Saturday , September 22 2018
Home / Berita / Mewabahnya Caleg Artis, Mengindikasikan Apa?

Mewabahnya Caleg Artis, Mengindikasikan Apa?

capture-20130612-105845Oleh : Toni Ervianto *

Ketika KPU menutup pendaftaran bakal calon anggota DPR RI pada 22 April 2013, tercatat 6.572 orang calon anggota legislatif (caleg) dari 12 parpol terdiri dari 4.142 caleg laki-laki dan 2.434 caleg perempuan pada Pemilu legislatif 9 April 2014, memperebutkan 560 kursi DPR RI di 77 daerah pemilihan.

Perincian jumlah caleg yang diajukan masing-masing partai politik sebagai berikut (jumlah caleg/caleg laki-laki/caleg perempuan/prosentase keterwakilan perempuan) yaitu Partai Nasdem (560/337/223/40%), PKB (560/351/209/38%), PKS (492/299/193/40%), PDIP (540/349/191/36%), Partai Golkar (560/358/202/36%), Gerindra (560/357/203/37%), Partai Demokrat (560/357/203/37%), PAN (560/349/211/38%), PPP (560/354/206/37%), Partai Hanura (560/361/199/36%), PBB (552/344/208/38%), PKPI (512/326/186/37%).

Menurut Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat, Husni Kamil Manik, langkah KPU selanjutnya adalah melakukan penelitian dan verifikasi berkas caleg mulai 23 April sampai 8 Mei 2013, hasilnya diserahkan ke parpol. Parpol diberi kesempatan untuk menyempurnakan berkas caleg atau mengganti caleg dan KPU melakukan verifikasi ulang daftar caleg mulai 23 Mei 2013.Penetapan daftar caleg sementara (DCS) akan dilaksanakan pada 12 Juni 2013.

 Fenomena Caleg Artis

Pembicaraan menarik yang menjadi sorotan publik terkait dengan Daftar Calon Sementara (DCS) partai-partai peserta Pemilu 2014 adalah maraknya atau mewabahnya figur publik seperti artis yang masih ikut meramaikan DCS tersebut.

Dari PDIP, selain Rieke Dyah Pitaloka terdapat nama artis seperti Yessi Gusman, Edo Kondologit, dan Sony Tulung. Partai Demokrat mengusung nama-nama seperti Yenny Rahman, Anwar Fuady, dan Dede Yusuf. Partai Golkar mencantumkan nama artis Fairuz A Rafiq, Charles Bonar Sirait, dan Nurul Arifin. Partai Nasional Demokrat merekrut caleg artis seperti Donny Damara, Nil Maizar, Ricky Subagja, Jane Shalimar, dan Johnny Indo.

Sementara itu, Partai Gerindra pimpinan Prabowo Subianto mengajukan artis Irwansyah. Partai Amanat Nasional mencantumkan nama artis Desy Ratnasari. PKS merekrut komedian Wildan Delta atau Kiwil. Partai Kebangkitan Bangsa memasukkan Anisa Bahar dalam daftar Calegnya. Dalam daftar Caleg PPP, terdapat nama artis Angel Lelga dan Munarman yang selama ini kadung dikenal sebagai Jubir Ormas FPI.

Sistem Pemilu terbuka yang dianut saat ini memang memaksa partai-partai berlomba mengusung tokoh yang popular agar bisa meraup suara partai pada pemilu 2014 mendatang. Kondisi tersebut yang akhirnya mengamini langkah semua parpol peserta Pemilu 2014 menggandeng artis sebagai calegnya.

Indikasi apa ?

Mewabahnya caleg dari kalangan artis juga menunjukkan keberadaan parpol selama ini dapat dinilai gagal dalam menjalankan fungsi politiknya, terutama fungsi melakukan pendidikan dan pengkaderan politik melalui proses panjang untuk menghasilkan kader yang berkualitas.

