Thursday , November 15 2018
Home / Agama / Menyingkap Hakikat Wahhabisme; Tauhid Dalam Ajaran Wahhabi

Menyingkap Hakikat Wahhabisme; Tauhid Dalam Ajaran Wahhabi

wawawa

 

Pada pembahasan yang lalu sudah dijelaskan pendapat kaum Salafi dalam masalah ketuhanan dan sifat-sifat jasmani yang mereka nisbatkan kepada Allah Swt. Pandangan itu bertentangan dengan ayat-ayat suci al-Quran, hadis-hadis Nabi Saw dan logika. Karena itu bisa dikatakan bahwa pandangan kaum Salafi tentang sifat-sifat Jasmani yang mereka nisbatkan kepada Allah adalah hasil khayalan dan bayangan pemikiran Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya yang dangkal. Penyimpangan pemikiran dan akidah inilah yang membangkitkan penentangan dari para ulama di zaman itu yang berujung pada penahanan Ibnu Taimiyyah. Dia tetap berpegangan pada pandangan-pandangannya yang menyimpang. Ibnu Taimiyyah meninggal dunia di dalam penjara.

Dalam kitab Minhaj al-Sunnah dan al-Aqidah al-Himawiyyah, Ibnu Taimiyyah menjelaskan pandangan-pandangannya dalam masalah tauhid. Salah satu pandangannya yang kontroversial adalah apa yang dikatakannya bahwa Allah berlari. Dia meyakini bahwa Allah berlari ke arah hamba-hamba-Nya yang Mukmin untuk semakin dekat dengan mereka. Dalil yang digunakannya adalah hadis bahwa Nabi Saw bersabda, “Allah Swt berfirman, jika seorang hamba melangkah satu jengkal ke arah-Ku, Aku akan melangkah satu hasta ke arahnya. Jika seorang hamba mendekat ke arah-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekat ke arahnya satu depa. Dan jika dia berjalan ke arah-Ku niscaya Aku akan berlari ke arahnya.

Ibnu Taimiyyah mengartikan kata berlari dalam hadis tadi dengan makna jasmaninya tanpa mengindahkan makna yang ingin disampaikan oleh hadis ini. Dalam hadis ini Nabi ingin menjelaskan kedekatan hati, spiritual dan maknawiyah seorang hamba dengan Tuhannya. Artinya, jika seorang hamba bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah dengan taat menjalankan kewajiban agamanya Allah akan menurunkan rahmat dan taufik kepadanya lebih dari apa yang ia lakukan. Jika seseorang melangkah di jalan spiritual, maka Allah akan menurunkan inayah-Nya lebih besar.

Ibnu Taimiyyah memahami hadis ini dengan pemahaman dangkal dan mengatakan bahwa Allah berlari-lari ke arah hamba-Nya, seperti manusia yang berlari dengan kaki dan organ fisiknya. Dewan Fatwa Arab Saudi dalam keputusannya membenarkan pandangan ini. Abdul Aziz bin Baz saat ditanya masalah ini mengatakan, “Kata wajah, tangan, mata, betis, dan jari yang dinisbatkan kepada Allah terdapat dalam al-Quran dan Sunnah Nabi. Dan pandangan Ahlussunnah didasarkan pada konteks sifat-sifat itu… Nabi Saw telah menetapkan sifat-sifat ini dengan bentuknya yang terbaik bagi Allah!” Kata-kata Bin Baz yang menisbatkan pandangannya kepada Nabi seperti ini memang sudah menjadi kebiasaan kaum Salafi, padahal tidak ada ayat al-Quran maupun hadis yang mendukung pemikiran mereka yang menyimpang.

Allah Swt menurunkan kitab suci-Nya sebagai panduan bagi umat manusia dalam mengarungi kehidupan dunia supaya terhindari dari kesesatan dan kesengsaraan. Di ayat69 surat al-Ankabut Allah Swt berfirman, “… Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” Inilah yang dimaksudkan dalam hadis Nabi bahwa Allah berlari kepada hamba yang berjalan ke arah-Nya. Ayat-ayat seperti ini banyak dijumpai dalam al-Quran, dan untuk menurunkan rahmat dan mendekat kepada hambaNya, Allah sama sekali tidak perlu berlari dalam bentuk gerakan fisik seperti yang dikatakan kaum Salafi.

Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa Allah Swt bisa dilihat dengan mata. Dalam hal ini dia berkata, “Semua yang wujudnya lebih sempurna lebih layak dilihat. Karena Allah adalah wujud yang paling sempurna maka Dia lebih berhak untuk dilihat dibanding yang lain, dan kesimpulannya adalah Allah bisa dilihat.” (Minhaj al-Sunnah juz: 1 hal: 217)

Kaum Wahhabi bersikap sangat ekstrim dalam masalah melihat Allah yang mengundang rasa heran semua orang yang berakal sehat. Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa di Hari Kiamat nanti, Allah akan menyamar dan muncul di tengah hamba-hamba-Nya lalu berfirman, “Aku adalah Tuhan kalian.”  Orang-orang menjawab, “Kami tidak mengenalmu dan kami berlindung kepada Allah darimu. Jika Tuhan kami datang kami pasti akan mengenalNya.” Allah lalu mengganti penampilan dan muncul dengan wajah asli-Nya lalu mengenalkan diri. Semua orang mengatakan,  “Benar Engkau adalah Tuhan kami.” Mereka lalu mengikuti langkah Tuhan menuju surga.” (Majmu’ al-Fatawa juz: 6 hal: 492)

