Thursday , August 22 2019
Home / Relaksasi / Renungan / Musa…Lemparkan Tongkatmu!

Musa…Lemparkan Tongkatmu!

Silahkan dibaca tulisan ini dengan pelan sampai habis karena maknanya tidak berada di awal, tidak berada di tengah dan tidak pula di akhir, maknanya akan di dapat ketika sahabat membacanya secara keseluruhan, disana akan muncul sebuah kesimpulan yang mudah-mudahan sama dengan kesimpulan penulis. Selamat membaca…

Allah SWT menurunkan atau mengangkat para Nabi dan Rasul sesuai dengan kondisi dimana Nabi/Rasul tersebut berada sehingga bisa menjawab tantangan lingkungan atau zaman yang dihadapinya. Dari berbagai perbedaan tersebut tentu saja ada kesamaan dari mereka yaitu sama-sama membawa pesan dari Tuhan dan sama-sama memikul derita di atas rata-rata manusia.

Dalam berbagai riwayat, Allah telah menurunkan atau mengangkat 120.000 Nabi di dunia ini dan dari jumlah banyak tersebut ada 250 yang berpredikat sebagai Rasul. Diantara jumlah banyak itu, hanya 25 orang nama yang tercatat dalam al-Qur’an. Guru Sufi pernah bertanya kepada saya, “Menurut kamu, apa yang membuat 25 Nabi itu tercatat dalam al-Qur’an?”.  Maksud pertanyaan Beliau, dari 120.000 Nabi yang tentu saja berpredikat Kekasih Allah dan menjadi manusia pilihan, kriteria apa yang membuat hanya 25 Nabi dan Rasul tercatat dalam  al-Qur’an, mewakili jumlah banyak  tersebut. Saya diam tidak bisa menjawab dan Guru Sufi pun diam sesaat. Kemudian Beliau menjawab dengan pelan…”Deritanya…”.

Nabi 25 orang tersebut terpilih karena merekalah yang paling berat cobaan dan derita dialami, baik secara fisik maupun mental sehingga manusia sepanjang zaman bisa mengambil pelajaran dari kisah hidup mereka.

Salah satu contoh adalah Nabi Musa AS, Nabi yang diberi tugas oleh Allah SWT menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan Fir’aun di Mesir dan membawa mereka dengan selamat ke tanah yang dijanjikan yaitu negeri Kan’an atau Yarusalem. Kita tahu bahwa Musa adalah salah seorang pangeran di kerajaan Fir’aun, karena sejak bayi menjadi anak angkat Fir’aun, dan hidup dengan segala kemewahan di istana raja yang megah.

Dari ramalan ahli nujum, Fir’aun tahu bahwa kelak kerajaannya akan dihancurkan oleh seorang anak laki-laki dari bangsa Israel, bangsa yang selama beratus tahun menjadi budak di negerinya. Atas petunjuk dari ahli nujum ini kemudian Fir’aun melakukan tindakan preventif yang sangat terkenal dalam sejarah, yaitu dengan cara membunuh seluruh anak laki-laki yang lahir saat itu. Fir’aun sangat takut kehilangan kekuasaan dan juga takut kehilangan budak-budak dari bangsa Israel yang selama ini dipakai untuk membangun kerajaan Mesir dengan begitu megah dan kuat.

Begitu hebat sekenario Allah SWT, sosok yang membebaskan bangsa Israel, melawan kezaliman dan angkara murka Fir’aun justru muncul dari dalam istana Fir’aun sendiri. Musa adalah salah seorang Pangeran yang disayang oleh Fir’aun, karena sejak bayi telah diangkat menjadi anak. Kalau anda menonton film “Exodus GOD” gambaran kehidupan Musa dalam kerajaan Fir’aun tergambar dengan jelas. Musa bukan hanya sebagai Pangeran, tapi juga menjadi anak kesayangan Fir’aun, melebihi anaknya sendiri yaitu Ramses II yang kelak menjadi musuh Musa. Kasih sayang yang berlebih kepada Musa ini secara diam-diam menimbulkan kecemburuan dalam diri Ramses II, kelak ini menjadi pemicu utama dia memusuhi Musa.

Memang sudah menjadi garis hidup, sebagai calon utusan Allah SWT, Musa menjalani perubahan hidup yang sangat drastis, dari kehidupan mewah dan nyaman menjadi buronan utama, sehingga terus berkelana dari satu tempat ke tempat lain sampai melewati batas negeri Mesir agar aman dari kejaran. Musa bukan lagi seorang pangeran, dia hanya sebagai orang biasa yang tidak mempunyai tempat tinggal, berpindah dan terus berpindah sambil tetap waspada agar selamat dari pembunuhan utusan-utusan dari Fir’aun yang terus menerus mengintai.