Apalagi sistemnya memang tidak menuntut kualitas dan pengalaman kader, sehingga fenomena kurang intensnya atau malasnya parpol melakukan pendidikan dan pengkaderan politik secara baik, disambut dengan sumringah oleh kalangan artis yang menyadari bahwa tidak menutup kemungkinan popularitasnya di dunia selebriti dan keartisan mulai meredup, sehingga mereka mencoba mengadu nasib dengan menjadi caleg, dan kebetulan parpol juga membutuhkan mereka sebagai “bumbu-bumbu penyedap pandangan” ketika mereka berkampanye didepan konstituten kita yang diakui atau tidak masih “angin-anginan dalam berpolitik”. Inilah fenomena “mutualis simbiosis di bidang politik” yang mempertautkan kepentingan dan kebutuhan.

Mewabahnya caleg artis apalagi jika pencalegan mereka dilakukan secara instan dan asal-asalan jelas akan membahayakan kualitas legislator hasil Pemilu 2014, termasuk kualitas produk politik yang akan mereka lahirkan kemudian.

Peneliti Forum Masyarakat Pemantau Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus menilai, maraknya caleg artis menjadi lampu peringatan agar publik melakukan kontrol serius terhadap caleg-caleg yang diusung parpol. Pernyataan tersebut memang benar, namun secara teoritis karena dengan kondisi konstituen kita yang masih “angin-anginan dalam berpolitik” serta diakui atau tidak masih adanya praktik money politics, juga menjadi hambatan tersendiri untuk memfungsikan publik sebagai “punisher” terhadap parpol dengan caleg yang tidak bermutu.

Mewabahnya caleg artis (yang masih dipertanyakan kualitasnya) juga mengindikasikan “penyakit dalam sistem politik” kita memang cukup kompleks, karena “penyakit lama” seperti kutu loncat juga semakin marak, termasuk adanya fenomena politik dinasti. Blood is thicker than water (darah lebih kental daripada air). Doktrin politik kuno tersebut sangat selaras apabila kita sandingkan dengan fenomena dinasti politik yang sedang “menjangkiti” banyak kepala daerah di Indonesia.

Indikasi lainnya dari mewabahnya caleg artis adalah secara langsung atau tidak langsung sebenarnya banyak parpol yang konsolidasi internalnya terganggu dengan adanya konflik-konflik internal. Padahal, konsolidasi partai politik juga akan berperan sebagai sebagai sumber kerawanan bagi potensi kegagalan Pemilu 2014, jika gagal dilaksanakan. Alasannya, konsolidasi internal yang kuat akan membuat suatu parpol lebih siap melakukan pertarungan politik melalui mekanisme insitusional formal yang telah disepakati.

Sebaliknya, konsolidasi internal yang lemah akan membuat suatu parpol menyiapkan strategi-strategi lain diluar mekanisme institusional formal untuk mendapatkan keuntungan politik jangka pendek, melalui rekayasa pemilu dan sabotase proses pemilu untuk menjamin tidak ada kelompok yang memiliki posisi politik signifikan dalam Pemilu 2014.

Kita berharap artis yang nantinya diberikan kepercayaan dan amanah duduk sebagai legislator dapat memainkan fungsinya dengan baik. Namun jika tidak, maka mewabahnya caleg artis tidak jauh berbeda dengan pendapat Geoff Mulgan dalam Politics in an Antipolitical Age (1994) mengatakan, politik  yang semestinya dan seharusnya dibangun berdasarkan nilai-nilai moral serta etika, pada pelaksanaannya yang lebih dominan adalah memperbanyak kepentingan dan untuk menyelamatkan diri semata.

*) Penulis adalah alumnus pasca sarjana Kajian Strategik Intelijen, Universitas Indonesia. 

About admin

Check Also

Menakar Pengaruh Indo-Pasifik AS dan OBOR Tiongkok dan Dampaknya bagi Indonesia

Sudah jamak bahwa dua negara adidaya AS dan Tiongkok kerap terlibat dalam perselisihannya demi mengamankan ...