Wednesday , August 22 2018
Home / Deep Secret / Misteri / Misteri Gunung Salak dan Beberapa Kecelakaan Pesawat

Peristiwa terakhir adalah jatuhnya pesawat penumpang canggih, Sukhoi Superjet 100 dari Russia yang misterius. Karena merupakan penerbangan perkenalan, bisa jadi sang pilot ingin menunjukkan performa maksimal dari pesawat dengan melakukan manuver secara “push to the limit” yang artinya, sang pilot akan menunjukkan kelebihan dari pesawat, misal manuver seperti menukik, berbelok ataupun naik tinggi secara “tak biasa” yang akhirnya justru membuat pesawat ini menghantam tebing. But, approaching mountain during test flight is a BAD IDEA. (analisa penulis)

Misteri Gunung Salak dan Beberapa Kecelakaan Pesawat

***

Gunung Salak berdiri dengan anggun di wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Banyak pecinta alam mengungkapkan kekaguman atas keindahan gunung ini dengan cara melakukan pendakian.

Namun di balik kecantikan gunung setinggi 2.221 meter ini sederet kecelakaan pesawat berujung maut banyak terjadi di sini. Beberapa kecelakaan pesawat yang pernah terjadi di sekitar Gunung Salak antara lain:

29 Oktober 2003

Helikopter Sikorsky S-58 jenis Twinpac dengan nomor H-3408 milik TNI Angkatan Udara jatuh di areal kebun kacang dan tanaman singkong di dalam pangkalan udara militer Atang Sanjaya, Bogor.

Pangkalan udara ini terletak di kaki Gunung Salak. Tujuh anggota TNI AU, yakni dua penerbang dan lima kru mekanik tewas seketika setelah helikopter buatan Amerika pada 1970 itu terhempas.

20 Juni 2004

Pesawat Cessna 185 Skywagon jatuh di Danau Lido, Cijeruk, Bogor. Atlet terjun payung bernama Edy Cristiono tewas dalam peristiwa itu.

26 Juni 2008

Pesawat Cassa TNI AU A212-200 jatuh di kawasan Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. 18 Penumpang tewas akibat kecelakaan itu.

30 April 2009

Pesawat latih jenis Sundowner ini jatuh di daerah Tenjo, Bogor, Jawa Barat.

Saat itu instruktur penerbang yang bernama Nicholas Burung akhirnya meninggal tak lama setelah kejadian itu, di dalam perjalanannya saat menuju ke rumah sakit.

12 Juni 2009

Kecelakaan pesawat TNI kembali terjadi. Kali ini adalah Helikopter Puma milik TNI AU jatuh di kawasan Lanud Atang Sendjaja, Bogor.

Dalam kecelakaan tersebut, 2 tentara mekanik tewas, sedangkan pilot Mayor (pnb) Sobic Fanani dan kopilot Lettu Wisnu, serta tiga anggota TNI lainnya mengalami luka.

9 Mei 2012

Pesawat Sukhoi Superjet 100 yang sedang melakukan joy flight saat pengetesan dan promosinya untuk maskapai-maskapai di Indonesia, hilang kontak di kawasan Gunung Salak, Bogor, pada hari Rabu 9 Mei 2012 (lihat lokasi jatuhnya Sukhoi Super Jet 100 via satelit).

Sehari setelahnya dipastikan pesawat buatan Rusia itu jatuh di lereng Gunung Salak. Badan pesawat pecah berkeping-keping. Dalam pesawat tersebut, dioperasikan oleh pilot senior Aleksandr Yablontsev, co-pilot Aleksandr Kochetkov.

Dan terdapat 45 penumpang, 8 di antaranya merupakan kru asal Russia, 2 orang Italia, satu orang warga negara Perancis dan satu orang warga negara Amerika.

This is where the accident was happened, the wreckage visible in the cliff which was hit by Sukhoi Superjet 100 on May 9th 2012 when during a joy flight promotion.

Menurut beberapa pakar penerbangan dari luar negeri (lihat video dibawah), kecelakaan ini bisa jadi akibat keteledoran dari manusia atau human error.

Pakar penerbangan dari luar negeri juga mensinyalir, pesawat ini sebenarnya tergolong generasi terbaru, maka kemampuan pesawat sebenarnya tak diragukan lagi. Pesawat ini adalah pesawat berteknologi canggih dan handal.

Lalu ada misteri apa dibalik kecelakaan pesawat Sukhoi dengan teknologi canggih tersebut?