Dalam perjalanan panjang tersebut dengan penuh derita dan kesusahan, Musa belajar banyak tentang hidup dan dari sana menemukan tujuan hidup hakiki yaitu menjadi hamba Allah SWT. Musa meyakini ada kekuatan lain diluar sana yang tidak diyakini Fir’aun, yaitu Sang Maha Berkuasa yang kekuasaannya meliputi bumi dan langit. Allah SWT telah bersemayam dalam diri Musa sehingga tidak ada keraguan sedikitpun di hatinya.

Ketika Allah SWT memberi tugas untuk berdakwah kepada Fir’aun, sebagai manusia biasa tentu saja ada rasa takut dan bimbang sehingga Beliau kemudian berdoa yang doanya terukir indah dalam Al-Qur’an, “Rabbi Sharli Sadri wa yassirli amri wahlul uqdatan mil-lisaani yafqahu qawli” (Ya Allah lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku dan hilangkanlah kekakuan lidahku).

Disini Musa telah memasrahkan hidupnya kepada Allah SWT, dari seorang pangeran Mesir yang gagah perkasa menjadi seorang hamba Allah yang rendah hati dan penuh kepasrahan kepada Allah SWT. Musa telah berhasil menghilangkan dirinya, melenyapkan ego nya, sehingga muncullah Kebesaran Ilahi dalam setiap tindakan yang dilakukannya.

Musa adalah jawaban dari Allah SWT atas doa orang-orang teraniaya dari bangsa Israel selama bertahun-tahun. Fir’aun sebagai Raja kejam dan zalim telah berhasil menghilangkan identitas asli dari bangsa Israel yang dibina oleh Nabi Ibrahim. Mereka menjadi bangsa sakit dan tertindas, takut akan kekuasaan dan mudah di iming-iming harta. Gambaran bangsa Israel sebelum datang Nabi Musa AS seperti yang digambarkan oleh Nabi dalam hadist tentang ummat Islam di akhir zaman, “Cinta dunia dan takut Mati”.

Orang yang “Cinta Dunia” akan mudah di sogok dan di iming-iming, baik dengan harta maupun kekuasaan, mudah di tipu dan dipecah belah, sementara sifat “Takut Mati” akan melahirkan manusia-manusia penakut yang sangat mudah ditindas dan di intimidasi, sehingga mereka tidak ada keberanian untuk melawan sedikitpun. Mereka meyakini akan kekuasaan Allah akan tetapi dalam praktek keseharian, mareka sangat takut kehilangan apapun, baik harta, jabatan maupun fasilitas hidup. Mereka telah kehilangan jati diri dan mereka sebenarnya telah mati sebelum mengalami mati secara fisik.

Musa diberi tugas melebihi batas kemampuan manusia biasa, melawan tirani Fir’aun, kemudian membebaskan bangsanya yang berjumlah puluhan ribu orang, berjalan kaki melewati ribuan kilometer jarak tempuh. Coba anda bayangkan bagaimana sulitnya mengkoordinir manusia dalam jumlah puluhan ribu orang yang selama bertahun-tahun mentalnya telah dirusak total oleh Fir’aun. Bangsa dalam jumlah puluhan ribu orang ini, dengan 12 suku dan terpecah-pecah dalam berbagai fraksi harus bisa berada dalam satu komando yaitu Komando Musa. Inilah tugas Maha Berat yang di pikul oleh Musa dan kenapa Musa berhasil karena ada keyakinan akan Allah SWT yang terpatri dalam jiwanya, ada bekal ilmu-ilmu rohani yang dipelajari dari Guru Rohaninya yaitu Khidir AS, sehingga segala tindakan Musa selalu dibimbing oleh Allah SWT.

Semenjak diberi tugas oleh Allah SWT untuk berdakwah di negeri Fir’aun, Musa telah mengalami tekanan demi tekanan, mulai serangan tukang sihir fir’aun, usaha pembunuhan dan puncaknya ketika puluhan ribu orang dibawah pimpinan Musa tersudut di pinggir laut merah. Di depan mereka laut, sementara dibelakang mereka pasukan Fir’aun. Berenang di laut akan mengalami kematian, mundur kebelakang akan dibantai oleh pasukan Fir’aun. Musa sudah pasrah di atas pasrah, menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Kondisinya persis seperti kondisi Nabi Muhammad SAW ketika perang pertama yang dikenal dengan perang badar, sehingga dalam kepasrahan tersebut Nabi Berdoa, “Ya Allah, aku nantikan janji-Mu. Ya Allah, jika pasukanku ini kalah, niscaya tidak ada lagi orang yang akan menyembahmu di bumi ini.

