Thursday , November 15 2018
Home / Agama / Kajian / Menyoal Tentang Tradisi Bertawasul dalam Islam

Menyoal Tentang Tradisi Bertawasul dalam Islam

Tentang tawasul, ulama mendefinisikannya secara terminologi sebagai upaya seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, baik dengan amal shalih mereka, dengan menyebutkan nama Allah Swt atau dengan menyebutkan derajat kekasih Allah, seperti; rasul, nabi, sahabat, ulama atau orang-orang shalih pada umumnya.

Hal ini sesuai dengan perintah Allah Swt yang terkandung dalam firman-Nya untuk mencari wasilah atau peranta, guna mendekatkan diri pada-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadanya dan berjihadlah supaya kamu mendapat keberuntungan” (al-maidah 35)

Hal yang dibuat wasilah pun bermacam-macam. Ada beberapa dalil menunjukkan tentang masalah wasilah tersebut. para sahabat juga pernah melakukan tawassul dengan Nabi ketika beliau hidup.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang menyebutkan tentang keadaan dimana ada sahabat Ustman Ibn Hunain bercerita, bahwasanya ada seseorang yang mendatangi Nabi dan berkata, “wahai Nabi Allah, berdoalah kepada Allah agar menyembuhkanku.”

Lalu Rasul menjawabnya, “Jika kamu berkenan saya akan menangguhkan doaku dan itu lebih utama bagi akhiratmu. dan jika kamu berkenan saya akan mendoakan untukmu.”

Lalu orang itu berkata, “Tidak. Tapi do’akanlah untukku ya Rasul.”

Lalu beliau menyuruh agar orang itu untuk berwudu lalu salat 2 rakaat lalu berdoa dengan doa:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ ، يَا مُحَمَّد ، إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِيْ هَذِهِ فَتَقْضِى، اَللَّهُمَّ فَتُشَفِّعُنِي فِيْهِ ، وَتُشَفِّعْهُ فِيَ

Allahumma inni as’aluka wa’atawajjahu ilaika binabiyyika muhammadin sallallahu alaihi wasallam nabiyyirrahmah. Ya muhammad inni atawajjahu bika ila rabi fi hajati halihi fataqdhi watusyaffi’uni fihi watusyaffi’hu fiyya’.

Artinya, ‘Wahai Allah aku mohon kepada-Mu dan meminta kepada-Mu dari perantara Nabi-Mu Nabi Muhammad, Nabi yang berkasih sayang, wahai Muhammad Aku memohon dan menjadikanmu perantara agar Engkau bisa mengabulkan hajat-hajat ku. Wahai Allah beri kekuatan kepada sang Nabi agar bisa menolongku dan beri aku pertolongan dari pertolongan-Mu’.

Ustman Ibn Hunaif berkata, “Lalu laki-laki ini melakukannya dan akhirnya sembuh.” (HR. Ahmad)

Selain itu bisa juga kita bertawasul menggunakan amal kebaikan dan tawasul dengan makhluk yang shalih, seperti ulama. Bahkan memuji Rasul saat tawasul diperbolehkan, sebagaimana Allah memuji Rasul dalam firman-Nya; ‘Wainnaka la’ala khuluqin adzim‘.

Diceritakan bahwa sahabat pun pernah memuji Nabi saat tawasul, yaitu Ka’ab Ibn Zubair. Dalam sebuah syair, sahabat Ka’ab mengatakan, “unbi’tu anna rasuulallahi au’adanii wal ‘afwu ‘inda rasuulillahi ma’muulu, inna al-rasuula lanuurun yustadha-u bihii muhannadun min suyuufillahi masluulu”.

أُنْبِئْتُ أنَّ رَسُوْلَ اللهِ أَوْعَدَنِي ، وَالْعَفْوُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ مَأْمُوْلُ
إِنَّ الرَّسُوْلَ لَنُوْرٌ يُسْتَضَأُ بِهِ ، مُهَنَّدٌ مِنْ سُيُوْفِ اللهِ مَسْلُوْلُ

(Aku dikabari bahwa Rasulullah menjanjikanku ampunan diharapkan di sisi Rasulullah. Sungguh Rasul adalah cahaya yang digunakan untuk menyinari, laksana pedang india dari beberapa pedang Allah yang terhunus).”

Mendengar pujian tersebut Rasulullah tidak menunjukkan larangan sama sekali bahkan dalam sebuah riwayat Rasul menghadiahkan sebuah selimut kepada Ka’ab Ibn Zuhair yang akhirnya dibeli oleh sahabat Muawiyah ra. seharga dua ribu dinar setelah sahabat Ka’ab wafat.

Ini merupakan taqrir alias persetujuan nabi. Hal tersebut memang diperbolehkan dan tidak dilarang. Tidak ada batasan khusus untuk memuji Rasulullah asalkan tidak mentuhankan atau mengkultuskan beliau sebagaimana orang sesat yang mentuhankan terhadap Nabi Allah. Wallahu’alam.

Source: Bincangsyariah.Com

 

 

About admin

Check Also

Dosa dan “Sebab – Akibat”

Dalam sudut pandang sebab-akibat, dosa yang digambarkan sebagai bentuk kemahabijakan Allah Swt. dapat dirunut sebagai ...