Tuesday , March 19 2019
Home / Relaksasi / Renungan / Mursyidku, Syeikh Makruf Al-Karkhi, Mendoakan Pemabuk

Mursyidku, Syeikh Makruf Al-Karkhi, Mendoakan Pemabuk

Oleh: H. Derajat

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

Inilah kisah kemuliaan Mursyid kami di Pasulukan Loka Gandasasmita yaitu Sidi Makruf Al Karkhi yang jauh dari rasa benci kepada orang lain. Kasih sayangnya mendahului rasa benci, beliau begitu lembut kepada umat manusia. Jangankan menghujat orang lain mendoakan keburukan pun beliau tidak mau.

Makruf Al Karkhi adalah seorang sufi Agung yang berpengaruh. Bernama lengkap Abu Mahfudz Ma’ruf bin Firus Al-Karkhi. Sufi yang satu ini menetap di Baghdad, Irak di masa kejayaan Harun Al Rasyid. Berasal dari Karkh daerah Persia, Iran dan mempunyai banyak murid. Salah satunya adalah Sidi Sarry as-Saqathi seorang pewaris kesufian Gurunya.

Beberapa kisah tentangnya menarik untuk disimak. Berikut adalah sebagian hikayat mengenai Sidi Makruf Al-Kharkhi. Al kisah pada suatu hari Ma’ruf berjalan bersama-sama muridnya. Di suatu tempat ia bertemu dengan serombongan anak muda yang sedang menuju ke Sungai Tigris.

Disepanjang perjalanan anak muda tersebut bernyanyi sambil mabuk menenggak miras. Melihat ulahnya pada murid menghendaki agar Sidi Ma’ruf Al-Karkhi berdoa kepada Allah gerombolan anak muda mendapat balasan setimpal. Desakan para murid itu akhirnya meluluhkan hati Sidi Makruf Al-Karkhi Kemudian ia berdoa, “Ya Allah, sebagaimana engkau telah memberikan kepada mereka kebahagiaan di dunia, berikan pula kepada mereka kebahagiaan di akherat nanti.”

Tentu saja doa ini membuat para muridnya kaget dan tidak mengerti. “ Megapa berdoa seperti itu,” ujar salah satu muridnya. sidi Makruf Al-Karkhi pun kemudian menjawab. “Tunggulah sebentar, kalian akan mengetahui rahasianya.” Aneh bin ajaib. Sesaat kemudian para pemuda berbalik dan melihat ke arah Sidi Ma’ruf. Mereka kemudian memecahkan botol-botol anggur yang sedang mereka minum. Dengan gemetar mereka menjatuhkan diri di depan Ma’ruf dan menyakatan bertobat. Lalu kata Syekh Ma’ruf kepada muridnya, “Kalian saksikan, betapa doa kalian akan dikabulkan tanpa membenamkan rasa kebencian dan mencelakakan seorang pun pun juga.”

Salah satu muridnya yang terkenal, Sidi Sarri as-Saqathi berkisah. Pada suatu hari perayaan aku melihat Guru ku Sidi Ma’ruf Al-Karkhi tengah memunguti biji-biji kurma. “Apa yang sedang engkau lakukan?” tanya Sidi Sarri. Sidi Makrufpun menjawab, “Aku melihat seorang anak menangis. Aku bertanya kepadanya mengapa menangis. Lalu anak tersebut menjawab bahwa dirinya anak yatim piatu. Anak itu berkata bahwa teman-temannya mendapatkan kacang sedangkan dirinya tidak. Lalu akupun memunguti biji-biji kurma ini. Aku akan menjualnya, hasilnya akan aku belikan kacang untuk anak itu, agar ia dapat kembali riang dan bermain bersama anak-anak lain.” Mendengar jawaban itu akupun berkata “Biarkan aku yang mengurusnya.”. Lalu akupun membawa anak itu, membelikannya kacang dan pakaian. Anak itu terlihat sangat senang. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang luar biasa. Ada seberkas sinar menerangi hatiku. Mulai saat itu, akupun berubah.

Demikian kisah Sayyidi Makruf Al Karhi yang menitikberatkan akan akhlaq yang luhur baik dalam perbuatan maupun dalam hati.  Semoga kita mendapat madad dari beliau. Aamiin.

Diambil dari kitab Jami’ karomatil Auliya’ karya Sayyidi Yusuf Ismail Nabhani R.A

 

About admin

Check Also

Wacana Martabat Tujuh dalam Kesusasteraan Jawa-Islam (4)

“Para guru sufi senantiasa mengingatkan kita untuk shalat daim. Shalat di alam arwah guna mengembalikan ...