Musa dengan total telah menyerahkan jiwa dan raganya kepada Allah, diri Musa telah lenyap dalam kemahabesaran Allah SWT, disaat itulah Allah SWT memberi perintah kepada Musa, “Musa lemparkan tongkatmu!”. Tanpa bertanya Musa melempar tongkatnya ke laut sebagai wujud kepatuhan total kepada Allah. Musa tidak pernah tahu kenapa harus melempar tongkat ke laut, padahal doanya adalah bagaimana pasukan Firlaun hancur, apa hubungan antara melempar tongkat dengan hancurnya musuh? Namun Musa telah di didik dengan baik oleh Khidir AS, sebuah didikan hadap dan akhlak yang tinggi agar tidak pernah pertanya terhadap apapun yang diberikan oleh Allah SWT. Musa telah sempurna berada dalam MAQAM KEPATUHAN, MAQAM para kekasih Allah SWT

Melempar tongkat juga memberikan kesadaran penuh kepada Musa bahwa bukan dirinya yang menyelamatkan Bani Israel, bukan dirinya yang membelah laut, tapi kudrah dan iradah Allah lah yang melakukan semuanya. Kedua tangan Musa yang kecil dan tidak berdaya, berubah menjadi tangan dan kekuasaan Allah yang Maha Kuat dan Perkasa, sehingga laut pun terbelah dengan seketika dan puluhan ribu orang selamat. Begitu pentingnya pelajaran menghilangkan diri ini, sehingga Allah mengajari kita semua lewat firmanNya kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, “Bukan engkau (Muhammad) melempar, memanah, tapi AKU!”, tercacat dalam surat al Anfal ayat 17,  “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

Allah SWT telah memberikan takdir kepada MUSA untuk menang melawan tirani Fir’aun dan Dia juga memberikan jalan cerita indah kepada Musa dan pengikutnya untuk dikenang dan dijadikan pelajaran di generasi kemudian, walaupun jalan cerita indah tersebut dilewati dengan penuh kesengsaraan. Kesusahan dan kesengsaraan itu harus dilewati, agar Musa bisa mengetahui yang mana SAHABAT SEJATI, yang mana pula sekedar penggembira dan yang mana pula yang hanya berpura-pura. Allah SWT memberikan peringatan kepada kita semua bahwa disaat sebuah negeri sudah diperintah dengan Hawa Nafsu, maka Allah akan mengirim MUSA-MUSA baru dalam wujud yang berbeda namun dengan misi yang sama yaitu membawa kembali manusia dari lembah nafsu yang penuh ketakutan kepada Jalan Allah yang penuh ketenangan dan kedamaian.

Di kemudian hari, setelah MUSA Menang selamat dengan cara ditenggalamkan Fir’aun dalam lautan, Musa sadar bahwa kemenangan itu bukanlah akhir dari perjuangan, tapi awal perjuangan baru yang jauh lebih berat yaitu membina mental dari pengikutnya menjadi ahlak yang baik, akhlak yang disukai oleh Allah SWT.

Kemenangan bagi MUSA bukanlah tujuan karena kalau itu sebuah tujuan maka setelah selamat dari kejaran Fir’aun, diseberang lautan Musa akan langsung mendirikan kerajaan baru, menggantikan kerajaan Fir’aun. Musa tidak untuk berkuasa tapi untuk menjadi sahabat bagi bangsa Israel yang tertindas. Musa menjadi pelita dalam kegelapan, menjadi garam dalam hambarnya makanan dan menjadi oase di tengah gersangnya sahara. Musa telah mengajarkan kita semua tentang perbedaan antara “Leader” dan “Boss” dimana seorang Leader bisa menginspirasi dan memberikan semangat kepada orang-orang bersamanya sementara Boss memberikan perintah dan tekanan kepada bawahannya.

Kemenangan MUSA dicatat dengan indah dalam baris-baris ayat Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW melakukan puasa di 10 Muharam sebagai rasa syukur, merayakan kemenangan Musa yang terjadi ribuan tahun lalu. Kita pun wajib merayakan Kemenangan MUSA, kemenangan orang-orang tertindas dan teraniaya oleh angkara murka raja zalim.

Dan… andai… sekali lagi andai… kita ditakdirkan hidup di zaman Musa, tentu kita tidak memilih Fir’aun sebagai sekutu walaupun di iming-iming kekuasaan dan diberi ancaman, kita juga tidak memilih menjadi seorang munafik yang hanya diam tanpa memihak…hati kecilnya kita PASTi memilih MENANG bersama MUSA!.

sMoga tulisan ini bermanfaat…

Source: Sufi Muda

About admin

Check Also

Khalifah Aja Dibilang Gila

Oleh : H Derajat Ini sebuah kisah nyata di kala seorang Khalifah (Pemimpin Negara) dibilang ...