Bisa jadi karena ini merupakan penerbangan perkenalan kepada para buyer pesawat, maka sang pilot berusaha menunjukkan performa dari pesawat tersebut. Seperti layaknya “tes pilot” mereka akan menunjukkan atau melakukan manuver pesawat yang bersangkutan secara “push to the limit“.

Artinya, sang pilot akan menunjukkan kelebihan-kelebihan dari pesawat Sukhoi ini. Misal manuver yang tak biasa, seperti menukik, berbelok ataupun naik tinggi secara “tak biasa”.

(ZOOM IMAGE) This is where the accident was happened, the debris from Sukhoi Superjet 100 visible in the cliff which was hit by that plane on May 9th 2012 when during a” joy flight” promotion.

Namun karena keadaan cuaca di sekitar gunung selalu dapat berubah dengan cepat, maka bisa jadi pesawat ini terlempar atau terdorong oleh angin samping dari sisi gunung Salak yang selalu berubah-ubah setiap saat dan membuat pesawat melenceng dari jalur yang telah ditetapkan.

Pesawat Sukhoi Superjet 100 tersebut datang pada Selasa (8/5/2012) sekitar pukul 16.00 WIB di Lanud Halim Perdanakusuma dengan misi ke Indonesia yang akan melaksanakan demo penerbangan dan menurut rencana akan kembali ke negaranya pada Kamis (10/5) hari ini.

Lalu, pada Rabu (9/5), pesawat Sukhoi Superjet 100 berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma sekitar pukul 14.00 WIB, namun hilang kontak sekitar pukul 14.33 WIB ketika melintasi Gunung Salak, dengan koordinat diploting dalam radar Bandara Soekarno-Hatta pada koordinat 06 43 08 South dan 106 43 15 East.

Dalam komunikasi via radio terakhir atau 20 menit setelah lepas landas, pilot meminta izin kepada menara Bandara Soekarno Hatta untuk menurunkan ketinggian dari 10.000 ribu kaki (3.000 meter) menjadi 6.000 ribu kaki (1.800).

Pesawat Sukhoi Superjet 100 yang hilang kontak saat melakukan uji terbang di sekitar Gunung Salak yang berbatasan antara Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor (lihat lokasi jatuhnya Sukhoi Super Jet 100 via satelit).

Logo Sukhoi ditemukan dipuing pesawat

1. PREDIKSI KECELAKAAN AKIBAT ANGIN DARI ARAH SAMPING (crosswind / sidewind)

Rute tetap normal, namun rute berubah secara perlahan akibat adanya angin dari arah antara selatan dan membuat pesawat melenceng dari jalur dan mendekati puncak gunung Salak. Tapi dengan kondisi seperti itu pasti warning alarm di cockpit akan berbunyi dan pilot akan dapat mengantisipasinya.

Namun pilot meminta turun ketinggian? Masih tak dimengerti mengapa pilot meminta penurunan ketinggian yang lebih rendah dari puncak gunung Salak. Mungkin jawabannya ada di point kedua.

2. PREDIKSI KECELAKAAN AKIBAT ANGIN DARI ARAH BELAKANG (wind from behind)

Rute berubah dan sedikit tidak normal, mungkin karena kali ini pilot sengaja melakukan “performa” pesawat ini kepada penumpang.

Namun pilot meminta turun ketinggian? Bisa jadi pilot meminta ketinggiannya diturunkan kepada ATC untuk mencoba “performa” dari pesawat canggih ini mengarah langsung menuju puncak gunung Salak dari arah barat.

Saat mendekati puncak gunung, pastilah warning alarm pada cockpit berbunyi namun diabaikan, kenapa? Ya karena sang pilot ingin melakukan “performa” alias show skill dan show performs pesawat canggih ini dengan melakukan gerakan menanjak diatas gunung Salak dan melalui diatas tebing tersebut.

Namun karena adanya angin dari arah antara selatan, justru membuat pesawat semakin terdorong kearah puncak gunung Salak dan membuat pesawat tidak lagi memiliki dorongan mesin yang normal (lost power) untuk menanjak dan bermaksud melalui atas puncak gunung Salak itu dan justru menjadikannya terbentur tebing gunung Salak.

 

About admin

Check Also

Mari Kita Telisik Profil Bunda Putri yang Sesungguhnya

Penulis : Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI) Begitu ramainya urusan soal Bunda Putri, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *