusumahningrat, Raden Kusumahdilaga, Raden Wiradikusumah, Raden Eros, istrina, Raden Rajaparmas, Raden Sewu, Raden Rajapamerat, Raden Rajaningrat, Raden Rajamirah, Raden Moja, Raden Rajamaryam, Raden Uri, Raden Artika, Raden Artimah, Raden Lampenas, Raden Enas, Raden Artenas, pameget deui, Raden Mustarab, Raden Mustarib, Raden Anggadireja, sanggeus jadi (Hal. 15) haji, Raden Haji Mustafa, 2 Raden Sastranagara sanggeus jadi haji Raden Haji Muhammad, Gajali, aya dipulo Ambon.

Anapon kangjeng Dalem Adipati Wiranatakusumah, kangjumeneng, mangka puputra Raden Kartaningrat.

Anapon turunan saking Ranggalawe, mangka nuli puputra Ulunbaran, Ulunbasrap, putra saking Salemba Batawi, pintelu Raden Madujaya, putra saking Timbanganten, santowan Wiramanggala, kang sumare ing Cijalupang, pingpat Embah gede kang sumare ing Lebakwangi, pinglima Dalem Demang Wirakrama, Jumeneng Arya Wirakrama, nagarane Purbasana mangka ngalih maring Cilageni mangka ngali malih maring Rajadesawetan, mangka tinggal putra, kang nama Dalem Indramanggala maka ngalih malih maring Cikupa Banjaran, lan kapingdo Dalem Sacadipa, kang sumare ing Hujung, Ciparay.

Anapon Dalem Demang Wiranatakusumah di Pulo Cangkuwang, mangka nuli puputra Nyai Raden Gede, puputra Raden Jibjayuda, (Hal. 16) kang sumare ing Gulangsing, lan istri Sangiyangluwar, mangka carogeyan maring Karang tetep ing Timbanganten, kang sumare ing Munjul Suryan.

Istri Embah Gede nu sumare di Lebakwangi, apuputra Raden Jibjayuda, nu sumare di Gulangsing, puputra Raden Jibjayuda sepuh, puputra Raden Natamantri, Raden Penti, Raden Abdul Gapur.

Embah Gede puputra Raden Jibjayuda sepuh puputra istrina Raden Natamantri, dianggo garwa ku kangjeng Dalem Wiranatakusumah Parikolot puputra Raden Rajamaryam jeung Raden Ena.

Anapon Dalem Indra Manggala, nuli puputra Dalem Raksakusumah, lan kapingdo Dalem Puspawidita, pintelu Mas Bangsataruna, pingpat istri Nyi Puspanala, lima Nyi Patimah, ping nem Nyi Munara.

Anapon Dalem Raksakusumah, nuli puputra Mas Paryadiraksa, Anapon Mas Paryadiraksa nuli puputra, Raden Demang Sacanagara, Banjaran, lan istri Nyimas A won, lan Nyimas Enong, Nyimas Srane dianggo garwa Mas Wangsajibja puputra Mas Jayadipura.

(Hal. 17) Anapon Dalem Puspawidita, nuli puputra Mas Pandita, kapindo Mas Muhamad Asan, pintelu Mas Ranaadimanggala, pingpat Mas Subaping lima istri Nyimas Gandalawangon.

Anapon Mas Pandita nuli puputra Nyi Mas Larang nuli puputra Raden Panghulu Haji Abdurachman, kalih istri Embah Adiwulan.

Anapon Nyimas Gandalawangan mangka carogeyan maring Mas Wargasadana, nuli puputra Nyimas Nagakusumah, Nyimas Mayang.

Anapon Nyimas Nagakusumah carogeyan maring Raden Panghulu haji Abdurachman nuli puputra Nyimas Patimah, Raden Haji Muhammad Husen, Raden Haji Ahmad, Raden Ngabehi Paringgakusumah.

Anapon Raden Haji Muhammad Husen lan Raden Haji Ahmad, Raden Ngabehi Paringgakusumah, ibuna Nyai Raden Mojang, putrana Nyi Raden Reja, Ramana Dalem Haji anu di Citepus. Anapon Nyimas Patimah carogeyan maring Embah Abduljabarudin, nuli puputra Nyi Satipah, Nyi Jamilah, Nyi Madimah, Nyi Jaerah, Nyi Rajiyah, Agus Sahid, tuwan Haji (Hal. 18) Hasanuddin.

Anapon Raden Panghulu Muhammad Husen, nuli puputra Raden Hayat, Raden Sanusi, Raden Mastran, Raden Wirabumi.

Anapon Raden Haji Ahmad geurhaan maring Raden Bandar, nuli puputra Raden Raksa, Raden Sitihatijah, Nyimas Karciyah.

Anapon Dalem Sacadipa kang sumare ing Ujung Ciparay, mang ka nuli puputra Ngabehi Wargadiraksa, nuli puputra Ngabehi Wargaparana, kalih Mas Dipamanggala, pintelu Mas Candrajaya.

Anapon Ngabehi Wargaprana, nuli puputra RadenKandruwan Sacadipa, nuli puputra Raden Hanggadinata, Raden Wiradiguna, Raden Demang Wiranagara anu misah ibu Raden Argawijaya. Raden Demang Wiranagara, jadi Wadana Mardika, apuputra Raden Riya jeung Raden Gelar, lalakina Raden Dira, jeung Nyimas Sabaeur.

Anapon Mas Dipamanggala nuli puputra Nyimas Imbang nuli puputra Uyang Sabinah Ranajibja.

Anapon Uyang Sabinah nuli puputra Mas Indramanggala (Hal. 19) Ciparay.

Anapon Mas Candrajaya, nuli puputra Embah Hasanudin mangka geurhaan maring Nyimas Larang, nuli puputra Raden Panghulu Haji Abdurahman, kalih Embah Adiwulan.

Anapon Embah Adiwulan puputra Embah Abduljabaruddin.

Anapon Raden Hanggadinata, nuli puputra Raden Wiranagara Wadana Cimahi preman, kali Raden Wiradiraja Wadana Limbangan.

Anapon Raden Argawijaya nuli puputra Mas Natareja.

Anapon Nyimas Hadimah dianggo garwa Raden Rangga Jayanagara sepuh, nuli puputra Nyimas Sariyah puputra Raden Siti Trogong, Nyimas Hadimah mangka carogeyan malih maring Mas Rajiman, Urang Cikao, nuli puputra Mas Abdulwahab, malih Mas Sariban Halipah Cikao.

Anapon Nyimas Jamilah nuli puputra Agus Sajidin, Ambu Sanibah, lan Nyi Janamah, lan Nyi Asi.

Anapon Nyimas Jaerah nuli carogeyan maring Mas Nurkamal, nuli puputra Mas Nurkasim, Ki Murtasim, Ki Alimutahir, Nyi Salamah, Nyi Hamsiyah.

(Hal. 20) Anapon Agus Sahid, nuli puputra Mas Muhamad J alari, kalih Nyimas Ujiyah.

Anapon tuwan Haji Hasanudin, nuli puputra Mas Rambali, Mas Muhamad Idris, Mas Muhamad Usman.

Anapon Nyimas Kartiyah, nuli cârogean maring Raden Wirajibja, putra Raden Tumpang, urang Jawa wetan nuli puputra Raden Kaliwon, Nyimas Rotijah, Nyimas Ubuh, Raden Kertareja, Raden Wangsakusumah.

Anapon Raden Sitihatijah dianggo garwa Raden Patih Yudanagara, nuli puputra Raden Martanagara. Punika turunan Dalem Ariya Wiradikusumah, kang sumare ing Cihaneut Cijagra, mangka gerhaan maring Embah Maranak, mangka nuli puputra Embah Sukaresa, mangka dianggo garwa Dalem Wangsadika, kang sumare ing Gorda, mangka puputra Embah Suwastra, mangka dianggo garwa, Embah Tarunapati, sepuh, nuli puputra Embah Ratna mangka dianggo garwa Embah Yudanggapati, nuli puputra Raden Natasura sepuh, nuli puputra Raden Umas, kalih Raden Wiradikusumah sepuh.

(Hal. 21) Anapon Raden Umas mangka dianggo garwa Raden Panghulu Haji Abdullah ing Citepus, mangka nuli puputra Nyai Raden Ayu Karisah, kalih Raden Siti Pintelu Raden Ijah, pingpat Raden Muhamad, pinglima Raden Areja, Nyimas Uri, Raden Mujiyah, Mas Alani, Mas Mujiyam, ibuna Nyimas Onje, ari Raden Abdul, ibuna Raden Penti.

Anapon Nyai Raden Ayu Karisah, mangka dianggo garwa Raden Panghulu Muhamad Jelani, asal menak Sukapura, nuli puputra Raden Panghulu Ageng, Muhamad Ardi kalih Raden Haji Idrus, pintelu Raden Enten, pingpat Raden Nimbang, sadereka sarama, Raden Haji Jakarta Nyimas Anjana, Nyimas Dempo.

Anapon Embah Tarunapati anom, nuli puputra Embah Duyah. Dianggo garwa Embah Alimudin nuli puputra Nyimas Mangsen, dianggo garwa Embah Nurhain, nuli puputra Mas Naiban, Nyimas Dasi, Nyimas Layas, Mas Naidin, Mas Mudaim, Ki Markum, Ki Mutaham.

Anapon turunan Raden Paringgawangsa saking Maleer, saking Embah Yudajaya, ((Hal. 22) mangka apuputra Nyimas Rajawulan, Nyimas Rajawulan dianggo garwa Raden Demang Wiratenaja Batuwangi, nuli puputra Raden Gandawulan mangka dianggo garwa kangjeng Dalem Tanjunglaya nuli puputra Raden Bimadinata, Raden Tanjung, Raden Panurat.

Anapon Raden Bimadinata nuli puputra Raden Paringgawangsa, kalih Raden Yudaprana, kang sami sumare ing Cirasea pintelu istri namane Raden Ajeng.

Anapon Raden Paringgawangsa nuli puputra Embah yudanggapati, lan kapindo Embah Gelis lan kapintelu Embah Borna.

Anapon Embah Yudanggapati nuli puputra Embah Alimudin, lan Raden Natasura,

Anapon Embah Gelis dianggo garwa Embah Abdulkarib ing Cijalupang, nuli puputra Embah Bàgus Tanjil lan kapindo Embah Imbangsari, lan kapingtelu Embah Sata.

Anapon Embah Bagus Tanjil, nuli puputra Raden Panghulu Abdullah ing Citepus, nuli puputra Raden Ayu Karisah.

Anapon Embah Imbangsari nuli puputra Embah Matangjaya nuli puputra Embah Intang, nuli puputra (Hal. 23) Embah Darma, nuli puputra Ki Nurbain,

Anapon Embah Sata nuli puputra Mas Sarafudin nuli puputra hiji Mas Nurjatim, kapindon Mas Alimuhamad.

Anapon Mas Nurjatim nuli puputra Nyi Mas Oje, lan Embah Kaban, Ki Jasura Nyimas Oje, nuli puputra Raden Mujiyah nuli puputra Raden Tirtawijaya, kalìh Nyimas Nojang, pintelu Mas Mutarab, Embah Kaban puputra nini Eno Nyimas Rasi Enteu, Jasiyan Lurah Cangkuwang Ki Jasura puputra hiji Isjan, duwa jayani, tilu Jaeri, opat Banasih, lima lyan.

Anapon Mas Alimuhamad, nuli puputra Raden Hanapiyah, Raden Haji Ahmad, Mas Treka, Nyimas Mijah, Nyimas Utih.

Anapon Embah Borna, mangka dianggo garwa Embah Kubro, putra tuwan Haji Muhamad Saleh, ing Cijambe Manabaya, nuli puputra Embah Abdulbadarudin, kalih Nyimas Sariyem, pingtelu Nyimas Embah, pingpat Mas Nuridin.

Anapon Embah Abdulbadarudin puputra Embah Wirajangga, kalih Embah Nurmain.

(Hal. 24) Anapon Nyimas Sariyem mangka carogean maring Mas Jadirana, Mabakan di Cihelang, mangka nuli puputra Mas Jadikrama, kapindo Embah Aos, pingtilu Embah Onde, pingpat Nyimas Gandawulan mangka dianggo garwah ku kangjeng Dalem Dipati ing Trikolot Bandung, nuli puputra kangjeng Dalem Adipati ing kang sumare ing Kaum Bandung lan kapindo Raden Ariya Demang, Natanagara, lan kapingtilu Raden Paringgawangsa.

Anapon Nyimas Embong mangka nuli puputra Embah Timpuh, lan kapindo Mas Nanggadinata nuli garwaan maring Nyimas Natakusumah, ing Ciparay nuli puputra Nyimas Iyam, lan kapindo Mas Dipawijaya, kapingtelu Mas Anggadipa, kapingpat mas Dipamanggala, mangka garwaan malih maring ibu Andijah, nuli puputra malih Nyimas Andijah, Nyi Sayimah, Nyi Saliyem.

Anapon Mas Nuridin nuli puputra Kartabangsa Kartadisura Nyi Manem, Nyi Dewok.

Anapon Mas Dipawijaya, mangka gerhaan maring Uyang Sabinah urang Hujung Nuli (Hal. 25) puputra Mas Indramanggala, mangka gerhaan malih maring Nyi Mainem nuli puputra Mas Alidin, Mas Abutaham Ki Taruna, Nyi Sainten, Ki Indrawijaya, Ki Muhiyam, Nyi Nenten.

Anapon Nyimas Andijah, nuli puputra Mas Nanggapraja, Nyi Nasimah, Nyi Iyem.

Anapon turunan saking Raden Yudaprana, saderek Raden Paringgawangsa, sami sumare ing Ciraseya, Raden Yudaprana nuli puputra Raden Ketadikusumah sumare ing pasareyan Ciparay mangka garwaan maring Embah Madu, asal Cihaneut Cijagra, nuli puputra Raden Kanduruan, Yudapura sepuh, lan kapindo Raden Jadipa, sami sumare ing Ciparay, mangka garwaan malih maring Embah Numbanglayang urang kahuripan, nuli puputra Raden Lidradipa sumare ing Ciapus Banjaran lan kapindo istri Embahpandiwulan, sumare ing Ciparay.

Anapon Raden Kandruwan nuli puputra Raden Martakusumah lan kapindo Raden Rajakusumah, pintelu Raden Yudaprana Anom, pingpat Raden Depakusumah, pinglima Raden Rajakraton.

(Hal. 26) Anapon Raden Jadipa, nuli puputra Mas Dipakarta, kapindo Nyimas Mayang, kapintelu Nyi Mas Natakalimah. Anapon Embah Pandiwulan dianggo garwa maring Embah Natadikrama asal Kahuripan, nuli puputra Mas Indrajaya, kapindo Mas Wangsapraja, pingtelu Mas Cakradipura, pingpat Raden Jaksa Raksanggapraja.

Anapon Raden Martakusumah, nuli puputra Raden Martakusumah anom nuli puputra Raden Riya mangka dianggo garwa Raden Naya, urang Karawang, nuli puputra Raden Oceu kalih Raden Wariya, pameget Raden Armu, Raden Itung.

Anapon Raden Yudaprana anom, garwana Nyimas Mayang, nuli puputra Nyimas Way ah, Raden Yudaprana mangka garwaan malih maring Nyimas Nagalintang, urang Rajadesa, nuli puputra Mas Lidra Mas Lidra deui, Nyimas Dema, Nyimas Apun.

Anapon Raden Dipakusumah nuli puputra uyang Ika puputra Uyang Awisah, puputra Raden Kertapura, kalih Raden Dipakusumah Raden Yudakusumak Raden (Hal. 27) Surakusumah, Ijan.

Anapon Raden Rajakraton dianggo garwa kangjeng Dalem sumare hing Kaum dayeuh Bandung, nuli puputra Raden Rajamaryam, kalih Raden Rajaena dianggo garwa Raden Rangga. Jayanagara, nuli puputra Raden Raja dianggo garwa kangjeng Dalem kang sumare ing Cikakak, nuli puputra Raden Jayanagara Kumetir.

Anapon Raden Rajamaryam nuli puputra Raden Wiratmaka, anapon Nyimas Wayah dianggo garwa Mas Ngabehi Astamanggala, Panyawungan, nuli puputra Mas Yuda, mangka nuli pepegatan, mangka Nyimas Wayah nuli dianggo garwa Raden Suriyadikusumah, nuli puputra Raden Basta, kalih Uyang Kiper, pintelu Uyang Mori, Mas Suriya.

Anapon Raden Basta dianggo garwa Raden Surakusumah nuli puputra Raden Surakusumah anom puputra Raden Suryasorang.

Anapon Uyang Kiper dianggo garwa Mas Jibja nuli puputra Raden Purba puputra Raden (Hal. 28) Gilang dianggo garwa Raden Wirareja.

Anapon Uyang Mori dianggo garwa, Raden Kandruwan Yudapura Anom, nuli puputra Raden Kartanagara kalih Nyimas Napiyah.

Anapon Mas Sariya nuli puputra, Nyimas Baena.

Anapon Nyimas Dipakerta puputra Ki Nurkanjan, Nyimas Bandiyah.

Anapon Nyimas Natakalimah mangka dianggo garwa Kyai Bagus Jqmidin putu tuwan Haji Muhamad Saleh, kang sumare ing Cijambe Manabaya, nuli puputra Mas Dipakerta, kalih Nyimas Natapranten, pintelu Nyimas Natakusumah, pingpat Nyimas Rajanimah, pinglima Nyimas Ayu, pingnem Nyimas Ajeng.

Anapon Mas Dipakerta nuli puputra Ki Natamanggala, lan Amba Anten Nyi Lasih lan Nyi Ame, lan Laimah.

Anapon Nyimas Nataparanten, carogean maring Mas Indrajaya, nuli puputra Raden Kandruwan Yudapura, anom kalih Nyimas Apun pingtelu Mas Indrapraja, pingpat Nyimas Borna, pinglima Nyimas Mante pingnem (Hal. 29) Mas Natadikrama, pitu Nyimas A wit.

Anapon Nyimas Natakusumah mangka carogean maring Mas Nanggadinata, nuli puputra Mas Dipawijaya, kalih Mas Hanggadipa, pintelu Mas Dipamanggala, pingpat Nyi lyam,

Anapon Nyimas Rajaniniah, carogena Mas Dira, urang Cianjur, nuli puputra Mas Diramanggala puputra Mas Dirapraja, Mas Nurpan, Nyi Mas Gandik, Nyi Kainem, lan Nyi Saeni, Gunungleutik.

Anapon Nyimas Ajeng carogena Mas Wangsapraja, garwaan malih nuli puputra Mas Wangsadipura, Mas Wangsadikrama, Mas Naradipa, lan Nyimas Sodong.

Anapon Nyimas Ayu carogena Raden Jaksagapraja, nuli puputra Nyimas Tirem nuli pupus.

Anapon Nyimas Apon dianggo garwa Mas Nurkasan nuli puputra Mas Arwiyan, Mas Mukajah, Jaksa Raksanggapraja, Mas Oriyan, Mas Nurkasan, Mas Astajibja, Mas Indrajibja, Nyimas Dasi, Nyimas Manti, Nyimas Hinglar, Nyimas Ayu, Nyimas Andewi.

(Hal. 30) Anapon Mas Indrapraja, mangka nuli puputra Nyimas Wangi, nuli puputra Nyimas Resik.

Anapon Nyimas Borna mangka dianggo garwa maring Mas Naradipa nuli puputra Mas Narajibja, mangka carogean malih maring Mas Kramaniti nuli puputra malih Nyimas Raki, Mas Mutasam.

Anapon Mas Natadidikrama garwaan maring Nyimas Kabibah, nuli puputra Mas Lawar, Nyimas Salmah.

Punika turunan saking wetan, Carbon, mangka anapon Dalem Jambudipa, nuli puputra Dalem Sìngadita nuli puputra Dalem Wangsadika, kang sumare ing Gorda, lan kapingdo, Dalem Haji Muhamad Saleh, kang sumare ing Cijambe, Manabaya lan kapingtelu, istri, dianggo garwa ku Dalem Tenjolaya.

Anapon Dalem Wangsadika garwaan maring Embah Sukaresa, nuli puputra Embah Suwastra mangka dianggo garwaan maring Embah Tarunapati sepuh, nuli puputra Embah Ratna, lan kapindo Embah Tarunapati, lan kapingtelu Embah Bangsakusumah.

(Hal. 31) Anapon Dalem Muhamad Saleh nuli garwaan maring putra Dalem Haji Sewasagara, Tanjungkamuning jenengannana Nyimas Aminah nuli puputra Embah Kubra, lan kapingdo Embah Deom, lan kapintelu Embah Reja, lan kapingpat Embah Asmaran, kang sumare sami kangrama ing Cijambe, mangka Dalem Haji Muhamad Saleh, nuli garwaan malih maring putra Pangeran Rangga Gempol, Sumedang jenengannana Raden Raja Paremas, mangka nuli puputra malih Raden Patih Wangsadiprana, lan kapindo istri jenengannana Embah Nerang mangka dianggo garwa Embah Abdurachman, asal Sumedang, nuli puputra Embah Dirawulan, Embah Sariwulan, Embah Bagus Taim, Embah Bagus Kapiludin, Embah Bagus Jamidin.

Anapon Embah Dirawulan dianggo garwa Embah Candramanggala urang Parakan Muncang, nuli puputra Embah Gambir, dianggo garwa Embah Candradiraksa, nuli puputra Embah Nurasan, kalih Embah Mungkes.

Anapon Embah Sariwulan, dianggo garwa Embah Warkapraja (Hal. 32) nuli puputra Embah Warkadimaja, kalih, Embah Puranangga, kapingtelu Embah Unah.

