Tuesday , December 11 2018
Home / Relaksasi / Renungan / Menjaga dan Mengendalikan Ego Ala Sufi

Menjaga dan Mengendalikan Ego Ala Sufi

Puisi dan lirik Rumi selalu mempesona. Diantara sekian banyaknya puisi beliau, ada sebuah kumpulan nasihat yang diberi judul populer ” 7 Nasihat Rumi “.

Populer, karena saya yakin ke tujuh nasihat tersebut tidak ditulis secara langsung oleh Rumi sendiri (karena gaya penuturannya berbeda) tapi merupakan kompilasi dari ajaran-ajaran beliau yang dikumpulkan dan disimpulkan oleh para pembacanya.

Berikut ketujuh nasihat tersebut:

  1. In generosity and helping others, be like a river ( dalam kedermawanan dan menolong sesama, jadilah sungai).
  2. In compassion and grace, be like a sun (dalam belas kasihan dan kemuliaan, jadilah matahari).
  3. In conceiling others faults, be like night (dalam menutupi kesalahan orang lain, jadilah malam).
  4. In anger and fury, be like dead (dalam kemarahan, jadilah orang mati).
  5. In modesty and humility, be like earth (dalam kesopanan dan kerendahhatian, jadilah bumi).
  6. In tolerance, be like sea (dalam bertoleransi, jadilah lautan).
  7. Either exist as you are or be as you look (Saat menampilkan diri, jadilah dirimu sendiri atau jadilah bukan siapa-siapa).

Ke tujuh nasihat di atas adalah tentang anjuran untuk senantiasa memelihara ketentraman Hati (poin 1 – 6) dan mengendalikan Ego (poin 7), yang dapat mengotori Hati serta menjauhkannya dari kesadaran/cahaya Ilahi. Untuk istilah Hati, saya yakin semua orang cukup mengerti artinya (atau minimal bisa merasakan/paham apa yang di maksud). Tapi ego, apa sih ego?

EGO sungguh tidak mudah untuk dijelaskan maupun dipahami, terutama karena ada bidang keilmuan lainnya yang mendefinisikan Ego secara berbeda. Dalam konteks ini, Ego adalah self image/rasa keakuan/identitas diri “yang salah” yang dibuat berdasarkan identitas eksternal (kondisi fisik, status sosial, kepemilikan materi) dan identitas internal (personalita, kepintaran, bakat, dan skill kemampuan) yang dimiliki seseorang. Ego terkubur di alam bawah sadar, bersembunyi dibalik kata AKU dan MILIKKU.

Tidak dipungkiri, kualitas manusia memang didukung oleh identitas eksternal dan internalnya, tapi bila kita meyakini diri sebatas identitas tersebut maka akan menciptakan limiting beliefs (keyakinan yang terbatas) tentang diri, diantaranya:

Saya pintar, atau
Saya bodoh

Saya gemuk, oleh karena itu saya merasa jelek, atau
Saya tinggi, oleh karena itu saya merasa cantik

Saya lulusan sekolah A, saya lebih baik dari dia, atau
Saya lulusan sekolah B, saya merasa tidak memadai

Tidak ada yang menyukai saya, atau
Semua orang menyukai saya

Ego mempengaruhi cara berpikir seseorang dan memicu ego yang tinggi (rasa percaya diri berlebih, sombong, angkuh), atau sebaliknya, ego yang rendah (merasa insecure, engga pede, merasa takut dengan yang dilakukan, minder).

Sekilas, ego yang tinggi tampak lebih baik daripada ego yang rendah, tapi, “Hey! di luar sana selalu ada orang lainnya yang lebih baik, lebih cantik, lebih muda, lebih pintar, lebih dari apapun yang kamu punya!”. Ego yang ketinggian pun akan dengan mudah jatuh dan “terluka” dan mengalami perasaan kalah, cemburu, benci, dengki, bahkan dendam.

Dengan kata lain, percaya diri sangat berbeda dengan sombong, rendah hati pun berbeda dengan rendah diri. Kepercayaan diri yang tanpa kesombongan dan kerendahan hati yang tanpa rendah diri hanya bisa dialami oleh diri yang damai dan tenang, dengan ego yang terkendali.

Selain membentuk citra diri yang salah, Ego pun memicu hasrat/nafsu yang selalu menginginkan, yang tidak pernah terpuaskan/keserakahan.

Mengenali ego

Manusia memang mahluk yang dipenuhi oleh banyak keinginan (akan hal-hal duniawi) karena mengira dengan terpenuhinya keinginan tersebut maka ia akan lebih bahagia. Yang terjadi justru sebaliknya, dengan cepat ia merasa bosan dan beralih mendambakan hal lainnya lagi. Menyederhanakan keinginan adalah jalan untuk mengendalikan ego yang selalu menginginkan.

Kabar buruknya, kita tidak bisa menghilangkan ego. Ahamkara (Ego) memang sudah built in dari sananya, di alam bawah sadar kita. Ego memang tidak bisa dihilangkan, tapi bisa dikendalikan. Sadari ego setiap saat ia hadir. Semakin kita terlatih untuk mengenali ego, semakin kita terbebas dari efek ego yang bisa berbuntut panjang.

Kenali ego yang hadir saat kita merasa “panas” saat mendengar tentang kesuksesan seseorang, saat merasa “di atas angin” saat berhasil mengalahkan yang lain, saat merasa minder bila membandingkan diri dengan orang lain, dan juga saat menginginkan sesuatu yang “kepengen doang tapi sebenernya ga butuh-butuh amat“. Menyadari kehadiran ego, atau mengarahkan perhatian sadar kita kepada ego akan mengendurkan pengaruh ego terhadap pikiran, sehingga pikiran bisa tetap tenang, waras, tidak terkuasai ego.

Bagaimana terbebas dari ego?

Nasihat Rumi yang ke-7 : “Either exist as you are or be as you look” adalah tentang “BE YOUR SELF“. Self/Diri yang dimaksud tentu saja bukan identitas diri yang palsu/ego, tetapi diri yang melampaui identitas eksternal dan internal, yaitu diri yang terbebas dari ego, diri yang terhubung dengan cahayaNya.

Bagaimana caranya melatih menemukan diri yang terbebas dari ego?

  • Sering-seringlah keluar dari identitas eksternal dan internalmu agar bisa terbebaskan dari efek ego yang tidak perlu.
  • Secara rutin sadari hadirnya ego (yang suka ge-er, yang suka minder, dan yang banyak maunya).
  • Temui orang-orang baru di luar lingkup “zona nyaman penuh ego” lingkungan pergaulan sehari-hari.
  • Saat menghadapi orang lain, jadilah diri sendiri, atau lebih baik lagi, jadilah bukan siapa-siapa.

Kerendahan hati adalah jalan menuju kebeningan Hati yang terbebas dari ego. Mengutip perkataan Thomas Merton (American Poet & Mystic) ” Pride makes us artificial. Humility makes us real”.

Semoga bermanfaat.

 

About admin

Check Also

Sifat-Sifat Para Nabi dan Posisi Rasulullah (5)

Tablig Tablig (al-tablîgh)[1] adalah sifat ketiga yang dimiliki para anbiya. Jika Anda ingin memperluas pengertian ...