Apakah dengan pandangan seperti ini kaum Wahhabi tidak sedang menuduh Allah Yang Maha Bijaksana melakukan perbuatan ganjil yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia yang normal? Pertanyaan lainnya adalah, apakah manusia sudah pernah melihat Allah sehingga menolak penampilan Allah yang pertama dan menerimanya pada kali kedua? Pernahkah Anda mendengar ada orang yang pernah melihat Allah?

Mungkin ayat al-Quran yang paling jelas menafikan kemungkinan melihat  Allah adalah ayat 103 surat al-An’am. Allah swt berfirman, “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” Ayat lain yang menafikan kemungkinan melihat Allah adalah surat al-A’raf ayat 143,  “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, …” Dua ayat suci tadi menegaskan ketidakbenaran pandangan kaum Salafi dan Wahhabi.

Ibnu Taimiyyah dan kaum Salafi juga menisbatkan hal-hal lain kepada Allah Swt dan kita akan singgung secara singkat. Misalnya, mereka mengatakan bahwa Allah bisa berdiri di atas tubuh seekor nyamuk dan bergerak bersamanya. Atau Allah mereka katakan berparas seperti anak remaja dengan rambutnya yang keriting. Mereka membawakan cerita bahwa Allah pernah terkena sakit mata dan para malaikat datang membesuk-Nya. Allah juga dikatakan berjabat tangan dengan Nabi, kaki Allah memakai sepatu dari emas, dan Allah mempunyai pundak, pinggang dan jari. Allah, kata mereka, bisa terkejut, terkagum-kagum, tertawa dan sebagainya.

Sudah kita jelaskan ketidakbenaran pemikiran yang menyimpang tentang Allah ini. Allah tidak bisa disamakan dengan manusia dan tidak pula berjisim. Kita lihat kembali apa yang dikatakan al-Quran dalam hal ini. Ayat 68 surat al-Ankabut menyebutkan, “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak  tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?

Dalam kitab Nahjul Balaghah Imam Ali as menjelaskan tentang ayat ini dan berkata, “Siapa saja yang menyebutkan adanya padanan bagi Allah berarti telah salah jalan. Jika orang menyifati-Nya yang meniscayakan penyamaan terhadapNya berarti telah menyifati makhluk-Nya, bukan Allah. Sebab Allah tidak menyerupai apapun. Barang siapa menyamakan Allah dengan sesuatu berarti tidak melangkah di jalan makrifat Allah dan telah tersesat. Barang siapa menunjuk arah tertentu bagi Allah atau hendak membayangkan-Nya dalam pikiran berarti tidak mengenal-Nya.”

Imam Ghazali mengatakan, “Jika seseorang membayangkan dalam pikirannya bahwa Allah berjisim dengan organ fisik yang bermacam-macam berarti dia sama seperti penyembah berhala. Sebab setiap jisim adalah ciptaan-Nya dan para ulama sepanjang zaman sepakat menghukumi kafir siapa saja yang menyembah makhluk.” (Lijam al-‘Awam ‘am ‘Ilm al-Kalam hal: 209)

Qurthubi ulama Sunni yang wafat tahun 671 hijriyah mengenai kelompok yang menisbatkan jisim kepada Allah mengatakan, “Pendapat yang benar adalah bahwa mereka yang meyakini jisim bagi Allah adalah kafir. Sebab, tak ada perbedaan antara mereka dengan penyembah berhala dan penyembah wajah.”

Banyak ulama yang meyakini bahwa keyakinan fisikal dan jasmani yang dinisbatkan kepada Allah adalah bagian dari kepercayaan umat Yahudi yang masuk ke dalam lingkungan umat Islam dan memengaruhi pemikiran orang-orang seperti Ibnu Taimiyyah. Shahrestani dalam al-Milal wa al-Nihal menulis, banyak orang Yahudi yang memeluk Islam membuat hadis-hadis yang menisbatkan sifat jasmani kepada Allah lalu memasukkannya dalam agama Islam. Semua hadis jasmani bersumber dari ajaran Taurat.”

Ibnu Khaldun, sejawaran Muslim terkenal menulis, “Bangsa Arab di awal Islam tidak mengenal baca tulis. Mereka lebih suka menanyakan masalah penciptaan dan rahasia alam kepada ulama Yahudi yang mengenal Taurat atau ulama Nasrani.” Ibnu Khaldun menambahkan bahwa riwayat-riwayat yang bersumber dari umat Yahudi dan Taurat yang sudah diubah banyak ditemukan di kitab-kitab hadis standar umat Islam. (IRIB Indonesia)

About admin

Check Also

Bukti Kongkrit Akidah wahabi-salafi adalah Akidah Yahudi

Para pembaca sekalian, mungkin banyak yang tidak mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya akidah wahabi-salafi, orang-orang ...