Anapon Embah Bagus Jamidin nuli garwaan maring Embah Natakalimah urang Ciparay, nuli puputra Mas Dipakerta, kalih Nyimas Nataparanten, pintelu Nyimas Natakusumah, pingpat Nyimas Ayu, pinglima Nyimas Ajeng pingnem Nyimas Rajanimah.

Anapon Embah Wargadimaja, nuli puputra Mas Wargamanggaia, di Cisindang, kapindo Ki Nuripah, kapintelu Nyimas Santi, nuli puputra Ki Alìban.

Punika turunan saking Cirebon, anapon Pangeran Dipati Anom nuli puputra Pangeran Arya Adiwijaya puputra Pangeran Amir puputra tuwan Seh Kamaludin, Banjaran, puputra Raden Kiyai Kamaludin Tanjung puputra Kyai Nurpekih puputra Nyimas Pujalan, kapindo Embah Akinaludin, lan pintelu Embah Nursamin, pingpat Embah Jarudin.

Anapon Nyimas Puja, nuli puputra Mas Nurkasan, puputra Raden Ratnanagara puputra Raden Sewu puputra (Hal 33) Raden Rajajuwita kalih Raden Enjam, pintelu Raden Ardireja. Raden Ardireja sanggeus munggah haji, Raden Haji Muhamad Jelani jadi Panghulu di Bandung.

Anapon Embah Nursamin nuli puputra Nyimas Aliyah puputra Nyimas Amas puputra tuwan haji Muhamad Rais.

Anapon Embah Jarudin, nuli puputra Kyai Nurwajah puputra Ki Hasan Ali, Hasan Muhji.

Punika turunan saking kangjeng Nabi Muhamad, Salelehu alaihi wasalam nuli puputra Sayidinna Dewi Patimah carogena Sayidinna Alimurtalo, nuli puputra Sayidina Husen, puputra Jena! Abidin puputra Ratu Banisrail, puputra Ratu Raja Duta, puputra Raja Mesir, puputra Sunan Gunung Jati, puputra Ratu Petak, puputra Pangeran Seda Balingbing, puputra Pangeran Panjunan, puputra Pangeran Kamalekeran, puputra Pangeran Geusan Ulun, puputra Pangeran Rangga Gede, puputra Pangeran Rangga Gempol, kalih Raden Manggadasta.

Anapon Raden Hanggadasta puputra Raden Hanggadinata, puputra (Hal. 34) Nyi Raden Sawo, puputra Mas Muhamad, puputra Raden Kalipah Abdurrahim, lan Mas Ambrun, Mas Ake, Mas Sabit, Nyimas Ruwiyan, lan Kyai Halipah Abdullah Siraj, Mas Hengkong, Mas Armin, Nyimas Jasimah, Nyimas Hengkong, Nyimas Salbi Kyahi Abdurrahim, Nyimas Onon.

Anapon Pangeran Rangga Gempol puputra Dalem Wirakara kalih Raden Rajaparemas.

Anapon Dalem Wirakara, puputra Raden Wirakara, puputra Nyimas Nursiyah puputra Nyimas Tibun, puputra Nyimas A wang, puputra Mas A bdulmanap.

Anapon Raden Rajaparemas dianggo garwa Dalem Haji Muhamad Saleh ing Cijambe Manabaya, nuli puputra Raden Patih Wangsadiprana kalih istri jenengannana Embah Nerang, dianggo garwa Embah Abdurahman, nuli puputra Embah Dirawulan, Embah Sariwulan, Embah Bagus Taim, Embah Bagus Kapiludin, Embah Bagus Jamidin.

Anapon Embah Bagus Jamidin geurhana Embah Natakalimah, urang Ciparay, nuli puputra Mas Dipakerta, Nyimas Nataparanten, Nyimas Natakusumah, Nyimas Rajanimah, Nyimas Ayu Nyimas Ajeng.

Anapon Nyimas Nataparanten, (Hal. 35) puputra Nyimas Apun, puputra Nyimas Dasi, puputra Mas A bdulhaji.

Anapon Nyimas Natakusumah, puputra Mas Dipawijaya, puputra Mas Alidin.

Punika caritakaken ingkang kagungan bumi Ukur nu calik di Gunung Sembung nyungcung Tegalpadung, putrana jenengannana, puputra lilima, siji Sunan Kaneing Jaya, kapindo Sangiyang Mandiri, pintelu Sangiyang Pagerpageuh calikna di Gunung Pangrango, kapingpat Sunan Kasihraja calikna di Nusaklapa, pinglima Sangiyang Dampal pasareyannana di Gunung Kolotok, eta nu dingaranan Islamkawak.

Sangiyang Dampal puputra istri jenengannana Dewi Mereti. Kauninga ku Ratu Perbu Lingga Pakuwan, dipundut ka Pajajaran dianggo gerha, ari calikna diluhur papanggungan, sanggeusna kitu Dewi Mereti, katuran peling ka caroge, haturannana Sang Dewi Mereti eh gusti ayeuna, ulah kajongjonan, krana mangke sakedap, deui, rek aya nu sumping ka tanah Jawa, piwarangan Sultan Arab, rek nyelamkeun ka Nusa Jawa, ari anu dipiwarang ti Arab jenengannana Keyan Santang, sarta ayeuna (Hal. 36) ratu kuda miwarang, ka Cirebon, ka para makdum, dalapan ka salapan Gunung Jati, nunten Ratu Lingga Pakuwan, niwarang ka Cirebon, ari anu dipiwarang jenengannana Ki Palikangora, sarta Ki Palìkangora, mawa garwa duwa, ari jenengannana geureuhana, hiji Dewi Bancanglarangan, kaduwa Dewi Tejawangi, ari baturna jalma ping seket, ti Pajajaran, nunten lajeng budal Ki Palikangora, ti Pajajaran, ari dongkap tegalluwar, beneran tega! Haur pancuh pada liren sadaya, kacariyos garwana Ki Palikangora, Dewi Bancanglarangan, sasauran sareng maruna Dewi Tejawangi, pokna Dewi Boncanglarangan kawula ayeuna geus meunang duwa bulan henteu ngaraos hel, pokna deui Dewi Tejawangi kaula oge nyakitu geus meunang opat bulan henteu ngaraos hel. Tapi ayeuna kaula aya nya kahayang kabina-bina wani hayang kop bae, hayang neda lauk uncal anyar, nunten kadangu, ku carogena Ki Palikangora, yen garwa hayang lauk uncal anyar, pokna Ki Palikangora gampang hayang kitu bae mah mangke kaula rek negai, lajeng Ki Palikangora negai, moro uncai sarta tunggang kuda, uiesna rejeg, nunten manggih uncal putih, tandukna emas (Hal. 37) lajeng diburu kawetan jlog nepi ka Cibeusi nanjak ka Bukit jariyan mudun ngetan jlog ka Cikepuh tuluy mentas ka Ragas asup ka leuweung Ragas, nunten nepi ka leuweung eta uncal henteu katingal leungit, leungit uncal beh aya istri ayu kabinabina dijero leuweung sarta eukeur ninun dina papanggungan, tuluy nyaur eta istri pokna naha bet aya manusa los ka diyeu, nahaon anu di seja, ari pokna Ki Palikahora kaula awitna aya anu diburu, uncal putih tandukna emas, abusna ka diyeu, ari ayeuna leungit, sanggeusna kitu saur eta istri, eta uncal mowal beunang, sabab cocowan kaula jeung na deui kaula hayang mariksa kasampeyan anu matak jol ka diyeu kumaha asalnya, sarta sampeyan urang mana. Ari pokna ki Palikahora kaula urang Pajajaran ngaran kaula ki Palikangora, (Hal. 38) sanggeus kituh ki Palikangora nanya deui ka eta istri, ari sampeyan anu matak aya di diyeu, saha sampeyan nya jenengan, Pokna istri ari hayang uninga di kaula ngaran kaula Dewi Anjani ratuning Siluman Siluman, kaula nu ngaraksa lembu, sapi, kidang manjangan kaula pisan anu nganyahokeun, Sanggesna kitu kaburu burit ki Palikangora ges wanci sareupna, katanggungan pulang tuluy bae naek ka luhur papanggungan, sarta kudanapun Rajeg, di cangcang di kolong papanggungan, ari saur Dewi Anjani, ayeuna sampeyan geura mulih geus burit ulah suwe-suwe di diyeu. pokna ki Palikangora, kaula mowal pulang ayeuna mananten terang rila manah sampeyan sarta di tampi rek rarabi bae ka sampeyan. Ari wangsullannana Dewianjani hade pisan, tetapi sampeyan kudu daek (Hal. 39) satabeat jeung kaula sabab kaulamah Siluman Sileman, sarta kaula haturan peling ka sampeyan, ari hangkat hangkatan poma ulah sok nyoreyang ka tukang, matak camah pangartos, sanggeus kitu tuluy ki Palikangora sarta nurut saujarna Dewi anjani, sarta tuluy jadi laki rabi, jadi Siluman di leuweung Ragas. Lawas lawas kagungan putra jenengannana ki Lembu parang puputra ki Ngabehi Tanda anom, Tanda anom puputra Ditapraja puputra Ditapraja deui puputra ki Ngabehi Wirareja puputra Wirareja deui puputra eta Manabaya, Mana aya cacah opat puluh nyaeta.

Kacaturkeun garwana ki Palikangora sami pada babar kabeh, duwanana di Haur pancaek, Dewi bancanglarangan putrana pameget, Dewi Tejawangi putrana istri. Ari anu dianggo nyem’our pucuk beunying kana eta murang kalih (Hal. 40) numatak aya ngaran lembur Cibeunying, ari geus kitu baturna pada nareyangan cai manggih parungpung kayu lawa di jerona di eusi cai, tuluy diola dipake nyiraman eta murang kalih duwanana, mana aya ngaran cai Cipoeng-poeng, Cikiley nya eta sasakalana putrana ki Palikangora di pedalkeun.

Kacatur sanggeus babar antara tujuh powe tujuh peuting di Haur pancuh tuluy eta baturna pada tatanya pokna di mana aya padukuhan gede anu ngeunah peta-petana, ari pokna anu ditanya jalma anu ngaliwat di jalan-jalan aya lembur anu gede sarta ngeunah petana di padukuhan papak serang pernahna kidul, nunten pada bubar, numentas ngawo jeung baturna kabeh jalma nuseket sarta eta numentas ngawo pada di jali duwanana, di papayang (Hal. 41) ku jalma nu seket teya, mulane aya cai Cikamayang, sakalane dipapayang istri duwa ngalih ti Haurpancuh, sejana rek henggon di Papak serang, ari geus nepi ka padukuhan Papak serang, tuluy pamitan ka peryayi, ka patinggi Papak serang, yen kaula ayeuna datang ka diyeu lamun aya rilah sampeyan, kaula seja rek neda enggon, pokna prayayi sarawuh patinggi sumangga pisan rek kersa henggon mah sarta sukur pisan pikaturreun kaula, sanggeusna henggon di Papak serang heubeul-heubeul pada pirhatin upaya pada nyariyeun imah, bale kabeh jalrna seket teya, sarta juragannana, geus kagungan bumi di Papak serang.

Kacatur putrana Dewi Bancang larangan nu pameget sareng putrana Dewi Tejawangi, istri lawas henggeus pada ageng mariksakeun rama kaibuna eta murangkaiih anu duwa (Hal. 42) wangsulian ibuna eh Utun Infi perkara mariksakeun rama maneh mangsa ayeuna, henteu aya leungit, teu nyaho ka mana pilosyeunnana ngan leungit bae, heunteu puguh purugna, ari asalnamah negal, tepi ka ayeuna heunteu sumping deui rama maneh. Sanggeus dihaturanan sakitu ku ibuna eta murangkaiih pada pirhatin isiri pameget lajeng pada tatapa meunang tujuh tahun tujuh bulan, meunang ilham, sowara lan katingalan, saujare, sowara lamun maneh hayang papanggih jeung bapa maneh kudu nutugkeun tatapa di Pabuntelan. Tuluy pada tarapa deui di Pabuntelan satutugna tapa meunang deui ilham sawara tan katingalan, saujare sawara perkara bapa maneh ayana ayeuna ai leuweung Ragas sarta asup Siluman gerwaan ka Dewi anjani ratu ning Siluman (Hal. 43) Sileman, nunganyahokeun Lembu, sapi, kidang, manjangan, di dinya nya bapa maneh ayeuna, ari ayeuna maneh dipaparinnana nu lalaki dingaranan ki Buyut lembu alas, anu istri dingaranan nyi Pucuk umum, sarta manehna dipernahkeun henggon di Ranea ucing besuk ari geus genah dingaranan Gegerhanjuwang, sanggeus kitu eta murangkaiih anu duwa pada lajeng mulih ti Pabuntelan ka Papak serang, haturkeun sapiwuruk sawara tan katingalan, papayan ti wiwitan nepi kawekasan haturanana ka ibuna, nunten lajeng budal, ngalih ka Ranea ucing, ari geus kitu lawas-lawas ki Lembu alas kagungan putra nenem nu sepuh jenengannana ki Kahiyangan ing Ukur Banjaran, kaduwa Santowan Manggahang, katilu Santowan Cimuncang ka opat Santowan Cikawung, kalima Santowan Ukur Pasir panjang Sukarisi, (Hal. 44) kapingnem Lanang mastra ing Ukur biru Hujung brung.

Anapon lawas-lawas ki Lembu alas pada duwe akal ngala kidang manjangan, pada naregal sarta pada naraheun bacang tinjajiret lawas-lawas kabentarakeun kauninga ku Perbu Lingga Pakuwan, ratu pajajaran yen mashur bisa ngala lauk, ki Lembu alas nunten di timbalan ku Perbu Lingga pakuwan, ayeuna ki Lembu alas kudu jadi tukang ngala lauk uncal atawa lauk cai, ing dalem tilu bulan sakali seba eta lauk ka Pajajaran kitu timbalan ratu ka ki Lembu alas. Haturan ki Lembu alas sumangga nun, sanggeusna didawuhan kitu lajeng mulang ka Gegerhanjuwang ki Lembu alas.

Kacatur Perbu Lingga pakuwan kagungan putra pameget ki Ratu Werulìnggar maya, putra sawargaloka (Hal. 45) ing mangsa kang rama dohor eta putra nungaran.

Uyang Eukeu naek kana taraje nanggeuh di tengah bumi, tuluy kana pangeret ari geus nepi naekna kana pangeret, tuluy kahampangan niba kana pangkon rama, kahainpangannana, Nunten Sang Perbu Linggapakuwan bendu langkung benduna ka putra, timbalannana sanajan anak oge ana garang lampahna henteu patut mupakat kudu bae diketok krana lampahna ala, sarta nyaur gulang-gulang tukang ketok yen iyeu anak aing kudu diketok krana lampahna ala henteu mupakat; ari gulang-gulang pada mikiran jeung baturna, Eh batur mangsa iyeu sagalak-galakking macan, mohal nyatu anak, ari geus kitu tuluy dibawa ku gulanggulang kana pangetokan, tuluy dituturkeun ku uwana dicokot ku uwana di asupkeun kana liyang iwung bitung, tuluy dipiwarang nerus bumi.

(Hal. 46) Uyang Eukeu ku uwana barang nepi ka setengah nerus bumi aya nu nyaur sajeroning bumi, saha ngaran maneh? pokna Uyang Eukeu ngaran kaula. Ari geus kitu eta numariksa aya saurna, ayeuna maneh ku aing diganti ngaran kudu Uyang ngalaga. Pokna Uyang ngalaga kaula. tarima tuluy kebat nerus bumi barang nepi kasakalereun Gunung Geulis kersana rek bijil di dinya kaluwar barang rek jol aya nu nyaur eh maneh ulah waka bijil di dinya kudu ditu di kulon mana ayeuna aya ngaran Gunung Munjul nyaeta sakala Uyang ngalaga rek bijil di dinya. Ari geus kitu tuluy ngulon nerus bumina, ari nepi ka Parung mahung di dinya bijil Uyang ngalaga, di malem Senen wanci subuh.

Ari geus kitu bareng kacatur ki Lembu alas pareng liwat rek karsana negai ka Kulalet barang ningali ki Lembu alas ka kidul wetan kaget (Hal. 47) aya jalma diyuk dina batu sarta murangkaiih mancur cahyana, tuluy disamperkeun ku ki Lembu alas sarta dipariksa eta murangkaiih nu calik dina batu, pokna murangkaiih, kaula urang Pajajaran ngaran kaula Uyang ngalaga putra Perbu Linggapakuwan Ratu Pajajaran, mula kaula aya di dinya asalna aya bebendon rarna kaula dipiwarang diketok saking na tukang tukang ketok welaseun ka awak kaula, tuluy kaula diasupkeun kana liyang iwung bitung, tuluy kaula neras bumi kitu petana kaula numatak aya di diyeu, pokna ki Lembu alas lamun kitu petana mah’ daek kaula ngarawatan. Nunten ki Lembu alas tuluy dicandak eta murangkaiih tuluy dicandak tunggung kuda, dicandak ka Gegerhanjuwang, lawas-lawas ki Lembu alas disaur ka Pajajaran ku Perbu Lingga pakuwan sarta (Hal. 48) piwarangan nyaur ti Pajajaran, Nunten sumping ki Lembu alus ka Pajajaran sadaya jeung perputra kabeh tuluy marek ka ratu, ki Lembu alas, ari timbalan ratu eh ayeuna Lembu alas disaur soteh ka diyeu aing rek nyiyen ngadegkeun Bopati di tanah ukur, tapi anak maneh kabeh nugenep henteu aya nupatut dijenengkeun Bopati, ngan aya anak maneh anu pulung teya mana ayeuna. Haturannana ki Lembu alas, nun aya eta anu diyuk di handap, timbalannana Ratu saur sina diyuk di luhur, sanggeusna diyuk di luhur tuluy aya timbalan ratu ayeuna maneh ku aing dikarsakeun jadi menak di tanah Ukur hadeg Bupati, sanggeusna kitu tuluy Perbu Lingga Pakuwan mundut duhurg sarta nyaur gulang-gulang iyeu keris bawa ka pandai domas kudu dingaranan ku panday domas iyeu keris. (Hal. 49) Tuluy gulang-gulang ka panday domas serta mawa keris timbalan kudu dingaranan ari haturannana pun panday domas, henteu kaduga kalangkung ajrih hanggur suka di teuk-teuk beuheung bae, henteu katimu pingaraneunnana eta duhung, kitu unjukkannana pun panday domas, ari geus kitu lajeng bae dijenengannana ku manten ku Perbu Lingga pakuwan, eta keris dijenenganan pun Ragenda, sarta dipaparinkeun ka Uyang Mantaraja, dijenengkeun menak Bupati Ukur, turun tumurun ka anak putuna, sarta nu ngaraksa eta keris hade gorengna iyeu anakna ki Lembu alas pang sepuhna ngarana ki Kahiyangan, bareng kersa dijenengkeun ku Perbu Lingga pakuwan, ki Kahiyangan jadi pangatikna, Bupati tanah Ukur, tapi sakola harita Uyang Mantaraja rada mogog tacan aya (Hal. 50) wangsulannana ka kersa ka hanteu dijadikeun Bupati di tanah Ukur sanggeusna kitu Uyang Mantaraja lajeng mulih ka tegal luwar, urang menta saksi ka Gunungwayang ka Guriyang dalapan henteu kacatur di jalana jol sumping ka Tega) luwar, Uyang Mantaraja sareng ki Lembu alas sareng putra-putrana sadaya. Sinigeug geus meunang tilu powe tilu peuting, sumpingna ti Pajajaran ka Tegal luwar, tuluy marek ka Gunung wayang nepangan Guriyng dalapan, hatur uninga yen kaula neda saksi dijenengkeun ku Perbu Lingga pakuwan, di Pajajaran dikersakeun Bupati tanah Ukur, ari kaula rada mogog hayang dipayunan ku Guriyang dalapan, Ari saur para Guriyang kumaha kersa sampeyan bae, Arya, Tumenggung, atawa Dipati, kahayang gurnita disebut ari saur (Hal. 51) Uyang Mantaraja ka pra Guriyang sadaya paneda hayang nu nyebut ka kaula kudu Perbu Pandaan Ukur lajeng jumeneng Bupati di tanah Ukur sarta ngadamel nagara di Tegal mantri di kali Cimumul heuyeuk.

Kala jumeneng Bupati Pandaan ukur lawas-lawas kagungan putra pamegeut jenengannana Raden Wangsanata, lawas-lawas Perbu Pandaan ukur lajeng seda sumare di Manggahang, kagentos ku putra Raden Wangsanata jumeneng Bupati Ukur sarta kasebat Dalem Dipati agung hareh jadi Wedana Bupati, dalapan ari hiji-hijina, hiji Ukur Maraja, kapindo Ukur Pasirpanjang, katilu Ukur Biru, kaopat Ukur biru deui, kalima Ukur Crugagung kahuripan, kagenep Ukur Manabaya, katujuh Ukur sagala herang, kadalapan Ukur Krawang, sakitu ngarehna reyana nukasebut (Hal. 52) Ukur. sinigeg.

