Monday , September 23 2019
Home / Agama / Kajian / Metode Shalat Malam dan Witir Ala Rasulullah

Metode Shalat Malam dan Witir Ala Rasulullah

TARAWIH merupakan bentuk jamak dari kata tarwihah. Secara bahasa berarti jalsah (duduk). Kemudian perbuatan duduk pada bulan Ramadan setelah selesai shalat malam 4 rakaat disebut tarwihah; karena dengan duduk itu orang-orang bisa beristirahat setelah lama melaksanakan qiyam Ramadan.

Menegakkan shalat malam atau tahajjud atau tarawih dan shalat witir di bulan Ramadan merupakan amalan yang sunnah. Bahkan orang yang menegakkan malam Ramadan dilandasi dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.

Sebagaimana dalam hadits sahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Siapapun yang menegakkan bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muslim 1266).

Pada asalnya, shalat sunnah malam hari dan siang hari adalah satu kali salam setiap dua rakaat. Berdasarkan keterangan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah shalat malam itu?”

Beliau menjawab:

“Dua rakaat dua rakaat. Apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah kamu shalat witir satu rakaat.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu yang lain dikatakan:

“Shalat malam hari dan siang hari itu dua rakaat dua rakaat.” (HR Ibn Abi Syaibah) (At-Tamhiid, 5/251; Al-Hawadits, 140-143; Fathul Bari 4/250; Al-Muntaqo 4/49-51)

Maka, jika ada dalil lain yang sahih yang menerangkan berbeda dengan tata cara yang asal (dasar) tersebut, maka kita mengikuti dalil yang sahih tersebut. Adapun jumlah raka’at shalat malam atau shalat tahajjud atau shalat tarawih dan witir yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah lebih dari 11 atau 13 raka’at.

Shalat tarawih dianjurkan untuk dilakukan berjama’ah di masjid karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukan hal yang sama walaupun hanya beberapa hari saja. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir rahimahullah, ia berkata:

“Kami melaksanakan qiyamul lail bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam 23 Ramadan sampai sepertiga malam. Kemudian kami shalat lagi bersama beliau pada malam 25 Ramadan sampai separuh malam. Kemudian beliau memimpin lagi pada malam 27 Ramadan sampai kami menyangka tidak akan sempat mendapati sahur.” (HR. Nasai, Ahmad, Al-Hakim, Shahih).

Beserta sebuah hadits dari Abu Dzar radhiyallahu anhu dia berkata:

Kami puasa tetapi Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak memimpin kami untuk melakukan shalat (tarawih) hingga Ramadan tinggal tujuh hari lagi, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengimami kami shalat sampai lewat sepertiga malam. Kemudian beliau tidak keluar lagi pada malam ke enam (tinggal 6 hari lagi pent). Dan pada malam ke lima (tinggal 5 hari pent) beliau memimpin shalat lagi sampai lewat separuh malam. Lalu kami berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Seandainya engkau menambah lagi untuk kami sisa malam kita ini?, maka beliau bersabda: “Barang siapa shalat tarawih bersama imam sampai selesai maka ditulis baginya shalat malam semalam suntuk.”

Kemudian beliau tidak memimpin shalat lagi hingga Ramadan tinggal tiga hari. Maka beliau memimpin kami shalat pada malam ketiga. Beliau mengajak keluarga dan istrinya. Beliau mengimami sampai kami khawatir tidak mendapatkan falah. Saya (perowi) bertanya apa itu falah? Dia (Abu Dzar) berkata sahur. (HR. Nasai, Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Daud, Ahmad, Shahih)

Hadis itu secara gamblang dan tegas menjelaskan bahwa shalat berjemaah bersama imam dari awal sampai selesai itu sama dengan shalat sendirian semalam suntuk. Hadits tersebut juga sebagai dalil dianjurkannya shalat malam dengan berjemaah.

Bahkan diajurkan pula terhadap kaum perempuan untuk shalat tarawih secara berjemaah, hal ini sebagaimana yang diperintahkan oleh khalifah Umar bin Khathab radhiyallahu anhu yaitu beliau memilih Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu untuk menjadi imam untuk kaum lelaki dan memilih Sulaiman bin Abu Hatsmah radhiyallahu anhu untuk menjadi imam bagi kaum wanita.