Kacatur deui nagara Pajajaran, silep mangka Perbu Gurugantangan eta Dewi Meriti dingaranan Ratu Ibu mulih ka Pabuntelan karasana, Sangiyang Dampal dipaparinkeun ka kiyahi Dipati agung, papasihan Sangiyang Dampal kagungan putra istri, haturannana Sangiyang Dampal enya gaduh anak tapi rangdane Prabu Lingga pakuwan, tuluy carogeyan ka putra Sangiyang Jampang, sanggeusna kitu Dalem Dipati agung kalih Prabu sanga Dipati Batulayang pinglima Sunan Ranggalawe Timbanganten, sanggeus manjing agama Islam sami malebet guru ka Cirebon ka Sunan Gunung Jati, kang putra Raden Wangsanata kalih Raden Saradita hangkat ka Cirebon pada manjing guru, sanggeusna kitu Dalem Dipati agung dipariksa ku Sunan Gunung Jati, (Hal. 53) he Dipati agung boga wasiyat keris ti Pajajaran haturannana Dalem Dipati agung, sumuhun enya gaduh wasiyat keris paparin ti Pajajaran ari jenengannana pun Bagene pangandika kangjeng Susunan Gunung Jati, sukur mangka hade ngaraksana bae, bade turunkeuneun ka anak putu maneh, sanggeusna kitu kabeh pada diparanjingan elmu, nu satuhu, ku Sunan Gunung Jati, sanggeusna kitu haturan deui kiyahi Dipati agung, kaula nyanggakeun anak pun Sarayadita, kalih pun Sarayadireja, kaula tilar aneda diwuruk ngaji. Pangandika Sunan Gunung Jati iya becik. Sanggeusna kitu eta Bupati nu tilu lajeng pada mulih ka nagara Tegal Mantri, sanggeusna jumeneng di nagara Ukur puputra istri namana nyai Arya Gede dipundut ku kangjeng Sultan Cirebon dados garwana Panembahan Girilaya, (Hal. 54) kapindo Demang Gede carogeyan Demang Sahung Gantang Sukapura kapintelu nyimas ngabehi carogeyan ka Arya Wiradireja, Jatilaksana kapingpatna Raden Dewi Ukur carogeyan ka Arya Kusumah Wiradipura pakuburannana di Sampireun. Sanggeusna kitu Dalem Saryadirega, Dalem Saryadita dijurung mulih ku kangjeng Sunan Gunung Jati serta mawa serat jeung dipaparin jiyad saanak putuna, Sariyadirega muga-muga wong ahli sadaya turun tumurun mugiya dadi Pangulu di tanah Ukur. Nunten sajumenengna Dalem Saryadita, kacatur aya titiyang alim buina ti Krawang dialap mantu ku Dalem Saryadita, sarta di gantos panjenengan ku mantu Embah tuwan Kahir puputra Embah tuwan Sukasari puputra Embah Usen puputra Embah Abdul Jamudin puputra Embah Kyahi Sakib (Hal. 55) kapindo Embah kiyai Rakmadin kati kiyai Akman kaopat kiyai Bagus Nasir turun datang kiyai Nuryamin, turun dateng Embah Buntari, turun datang kiyahi Marjan turun datang kiyahi Mas Buchari, turun dateng Mas Muhamad Abukari, kang dados Rangga Wedana district Ciparay, dadi Raden Rangga Muhamad Abukari Wedana Ciparay nuli pupus sumare di pasareyan Ciparay.

Punika turunan saking Perbu Siliwangi, Anapon Perbu Su liwangi mangka ngalap garwa maring Raja mantri, sederekke Perbu Taji Malela menak Sumedang larang, kang alinggih hing Suka mantri, mangka nuli puputra Perbu Guru Gantangan puputra Perbu Lingga pakuwan puputra Pandaan Ukur Puputra Dalem Dipati Agung puputra Dalem Sarayadirega; kalih Dalem Sarayadita Anapon Dalem Sarayadirega (Hal. 56) puputra Dalem Nayadirega kang sumare ing Lemah Luhur Hujung Brung wetan, lan kapindo Dalem Sarayadirega sumare ing Pabuntelan, Anapon Dalem Nayadirega nuli puputra Dalem Haji Abdulmanap sumare ing Mahkmud, lan kapindo Dalem Haji Sewasagara kang sumare ing Tanjungkamuning, Anapon Dalem Haji Sewasagara nuli puputra Tuwan Seh Abdul patah ing Tanjung singhuru lan histri nyimas Alip lan kapintelu nyimas Aminah, mangka dianggo garwa Eyang Nagara nuli puputra Embah Hatib Nurhanipah nuli pepegatan Eyang Nagara, mangka nuli carogeyan malih nyimas aminah maring Dalem Haji Muhammad Saleh pakuburanana ing Cijambe Manabaya nuli puputra Embah Kubra, lan kapindo Embah Deyang, lan Embah Reja, lan kapingpat Embah Asmaran sami kangrama sumare ing Manabaya Dukuh (Hal. 57) Cijambe, Anapon Embah Nurhanipah, garwaan maring Raden Bangsakusumah nuli puputra Uyang Kilah carogeyan maring Raden Kiyahi Kamaludin, nuli puputra Embah Nurpakih, puputra Embah Achmaludin, lan kapindo Embah Nursamin, pintelu Embah Jarudin, pinpat nyimas Puja puputra Mas Nurhasan puputra Raden Ratnanagara puputra Raden Sewu puputra Raden Raja Juwita. kalih Raden Enjam, pintelu Raden Ardireja. Anapon nyimas Alip mangka carogeyan maring Santowan Wirapati ing Condong, mangka nuli puputra Dalem Puger puputra Dalem Manglid puputra Dalem Pedes puputra Raden Suradipraja mangka ngalap garwa maring Raden Komara Inten Gajah Palembang nuli puputra Raden Jakakusumah Raden Svtdipraja. Embah Dalem Parayasuta geureuhana Embah Ajeng Ayu Pugan putra Raden (Hal. 58) Puspanala, asal Sumedang Dalem Prayasuta apuputra nyimas Tarayong dianggo geureuha ku Dalem Tumenggung Hanggadireja Trikolot duwa nyimas Bonte puputra nyai Ariyasoliyah puputra Dalem Tumenggung Aom Kancra puputra Raden Rangga Patih Cianjur, duwa Raden Putrì, tilu Aom Raja, putra nyimas Bonte deui, Embah Arsadinata, Dalem Tenjalaya puputra Raden Kembang puputra Raden Sangsri puputra Raden Weresa puputra Raden Sastra puputra Raden Tawili.

Dalem Demang Arya Kusumah Wiradipura kang sumare ing Sampireun hangngalap garwa dateng putra kiyahi Tanjung puputra Dalem Demang Wirakusumah kang sumare ing Tangkil apuputra kiyahi Temah puputra Eyang Sumadiraksa puputra Eyang Giri garwa Dalem Gorda, Eyang Giri puputra Eyang Sumadirana puputra Raden (Hal. 59) Tanumanggala sepuh puputra Raden Tanuwijaya, istri nyimas Rajamantri bungsuna Tanumanggala, Tanuwijaya puputra nyi Murtiningsih anu ku Jaksa Garut preman nyi mas Rajamantri puputra Mas Adiwijaya, Mas Iyun, Raden Enuh, nyimas Asmirah, saderekna saibu Tanumanggala, puputra Adimanggala.

Turunan saking kangjeng Sunan Tenjolaya anu ka Cicaheum brasna, Raden Kandruwan puputra Raden Prajadinata, Raden Prajadinata puputra Raden Cakranaga, Raden Cakranagara puputra 4 kangsa tanggil jaler, 3 istri/raden Prajadimanggala puputra Raden Cakra binu nyimas Sabarang, puputra Surayuda 2 Uyang Nataraja puputra nyimas Kaeng apuputra 4 Raden Haji Muhamad Hanapi Naib Cipaganti Lembang, 3 Uyang Empung apuputra Mas Tanu Patinggi Leuwi Gajah Cimahi.

(Hal. 60) Uyang Empat apuputra nyimas Dewi halimah, Hujung brung wetan.

Punika sajarah pancakaki ti Jamukarang kabopaten Purbalingga karisidenan Banyumas.

Pangheran Jamukarong mendet mantu ka Pangeran A tas angin bangsa Arab, Pangeran Atas angin apuputra Pangeran Dipati Cahyana apuputra Pangeran Cahyana apuputra 1 kiyai Ageng Wali sumare di Cirebon 2 kiyai Ageng Pakiringan Cirebon 3 Dipòli Maruyung 4 Dipati Selamanik, 5 Dipati Hawangga, 6 Raden Wangsanata dipendet mantu ku Dalem Dipati Ukur Agung, Dalem Dipati Ukur agung wapat tilar putra pameget Raden Saradirega anu sumare di Sentok dulang district Ujung brung wetan, nalika wapat Dalem Dipati agung, Raden Saradirega masih burey, anu mawi eta anu jumeneng Bupati turun ka mantu Raden Wangsanata, anu (Hal. 61) asal ti Cahyana jumeneng Bupati di nagara Ukur, lawas-lawas Dalem Dipati Wangsanata baha ka Sunan Mataram tempo kangjeng Sunan Tegalarum kungsi bedah nagara Ukur, Dalem Dipati Wangsanata anu baha ka Sunan teya kagungan putra Dalem Haji Sewasagara, anu sumare di Tanjung kamuning district Timbanganten, Dalem Haji Sewasagara apuputra Sembah Aminah, Sembah Aminah carogeyan ka Raden Haji Muhamad Saleh, anu sumare di Cijambe district Majalay a, Raden Haji Muhamad saleh ti Sembah Aminah apuputra Raden Kubra apuputra Raden Badarudin garwaan ka nyai Raden Borna apuputra Sembah Sariyen apuputra juragan sepuh hilir carogeyan ka Kangjeng Dalem Adipati Wiranatakusumah anu sumare di Dayeuh kolot Bandung, apuputra kangjeng Dalem Adipati Wiranatakusumah (Hal. 62) anu sumare di Kaum Bandung ayeuna apuputra kangjeng Dalem Adipati Wiranatakusumah anu sumare di Karanganyar apuputra kangjeng Dalem Tumenggung Kusumahdilaga Bupati Bandung ayeuna. Putra Pangeran Cahyana nomor hiji kiyai Ageng Wali sumare di Cirebon apuputra kiyai Ageng Sahit sumare di Panjalu, apuputra hiji Raden Bagus Pati anu nurunkeun ka Raden Haji Muhamad Jaelani Hoop Panghulu Bandung nu sumare di Mekah, dua putra kiyai Ageng Sahit, Raden Puspanala ngumbara ka district Batuwangi Kabupaten Sukapura lajeng ngumbara ka Cikupa district Banjaran kabopaten Bandung Raden Puspanala dipendet mantu ku Raden Indramanggala Raden Puspanala apuputra nyai Raden Bomakaraton carogeyan ka Dalem Demang Hanggaraja (Hal. 63). Bupati Bandung anu sumare di Tenjolaya District Timbanganten apuputra Dalem Tumenggung Anggadireja anu sumare di Gorda district Timbanganten apuputra Dalem Tumenggung Anggadireja anu sumare di Dayeuh kolot Bandung apuputra kangjeng Dalem Adipati Wiranatakusumah anu sumare di Dayeuh kolot Bandung puputra kangjeng Dalem Adipati Wiranatakusumah anu sumare di Kaum Bandung ayeuna puputra kangjeng Dalem Adipati Wiranatakusumàh anu sumare di Karanganyar apuputra kangjeng Dalem Tumenggung Kusumahdilaga Bupatos Bandung ayeuna (Hal. 64). Punika buka oleh nurun saking kitab karuhun tet kala nurun hing dinten Salasa tanggal kaping 28 sasih Muharam tahun Alip ijrah nabi Sillallahu alaihi wasalam 1283. (1866 Masehi).

Punika sajarahipun kangjeng Nabi Adam apuputra Nabi Esis Nabi Esis apuputra Kelam, Kelam apuputra Malek, Malek apuputra Pasar, Pasar apuputra Nabi Idris, Nabi Idris apuputra Rasul, Rasul apuputra Lamat, Lamat apuputra Nabi Noh, Nabi Noh apuputra Sangsam, Sangsam apuputra Pasan, Pasan apuputra Malek, Malek apuputra Saleh, Saleh apuputra Yabi, Yabi apuputra Rau, Rau apuputra Saru, Saru apuputra Maor, Maor apuputra Kijar, Kijar apuputra Nabi Ibrohim, Nabi Ibrohim apuputra Nabi Ismail, Nabi Ismail apuputra Sabit, Sabit apuputra Yasjab, Yasjab apuputra Arab, Arab apuputra Paor, Paor apuputra Munkuwar, Munkuwar apuputra Hudadi, Hudadi apuputra (Hal. 65). Malek, Malek apuputra Najar, Najar apuputra Mulor, Mulor apuputra Nabi Ilyas, Nabi Ilyas apuputra Malekah, Malekah apuputra Yajim, Yajim apuputra Nanuk, Nanuk apuputra Tapsi, Tapsi apuputra Malek, Malek apuputra Paor, Paor apuputra Galib, Galib apuputra Abdulmutolib, kang dadi Raja ing Mekah, Abdulmatalib apuputra Nabi kita Muhammad sellellahu alaehi Wasalam.

Punika sajarah hipun kangjeng Nabi Rasul, kangjeng Nabi Rasul apuputra Siti Patimah, Siti Patimah apuputra Sayidina usin, Sayidina usin apuputra Sayidina Jenal Abidin, Sayidina Jenal Abidin apuputra Sayidina Kubra, Sayidina Kubra apuputra Sayidina Jumadil Kubra, Sayidinnajumadil Kubra apuputra Raja Nis, Raja Nis apuputra Rail, Rail apuputra Nisrail apuputra RajaMesir, RajaMesir apuputra Raja Utara, (Hal. 66) Raja Utara apuputra Sunan Gunung Jati, Sunan Gunung Jati apuputra Pangeran Sabrang, Pangeran Sabrang apuputra Pangeran Pakuwati, Pangeran Pakuwati apuputra Pangeran Carbon, Pangeran Carbon, apuputra Panembahan Ratu, Panembahan Ratu apuputra Pangeran Dipati, Pangeran Dipati apuputra Panembahan Girilaya, Panembahan Girilaya apuputra Sultan Molana Carbon, Sultan Molana Carbon apuputra Sultan Adipati.

Carbon apuputra Sultan Sepuh, Sultan Sepuh apuputra Sultan Sepuh kalataun Ijrah 1237.

Punika sajarahipun kangjeng putra Sunan Gunung Jati kang tumedak dateng nagari Banten wasta pangeran Sabakingking patutan Saking apsari, Ratu Kawung anten apuputra Pangeran Sabakingking, Pangeran Sabakingking apuputra Pangeran Pacariani, (Hal. 67) Pangeran Pacariani apuputra Pangeran Sedang Rana, Pangeran Sedang rana apuputra Sultan abulmapahir, Sultan abulmapahir apuputra Sultan Abulmaali, Sultan Abulmaali apuputra Sultan Abulpatah, Sultan Abulpatah apuputra Sultan Abunasar, Abdulkahar, Sultan Abunasar Abdulkahar apuputra Sultan Abupalalmuhammad Yahya, Sultan Abupalalmuhammad Yahya, apuputra Sultan Abulmaasin Jaenul abidina, Sultan Abulmaasin Jaenul abidin apuputra Sultan Abulpatah muhammad Sapa Jaenaul aripin, Sultan Abulpatah muhammad sapa Jaenal aripin kabuncal dateng negara Ambon, kagentos dateng estri nipun kang awasta Ratu Saripa Banten, lami-lami Ratu Saripa kabuncal dateng Pulo damar nunten pejah, kagentos dateng saderekkipun Sultan kang kabuncal dateng Ambon, kang awasta Sultan Abulmaali, muhammad waseng Jaenul (Hal. 68) Alamin. Boten lami ngangsal kalih tahun nunten kagentos dateng kaponakan nipun putra Sultan kang kabuncal dateng negari Ambon, kang awasta Pangeran Gusti dados Sultan Abunasar muhammad Arip Jaenul Asikin, nunten sedakagentosan dateng kang putra, kang awasta Pangeran Ratu dados Sultan Abunasar muhammad Jaenal Asikin Sultan kang mangkin puniki.

Punika sajarah hipun Ratu Galuh kang tumurun dateng pundipundi anak putu nipun kawitan dadi Ratu nyakrawati, hadarbe putra kakalih patutan saking Ratu Prawetasari, Haryabanga, kalih Maraja Sakti apuputra saking kakasih wasta Ciung Manara Hariang banga dados Ratu ing Majapait Nagara Wetan, apuputra Kigedengsari apuputra Kigedeng jati, ki gedeng jati apuputra Kigedeng mayana, Kigedeng mayana apuputra Kigedeng kacung, (Hal. 69) Kigedeng Kacung apuputra Kigedeng Mataram, Kigedeng Mataram apuputra Kigedeng Sedang Karapeyak, Kigedeng Sedang Karapeyak apuputra Pangeran Sedang Kajene, Pangeran Sedang Kajene apuputra Sultan Pajang, Sultan Pajang apuputra Susunan Senapati ing ngalaga, Susunan senapati ing ngalaga apuputra susunan Tegal Harum apuputra Tegal Harum apuputra susunan Mangkurat, susunan Mangkurat hadarbe putra kakalih kang jumeneng Ratu kang awasta susunan Adipati Hamangkurat. Punika turunan nipun Sunan, Sunankuning rumuhun nipun kacengcala Susunan Hadipati Hamangkurat kabuncal dateng negara Selong, kagentos sedateng kang rayi kang awasta Pangeran Puger, jumeneng susunan Pangkubuwana Wontenning Salakarta, dumateng nging mangke miwah kang dados Sultan Mataram, kang mangke (Hal. 70) tunggil turunan nipun Susunan Pakubuwana.

Hana dene turunan nipun Merajasakti putra Ratu Pajajaran, Ratugaluh hadarbe putra pipitu, ngalaki dateng Ratusiluman kang satunggil pinarnah ngaken hing Raban kang satunggil pinarnah ngakenhing Lakbok, kang satunggil pinarnah ngaken hing Tunjangbangkang, satunggil pinarnah ngaken hing Piraga, kang satunggil pinarnah ngaken hing Sancang, kang satunggil pinarnah ngaken hing Guwa upas.

Ana dene Ciungwanara pinarnah haken hing Pajajaran.

Ana dene kapitu putra nipun Marajasakti kang awasta Ratu Purbasari, ngalaki dateng Lutung kasarung, pinarnah haken hing Pajajaran, apuputra Prabu Linggahiang,, Prabu Linggahiang apuputra Prabu Linggawesi, Prabu Linggawesi apuputra Susuktunggal, Prabu Susuktunggal apuputra (Hal. 71). Prabu Cakrawati, Prabu Cakrawati apuputra Prabu Mundingkawati, Prabu Mundingkawati apuputra Prabu Hanggalarang, Prabu Hanggalarang apuputra Prabu Siliwangi.

Hana dene kang putra Prabu Siliwangi kang tumurun dateng Talaga kang awasta Munding Sari hageng, Munding Sari hageng apuputra Munding sari Lotek, Munding sari Lotek apuputra Raden Panghurah, Raden Panghurah apuputra Pucuk kumun, Pucuk kumun apuputra Susunan Parung, Susunan Parung apuputra Susunan Wanaperi, susunan Wanaperi apuputra susunan Kidul, Susunan Kidul apuputra susunan Ciborohi, susunan Cibarohi apuputra Pangeran Dipati Sacanata, Pangeran Dipati Sacanata apuputra Pangeran Wiranata, Pangeran (Hal. 72) Wiranata apuputra Pangeran Kusumahdinata kang mangkin;

Hana dene Hanak Prabu Siliwangi kang tinurunaken dateng tanah Wetan, nenem katah hipun, kang liyan saking Talaga, hingkang awasta Munnading Dalem, hapuputra Prabu Cangkangbengar, hapuputra Prabu Sumurup hing sagara, Prabu sumurup hing sagara apuputra Prabu kang sumurup hing Cipamali, Prabu sumurup hing Cipamali apuputra Prabu kang seda ing Pangkalan hanak putune Sangiyang Sagala Raden Senapati hing Garudag, Lebak Wangi turunan nipun sadaya.

Ana dene hanak Prabu Siliwangi kang awasta Prabu Promana, apuputra Panten ageng, Ratu Panten ageng apuputra Susunan Rangga Lawe, Susunan Rangga Lawe apuputra saturun-turun nipun ing Timbanganten (Hal. 73) Hana dening hanak Prabu Siliwangi kang awasta Prabu Limansanjaya, apuputra ratu Panten, Ratu Panten apuputra Susunan Demang, hanak putune kang wonten hing Limbangan saturun turun nipun.

Ana dening anak Prabu Siliwangi kang awasta Ratu Batara, apuputra Batarasempakjaya, Batarasempakjaya apuputra Batara Tunggal hanak putuna kang wonten hing Galunggung.

Ana dening anak Prabu Siliwangi kang awasta Dewi Rajeng, apuputra Lingga Meteng, tinarimahaken dateng Ki Lembu alas, pinarnahhaken hing Tegalluwar, hapuputra Ki Dipati Ukur, Banjaran turunan nipun. Ana dening anak Prabu Siliwangi kang awasta Sangiyang Ageng apuputra Sangiyang Mayak turun nipun Sangiyang Kalayan Timbang.

(Hal. 74) Ana dening turunannipun saking Ponggawa anak putune Sangiyang Tobahi, Sokawayana prenahipun. Prabu Rusak Sayang Dalima, Rajapolah prenahhipun Sunan Mandang sakti cucu Sunan Girilaya, ing Selagedang prenahhipun. Satawana jarawata, traju prenahhipun Pudikubatara, hing Karang Panjalahan pranahhipun Prabu Jatisawang patang Mraja Prabu Sempak, Kedung Haur prenahhipun.

Meraja Hiang terus nyawang, Batuwangi prenahhipun Meraja Hiang Meraja, Prakantelu prenahhipun Susunan Tebah layu, Parsing prenahhipun.

Sang maha Handi, Raja Mandala prenahhipun satowana, ing Pacinan prannahhipun.

Siwinaha cacape kasuka kerta.

Mata Rajadesa Guru, Batulayang pranahhipun Marajahiyang cucuksari, Muhara pranahhipun (Hal. 75) Marajahiyang Gagakjala, Pawenang prenahhipun Pagerjaya hing Medang pranahhipun. Marajahiyang Pucukjaya, Kandangwesi prenahhipun.

Raden Majalaku hing Manabaya pranahhipun Susunan Tambalara hing Panembang prenahhipun.

Susunan Jati Jeneng saking Nagara kang putra Ratu Kombara hing ngaranan Guru Haji, Dewa Haji anak putuna Pangeran Jati Malela, Dewa Haji susunan hing Negari Sumedang anak putune.

Punika nyaritakaken sabodollipun kiahi Dipati Wangsanata hing Ukur Bandung Sasampun nipun katutup dening kangjeng susunan Mataram, kangjeng susunan rumaos bumi Ukur Suwung. Nunten hanimbali kang Mantri anom saking Cihaur Beuti (Hal. 76) kang wasta Raden Asta Manggala, sareng dateng ing Mataram, Lajeng Asowan dateng lebet, sadateng hipun, punika dinawuhan pangandika Ki Astamanggala, hing samangko sun gaduh hing bumi Suwung, Sasanga kang ngaran bumi Ukur, Dupi haturripun Raden Astamanggala: Inggih sandika, nanging hawon boten munjuk reh kedik rencang kawula. Dupi pangandika kangjeng Sunan: Hanadene henggon rewang ngiku satitilarre Aryawirakrama hing Timbanganten cacahe wolung ngatus. Sasampun ning rampung timbalan Dalem nunten kandur mantuk sarta hanargi dateng Timbanganten. Sadateng hipun hing Timbanganten sami himpunan saponggarwa nipun hing Timbanganten, muwah menak ipur. kang kakasih Raden Aryadisuta putranipun Raden Raksakusumah. Nunten sami kaalihhaken (Hal. 77) dateng Bandung, Dupi dateng ing Bandung punika sami kasrah prenahaken sarta satitilare, Kiahi Dipati Ukur, kakurat tenan kapanggih cacah kalih ngatus, Umbul karipan kalih Maruyung, ki Jayadarma, Curug agung, ki Ngabehi, Mantri Pasirpanjang Bangsayuda Kadungora. Wondening Mas Nataraga saking Batulayang, kalasapunika timbalan kangjeng Sunan kaalih dateng Bandung saking Sumedang, krana lagi hanjaga kuda kagungan kangjeng susunan, punika kapranahhaken hing sawetan nipun kali Cikapundung, mila kawastanan Karapeyak. Sareng sampun jumeneng malih nagari, kasaranduk wonten panguninga saking Ukur Nagara hagung yen bumi Nagara hagung boten kajaga katah katah munggahing daratan, karana bumi Nagara Agung terus dateng Kaum. Kaleresan Raden (Hal. 78) Astamanggala karsa mendek dateng Mataram, Nunten sami bubar dateng wetan, sadateng ngipun hing Mataram kapiyatur dateng kangjeng Susunan yen bumi Nagara Agung, Botenkajaga katah bajag. Dupi timbalan kangjeng Susunan hiya mangka deksukaning wawanton.

Nunten kaparingan Bopati saking Galuh ki Entol Singaprabangsa hanggawa cacah sewu, ki Harya singarona saking Banyumas hambakta, cacah tigang atus, ki Harya Sureng Rana saking Wirasaba, ambakta titiyang tigang ngatoes saking Sukapura Raden Hindrapraja.

Pangandika kangjeng Sunan: Hana dening kang dadi pambarep maring wawanton kang papat petakena saking Timbanganten, mila kasaosan kihabehi Wisantaka, umbul saking mulakilayan.

Dupi dateng ing negari Bandung punika sami (Hal. 79) kapranakaken sewang sewangan nipun sarta kagiring dening kingabehi Wisantaka, kala sapunika Raden Astamanggala sampun jumeneng kiyahi Tumenggung Wirangngun nangun ngagentosi ki Dipati Ukur, sasampuning makaten kingabehi Wisantaka, kapindahaken dateng Kembang kuning, ki Singaprabangsa kapranakaken hing Parung narogtog, ki Haryasurangrana hing Kedung Waringin, Ki Haryasingara nu ing Ciasem, hing kalo sapunika pawanton kang sakawan sami kasukanan dahare saking ki ngabehi Wisantaka. Lawasi digantos Singaprabangsa, kalayan wuwuh bature kiyahi Haryasurengrana, makaten malih munten sami pamit hing ngalib pahenggonan ki Singaprabangsa, kapranahhaken dateng Babakan Krawang. Ki Surengrana kapranakaken hing Prakansapi. Wondening bature (Hal. 80) Ki Singaprabangsa kang boten kagawa pindah dateng Krawang, kalane hanggawegaga sami pamit dateng Kiyahi Ngabehi Wisantaka Sayan lawan wuwuh dukuh wuwuh sawah, Kala sapunika maksih hangngawula dateng Mataram Sasampuning sapunika Dalem Tumenggung Wirangunnangun padem kagentos dateng kang putra kang wasta Dalem Tumenggung Nyilih, sasampunnipun jumeneng Bopati karsanipun hang ngantos dateng Banten.

Dipun iring dening kang putra kang awasta Raden Ardisuta, Dupi dateng ing Banten Dalem Nyilih, kang rama boten karsa mantuk malih, hanjurung, kang putra Raden Ardisuta prekaraning kabopaten paman, haseleh dateng anak halungguh hing bumi Ukur, Wondening saanak putu paman Wong Cihaur, paman titip dadikaken lampit (Hal. 81) kang dadi Bopati, sarta besuk hembenipun supami boten wonten anak putu paman kabesar dadi umbul, wis pisan kacepeng dening kang putra ken tosa, poma paman titip dateng anak. Sasampunika lajeng kahuningahaken dateng Sultan Banten sarta kaneda jenengan punika, kajenengaken Raden Demang Ardisuta, Sarta hangsal jiyad, mantuk dateng Bandung, nunten lajeng mantuk dateng Bandung.

Lagi sapunika sampun hara huru lagi kang ngadeggaken benteng hing Cirbon, kang dados Ratu nipun ing Carbon kangjeng Pangeran Ratu, kalih Pangeran Arya Gede, sareng dateng Raden Demang ing Bandung, kasarandu wonten utusan saking Cirebon, hanimbali Raden Demang punika, Raden Demang mangkat dateng Cirebon. Dupi rawuh hing Cirbon lajeng hasowan dateng Pangeran Arya Gede, sedatengngipun kasowan lajeng kabakta dateng (Hal. 82) benteng Carbon dateng tuan Kumdur jakup mester, hi ngriku pamarentahan hing mangke sakatahing Bopati, kudu hamanto dateng Cirbon, Raden Demang kajenengaken malih kahangkat namane Raden Demang Hanggareja, sarta kenging piyagem kasukanan Sastra cara Wolanda. Sampun punika. Raden Demang wangsul dateng Bandung, Pangeran Arya Gede sareng dateng Bandung, kaputus dening Kumdur Jakuper, kanetepaken panjenengan para Bopati, dupi rawuh hing Bandung, sasampunipun handawuhhaken parentah, nunten kanuduhhaken kang bade pakuwan sarta dipun tetengerri dening teteken kayu Tangkolo, kala sapunika maksih kakum dening toya, sasampunipun hangsal jiyad Pangeran Arya Gede.

Lawas-lawas nunten asat sasampuning sapunika Pangeran Arya Gede laginipun mantuk hamundut kang bade pusaka (Hal. 83) kang kapundut tanah Ukur Sagaraherang, punika katuraken Pangeran Arya Gede maparinan wasiat kang warni Gamelan kang awasta Ki Panganten, sasampun sapunika sampun haminta dateng Cirbon nunten dateng Kapitan Walanda saking Batawi hambakta walandi kawan dasa, kaputus kang ngali emas, kawarta wonten emas hing Gunung Parang lami nipun tigangtahun kala sapunika kang anjaga saking Bandung Raden Patih Singanagara sarta Sumedang, parakanmuncang, Sukapura, Indihiang, sami hanjaga suguh hipun.

Punika wartos kang sepuh-sepuh boten wonten kang tumana, hangkayani dateng walanda kala sapunika sanggem mama dening titiyang Krawang, Ucap hipun menak Karawang, sampun dados susah menak Bandung, kakula bae kang nyuguh dateng Walanda, tatapi (Hal. 84) kawula hanedani ngadamel gagatipar sakidullipun kali Cikao. Punika sami kahidanan saking Dalem Demang Bandung, sareng sampun sapunika nunten tuwan Jendral Van Ribek Amudik dateng Priyangan, samarginipun hanabrang nging Bayabang, hamariksa dateng Prabopati pariksa nipun: Hiki sapa kang bisa gawe ngagettek? Hatur ripun Raden Demang saking Bandung, hasal kawula hamburuhhaken dateng tiyang Krawang, prentah tuwan Jendral hiku wong Krawang biyane hancik hing Bayabang, tatapi ing saban-saban tahun kudu hanyukni sewaan dateng Dalem Bandung, punika kalampah titiyang Krawang nyewa dateng Bandung hing Dalem tigang tahun, sampun sapunika tuwan Jendral pejah, kagentos dening tuwan Jendral Van Nemok, tuwan Jendral Van Nemok mudik mah dateng Priyangan.

Kapihatur prekaraning (Hal. 85) tanah Bayabang Cipeundeuy reh di penggen titiang Krawang, prentahhipun tuwan Jendral Hemok haja gorok cinorok parkaraning tanah Bandung punapa satanahhe Krawang, sapunika kaprenta saking kang hageng dalahing Batawi sampun kahuningahaken dateng duwabelas kapala, bicara yen titiang Krawang boten darbe tanah, dalah dateng ngipun saking wetan inggih rama kawula Ki Tumenggang Wirangunnangun kang darbe panuhun dateng kangjeng susunan, Dupi salami nipun Da– lem Tumenggang Hanggadireja kalih Raden Rangga Batulayang kabicarakaken dateng Tuwan Jendral VanMosol, punika haputusan Kumitir kang kaputus tuwan Kumisaris Vantes heer Noldus kalih tuwan Jurubasa Jawi Hinyuh gardi pinggalang Mehter Gotol Marsih hoofd sir selam Kapitan Bolosong, Kapitan Pajar, Kapitan (Hal. 86) Bakman, Raden Narya Natanagara Cianjur Tumenggung Bogor. Punika sami kawatesan kali Cisomang saking sirahhipun Cisomang, tumuli ing muharanipun kang kidul tanah Ukur kang kaier tanah Krawang, punika pepegattipun kumitir saking Batawi kang kasebut Hurparaja, kaier kali Citarum, wetan kali Cikambay, kidul Gunung tilu, wetan Citarum malih, Hukur Pasirpanjang saking kali Ci, Hang ngetan jog dateng Darawati, ngaler jog dateng Ciheuleutsaat, kebat dateng Cikalomber jog dateng Cisuruh, kebat hangngalor dateng Cisuruh jog dateng Ciwaluran kawung, jog dateng Cimande, Cimande nyorog dateng Cikeruh milir masup dateng Citarik, Citarik masup dateng Citarum, Citamm mudik jog dateng muara Cipalemahan, ing leres sipun Dukuh Leuwinanggung Kakasebut (Hal. 87) Hukur Biru saking Bukittunggul, saking sirah Cikapundung milir jog dateng muhara nipun biluk hang ngetan jog dateng muhara Citarik, hang ngettan jog dateng Cibeusi, kebat dateng Manglayang, ngulon dateng Narunggul sakulon nipun kali Cikapundung jog dateng Bayabang ngaler Cisomang, punika Ukur karipon saking Curug agung, hang ngetan ngaler kulon wates Campaka Hukur Curug agung kang wasta Ukur aranon Wanayasa, wetan nipun Cisomang, Ukur Sagaraherang sawetan nipun Ukur aranon Ukur nagara agung saking kali Cikao hang ngaler jog dateng laut kang ngulon jog dateng Citarum, wetan nipun Cilamaya, Ukur Batulayang, kapangetan Cihambuy, kapangulon Cisokan, kapangidul wates tuga wetan malih Gunung tilu, sapunika kang kasebut. (Hal. 88) Punika pepegattipun kumetir saking Batawi kang kasebut Hurparaja kaler kali Citarum, kulon kali Cikambuy, kidul Gunung Tilu, wetan Citarum malih; Hukur Pasir panjang saking kali angetan jog dateng Darawati, ngaler jog dateng Ciheuleutsaat, kebat dateng Cikalomber jog dateng Cisuruh, kebat hang ngalor dateng Cisuruh jog dateng Ciwaluran kawung, jog dateng Cimande, Cimande nyorog dateng Cikemh milir masup dateng Citarik, Citarik masup dateng Citarum, Citarum mudik jog dateng muara Cipalemahan, ing Ieressipun Dukuh Leimi (Hal. 89) Nanggung; kakasebut Hukur Biru saking Bukittunggul, saking sirah Cikapundung milir jog dateng mihara nipun biluk ngetan jog dateng muhara Citarik, kang ngetan jog dateng Cibeusi, kebat dateng Manglayang, ngulon dateng Naringgul, sakulon nipun kali Cikapundung jog dateng Bayabang ngaler Cisomang, punika ukur koripan ; saking Curugagung, ngettan ngaler kulon wates Campaka Hukur Curugagung; kang wasta Ukur Arönon; Wanayasa, wetanipun Cisómang Ukur Sagaraherang sawetanipun Ukur Aranon, Ukur Nagara (Hal. 90) agung saking kali Cikao hang ngaler jog dateng laut, hang ngulon jog dateng Citarum, wetanipun Cilamaya, Hukur Batulayang, kapangetan Cikambuy, kapangulon Cisokan, kapangidul wates tugu wetan malih Gunung Tilu, sapunika kangkasebut (Hal. 91) Hukur Sasangnga.

Punika nyaritakaken kang turung saking Prabu Lingga Pakuwan kang putra kang wasta Uyang ngalaga, kapranahhaken hing Tegalluwar dijenengaken Prabu Pandaan Ukur kang lungguh hing bumi tumangka kadamel nagara hing Cimumul, ngeuyeuk Tegal mantri hangsal sapajenengan, nunten parem kagentos dening kang putra kiyahi Dipati Agung negaranipun sami ing Tegalmantri putranipun kang jaler titiga, istri kakalih kang jaler pambarep inggih kiyahi Dipati anom kang rayi kang awasta Dalem Saradirega, ping tiga kiyahi Saradita kang turun saking Dalem Saradirega, putra nipun kang rama Dalem Nayadirega kang sumare ing Sontak Dulang, dalem Nayadirega putranipun kang kakasih Dalem Gajah Sepuh kang sumare ing Mahmud Bantar putra nipun kang (Hal. 92) kakasih Dalem Haji Anom kang sumare ing Citepus putra nipun kang jaler wasta Raden Gandasura, Raden Abdul Gapur, Raden Natadiraja, sakawan Dalem Panghulu, putra nipun kang istri kang kakasih Raden Nimbang, kang halaki dateng Dalem Tumenggung Hanggadireja, kagungan putra titiga, kang jaler kang jujuluk Raden Indradìreja, kang jumeneng Raden Wirannatakusumah, sareng seda pakuburannipun hing lemah duhur, sareng kang rama tedak dateng kang putra Rahaden Adipati Wiranatakusumah ingkang lagih jumeneng Bopati ing negari Hukur Bandung kala samangke.

Kacatur malih Raden Tumenggung Batulayang garwaan dateng Raden Nimbangmantri, rama nipun Dalem Tumenggung Hanggadireja, patutan saking Raden (Hal. 93) Nimbang Sepuh, putra nipun Dalem Haji Anom, hangsal putra titiga, kang jaler wasta Raden Tumenggung Hanggadikusumah istri kang nama Raden Sewu kalih nyai Raden Ayu Dipatì ingkang dados panikinipun kangjeng Dalem kang mangke, kagungan putra jaler satunggal kang awasta wawangi Raden Arya kang istri kakasih hipun Raden Galuh, kang kagarwa dening Raden Hanggadikusumah, kaponakan nipun nyai Raden Ayu Dipati.

Kocap malih putranipun Dalem Tumenggung Hanggadireja kang wedrah kang nama Raden Banten, kala jumeneng kang rama kalaki dateng Raden Rangga Jayamanggala saking Batulayang, hangsal putra jaler kang awasta Raden Tumenggung Adikusumah, kang wahu kacatur garwaan dateng Raden Nimbangmantri.

(Hal. 94) Putra nipun kiyai Dipati Hukur kang anom ngawasta kiyai Ngabehi Wirapati kang sumare ing Astanaluhur, sareng pejah turun dateng kang putra kang nama kiyai Ngabehi Suradiparaja, pada sumare ing Astanaluhur, sareng pejah turun dateng putra nipun kang wasta Raden Suradipraja, lagi kala Dalem Tumenggung kang sumare hing Gorda. Raden Suradipraja pinarinan kang bade semahan kang awasta nyi Raden Rombala Inten putra nipun Raden Rangga Jayamanggala patutan saking Nyahi Raden Banten, kang putra Dalem Tumenggung ing Gorda, Hangsal putra Raden Suradipraja kang nama Raden Suradipraja kalih kawula Jayakusumah.

Punika patedakan kang saking Prabu Kaenten Daeyeng Batulayang. (Hal. 95) Prabu Kaenten Daeyeng apuputra Prabu Pakuwan, Prabu Pakuwan apuputra Prabu Mayapakuwan, Prabu Mayapakuwan apuputra Prabu Larang jiwa, Prabu Larang jiwa apuputra Prabu Sangaja Pali Kartamanah Nagara nipun hing Papakmanggu, sareng padem, tumurun dateng putra Raden Tumenggung Suradarma garwaan dateng putra kiyai Dipati Wangsanata Hukur kang nama Nyimas Ayu Dipati hangsal putra titiga Raden Layang Anom kalih Raden Wira anom katiga Raden Pendeleng. Sapejah hipun Raden Tumenggung Suradarma, tigang tahun silep boten jeneng Bopati Wonten saderek hipun kiyai Tumenggung Suradarma, kang wasta Raden Ngabehi Wangsaniti mendak kawan dateng Susunan. Kongsi kalih tahun. Lami-lami kipayengan dening susunan, Pangandika susunan ki Wangsaniti (Hal. 96) samangko mamirakan hang lungguh ing Kabopaten Batulayang.

Punika Raden Wangsaniti pohpol saupami kasambadan, wonten anakkipun ki Tumenggung Suradarma, kang nama pun Layang anom. Punika tinimbalan dateng sela layang, sadatengngipun sasampun hasowan nunten dijenengaken Tumenggung Layang anom. Sasampun katampi kandaga lante, mantuk dateng Selalayang. Sampun hangsal tigang tahun, kiyai Tumenggung Layang anom linggar dateng Banten, sejanipun hangngaos, wondening kabopatenan nipun kaselehaken dateng saderekkipun wasta Raden Wira anom sarta pindah negali dateng Dayeuhluhur asal sapajenengan pejah kang pinendem hing Cikakak, nunten kagentos dening kang rayi, kang ngawasta Raden Tumenggung Pendeleng (Hal. 97) hangsal sapajenengan pejah pinendem hing saroko punika boten turun malih amung paturunannipun ing dusun Cukang Pasung anak putu nipun ki Abdulsamsudin kalih haki Jagayuda sapunika.