Tata cara shalat malam

Perlu kita ketahui bahwa tata cara shalat malam atau tarawih dan shalat witir yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu ada beberapa macam. Dan tata cara tersebut sudah tercatat dalam buku-buku fikih dan hadis. Tata cara yang beragam tersebut semuanya pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu anhum. Semua tata cara tersebut adalah hukumnya sunah.

Maka sebagai perwujudan mencontoh dan mengikuti sunah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka hendaklah kita terkadang melakukan cara ini dan terkadang melakukan cara itu, sehingga semua sunah akan dihidupkan. Kalau kita hanya memilih salah satu saja berarti kita mengamalkan satu sunah dan mematikan sunah yang lainnya. Kita juga tidak perlu membuat-buat tata cara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam atau mengikuti tata cara yang tidak ada dalilnya.

a. Shalat tarawih sebanyak 13 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  • Beliau membuka shalatnya dengan shalat 2 rakaat yang ringan.
  • Kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang panjang.
  • Kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan tiap rakaat yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya hingga rakaat ke-12.
  • Kemudian shalat witir 1 rakaat.

Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Zaid bin Kholid al-Juhani, beliau berkata: “Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan shalat malam, maka beliau memulai dengan shalat 2 rakaat yang ringan, Kemudian beliau shalat 2 rakaat dengan bacaan yang panjang sekali, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat witir 1 rakaat.” (HR. Muslim)

Faedah, hadits ini menjadi dalil bolehnya shalat iftitah 2 rakaat sebelum shalat tarawih.

b. Shalat tarawih sebanyak 13 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  • Melakukan shalat 8 rakaat dengan sekali salam setiap 2 rakaat.
  • Kemudian melakukan shalat witir langsung 5 rakaat sekali salam.

Hal ini berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa melakukan tidur malam, maka apabila beliau bangun dari tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Setelah itu beliau shalat delapan rakaat dengan bersalam setiap 2 rakaat kemudian beliau melakukan shalat witir lima rakaat yang tidak melakukan salam kecuali pada rakaat yang kelima.”

c. Shalat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  • Melakukan shalat 10 rakaat dengan sekali salam setiap 2 rakaat.
  • Kemudian melakukan shalat witir 1 rakaat.

Berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan shalat malam atau tarawih setelah shalat Isya Manusia menyebutnya shalat Atamah hingga fajar sebanyak 11 rakaat. Beliau melakukan salam setiap dua rakaat dan beliau berwitir satu rakaat.” (HR. Muslim)

d. Shalat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  • Melakukan shalat 8 rakaat dengan sekali salam setiap 4 rakaat.
  • Kemudian shalat witir langsung 3 rakaat dengan sekali salam.

Berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menambah bilangan pada bulan Ramadan dan tidak pula pada bulan selain Ramadan dari 11 Rakaat. Beliau shalat 4 rakaat sekali salam maka jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya, kemudian shalat 4 rakaat lagi sekali salam maka jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat witir 3 rakaat.” (HR Muslim)

Tambahan: Tidak ada duduk tahiyat awal pada shalat tarawih maupun shalat witir pada tata cara poin ini, karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut. Bahkan ada larangan menyerupai shalat maghrib.

e. Shalat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  • Melakukan shalat langsung sembilan rakaat yaitu shalat langsung 8 rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat yang kedelapan tanpa salam kemudian berdiri 1 rakaat lagi kemudian salam.
  • Kemudian shalat 2 rakaat dalam keadaan duduk.

Berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata: “Kami dahulu biasa menyiapkan siwak dan air wudhu untuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, atas kehendak Allah beliau selalu bangun malam hari, lantas tatkala beliau bangun tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Kemudian beliau melakukan shalat malam atau tarawih 9 rakaat yang beliau tidak duduk kecuali pada rakaat yang kedelapan lantas membaca pujian kepada Allah dan selawat dan berdoa dan tidak salam, kemudian bangkit berdiri untuk rakaat yang kesembilan kemudian duduk tahiyat akhir dengan membaca zikir, pujian kepada Allah, selawat dan berdoa terus salam dengan suara yang didengar oleh kami. Kemudian beliau melakukan shalat lagi 2 rakaat dalam keadaan duduk.” (HR. Muslim 1233 marfu, mutawatir).

Source: muslim.or.id

 

 

About admin

Check Also

Isra Mi’raj; Sebuah Perjalanan Menggapai Kemurnian

Pendahuluan Isra Mi’raj bukanlah sebuah imajinasi seorang manusia yang hanya menampilkan kebohongan sejarah keagamaan. Tetapi ...