Punika kang turun saking Prabu Sanggitabati, malih putra nipun kang nama santowan rungkang, kang sumare ing Cisandawut, hapuputra Santowan Kunur kang sumare ing Buni Buwana, Santowan Kunur hapuputra Embah Rangga Abdul Galang kang sumare ing Citiis, garwanipun Nyi Rangga Hariang saking Sumedang kampung Timbang, pakuburannipun hing Cicangkuwang, Cipatik, putranipun ki NgabehiHanggayuda kang sumare ing Cicapar, ki Ngabehi Hanggayuda sapejahhipun kagentos dening kang putra, Raden Rangga Jayanagara kang sumare ing Gajah Palembang (Hal. 98) turun dateng kang putra Raden Rangga Hanggadikusumah, kang dados Tumenggung Hadikusumah, negaranipun hing Gajah Palembang, dupi pejah gulung malih dateng Bandung. Punika nyaritakaken kala sunan Ma taram kapihaturan dening kang abdi yen wonten Walandi, ngajeng munggahhing Nussa kalapa, ngajeng amangun kuta, Kapitan nipun Walanda sareng kapiyarsa kang sapunika kangjeng susunan sakalangkung yen duka, milo aputusan ki Tumenggung Bahuraksa kalih kiyai Tumenggung Matakun kabektanan prajurit salaksa kalih hewu hamargi dateng laut, hana dening saking darat kangjeng susunan haparirtg layang kabakta dening gandek titiga, sadatengngipun gandek layang punika kahatur dateng kiyahi Dipati Ukur, sasampuning (Hal. 99) winaca halayang kiyahi Dipati Ukur hasung prentah maring ki Demang Jayanagara, Papatihhipun dipun prih hamepekkaken prajurit katah hipun sewu kalih hatus, haraksa gawa hanglurug maring Nusaklapa rupakaken hing saiki, sareng sampun yogya kang bade prajurit Ki Dipati Ukur, bubar, kakinten dateng ing Panabrangan Bayabang wonten kang nusuli saking negari Bandung, kang nguninga yen padalemannipun kalebetti dening gandek dalah sarupanipun kang wonten hing-padaleman sami dipun rayah. Ki Dipati Ukur sakalangkung yen bendu, mila kalampahhan wangsul malih dateng Bandung, kongsi supe dateng prentah sadatengngipun lajeng dipun amuk titigannipun sami pejah, sasampuning makaten, rehhing lami kang kapotus kasusulan malih dening badega titiga, sadatengngipun dipun (Hal. 100) amuk maleh sami titigannipun. Sasampuning sapunika ki Tumenggung Matahhun dateng saking pangluruggan matur yen Walanda punika sampun kawon. Sasampun sapunika kangjeng susunan mariksa dateng ki Tumenggung Bahureksa: Ki Dipati Ukur teu kahapahora? Haturipun: Hinggih boten punika kangjeng susunan sakalangkung yen duka mila aputusan prajurit sewu limangatus, prajurit punika sareng dateng ing Himbanagara wonten sanakkipun ki Dipati Ukur, hasu pemiyen wonten prajurit bade hanyekeli Dipati Ukur, hutusan saking Mataram, sasampunipun hangsal wartos ki Dipati Ukur sabalanipun, binakta munggah dateng Gunung Lumbu, sareng dateng prajurit saking wetan dipun ladosi dening sanjata kang rupa watu kang ngaran (Hal. 101) ki Munding Jajalu sadatengngipun hing ngandap pejah, titiang seket sawidak, kacatur perangngipun, lawas sipun tigang tahun, punika dados karusakkan, mila umbul prayayinipun kang sami hatulari, akal supaya gelis mirah, wonten prayayinipun satunggal kang duwe akal hangngulari upas sareng hangsal upas punika, dipun tepung kahaturraken maring kokoden sinjang nunten dipun dagangaken dateng Gunung Lumbung, sareng dateng titiang istri rerebutan kentasa reh sampun sami resak pangnganggenipun sareng dipunnemek nunten pada mendem sareng kauning dening kiyahi Dipati Ukur, kokoden punika dipun pendet sareng dipun nemek munten mendem malih, sasampuning sapunika, ki Dipati kena kacepeng sasampunipun keni kacepeng, nunten binakta dateng Mataram, dipundut (Hal. 102) wingking katusan tananipun, wondening putranipun kang nama mas Nayantaka, humpetan dateng Sahunggadang saking Sahunggadang malih dateng Cihasem Dukuh Gurug. Sadatengngipun hing Mataram, nunten dipun panjer king halun-halun, salaginipun dipun panjer tinimbalan kangjeng susunan kudu dipun hukum, tapi haja kalawan dalandep mila dipun catut sakatah katah hing Bopati ponggawa mantri, sami nyepeng satut wesi, sasampun nipun kacatut, parentah kangjeng susunan kumhi sasagaran henggon kempan Buayaputih kongsi pitung dina hing sasagaran Buayaputih, boten purun mangan mila prentah susunan dipun pri hanghukur hing Gunung Selamanik mila sanak kulawarganipun tetep hing Gunung Selamanik.

Sasampun ing punika kangjeng susunan (Hal. 103) hamariksa sapa mantri anom kang turun kabopaten? Haturripun Pangeran Puger: Papatih Mataram inggih Raden Astamanggala putunipun Dalem Tumenggung Matahun saking Cihaur wetan, kalih Raden Wirawangsa saking Sukapura, titiga ki Ngabehi samahita saking Galunggung, sakawan Uyang sarana saking Indihiang. Sareng handika kangjeng susunan: Iku ki Astamanggala manira ken dadi Bopati hing Ukur hang lungguh hing negari Bandung haturripun Raden Astamanggala, inggih sandika, nanging awon boten munjuk reh kawula boten gadah rencang, kanca kawula kedik, haning cacah kalih dasa somah hipun Cihaur wetan, timbalan kangjeng susunan haja susah hiku kabopaten Timbanganten, cacah wolungatus lorodan Arya Wirakrama, gawamen Bopatine kalawan saponggawane kabeh gawanen. (Hal. 104) Sampun rampung kang timbalan Raden Hastamanggala kondur, margi dateng Timbanganten, sadatengipun hing Timbanganten hamariksa sapa, kang dadi menak hing kene? Haturripun kang pinariksa, Rade Hardisuta: Inggih punika, nunten handawuhhaken satimbalan kangjeng Susunan, samangke ing jeng ngandika kapotus hangalih dateng nagari Bandung, hangrewangi kawula, sareng saponggawihing jeng ngandika sadayani kasareng kapilis kang kasebut panggawi dados kawan likur, sami kakalihaken sadayanipun, sarta sacepengan nipun titiyang punika sami bubar sadateng ngipun hing Bandung, kang ponggawa kapranah haken mabakan Padusunan, kalayan hamariksa kaken unbul satitilar kiyahi Dipati Ukur kapanggih satitilar ki Demang Jayanagara, Koripan (Hal. 105) Ngabehi Jadarma, Ukur Curuggagung, Kandruwan, Wayang Maruyung, ki Ngabehi Mantri hukur Pasir panjang, Ngabehi Bangsayuda Kadungora, mangka wonten ubul Prakanmuncang henggenipun hing Lamajang, nunten kasingkuraken ki Ngabehi Sastramanggala dados cacah hukur kawical cacah kalih hatus hukur mila jangkep sewu sareng Timbanganten.

Sasampun sapunika nunten dateng titiyang saking Ukur Nagaragurig, hatur uninga sampun boten kajagarehing katah biajag munggah ing daratan, munggah hipun hing leresan Tanjung Samara pangandika Raden Astamanggala, kudu dika marengi kawula lagi garebeg maring hing wulan sapar haturipun hinggih sumangga, sareng tanggal wulan sapar Raden Astamanggala mangkat dateng Mataram, sadatengngipun (Hal. 106) hing Mataram henjingipun kasowan dateng kangjeng susunan. Sadatengngipun hing ngajengan pangandika kangjeng susunan: Iya ki Astamanggala, wus tekahe, sun dekhadukaken kalawan banteng sareng enjing dinten Senen, yakti dipun aken kalawan banteng Raden Astamanggala, kenging dalah kalawan lembu kakalih. Sasampun sapunika ki Astamanggala, pimisalen kang rupa duhung kang nama ki Kalajengking, sarta saput kayu, sasampuning mantuk kang sapunika kangjeng susunan hamariksa dateng Pangeran Puger, kang papatih hiku Mantri anom kang papat aranana kang milu maring lakune ki Dipati Ukur. Haturripun: Hinggih boten kang titiga, namung Raden Wirawangsa kang milet sareng hutusan Dalem kang hanyepeng pun Dipati Hukur. (Hal. 107) Punika kahenjingngipun Raden Astamanggala ginanjar dinadossaken Tumenggung Wiramawinangun hang lungguh hing nagara Bandung, sarta winepehan cacah saking Timbanganten wolung ngatus; kalawan ki Ngabehi Samahita dinadosaken Tumenggung Tanubaya hang lungguh hing bumi Galunggung, kalawan kandaga lantenipun muwah Uyang Sarana dinadosaken Harya Wangsakusumah hang lungguh ing bumi Indihiang, Raden Wirawangsa dinadosaken Tumenggung Wira andeg daha hang lungguh hing bumi Sukapura, kalawan kandaga lantene pisan. Tatapi hipat-hipat kangjeng susunan: Ing Bisuk yen wus pitung panjenengan silep sadela ki Wirawangsa lakune milu hanglurug maring hukur, manira karahidin.

Sasampun sapunika kiyahi Tumenggung Wirawinangun hatur (Hal. 108) panguninga yen wonten panguninga gebal Dalem saking pun Ukur nagaragung reh hipun hanjaga meseh sampun boten kasangga, katah bajag kang minggah dateng darat, sareng handika kangjeng susunan iku weh hana wawanton Bopati laguh ki Singaprabangsa, kali kena bareng sacacahe sewu, Harya Saerengrana kalihena kalawan sacacahe sewu. Ki Haryasingaranu kalihena bareng sacacahe sewu, sampun sapunika ki Hentol Singaprabangsa, bubar sareng sacacahe sewu, Harya surengrana bubar mung binakta titiyang tigang ngatus, Ki Harya Singaranu mung hambakta titiyang tigang ngatus pangandika kangjeng Sunan lan jaluk saking kasundan, ponggawa kang Prayoga, mila kasaosan saking panggawa Timbanganten, panggawa Mulakiyan kang wasta ki Ngabehi Wisantaka saking Sukapura (Hal. 109) kasaosan Raden Indrapraja punika sasampuning rampung kang timbalan kiyahi Tumenggung Wirawinangun, sami kondur kalayan wawanton kang titiga, sadatengipun sami kapranahaken ki Singaprabangsa, kapranahaken hing Parung narogtog Haryasurengrana hing Kedung Waringin, Harya Singaranu ing Udug udug Ngabei Wisantaka bang kidul hing Udug-udug, Raden Hindrapraja kapranahaken hing Palumbungan, kalasapunika kang dados Wadananipun ki Ngabehi Wisantaka, kang nukani peta henggon gaga sawahipun, kala sapunika taksih hang ngawula dateng Mataram dateng susunan Tegal Harum hangsal sapajenengan Dalem Tumenggung Annangun pejah, kagentos dening kang rayi kang kakasih Dalem Tumenggung Nyilih, sasampunipun dados Tumenggung kakinten sampun (Hal. 110) tigang tahun, Dalem Nyilih linggar dateng Banten, karsanipun hangaos dalah kang mantu Raden Ardisuta, hangiring kalayan gulang-gulang kakalih kang nama Cakrayuda, sareng Cili wedara kang hasal Bugis, Cakrayuda, hasal Bali sami ngiring. Sadatengipun hing nagara Banten Dalem Tumenggung boten karsa wangsul dateng Bandung, wondening kabopaten kaselehaken dateng kang gadah kahuningahaken dateng kangjeng Sultan Banten, sarta haneda jiyad sareng kapariksakaken dening Sultan sapa harane punika, wasta nipun Raden Ardi Suta mila kalajenghaken Raden Hardikusumah. Sasampunika Raden Hardikusumah hangunjung kalayan haneda jiyad, sawangsulipun saking lebet tumunten mantuk dateng Bandung, kang hangngiring ponggawa Kayu jata ti ponggawa Pananyaan, prayayi (Hal. 111) Selajambe dalah Cakrayuda, Ciliwidara Kajurungaken sareng kang putra titihanipun kuda haranipun Dawuk, sarawauhipun hing Bandung, dalu sampun hanyampak Undasara, hutusannipun Pangeran Arya Gede saking Cirbon, sarawuhipun kapiyatur dening Undusara, yen lampah kawula kaputus hanimbali sampeyan dateng Cirbon, dupi henjing ngipun lajeng kemawon, namung kang rayi Raden Ladrawijaya, rehing melang dateng saderek hangiring, sadatengipun hing nagara Cirbon, lajeng sowan dateng Pangeran Aryagede. Sadatengngipun kapiyatur yen kang rama boten karsa mantuk dateng Bandung Wondening kabopatenipun kaselehaken dateng kawula, pangandika Pangeran yatunggal kimawon, dalah jeng ngandika ka putrana saking Bopati Timbanganten, punika tumunten kabakta seba dateng (Hal. 112) kangjeng Pangeran ratu man Cirbon, sadalon rosipun pangandika: yasukur, mulane sun undang saiki hing samangka, wong Priyangan wus kaserah maring kula, minta maring Cirbon kalawan mangko hama Walanda, lagi hamangun benteng sareng mamot pabeng kang rayi, kapariksakaken hiku sapa haturipun Raden Nardikusumah, punika saderek kawula; sapa harane hinggih Raden Lodrawijaya, pangandikanipun pada baguse, patut dadi Papatihe. Sampun sapunika kanjeng Pangeran Ratu linggar dateng Benteng Raden Nardikusumah dipun bakta. Sadateng hipun kapapayanen dateng Kumandur Jakup mester, yen niki Raden Nardikusumah bopati Bandung titip durung hana namane, mila kahangkat nama Raden Demang Hanggareja, sarta pinarinan akti kalawan tanda tanganipun Kumendur (Hal. 113) Jakup mester, kalawan wineratma upeti lawe tigang puluh pikul nila nembelas pikul kalawan hamuguraken titiyang hing Darmayu, pagaweyane hanarik balok kalawan hangambil cengkreg henggo tatali kang narik balok.

Sasampun sapunika Raden Demang mantuk dateng Bandung, sadatengipun hing nagara Bandung, Raden Lodrawijaya dinadosaken papatih, jujulukipun Raden Tanumanggala, hangsal sapajenengan padem kagentos dening kang putra dados Raden Demang Hanggareja malih. Sasampunipun kalih tahun katimbalan malih dateng Cirbon dipun hangkat namanipun Dalem Tumenggung Hanggadireja maksa minta dateng Cirbon papatih hipun Raden Singanagara sareng sampun sapunika nunten wonten Walanda saking Nusaklapa katahipun, satambun (Hal. 114) kinen hangngali Emas dateng Gunung Parang kawarta wonten emas gedenipun sagudal, kang nukani suguhipun saking Bandung, kalawan saking wawanton saking Mataram ki Hentol Singaprabangsa, kongsi tigang tahun kongsi ngadeg kapitan Karang Maksih Dalem Tumenggung Hanggadireja bopati Bandung. Lami-lami ing Batawi jumeneng jenderal Verkenir maksih minta dateng Carbon, sareng sampun makaten Jendral Verkenir kaganti dening Jendral Johanis Kampus, Prayangan sampun mantuk dateng Batawi, kang marentah Priyangan Commisaris Vander Pel, sareng pejah Jendral Jahanis Kampus, kagentos dening Jendral Vanribek Commisaris Vahir kang marentah Prayangan punika Jendral kang mimiti mudik dateng Prayangan kala nyabrang hing Bayabang, kamariksa (Hal. 115) dateng Dalem Tumenggung Bandung: Sapa yang bekin hinih gegetek? Katanya Dalem Bandung: Hamba yang kerja, dengan ki Entol Singaprabangsa, dari Parung Narogtog.

Punika tuwan Jendral Ribek hamariksa iki tanahe sapa? Inggih tanah Bandung, mila kasilih dateng Dalem Tumenggung Bandung, kagaduhhaken maring ki Singaprabangsa samayane besuk kabangsulan malih. Samulihipun tuwan Jendral pejah Dalem Tumenggung Bandung sumeren kagentos dening kang putra Raden Hindra kang jeneng Dalem Tumenggung Hanggadireja, tuwan Jendral kagentos dening tuwan Jendral Hemok kang marentah Prayangan Commisaris Drohi.

Punika mudik malih dateng Prayangan kala Papatih Bandung Raden Dipanagara, jengkar dateng Jumangjang, hameng hameng bedog (Hal. 116) manjangan sadayaning Prayangan sami ngiring hambakta kuda paburu lagi alam Dalem Tumenggung Kahum, Tuwan Jendral Hemok pejah sawangsulipun saking Jumangjang kala sapunika Raden Dipanagara, kagentos dening kang mantu Raden Wiradiguna sepuh, lagi halani Dalem Tumenggung Kahum, Raden Wiradiguna kagentos dening mantu Raden Wiradiguna kang kamantu dening Dalem Tumenggung Gorda, dadosipun Papatih tumunten kaalaman dening Dalem Kahum Tuwan Jendral Hemok kagentos dening tuwan Jendral Van Mosal, Raden Wiradiguna pejah malih kagentos dening Raden Demang Naranata maksih halam Dalem Kahum, kalasapunika Commisaris Harteng kesah dateng Samarang kagentos dening Commisaris Divril, kala mabenaken tanah Cihaurmananggel kalayan tanah Batulayang, taksih halam Dalem Kahum (Hal. 117) lagi sapunika Commissaris Devril mantuk dateng nagari Walanda, kagentos dening Commissaris Vantes Harnoldus, punika kang dados hukur tanah dateng Cihaur, dupi hing mangsa tahun baru, Dalem Tumenggung Hanggadireja sami linggar tahun baru, sareng kang rayi Raden Demang Naranata mangsahing Batawi putus pamicara punika, sareng mantuk saking Batawi Dalem Tumenggung Hanggadireja sumeren kagentos dening kang putra Raden Hindradireja. Dupi kang rama pinenden hing Lemah duhur Kahum Bandung, Raden Hindradireja jumeneng Tumenggung Hanggadireja alommipun tuwan Jendral Vander Para. Nunten kagentos dening tuwan Jenderal Dusa Vannaramistik tempo Commissaris Smits kagentos dening Commisaris Ramistik, lagi halam Jenderal Dismerek kagentos dening Tuwan Jenderal Hanting lagi Commisaris Ralep. Nunten Dalem Tumenggung Hanggadireja (Hal. 118) kahangkat Raden Adipati Wiranatakusumah tinetephaken kang lenggah hing negari Hukur Bandung sapunika panguninga kaula pun Jayakusumah.

Punika luluhur kaula saking Sunan Gesan Ulun, kaselehaken dateng menak Cihaurbeuti, bumi nipun sareng titiyangipun wewengkon negari Bandung. Punika pawatesan nipun saking kaler kali Pamijahan sirahipun saking Gunung Sawal, Nunjangipun hang ngilen mihara nipun dateng Citanduy, bang kaier tanah Panumbangan wengkon Cirbon kang kaier kulon tanah Ciawi wengkan Sumedang, bang kidul tanah Cihaurbeuti. Nunten hamilir hing kali Citanduy, hang ngidul, bang kulon tanah Rajapolah, bang wetan tanah Cihaurbeuti, hamilir jog dateng miharanipun Cigalugur punika paduraksa, bang kidul wetan tanah Galuh wengkan Cirbon, bang kulon tanah Indihiang (Hal. 119) bang kaler tanah Cihaurbeuti. Nunten hamudik hing Cigalugur hang ngaler etan jog dateng sirahipun hing Gunung bengkok hamuncak, bang ngetan tanah Galuh, bang ngulon tanah Cihaurbeuti, Nunten ngaler saking Gunung Bengkok hamunggah dateng Gunung Jajar, munggah malih hing gunung Malang, munggah malih dateng Gunung Sawal, punika paduraksa bang ngetan tanah Galuh, bang ngetan ngaler tanah Kawali, bang kulon tanah Cihaurbeuti, candinipun sirah Cileueur, sareng sirah Cibaruyan, nunten hang ngulon ngaler saking Gunung Sawal jog dateng Gunung putri, hamunggah dateng Gunung Sawal malih punika paduraksa, bang wetan tanah Kawali, bang ngaler tanah Panjalu bang kulon tanah Cihaurbeuti. Nunten tumurun saking Gunung Sawal, hang ngulon hang ler jog dateng pasir hampaan punika paduraksa.

(Hal. 120) Bang ngaler ngetan tanah Panjalu, wengkan Cirbon bang ngaler ngulon tanah Panumbangan, bang ngidul tanah Cihaurbeuti, Nunten tumurun hang ngulon ngidul, jog dateng Cipamijahan. Punika sampun tepang gelang reresipun. Kala hanurun hiki serat wates dina Kemis tanggal ping 14 sasih Hapit tahun Be Iyeu carita nu geus kalaporkeun ka Tuwan Residen Mayor Baron Vander Kapelen.

(Hal. 121) Ini surat carita turunan Regen tanah Bandung dari dulu sampai sekarang.

Mulun dari Adam, dari Nabi Adam turun sama anak itu anak nama Sis dari Sis turun sama anak itu anak nama ki Yanas, dari ki Y anas turun sama anak itu anak nama ki Naya, dari ki Naya nurun sama anak nama Malik dari Malik turun sama anak nama Nabi Idris, dari Nabi Idris turun sama anak nama Cia dari Cia turun sama anak nama Malat dàri Malat turun sama anak nama Nabi Enoh dari Nabi Enoh turun sama anak nama Raja Kombara dari Raja Kombara turun sama anak nama Gandul Gantungan, turun sama anak nama Meneng Putih dari Meneng Putih turun sama anak nama Gandul Larang, dari gandul larang turun sama anak nama Babar Buwana dari babar Buwana turun sama anak nama Sayar Buwana dari Sayar Buwana turun sama anak nama (Hal. 122) Palarsakti dari Palarsakti turun sama anak nama Sangarsakti dari Sangarsakti turun sama anak nama Pucuk Putih dari Pueuk Putih turun sama anak nama Ratu Majakane dari Ratu Majakane turun sama anak nama Ratu Galuh, Mandureja, dari Ratu Galuh Mandureja turun sama anak nama Ciyung Wanara dari Ciung Wanara turun sama anak nama Lutung Kasarung dari Lutung Kasarung turun sama anak nama Parbu Linggahiang dari Prabu Linggahiang turun sama anak nama Prabu Linggawesi dari Prabu Linggawesi turun sama anak nama Prabu Lingga Wastu, dari Perbu Lingga- Wastu turun sama anak nama Sangiyang Tunggal dari Sangiang Tunggal turun sama anak nama Prabu Hangga Larang dari Perbu Hangga Larang turun sama anak nama Pucuk Kumus, dari Pucuk Kumus turun sama (Hal. 123) anak nama Parbu Hangga Larang, lagi dari Parbu Hangga Larang turun sama anak nama Parbu Siliwangi Ratu Pajajaran, Itu Parbu Siliwangi, bebenih sama anak Dalem Pasehan dari Panembang, itu perempuan nama Ratu Mraja Inten Dewata jadi bini Parbu Siliwangi dapet anak itu Parbu Siliwangi namanya Sunan Parmanadiputtang dari Sunan Parmanadiputtang turun sama anak nama Sunan Panten Rama Dewa dari Sunan Panten Rama Dewa turun sama anak nama Sunan Darmakingking, dari Sunan Darmakingking turun sama anak nama Sunan Rangga Lawe dari Sunan Rangga Lawe turun sama anak nama Dalem Tumenggung Mataun, dari Dalem Tumenggung Mataun turun sama anak nama Dalem Demang Wiranatakusumah, (Hal. 124) dari Dalem Demang Wiranatakusumah turun sama anak nama Dalem Demang Wirakrama dari Dalem Demang Wirakrama turun sama sudarah sama Dalem Demang Wirakusumah, dari Dalem Demang Wirakusumah turun sama sudarah sama Dalem Tumenggung Wirangun Nangun dari Dalem Tumenggung turun sama anak nama Dalem Ardikusumah dari Dalem Ardikusumah turun sama anak nama Dalem Tumenggung Hanggadireja, dari Dalem Tumenggung Hanggadireja turun sama anak nama Dalem Tumenggung Hanggadireja, yang jadi Dipati Wiranatakusumah, dari Dipati Wiranatakusumah turun sama anak nama Dipati Wiranatakusumah Kahum, dari Dalem Dipati Wiranatakusumah Kahum (Hal. 125) turun sama anak nama Dalem Dipati Wiranatakusumah Karang anyar, dari Dalem Dipati Wiranatakusumah Karang anyar turun sama anak nama Dalem Dipati Wiranatakusumah sekarang Yuli tanggal 10 tahun 1857 dapet akte Dipati sabagitu saja punya turunan dari dulu Nabi Adam sampe turun sama Parbu Siliwangi, Raja Pajajaran, dari situ lantas turun sampe sekarang jadi dari Nabi Adam sampe sama Raja Pajajaran 30 turunan dari Raja Pajajaran sampe sekarang sama saja 15 turunan.

Saking kiyahi Mas Demang Mangun Sastra.

Punika ingkang serat saasun pangabakti kawulaabdi Dalem pun Adipati Wiranatakusumah ingkang atetenggaing panegari Dalem ing Ukur Bandung sakayugiya kahanjuk hing sampeyan Dalem Kangjeng Susunan Pangkubuwana (Hal. 126) senapati hing ngalaga Abdul rahman sayidin patanagami hing kang hakedaton saha sinewaka ing panegari Surakarta adiningrat, hingkang sampun pikantuksih kanugrahan ning Allahhu taallah hing dunya mugi rawuh hing aherat kalayan hing kang sapaat hing kangjeng Gusti Nabiduta Muhammad hing kang Mustafa yarasullullah sellelhu alaihi wasalam, miwah hingkang barkat para sahabat hingkang sakawan Abubakar Umar Usman Sayidina Ali raliyalahhuanul punapa dene hingkang sawab hing sagung hing Parawaliyullah hingkang sumare ing rat siti Arbi miwah hing kang sinare ing rat Siti ajam sadaya, kalayan hingkang mugi pinaosan hingkang yugya dening Alloh hu ta allah hamanggi yasa katah hing kanugrahan, miwah sakatah hing kaharjan tinulusan hingkang panjenengan (Hal. 127) dados sapandam pangahebbaning kawula wadia santana alit sadaya, trah tumraha dumateng hingkang putra putra kasadaya sasampuning kadia sapunika.

Punika hatur serat sahatur tabe kawula hing kang katah-katah miyos hiklasi manah hing kang suci hening saking abdi Dalem pun Adipati Wiranatakusumah hingkang hatetenggaing panegar Dalem ing Hukur Bandung, sahayugiya kahunjuk hing sampeyan Dalem hing kang jeng Gusti tuwan Gurnadur Jendral Johanes si Bereh van Nederlan India hing kang kedaton hing Dalem kita Inten hing panegari Batawiyah, hingkang sampun pihantuk sih kanugrahan Allahhu ta’allah hingkang hamarentahhaken ing sagung hing wadia kumpeni hing ngatos hangin, miwah hing bawa hangin, ing lautan miwah hing daratan (Hal. 128) Siti jawi hingkang kilen bang wetan sadaya, kalayan hingkang minatakutan dening pararaja ingkang sabrang sadaya sarta hing kang mugi pinaosan hingkang yugya dening Allahhutaallah hamanggi yasatah hing kanugrahan miwah sakatahing kaaijan tinulusenna hingkang panjenengan dados sapaat emban kawula hing salami-lami nipun hing sapa yang hing Surya, lansaponcorong hing sasih.

Sasampuning kadia sapunika.

Punika hatur serat pratanda sahatur tabe kaula hingkang katahkatah miyos hik lassing meneh ingkang suci hening saking pun Adipati Wiranatakusumah hingkang hatetengga hing panagari Kumpeni ing Hukur Bandung, sahyogiya kahatur dumateng hingkang jeng tuwan Halbertus henrikus jisehereste Radsaha Driktur Jenderal (Hal. 129) van Nederlan India hingkang hapalenggah hing Dalem kita panagari hing Batawiyah. Kalayan mugi pinaosan hingkang yugya dening Allahhu ta’allah hamanggi satoh hing kadilujengan hing salami-laminipun hing dalem dunya punika, sasampuning kadiya sapunika.

Punika hing kang serat pratanda saking kang tabe katah-katah miyossing manah hingkang suci hening saking rahaden Adipati Wiranatakusumah hingkang hapalenggahing panagari kumpeni hing Ukur Bandung saha yogya kahatur dumateng kangjeng tuwan Piter hinggelar huper kukman kumetir saha Commissaris hingkang hammarentahaken sakatah hing titiang Islam hing panegari Batawiyah sadaya kalayan hingkang mugi pinaosan hing kang yogya dening Allahhu taallah salamet kawilujengan (Hal. 130) ing salamilaminipun hing dalem dunya punika Sasampuning kadiya saha punika kawiyos kaula sampun katampi serat.

Punika hatur serat saha sungkem pangabekti kawula putra sampeyan Raden Adipati Wiranatakusumah hingkang kapilenggahing panegari Kumpeni hing Ukur Bandung saha yogya kahunjuk dumateng ingkang rama kangjeng Rahaden Adipati Wiranatanu datar ingkang hapalenggahing saha marentahaken hing panegari kumpeni ing Cianjur sasampuning kadiya saha punika hawiyos sampeyan hingkang hametta.

Punika hingkang serat saha ingkang salam talim saking ingkang rayi kangjeng Rahaden Adipati Wiranatakusumah hingkang hapalenggahing panegari kumpeni ing Ukur Bandung, (Hal. 131) kahatura dumateng hingkang raka kangjeng Rahaden Adipati Singasaripanatayuda hingkang hapalenggah saha marentahaken hing panegari kumpeni hing Krawang, sasampuning kadiya saha punika hawiyos hingkang raka hamitedani serat hinggih sampun katampi. Punika serat sarta hatur sembah kawula putra sampeyan Raden Adipati Wiranatakusumah hingkang jumeneng linggih wontening negari kumpeni hing Ukur Bandung saha yugiya hatur dateng hingkang rama kangjeng Sultan Anom hingkang lenggah wontening negari Carbon konneman hingkang hangsal laduryat kangjeng sinuhun mugi Allah hamaosan hingkang yugiya dalem tinetep pena jumeneng nyata nutuging suka wriya, Wibawapraja kaneman mugi hangsal barkahe kangjeng sinuhun kalayan (Hal. 132) hangsal barkahing para wali sasanga, hingkang wingking hatur sembah.

Punika hingkang serat sarta hatur sembah gebal Dalem pun Adipati Suryanatakusumah hing Prakanmuneang hatur rahing kangjeng Gusti Sultan sepuh ingkang Sinuhun hing nagara Carbon hingkang sampun hangsal sih nurgahaning Allahutaallah miwah ingkang sapaat kangjeng Nabi kang mustapa kalayan hingkang drajat pra aulia sadaya hingkang sinare hing Argajatos hing wingking ing saking sapunika.

Punika turunan saking kangjeng Nabi Adam kang tumurun dateng Dalem Pasehan. Nabi Adam puputra Sis puputra yanas puputra Naya puputra Malik puputra Nabi Idris puputra Siya puputra (Hal. 133) Malat puputra Nabi Enoh puputra saking kang anom ing ngaranan baginda Sah iku apuputra Menur Putih iku Gandul Gantungan puputra Amran apuputra Babar Buwana apuputra Babar Buwana kang tesaking Timbanganten apuputra Sangiang Tunggal apuputra Ratu Dewata apuputra Prabu Dewata apuputra Rangga Dewata apuputra Maradewata apuputra Prabu Puspakalawesi apuputra Sunan Citayan iku apuputra Kappa Kingking apuputra Sunan Cantigi apuputra Sunan Panyandaan apuputra Sunan Curu apuputra Dalem Pasehan apuputra Lumaju rayi Dalem Lumaju Ratu Inten Dewata hingkang dipun haturaken dateng Pajajaran. Dalem Lumaju iku apuputra Taruna Lumaju apuputra kiyahi (Hal. 134) Kandruwan Margapati apuputra kiyahi Kandruwan Megatsari lan ki Kandruwan Margapati, Dalem Kandruwan Sojajaya, Munding kaseregan wangi kang anunggu Maraja Inten Dewata ing Pajajaran, mangka sadereke pipitu sami pada ngawula kang nem iku dateng Ratu Mraja Inten Dewata kala mengko pisan, mangka apuputra Kayudimanggala tungges lan ki Adiyuda apuputra ki Kandruwan Cisitu apuputra Ki Sutanagara apuputra kiyahi Lanjar.

Anapon hanyaritakaken malih Dalem Passehan hadarhe putra pipitu mangka arebut jeneng boten kena pinaris mangka kewedan sadaya, nunten sanja dateng Ratu Pakuwan, dateng Parbu Siliwangi nganghaturaken putra istri winastanan Maraja (Hal. 135) Inten Dewata, sampun hangaturaken mangka Dalem Pasehaniku anunjuk malih neda piratuwen mangka dipun leler putra ti pawarang karihin namane Ratu Maraja Putra, pangandika kang rama Pasehan yen ora becik panggawene, panganggone pateni pisan nanging aja den wetokkaken getihe bok sangar nunten dipun emban dateng Timbanganten, dipun adegaken Ratu, nunten sangar penganggene nunten dipun pejahing dipun daya jajambet dateng kali paksi tinerebaken hing Kedung ing ngaranan Ratu Burung Baok, kamatur malih dateng kang rama Dalem Pasehan sedateng Prabu Siliwangi, reh kang putra dipun pupusi, mangka kang rama bendu mangka Dalem Pasehan kinarsakaken kinampa, nuli kang ngambil Cipaniisan, mangka satakukuk mangka burung bendune Ratu, mila nipun tiyang Panembang cadu dahar (Hal. 136) kukuk. Mangka matur malih Dalem Pasehan haneda piratuwen malah kongsi 5 limang kali, hengge nyamatur mangka dileler, lagi wewetengan kang pamuter putra punika mangka dipun ubayani margi hanerus bumi, mangka medal hing Mandala puntang, nuli babar hing Sangiyang liyang, di siraman hing Mandadi puntang, dayeuhhe Mandalapuntang, mangka sasampuning jumeneng Ratu, nuhahiyang ing Gunung Satriya, kang ibu atatapa hing Sangiyang liyang, kasilihan ku putra kusunan Dayeuh Manggung, kasilihan ku kang putra ku sunan Darmakingking, Dayeuhna Suniyasugih pupus di Carbon, astanana Dayeuh Cikambiri, kasilihan ku putra kusunan Rangga Lawe, Dayeuhna di Karobokan, pupus di Pakuwan astanane pinggir Muhara Cikambiri, kasilihan ku ahis kusunan patinggi, dayeuhna (Hal. 137) di batu tunggal, karobokan pupus di Carbon astanane di Carbon, kasilihan ku kang rayi kusunan Kaceu Dayeuhna Dayeuh Landeuh pupus di Tubuy astanane di Baginda, kasilihan ku mantu ku sunan Tumenggung Mataun Dayeuhna Galangsing pupus di Citanduy sabrang wetan astanane ing Sabrang wetan putrana Sunan Rangga Lawe, mangka kasilihan ku ipar ku Sunan Pasir Dayeuhna sangkan luhur pupus astanane ing pinggir muhara Ciroyom, putrane Sunan Kaceu, kasilihan ku kang rayi ku Sunan Pangadegan putra Sunan Rangga Lawe Dayeuhna Tambak baya, pupus sunan Pangadegan dì Nagara Agung, astanane di Cangkuwang, kasilihan ku kang putra ku Sunan Demang Wirakrama dayeuhna dayeuh Landeuh pupus di Mataram, kasilihan ku kang raka ku Sunan Sampireun, ku putra Sunan Pasir (Hal. 138) dayeuhna di Batununggul astanane ing pinggir Cikambiri, kasilihan ku putra ku Dalem Demang Wirakrama Dayeuhna Purbasana, mangka hangalih hing Dayeuh Cikembulan, Cilageni, mangka hangalih ing Cibodas kalih ing Sarsitu mangka pupus hing Sarsitu astanane ing Tangkil kasilihan ku kang putra Raden Candradita dayeuhna tunggal Purbasana, hangalih malih ing Cibodas hangalihaken hing Bandung dadi Panghulu hangalihhaken malih dateng Cikambulan astanane ing Tanjung kamuning sarta bareng jeneng kalih kang raka Raden Ardisuta nagarane ing Bandung, pupus ing Bandung astanane ing Tenjolaya, kasilihan ku putra ku Dalem Tumenggung Hanggadireja pupus hing Bandung astanane ing pasir Gordah, mangka kasilihan ku kang putra ku Raden (Hal. 139) Indranagara nagarane ing Bandung, pupus astanane ing Lemah duhur sabelah kilen masjid ageng ing nagara Bandung, mangka kasilihan ku kang putra Raden Adipati Wiranatakusumah mangka pupus astanane ing kilen masjid negari Bandung parek kalih kang rama kasilihan dening kang putra Raden Adipati Wiranatakusumah mangka pupus astanane ing kahum nagri Bandung, kasilihan dening putra Raden Adipati Wiranatakusumah mangka pupus astanane ing Karang anyar kasilihan dening kang putra Raden Adipati Wiranatakusumah mangkin tamat.

Iki crita olih nyalin saking kitab kang kuna kala ing dinten Salasa kaping 28 sasih Muharam taun alip ijrah Nabi Sellellohu alaihi Wasalam. 20 Juni

(Hal. 140) Punika caritanipun Sangkuriang. Mulane Ratu Galuh hameng-hamengan baru samsam dateng Tegal luwar dupi sampun buburu punika liren sahandaping kayu hageng pada dahar. Sasampun dahar Ratu Galuh dahar duwegan sampun dahar duwegan punika tunasan nipun dipun nuyuhan dugan punika. Sasampun sapunika bubar Ratu Galuh mulih dateng Celeng hing ngandap kayu punika hamanggih dugan wonten banyune uyuh Ratu Galuh dipun hinum banyu punika dening celeng, nunten kesah malih pun celeng dateng Tegal lami-lami pun celeng meteng. Sasampune nuli babar rarecilik istri. Punika Ratu Galuh buburu malih dateng Tegal punika nunten kalanggar parnah pun celeng dateng pamatang Ratu Galuh, malepat pun celeng hilang boten katingal malih. Dupi ditingali dateng bekas pun Celeng wonten rare histri ayu (Hal. 141) rupane nunten dipun bakta kahatur raken dateng Ratu Galuh, rare punika kinen dipun bakta mulih dateng negari sarta di pun inghu pisan dateng pamatang punika, lami-lami ageng rare punika, sarta hangangken rama dateng Ratu Galuh, boten kahangken dateng Ratu Galuh, yen boten haraos hadarbe putra, dupi kang putra hacacarita hing mangsa kang rama buru Sang sami liren sandaping kayu gorda dahar duwegan bekasipun di puyuyuhan, dening kang rama, punika kelingan Ratu Galuh yena yaktos lampahe Ratu Galuh sapunika. Nunten dipun nangken putra sarta kapranahaken hing Tegal sarta yen damelaken wawangunan, kang putra punika boten kasukanan pisan rencang satunggal, mung piyambek kemawon pagaweyane nenun salamina, dupi lami-lami kawartakaken dateng Arab, yen di nusa jawa ana histri langkung ayune. Mangka kacaritaanna (Hal 142) aji ing Arab, panasaran yen hana warta sapunika, nunten kesah haji punika dateng ing Nusa jawa kapanggih histri ayu punika nunten darbe wicanten hajeng Arabi, dateng histri punika. Kang estri boten purun kangge rabi susah manahe sapunika kang estri ana jajalukane, hanjaluk panggawehaken sumur bade tampiyan kasanggeman. Nunten hagawe sumur haji punika samangsa ing lebet sumur punika, pun haji dipun urugan sumur punika dening kang estri boten bisa munggah malih nuli ilang musna haji punika. Sampun sirna haji timbul pun Tumang, nunten dipun inghu dening istri punika pun Tumang, lami-lami hanenun malih, nunten tiba aroponge, maring longan, punika susah manahe yen taropong tiba punika. Hangucap piyambeke yen hana wong hanggawa taropong hingsun saking longan (Hal. 143) dibawa saseda satapa maring isun. Karungu dening pun Tumang nunten den gegel haturaken dateng sang putri, sareng ditingali pun Tumang bakta taropong kaget istri punika, sarta kang ngucap sampun pinasti karsaning dewa. Boten dangu dihuculan nenun punika nuli turu kajamah dening pun Tumang, nuli handeg boten lami nuli medal lanang bagus sayan hage. Sampun kawawi buburu kidang saban-saban dina, nuli pitaken rama, hujare kang ibu boten darbe rama punika kang putra sampun uninga semune kang ibu. Nuli buburu malih dupi dateng ing Tegal pun Tumang dipun tewek mati diala atine kemawon den bakta kasrahaken hingkang ibu atine, dupi daginge boten bakta, hujare kang putra muga olu ati punika sampun di olah hujure kang putra cacak dingin dening kang ibu (Hal. 144) nuli dinahar, hujare kang putra punapa anak ibu ujare ngenak pisan. Hujar kang putra, kantenan enak sebab atine laki kang ibu Si Tumang. Langkung bendune kang ibu den pukul dening sinduk tarange dening kang ibu dadi tanda, kang putra langkung bendu maning nuli kesah hangjajah Nusa tigang puluh tiga. Sasampun sapunika kelingan manahe hajeng ing pahenggenane lami dipun dongdon saking Muhara Citarum hamudik nurut Citarum dateng Muhara Cisangkuy, nurut Cisangkuy mudik dateng Muhara Ciruum, mudik dateng sirah Ciruum, nuli manggih griya satunggal ing wawangunan nuli dilebet tinuli manggih titiyang estri sakalangkung ayune kang estri ninghali lanang bagus bogoh sami bogohe dadi bene bereh ing riku, lami-lami hamendet dipepetan nuli dipepetan kapanggih (Hal. 145) tanda dipukul dening sinduk, hingkang ibu yaktos kang putra.

Sanggem kang ibu sampun hami canten bene beureuh hidep anak kawula, dadi punapa benjinge, mejeh ayeuna boten kena katuturan sapunika keudeuh bae hajeng karabi, darbe jajalukan kang ibu. Ari keukeuh kudu, pangnyitukeun Citarum sarta menta prahu keur papanganten di tengah-tengah cai. Disanggupan dening kang putra dikerid balane mu nambak numapas prahu jangjine kudu pragat sadina samalem. Ampir pragat prahu keur dialus Citarum kari beungkateun, rasa kapeped kang ibu harep kaburu siyang, neda tulung ka pradewata, nuli nyacag-nyacag boeh larang diawurkeun ka wetan dadi siyang. Sareng katingali sampun siyang, bendu Sangkuriang dipun cacag prahu punika, batu asahanane disepak dug dateng Cihea, pramilana (Hal. 146) kawah hanyatakaken kalah, ana walirang hanyataken kawirangan kalah ku wadon, sapunika pamanggih carita Sangkuriang lan Dayang Sumbi.

Punika hangsal nurun malih saking kitab karihin, punika tamate tinulis hiki kitab ing dinten saptu kaping 27 Rabiul ahir tahun alip hijrah kangjeng Nabi Sellellohu alaihi wasalam 1283 ping 8 September 1866.

(Hal. 147) Punika paalamatan sato hewan kang horanana adate manjing ing umah atawa ing nagara atawa ing pakuwan atawa ing papayon. Kang dihin tuwan kang manjing ing nagara atawa ing umah, atawa ing papayon alamat iku sakehe kadang margane kena cilaka lamun arep becik maka sedekahe sawarnaning kolahan apa-apa atawa jawadah. Lamun ayam alas kang manjing ing nagara atawa umah, atawa ing papayon atawa pakuwan, atawa ing pakarangan maka beras pare maka kulah pitrah kang anganggo iku kang minangka sidekahe, alamat olih kaula kang anyar. Lamun Lutung kang manjing ing nagara atawa ing umah atawa ing papayon atawa ing pakuwan, maka sidekahe iku sakehe warnaning wowongan kang lagih apentil kang enak lan sagala pupucukan kayu kang enak kang lagih enom, kang minangka sedekaheikulah becik maka iya iku olih gajah padane bagjane.

Lamun Manuk Werak kang manjing ing nagara atawa ing umah atawa ing papayon atawa ing pakuwan (Hal. 148) atawa ing pakarangan, maka sidekahe iku banyu susu kang putih, lan pucuk kayu kang enom kang minangka sidekahe maka ikulah saparti ratu olih gajah bagjane uga.

Lamun Kukupu atawa Gajah iku manjing ing nagara atawa ing umah atawa papayon atawa ing pakuwon atawa ing pakarangan, maka sidekahe dodot kang tinulis kang minangka sedekahe sanajan sakalian dawane lan ambane iku pon becik uga maka olihe iku alamat dadi adu lan tegese alamat dadi ponggawa.

Lan lamun Kidang atawa Kancil iku manjing ing nagara atawa ing umah atawa ing pakuwon atawa ing papayon atawa ing pakarangan, sumawoning maring lunga umah maka sedekahe iku beras wuluh lan dodot kang kuning kang minangka sedekahe iku alamat iku olih arta teka ing awake saking nagara kang adoh.

Lan lamun Tuwan munggah sarta munjuk ing umah atawa ing nagara atawa ing pakuwan atawa ing papayon mangka sedekahe mamanis, maka ikulah alamat katekanan kaula kang anyar kang sumawita (Hal. 149) ing kadang wargane arep anganya ing wong iku.

Lan lamun Jamur tumuwuh ing umah atawa alus ngane atawa ing papayon atawa ing nagara atawa ing pakuwan ikulah buwangena lan sawuse den buwang, maka sidekahe kembang malati, lan barondong maka alamate iku ala wateke lamon anggawe kasidekah maka olih ramiyat, lamun ora kasidekahan nemu ala.

Lan lamun pawene iku olih atawa karine iku olih maka banyu tajin so kena ing pawoni maka nuli den kukudunge kalawan dodot kang putih, alamat atetemu wong ku iku ora pegate pada agawa tutur.

Lan lamon Ula iku rumambat ing umah atawa ing papayon maka banyu manis kang minangka sidekahe kaya lahang atawa madu atawa duwegan, maka alamat iku olih anak wadon kang ayu rupane atawa olih rabi kang adu rupane tur agama tur sugih lan lamon kasidekahan lamon ora kasidekanan maka ora olih anak lan ora olih rabi.

Lan lamon Manyawak manjing ing nagara atawa (Hal. 150) ing pakarangan atawa ing umah atawa ing papayon maka emas kang minangka sidekahe alamat olih emas amarapuli ngena saking kaden sidekahaken.

Lan lamun Manuk alap-alap, kinjeng, kanusuk ing umahe alap lan kinjeng iku alamat olih kawula kang kenceng lakune.

Lan lamun Uler akeh ing kolonge umahe, atawa ing jerone umahe, maka sidekahe iku dodot sangbarang dodot, maka alamat sugih pare beras lamon kasidekahan, lamon ora kasidekahan maka olih cilaka bae maka dodot iku sakawasane boh sakaliyan boh saasta dawane lan ambane, maka ora winangenan dawane lan amuda dane.

Lan lamon ana ayam iku ajima ing umah, maka tanwande kena cilaka, wong iku kang aduwe umah, sarta kadang wargane, maka sidekahe beras sakulah pamitrahan lan kalawan sawarnaning kaolahan kaya jawadah, lan liyane iku sarta ayame karone pisan, lanang wadon sidekahaken maring lebe, maka duane iku Tulak bala kalawan Tawil umur sinambungan. (Hal. 151) Darajat sarta nganggo kukus menyan.

T a m a t

(Hal. 151) Punika pancakaki Panîena Agung, iku susunan Pakancilan iku puputra Serangalun Panghulu Agung puputra sembah Panji Tujung Bang apuputra sembah Tuwan apuputra Sunan Nanten agung apuputra Sembah Anggadarpa apuputra Sembah Angganala, apuputra Antos, apuputra sembah Panggung.

Punika nama Kiyahi Aburjagat iku apuputra Kiyai Raras Baginda Jaya apuputra Kiyai Tongkol Jaya Sakti, apuputra Sunan Lawas Jaya, maka apuputra kalih, kang dikin Sunan Serapanji, apuputra Sunan Nanten Agung. Kang satunggal istri namane Ayu Nimbang Karan tenan mulana tanah Timbanganten maka angalap raka maring Dalem Passehan maka apuputra Marajainten Dewata.

Iku carita Kiyai Sang Maha kang wonten ing Ciburuy lan sangiyang Santen ing Panembang.

Anapon Sunan (Hal 152) Nanten Agung iku gadah putra istri, maka angalap raka maring Sunan Tuyud, maka apuputra Raden Ajeng Satria iyaiku kang den namane Kiyai Sagara, yaiku kang den Kiyai Tuwan lebe banyu asin, maka apuputra Nyimas Darat lan Nyimas Aminah lan jaleri iku papat kang dihin Kiyai Abdul Kabir lan Kiyai Tuwan Seh lan Kiyai Rasul lan Kiyai Tuwan Samud.

Maka Nyimas Darat iku apuputra wewelu lanang titiga kang dihin Kiyai Tuwan Ragasamita, lan Kiyai Amsarudin, lan Kiyai Cakra lan Nyimas Ganda, lan Nyimas Manik, lan Nyimas Arsa, lan Nyimas Masti, lan Nyimas Natan maka Nyimas Arsa iku puputra Nyimas Asmarawulan, lan Nyimas Asmaraliyah, lan Nyimas Lintang lan Nyimas Gadang.

Lan Kiyai Samagati, maka Nyimas Asmaraliyah iku angalap raka ing Kiyai Nasarudin, maka apuputra lilima kang dihin Nyimas Indrareja, lan Janimah, lan Asmiyah, lan Kiyai Bagus Nurhatim, lan Kiyai Bagus Nurmain, lan Bagus Jaiman, tatapi sarama bae. Anapon (Hal. 153) Nyimas Ganda iku puputra nenem lanang titiga, wadon titiga kang dihin Embah Patra, lan Embah Jagawadana, lan Embah Sacabangsa, lan Embah Minda lan Embah Panimbang, lan Embah Indra. Anapon Embah Nata iku apuputra wadon papat kang dihin Embah Rahimah, lan Embah Nuji, lan Embah Sadu, lan Kiyai Karadiwangsa. Anapon Embah Nuji alaki maring Kiyai Karimudin, maka apuputra wewelu kang dihin Kiyai Paranadisura, lan Kiyai Bagus saiman, lan Kiyai Natadikiriya, lan Kiyai Tarimarudin, lan Nyai Sadu, lan Sumateja, lan Nyai Samadita, lan Nyai Nagaparanten, Lan Nyai Nagaparanten iku alaki maring Kiyai Bagus Nurman, maka apuputra kang dihin Kiyai Bagus Jaidah, lan Nyai Kamijah, lan Nyai Kamijah iku punika saderekipun Nyimas Darat iku istri kang ngaran Nyimas Hasan sarama bae maka Nyimas Hasan iku maring Nyimas Darat, maka apuputra wewelu lanang lima kang dihin Kiyai Abdul Singadisuta, lan Kiyai Abdul Sacadita, (Hal. 154) lan Kiyai Abdul Sacalaksana, lan Kiyi Abdul Alim, lan Nyimas Wiradani, lan Nyimas Peyang, lan Nyimas Purba.

Lan Nyimas Wiradani iku apuputra lima, kang dihin Kang Candrawisaya, lan Candralaksana, lan Kiyai Taripudin, lan Nyimas Ratna, lan Nyimas Uyangmaneuh, lan Embah Meja, lan Embah Pandek.

Anapon Nyimas Uyang maneuh, iku alaki maring Kiyai Nurjani maka puputra wadon titiga, dihin Nyi Aminah, lan Nyai Jaimah, lan Nyai Satiyah, lan lanang satunggal, kang ngaran Bagus Sanjar.

Anapon Nyimas Tebang iku apuputra Ki Sutakiriya, lan Ki Paranadinata, wadon roro dihin Embah Mayang, lan Embah Natawangsa.

Anapon Embah Mayang iku apuputra lilima, dihin Ki Raksadirana, lan Embah Indapamekar, lan Embah Teja, lan Embah Rarata, lan Nini Bungsu.

Anapon Embah Natawangsa, iku apuputra roro Kiyahi Nurman, lan Embah Parnatan.

Anapon Embah (Hal. 155) Indapamekar iku apuputra Nyi Tiyem, Pun Kidam lan Pun Singadiraksa, lan Pun Nurjaim.

Lan Pun Nini Bungsu iku apuputra Nyi Sajeng, lan Pun Jaliyah. Lanang lan pun Embah Ratnawulan iku apuputra Pun Akwan lan Candra, wadon Pun Nini Dungkul.

Ikulah anapon Nyimas Aminah iku angalap raka maring Kiyai Eyang nagara, kang masup selam ing Depok, kang timbul ing Depok nagara maka apuputra Kiyai Hatib Hanipah.

Anapon Kiyai Abdul Raup maring Kiyai Hatib Hanipah iku saderek sarama, maka sawaluya den talak Nyimas Aminah dening Eyangnagara, maka nuli alaki maring Raden Haji Muhammad Saleh, maka nuli dadi Panghulu ing nagara Geger Pasang Kiyai maka sawuse mongkono iku, lan selehaken marang Hatib Hanipah iku putra kulon.

Maka nuli angalih Raden Muhammad Saleh lan Nyimas Aminah iku marang Cijambe, nuli (Hal. 156) sumare pisan karone ing Cijambe, maka kari kari den selehaken carita Kaum iku dening Kiyai Hatib Hanipah, marang kang putra kang hawanti, Kiyai Naspirudin, maka kari-kari den selehaken carita Kaum iku marang Kiyai Ahmaludin karana angalap geurwa marang putrane Kiyai Raksalojar kang ngaran Nyimas Uyang, maka kari-kari den selehaken carita Kaum iku marang Kiyai Japarudin, maka kari-kari den selehaken malih marang Kiyahi Abu Kahar krana anglap garwa marang putrane Bagus Iyar namane Nyimas Panghulu.

Punika putranipun kangjeng Kiyai Tuwan Seh iku kang dihin den Kiyai Abdul Jali, lan Kiyai Abdul Halak, lan Kiyai Kusumahwangsa, lan Kiyai kertimanggala, wadon nyimas Nengga lan Nyimas Panguyang, lan Nyimas Bandur, lan Nyimas Sarimbang lan Kiyai Mas Detawangsa rama Mas Kanduruwan kang anak ing Cianjur.

Anapon Kiyai Abdul Kaber iku apuputra kakalih sahiji Nyai Epen, lan Nyai Rantasari, maka apuputra istri Nyai Agadisari, lan (Hal. 157) Nyai Cana, lan lanang papat sawiji Eyang Wangsadinata, lan Eyang Astamerta, lan Eyang Wangsamerta, lan Eyang Wangsadirana.

Punika putranipun Sunan Darmakingking iku papat kang dihin Sunan Rangga Lawe, lan Sunan Darmakanggang, lan Sunan Demang, lan Sunan Kaca istri.

Punika warnanipun putra Dalem Demang Wirakarama, kang sumare ing Tangkil iyaiku kang dihin sawuse Tenjolaya, lan Dalem Wiranagara, lan Dalem Cakrakusumah, lan Dalem Brajayuda, lan Dalem Singa toruna, lan Dalem Wiradimerta, iya iku kang jalere iku lan istrine sawiji Raden Ajeng, lan Raden Santakusumah, lan Raden Tejep.

Utawi anapon Dalem Wiranaga iku maka apuputra lilima, kang dihin Raden Wirajibja, Raden Adikusumah, lan Raden Ditamanggala, lan Raden Sumakaraton, lan Raden Putrì.

Anapon Raden (Hal. 158) Wirajibja iku apuputra Raden Jibjadisura apuputra Nyimas Abay, lan Nyimas Dongrang, lan Nyimas Karaton, lanang roro, kang dihin Mas Jibjaparana, lan Mas Suriya, iya iku kangsaibu sarama, lan satunggal iku ana ing nagara Bandung, hang ha wasta Emas Arang.

Anapon katahipun Raden Wirajibja iku papat dihin Nyimas Apun neki lanang iku titiga dihin Raden Jibayadisura, lan Emas Wirajibja, lan Mas Suradiparana.

Anapon Raden Adikusumah iku apuputra Nyimas Werat, lan Nyimas Wadri, lan nyimas Bungsu.

Maka nyimas Werat iku apuputra papat kang dihin Nyimas. Raja, lan Nyimas Mindaratna, lan Nyimas Mindalintang, lanang iku papat kang dihin Mas Sutadiraksa, lan Mas Arip, lan Mas Surangga, Mas Bungsu.

Anapon Nyimas Mindalintang iku apuputra papat, kang dihin Nyimas Sastra, lan Nyimas Anji, lan Nyimas Sastraprabun, lan Kiyai Bagus Nurhamidan.

(Hal. 159) Anapon Raden Ajeng iku angalap raka maring Raden Rangga Limbangan nuli tetap ing nagara Limbangan pisan, maka puputra Raden Rajasuta kang putu Raden Raksa Jiway.

Utawi Raden Raksajiway saderek Suta Sampireun, maka gaduh putra Raden Santakusumah saking Raden Patrasuta, maka iya iku Nyimas Bangsakusumah maka angalap raka marang Kiyai Hatib Hanipah maka apuputra Kiyai Raksalodira, lan Kiyai Indraludin, lan.kiyai Nasarudin, lan Nyimas Arja lan Nyimas Gade, lan Ratibi.

Anapon Kiyai Nasarudin iku angalap gerwa marang baris kaum ingkang ngaran ngaran Nyimas Asmaraliyah, putune Nyimas Darat, maka apuputra Kiyai Nasarudin iku lilima, kang dihin Nyai Indaraja, lan Nyai Janimah, lan Nyai Asmiyah, lan Kiyai Nurhatim, lan Kiyai Nurmain, lan Kiyai Jaiman tatapi sarama bae.

Anapon Nyai Indaraja iku apuputra titiga, kang dihin Nyai Karajamirah, lan Nyai Apun, lan Kiyai Bagus Ambar.

(Hal. 160) Utawi Anapon Nyai Karajamirah iku apuputra nenem dihin Nyai Aci, lan Nyai Sainah, lan Nyai Rasimah, lan Bagus Alisam, lan Pun Diparaksa, lan pun Jawi.

Anapon Nyai Apun puputra pipitu dihin Kiyai Bagus Nurasid lan Bagus Sarijan, lan Bagus Sarijah, lan Bagus Angar, lan Bagus Aliyam, lan Nyai Kamsillah, lan Nyai Sawiyah.

Anapon Kiyai Bagus Asdar iku puputra kakalih, dihin Nyimas Panghulu, lan Mas Emon.

Utawi Sunan Rangga Lawe iku apuputra Sunan Pangadegan puputra Sunan Demang apuputra Dalem Wiramanggala lan Dalem Arip Muhammad. Maka Dalem Wiramanggala apuputra Raden Raksakusumah apuputra Nyimas Larang, lan Raden Mantriyakusumah iku puputra Eyang Pandita apuputra Kiyai Abdulrachman apuputra Raden Panghulu Haji Muhamad Husen maka angalap geurwa marang putra kangjeng Dalem Dipati Anggadireja, maka kagungan putra kang hawasta Raden Ayat, (Hal. 161) lan Raden Wirasamaka, maka Raden Raksakusumah, iku apuputra, istri kang nama Raden Mantriyakusumah, maka angalap raka marang Sunan Tangkil maka apuputra titiga, dihin Raden Wiranagara, lan Dalem Candrakusumah, lan Raden Raja.

Punika carita turun turun menak Timbanganten, kang nama Baginda Babarbuwana, apuputra Sangiyang Tunggal apuputra Ratu Dewata apuputra Perbu Dewata apuputra Rangga Dewata apuputra Rama Dewata apuputra Perbu Bujanggalawe apuputra Sunan Cantayan apuputra Sunan Pagengkang apuputra Sunan Cantigi apuputra Sunan Pananyaan apuputra Perbu Pancawarna apuputra Dalem Pasehan wewelu pamarep Dalem Lumajoparaja, istri kang nama Anten Dewata, maka angalap raka marang Perbu Siliwangi apuputra Sunan Permanadipuntang.

Punika Raden Jawi iku saderek ipun Sunan Sampireun, maka Raden Raksajiwa lan Raden (Hal. 162) Patrasuta, maka rarabi marang Raden Satakusumah maka apuputra tetelu, kang dihin Eyang Wiracakra, lan Eyang Bangsakusumah, lan Nyimas Ibrahim, lan Nyimas Anggayuda, lan Nyimas Mindasaraya, lan Nyimas Anten, lan Eyang Tarunayuda, lan Eyang Tarunawangsa.

Utawi anapon putrane Raden Raksajiwa iku tetelu Sawiji Raden Patrayuta, lan Raden Raksajiwa, lan Eyang Duku, maka Eyang Duku iku pernahe ing Cirebon dukuhe ing Karanggetàs.

Hadal babu pibayani tahluki Adam.

Ikilah lawang ing Dalem anyatakaken kadadenaning Nabi Adam alaihi salam, angandika anak A bas kang kiraridan dening Allah, saking karone wus anadekaken ing Nabi Adam, iku saking lemah dunya maka sirahe Nabi Adam, iku saking bumi kang Baetullah, lan dadane Nabi Adam, iku saking bumi Hindi lan tangane karo Nabi Adam iku saking bumi Hindu, lan tangana karo Nabi Adam iku saking bumi wetan, lan sikil karone (Hal. 163) Nabi Adam iku saking bumi kulon Maka Nabi Adam lan Babu Hawa iku maka lawas-lawas apuputra patang puluh, kang rong puluh iku wewetengan lan lanang wadon, lan sakembaran, iku maka wenang sareate Nabi Adam iku akarama maring sadulure. Maka Nabi Adam lan Babu Hawa iku apuputra Nabi Sis apuputra Yanas apuputra Pasar apuputra Nabi Idris apuputra Sahah apuputra Lamak apuputra Nabi Enoh apuputra kakalili ingkâng tuha arane Hasim apuputra Pasad apuputra Paha apuputra Roh apuputra Saruh apuputra Pakur apuputra Kadar apuputra Nabi Ibrahim apuputra Nabi Ismail apuputra Sabit apuputra Yasjar apuputra Yurah apuputra Paur apuputra Munabar apuputra Undar apuputra Malat apuputra Malah, apuputra Najar apuputra Mojar apuputra Iliyas apuputra Dalil apuputra Ajimah apuputra Munar apuputra (Hal. 164) Tapsir, apuputra Maler apuputra Paki apuputra Galib apuputra Sim apuputra Manap apuputra Tasim apuputra Abdul Mutalib apuputra Abdullah apuputra Nabi kita Muhammad Sallallohu alaihi wasalam.

Tamat

Lah paturunan saking Nabi Adam baris kang tuha.

Punika carita kang metu saking salira Nabi Adam, maka den usap uruhe dadi wesi sadom cina sangsaya putih araning wesi sang embut putih araning emas, maka anugel kuku dadi Sri sang Sri putih araning Sri, maka amasuh udele dadi upas Sang Jayaputih araning upas, maka anugel rambut dadi kapas sang rasa putih araning kapas.

Punika kang putra Nabi Enoh saking kang anom nama Baginda Sah, apuputra Ahpan apuputra Babarbuwana apuputra Manahputih apuputra Gandul Gantungan apuputra Angga Larang apuputra Gendalarang apuputra Ratu Sayar apuputra Ratu Majakane apuputra Ratu Komara apuputra (Hal. 165) Ratu Parmana apuputra lilima, kang satunggal Ratu Galuh, kang satunggal Sriputih, kang satunggal Rasaputih, kang satunggal Atmasuci, kang satunggal Ratu Barahma maka Ratu Barahma iku binakta dening alam duhur saking Nusa Selan maring Nusa Harah maka dudukuh ing Medangkamulan kalih kang rayi kang ngaran Ratu Dewi. Ataterus gumilang maka anandur jawawut malane den aranne Nusa Jawa. Maka Ratu Barahma iku arabi maring putrane Ratu Mesir, kang nama Ratu Parwatasari, maka Ratu Parwatasari iku duwe saderek lanang kang ngaran Ahmad maka atetenu pada rayi, maka babaktane baia saking Mesir Sewu lan saking selan sewu,. maka angalih maring Gunung Kidul.

Maka Sriputih iku apuputra tinibakaken ing ujung Kulon, maka den raksaha dening kaki Bagawat Sangsri maka angaturaken marang Sang Ratu Mesir iku kon rumaksa pisan, maka lawaslawas anangis anjaluk papanganan (Hal. 166) kang leuwih enak, maka saking leuwih banget panangisyi, maka nuli mati, rare iku lan nuli kinubur, maka tumuwuh, saking netrane, maka dadi warna pare putih, abang lan kuning lan ireng, lan ketan, lan sakehe papanganan kang enak den aturaken ing Ratu Madangkamulan mulane ana pare iku ing Nusa Jawa. Maka Ratu Barahma iku angalih marang nagara Jumiyah, maka apuputra saking Ratu Parwatasari, kang putra istri namane Nyi Rarawisa. Maka Panaonane ing nagara iku maka tinudung dening kangrama, maka lunga ngulon, maka atetemu lan Aki Jakah atawa yaiku nu dadi lakine Nyi Rarawisa, maka enggone iku den aranne Tegal Kapanasan, maka di Tegal iku nuli puputra nuli mati, maka pinubur, maka cukul dadi Kadu Sumidang pernahe ing pasisir, maka baline den buwang ing sagara dadi sakehe kang mandi ing sagara, maka Sang Rasaputih, iku tibakaken ing Balangbangan dupi (Hal. 167) puputra istri maka angaturaken marang Ratu Medangkamulan, dupi anak iku metu kakayon awoh metu bubuk lan kayas lan leleyak lan rujak lan ageran karana wisang iku ana ing Nusa Djawa. Anadene Atmasuci iku atatapa ing Ciasem lor parnahe rarabi marang Ki Sadana, maka puputra wadon namane Pandewirasa Aranne iku lan laki marang Sang Jayakeling aranne iya iku puraning Sandangan agon dening Rajaputra.

Tamat

Punika wewetan saking Rajaputra angalih marang Gunung Padang kang den sujude iku cahaya kang metu saking netrane, iku mulane den aranan Ratu Galuh, maka dadi Ratu nyakrawati, maka ikulah ana kersa Allah Taallah ambendoning marang kawulane kabeh ora anut ing sareat Nabi Enoh iku pada munggah ing baeta, sadaya ana dene Ratu Galuh iku acipta Gunung luhur iyaiku sipating langit, iku gunung maka sami pada munggah, (Hal. 168) maring gunung iku sabalane kabeh, maka den sampun asat sagara iku pada tumurun saking gunung, maka amabakan ing Bojong Galuh, maka Gunung iku den kang den sujud iku lawas-lawas den panah Gunung iku dening Malaikat maka rempag Gunung pepecahanne Gunung iku dadi sakehe Para Kabuyutan.

Punika carita kang putra Ratu Galuh iku titiga kang dihin Ki Dipati Hariyang Bangga, lan Ki Dipati Ciungmanara arane lan Marajasakti. Anadene putrane kang dadi Ratu bangsa siluman iku pipitu akehe sawiji Ki Jakahlarang parnahe ing Roban, lan Ki Sangalarang pernahe ing Tunjung Bang, lan Ki Dirawangi pernahe ing Wiraga, lan Ki Keyepok pernah ing Guha Upas, lan Ki Kelepang barang pernahe ing Lakbok, lan Ki Dulek pernahe ing Sacang, lan Ki Kelewing pernahe ing Pajajaran.

Maka Ki Dipati Hariyang Bangga iku pinarnahaken ing wetan, maka (Hal. 169) apuputra Gedeng Mantalarasa apuputra Ki Gedeng Mesir apuputra Ki Gedeng Ratu Majapahit, apuputra Ki Gedeng Jati apuputra Ki Gedeng Kancung apuputra Ki Gedeng Suruwud. apuputra Ki Gedeng Pangeran Seda ing Kamuning apuputra Pangeran Seda ing Karpeyak apuputra Sunan Mataram apuputra Sunan Tegalwangi apuputra Sunan Mangkurat apuputra Pangeran Dipati Anom.

Punika carita Ciyung Manara, iku pinarnahaken ing Pajajaran babaktine iku Panday Domas, maka Ciung Manara iku Apuputra wadon namane Perbu Sari, maka alaki marang Perbu Lutungkasarung, apuputra Perbu Linggah hiyang apuputra Panggung Kencana apuputra Perbu Linggawesi, apuputra Perbu Susuk Nunggal, apuputra Munding Kawati apuputra Perbu Anggalarang apuputra Perbu Mundingwangi kang dihin dadi Ratu Sunda kang cakrawati ing Pajajaran.

Ana dene Ratu Marajasakti dupi putrane iku pipitu (Hal. 170) akehe warnane kang dihin Ratu Romang pernahe ing Roban, Sang Ratu Guluherang pernahe ing Tanjung Bango Sang Ratu Butaguru pernahe ing Guha Upas kang satunggal wadon namene sanghiyang Pasareyan pernahe ing Lakbok, kang satunggal Ratu Romanggelang pernahe ing Guha Pajajaran, iya iku Siluman pipitu.

Anapon maka kari-kari buri nagara Pakuwan iku maka ruksak margane rusak iku satekane Keyan Santang saking Kabaetullah, maka sakehe kang anak Ratu Sunda kang wus tangkep ing wuruke dening Kêyan Santang iku maka den tundung dening ratu kang anama Perbu Siliwangi, maka bubar ngetan. Anadene Keyan Santang iku den tundung den arane panas ing nagara Pakuwan maka Keyan Santang kesah marang Cempa, maka Pajajaran iku merad tetkalane merad iku ing dina Salasa ing tanggal ping pad likur bulan Sapar tahun Jim ahir.

Anadene putrane kang katilar iku kakalih, kang (Hal. 171) nama Pucuk Umun, lan Sekarmandapa, maka sakarene iku mirad maka jinarah dening Ratu Wetan maka kalah Pajajaran iku maka Pucuk Umun iku kajarah dening Ratu Wetan. Anadene Ratu Madapa malayu marang Gunung Gede marang Ajar arane, maka atatapa lan Ajar iku maka lawas-lawas akarsa anginang, maka aji Garpu Sang Ratu iku dening kudi, maka ana manine ajar iku, anuli kakinang dening Ratu Mandapat maka nuli mateng lawase rowelas bulan, maka nuli babar, rarai iku istri tur ayu rupane, maka den aranan Tanuran Gangga Wenang dupi sampun Majaputra kinarsakaken dening Pangeran Jaketra, maka karsa den anggo, maka metu geni saking bagane, maka kahatur mareng Pangeran Cirebon, maka nuli den karsaken metu geni malih, saking bagane, maka pinudut dening Ki Gedeng Mataram, maka karsa nganggo maka metu geni saking bagane, maka anggandikane Dalem (Hal. 172) wus oranana gawene pisan, maka den dol marang Ratu Walanda, maka marang bedil titiga, maka den duum marang Mataram Si Guturgeni, lan si Tomi ing Cirbon, lan Si Amuk ing Banten mulane ana ing nusa Walanda.

Tamat

Punika carita anak putu Ratu Sunda, tetkala agawa wadon ing pakuwan Raja Mantri apuputra kang satunggal namane Raden Tetelu Padnalarang apuputra kakalih kang tuha Raden Memet lan Raden Lekepan Ambuk Agung apuputra kang satunggal namane Ratu Raden Sakehe Ratu Bancaria apuputra kakalih namane Munding Dalem Sari apuputra sangiyang Arjuna apuputra kang seda ing Cipamali apuputra kang seda ing Taman apuputra kang seda ing Pangkalan apuputra Sangiyang Sogor apuputra Raden Sengapati Ngalaga apuputra Sangiyang Patengah apuputra Sangiyang Lebak Wangi kang satunggal putrane Ratu Sunda Larang ing ngaranan Sangiyang (Hal. 173) Agung apuputra Sangiyang Mayak apuputra Raden Narasipa apuputra Dalem Sang Yagatri ing Cirbon kang satunggal kang metu saking Buniwangi apuputra Dalem Tumenggung ing ngaranan Ratu Permana apuputra Ratu Permanadi Puntang apuputra Ratu Pantenen apuputra Aras Dewa apuputra Sunan Darma Kingking kang sumare ing muhara Cikamiri apuputra Sunan Rangga Lawe pernahe ing Timbanganten tunggal ing muhara Cikamiri kang satunggal ing ngaranan Kebopati maka akarama marang putra Sunan Raja Mandalagung apuputra Sunan Raja Kandul pernahe Cihaur.

Anadene kang metu saking Ratu Akire ing ngaranan Perbu Liman Sanjaya Pernahe ing Limbangan, kang satunggal putrane Gura Gantangan kang metu saking Mayang Karuna ing ngaranan Rangga Mantri Puspawangi Raja Permana puputra Sunan Warna perih pernahe ing Tabaga, kang satunggal kang metu saking (Hal. 174) Manik Gumilang ing ngaranan Sangiyang Jampana pernahe ing Batu Layang, kang satunggal kang metu saking Paranggih Layaran Sari ing ngaranan Ratu Pontang apuputra ing ngaranan Maraja Hiyang pernahe ing Batuwangi kang satunggal putrane Perbu Anggalarang, kang nama Perbu Jaya Pakuwan apuputra Perbu Sedang Pugeran apuputra Perbu Sedang Mantu apuputra Perbu Sedang Hayud apuputra Perbu Sedang Gantungan apuputra Sedang Kancana apuputra Perbu Wisa apuputra Amadorasa Leuwih Limunan apuputra Ki Wirakusumah lan Santowan jangkung lan Ki Patrabaya lan Ki Payasa lan Lurah Surapatra lan Santowan Nakadirung pernahe ing oren ngowo kang satunggal ana ing Karang namane Mudik Batara.

Kang satunggal putra Ratu Marajaseda ing ngaranan Raja Mas tari maka tinarimaken marang Ki Lembu Alas pinarnahaken ing Ukur kang sepuh, kang satunggal putrane Maraja (Hal. 175) Inten Bancana apuputra sangiyang Wirona apuputra Sunan Rowana apuputra Perbu Manabaya apuputra Ki Ngabehi Cucuk kang sepuh pernahe ing Manabaya kang sanunggal putrane Angga sinom ing ngaränan Guru Minda Mantri Sari apuputra ing ngaranan Sangiyang Widaya apuputra Sangiyang Tuyud maka den pinarnahaken Sukawadana kang satunggal putrane Pakuwan kang metu saking Maraja Selawangi ing ngaranan Sangiyang Lutar, pinarnahaken ing Panembong kang sanunghal putrane Perbu Manding Kawati kang metu saking Mafajalarang anake Kidang Pananjung ing ngaranan Ratu Widaya apuputra ing ngaranan Perbu Wesi pernahe ing Raja Polah kang satunggal putrane Sangiyang Paduraksa kang metu ing Topo maka apuputra ing ngaranan Raden Sinom lan Raden Halipah pinarnahaken ing Suci lan Raden Sinom iku pernahe ing Selakedang kang satunggal putrane Mundingi Nalati kang metu saking Paranggilayan Sari maka ing ngaranan (Hal. 176) Sangiyang Waringga kang tatapa ing Gunung Madeya Sukma ing ngaranan Batara Amilarang maka apuputra ing ngaranan Ratu Siluman arane apuputra Ratu Demang apuputra Batara Hiyang Sempakwaja ngarane ararabi marang Batara Sedang kang putra Puhacirababu arane maka apuputra Batara Sidangkawidu maka apuputra nu pupus di Galuh, maka kapademan lenggahe iki kaselapan dening kang paman ing ngaranan Sarepan Cipancur, maka apuputra kakalih kang dihin nu seda ing Cibuntu iku apuputra Dalem Agung apuputra Kiyahi Samahita pernahe ing Sindang kasih kang satunggal putrane Raden Gadungwangi kang metu saking Margacinta, maka apuputra Sangiyang Mayang Karang apuputra Sunan Padujaya pernahe ing Pawenang kang satunggal putrane Raden Tumbangjaya arane putra saking Inten Bancana maka apuputra Sangiyang Sumur Agung apuputra Sangiyang Maha Saung Gatang kang satunggal namane Rangga Sunten (Hal. 177) putra saking Maraja Kastori ing ngaranan Sunan Dughiyang arane apuputra Mundingjaya pernahe ing Mandala, lan satunggal putrane Sinduparmana kang inganakaken dikaku putrane Sunan Jaratna pernahe ing Cipinanga kang satunggal sadereke ipun Raden Siriya Gedeng perhane ing Sukakarta kang satunggal malih Sang Maha Raja Pidara pernahe ing Maja kang putra Ratu Perbu Sanggala ing ngaranan Sunan Tambalayu maka puputra istri ing ngaranan Ratu Gumilang maka tinempahaken ing satowan Gunung Licin maka apuputra Sunan Madaya arane pernahe ing Paraja kang satunggal kang nama Sangiyang Santang maka akarama ing Ratu Mandapa, maka apuputra istri ing ngaranan A mur Ali, alaki maring Bimalarang putra saking Jampang pinernahaken ing nagara kang satunggal Munding Singa perhane ing Sumedang Larang arena margane anak putu Ratu Sunda kang metu saking (Hal. 178) Arum Ganda Wayang Sari maka puputra Sunan Cileuwih maka pinarnahaken ing Kadungora maka puputra titiga Maraja Hiyang, Raja Nabaway pernahe ing Kandangwesi, Maraja Hiyang Lugajaya pernahe ing Cidamar, kang satunggal putra Sunan Raja Nawang kang metu saking Marajasarì ing ngaranan Ki Kandruwan arane, maka apuputra tiga kang dihin ing ngaranan Ki Kandruwan Naraja Tapa pernahe ing Pawenang, kang satunggal ing ngaranan Ratu Gala rabine kang bobot tapane ing sarangenge pernahe sarta kalawan Batara Resik Putih pernahe ing awang-awang, maka apuputra iya ing ngaranan Sang Ratu Dewa Gara, Sang Ratu Guru Taji apuputra Guru Haji Putih apuputra Perbu Tajimalela apuputra Sunan Geusan Ulun apuputra Ki Rangga Gempol apuputra Ki Rangga Gede apuputra Pangeran Sumedang Kahiyangan apuputra Pangeran Sumedang larang arane margane anak putu Ratu Sunda abubar saking Pajajaran tinundung dening kangrama sabab sampun tangkep (Hal. 179) wuruke Keyan Santang samulih saking Kabaetullah kang putra sabab kekel iman lan Islam, maka ora anut ing sareate kang rama, kang Eyang iku margane den tundung bubar ngetan Keyan Santang, tinundung dening kang rama, sabab panas nagarane ing Pakuwan margane kesah dateng Cempa, kang Rayi binakta dateng Cempa, kang ngaran Sarikabunan maka kinarsakaken dening Ratu Tuban kang putra Haji Duta Samud putune Ki Janis Arang, maka Pajajaran iku merad kalane merad iku ing dina Salasa wulan Sapar tanggal padlikur tahun Jim akhir.

Punika salsilha Panembong kalih Timbanganten tes saking Baginda Babar Buwana apuputra Sangiyang Tunggal apuputra Ratu Dewa apuputra Rama Dewa puputra Perbu Wus Teka Lawai apuputra Sunan Cantigi apuputra Sunan Cantayan apuputra Pangenggang apuputra Pananyaan apuputra Sunan Pancawara apuputra Sunan Pasehan apuputra Dalem Lumaju turun ping (Hal. 180) tiga lumaju apuputra Kiyai Kanduruan Margapati, lan Kiyai Kanduruan Megat sari, lan Kanduruan Margapati malih apuputra Kiyai Yudamanggala Cinisti, apuputra Yudamanggala tunggilis apuputra Adiyuda apuputra Kiyai Kanduruan Cisitu apuputra Kiyai Sutanagara apuputra Kiyai Lanjar.

Punika carita malih salsiha Panembong kalih Timbanganten purwanipun iku Ratu Galuh apuputra Ciungwanara pinarnahaken ing Pajajaran maka apuputra Guru Minda Patanjala Perbu Lutung Kasarung apuputra Panggung Kan-cana apuputra Perbu Lingga Hiyang apuputra Perbu Linggawesi apuputra Batara Susuk Tunggal apuputra Perbu Anggalarang apuputra Perbu Siliwangi maka sinempal carita Dalem Pasehan apuputra Panembong kagugan putra pipitu, maka rebut jeneng boten kena, Raden Paris nuli gendang sadene, nunten Saca dateng Pakuwan dateng Perbu Siliwangi sarta ngaturaken putra istri kang ngaran Marajainten Dewata sasampun angaturaken (Hal. 181) maka Dalem Pasehan amujuk malih aneda piratueun maka den paringi putrane Perbu Siliwangi saking pawarang karihin namane Ratu Maraja Putra pangandika kang rama Pasehan yane ora becik pangagone patenan pisan anging ajawi netakaken getihe bok sangar nuten den adegaken Ratu nunten Sangar pangagone nuli den pejah den daya lintar dateng Cimanuk nuli den pejahi den terekaken ing kendung ing ngaranan Ratu Burung Baok kana, maka matur dateng kang rama Dalem Pasehan saca dateng Perbu Siliwangi, reh kang putra den pejahi. Maka kang rama bendu, maka Dalem Pasehan karsa kinumpulaken kinampa nuli angaraji pamisan maka olih tatapa, sarate wawadahe kukuk maka burung bendune Ratu, inggih mangkono mulane wong Panembong cadu maring kukuk. Maka matur neda piratuweun nuli den paringi tatapi maksih ana ing dalem wetengan putra saking Panembong maka den subaya dadalan terus (Hal. 182) bumi, maka medal ing Mandala Puntang nuli babar ing Sangiyang Liyang nuli den siraman ing Mandala Puntang den ngaranan Cibeureum catur sampun diwas jumeneng ratu namane Sunan Parmana dipuntang dayeuhe Mandala Dipuntang. Sasampuning jeneng Ratu iku nulih ngahiyang ing Gunung Satriya, kang ibu tatapa ngahiyang ing Sangiyang Liyang nuli kasilihan dening kang putra, dening Sunan Panten Rama Dewa kang ana ing Dayeuh manggung makane. Maka nuli kasilihan dening kang putra kang ngaran Sunan Darmakingking dayeuh Suniyasugih kang pupus ing Cirebon asta maneh ing pinggir muhara Cikamiri dateng Cimanuk, nuli kasilihan dening kang putra kang ngaran Sunan Rangga Lawe dayeuh ing Karobokan pupuse ing Pakuwan astanane ing Cikamiri tunggal ing pinggir muhara Cikamiri tegese tunggal pasire maka nuli kasilihan dening kang rayi kang ngaran Sunan Paninggi (Hal. 183) dayeuhe tunggal Karobokan pupuse ing Cirebon, nuli kasilihan dening kang rayi kang ngaran Sunan Kaceudayeuh Landeh pupuse di Tubuy astanane di Baginda. Nuli kasilihan dening mantu kang ngaran Sunan Tumenggung Matangun dayeuhe Kulangsing pupuse ing Citanduy sabrang wetan putrane Rangga Lawe, nuli kasilihan malih dening ipar, kang ngaran Sunan Pasir dayeuhe Sangkan Luhur pupuse ing Sangkan Luhur astanane ing pinggir Ciroyom putrane sunan Kaeeu nuli kasilihan malih dening Sunan Pangandegan putane Sunan Rangga Lawe dayeuhe Tambakbaya pupuse di nagara Agung astanane ing pulo Cangkuang, kasilihan malih dening kang putra kang ngaran Sunan Demang dayeuhe Landeuh pupuse di pupusan ing Mataram, nuli kasilihan malih dening kang raka kang ngaran Sunan Sampireun putrane Sunan Pasir dayeuh Batununggal astanane ing sampiren, nuli kasilihan dening kang putra kang ngaran Dalem Demang Wirakarama (Hal. 184) dayeuhe Purbasana nuli angalih ing Cikembulan Cilageni angalih malih dateng Cibodas angalih dateng Sarsitu pupuse ing Sarsitu astanane ing Tangkil, kasilihan malih dening kang putra Raden Demang Candra dinata dayeuhe tunggal purbasana, nuli ngalih ing Cibodas nuli ngalihaken marang nagara Bandung dadi Panghulu, nu pupuse ing Cikembulan astanane ing Tanjung Kamuning, sarong jeneng kalih raka Raden Demang Ardisuta nagarane ing Bandung astanane ing Tenjolaya Timbanganten, kasilihan malih dening kang putra Dalem Tumenggung Anggadireja pupuse ing Bandung astanane ing Pasir Gorda Timbanganten, kasilihan malih dening kang putra Raden Indranagara sarta jeneng Dalem Tumenggung Anggadireja nuli pupus ing Bandung astanane ing Lemah Luhur ing nagara Bandung sarta pinggir masjid pisan, kasilihan malih dening Mas Entil sarta jeneng Tumenggung Anggadireja nunten munggal jeneng dadi Dipati Ukur Bandung Dalem (Hal. 185) Dipati Winatakusumah, nuli kasilihan malih dening kang putra kang nama Raden Dongdong nunten jeneng Dalem Dipati.

Punika cacahipun Kiyai Lebe Banyuasin kang ical Kiyai Ahmaludin dadi Panghulu Timbanganten iku sawiji Abdul Sacadinata, lan Abdul Dira Santana, lan Abdul Ditalaksa, lan Abdul Amir, lan Abdul Jadisura, lan Kiyai Abdul Nurahman, lan Kiyai Abdul Patah, lan Kiyai Karimudin, lan Abdul Karadiwangsa, lan Abdul Dalim, lan Eyang Astradipa, lan Eyang Suradinata, lan Eyang Dirapaksa.

Anapon mula-mula nipun burak cacah kaum iku sabab arep den anambahi ing cacah Pasirkiyamis dening Kiyai Raksalodira karana Kiyai Raksalodira iku angalap garwa marang kampung Pasir Kiyamis maka suwese burak iku oranana Samahan baris kaum, maka kari-kari wonten saking nagara Bandung kang nama Dalem Demang Dikon Hamupul (Hal. 186) Wuwungan, maka nuli pada nyahosi nagara Bandung saking randane baris kaum iku atemu kanteh patang tukel, anadene kangngaturaken ing kanteh patang tukel iku Kiyai Bagus Nurmain lan Embah Nurman marang Dalem Demang iku, makanuli wonten pangandika ning kangjeng Dalem Demang marang Kiyai Bagus Nurmain lan marang Embah Nurman mangkene pangandikane: He Kiyai Nurmain lan Ki Nurman, besok-besok baris kaum lamun wus ana somahan iku dadekaken patang keti saking nurun-nurune Kiyai Tuwan Lebe Banyuasin iku, maka lawas wonten somahan baris kaum iku patang somah kang dihin Embah Dipanata lan Ki warga lan Embah Nurjam lan Embah Wangsadisura.

Punika paturunan saking Nabi Adam teka marang Dalem Dipati iku wus patang pulih lima.

Punika paturunan saking Nabi Adam marang Nabi Muhammad iku wus patang puluh turunan.

Silahkan Download Naskahnya:

About admin

Check Also

Ketika Kitab Ihya Ulumiddin Karya Al-Ghazali Diragukan Ulama

Abul Hasan Ali bin Harzahim pernah meragukan “Ihya Ulumiddin”. Ia sempat berencana membakar salinan-salinan kitab ...