Sunday , October 20 2019
Home / Ensiklopedia / Sejarah / Mengungkap Silsilah Sunan Gunung Jati Dalam Naskah-naskah Tradisi Cirebon

Mengungkap Silsilah Sunan Gunung Jati Dalam Naskah-naskah Tradisi Cirebon

Sunan GunungjatiOleh : Dadan Wildan

1. Pendahuluan

Sosok Sunan Gunung Jati (SGJ) sampai kini masih diperdebatkan.  Sebagian menganggap bahwa SGJ identik dengan tokoh Fatahillah yang berasal dari Pasai, namun sebagian lagi menganggap sebagai dua tokoh yang berbeda; SGJ adalah Syarif Hidayatullah berasal dari Cirebon sementara Fatahillah berasal dari Pasai.  Untuk mengungkap sosok SGJ bisa dilacak dari informasi mengenai SGJ.  Adapun salah satu informasi yang cukup menarik tentang silsilah SGJ ini berasal dari naskah-naskah dalam tradisi Cirebon.

Silsilah SGJ dalam tradisi tulis dan lisan Cirebon ada yang dihubung-hubungkan dengan tokoh-tokoh pewayangan dan para nabi melalui dua grais, yakni garis kiwa diturunkan dari garis ibu yang biasanya dikaitkan dengan tokoh-tokoh pewayangan dan garis tengen diturunkan dari garis ayah yang biasanya dihubungkan dengan para nabi.  Garis hubungan seperti ini terdapat dalam Carub Kanda (CK) koleksi Salana (Pupuh Kedua/Dangdanggula bait kedua sampai kesembilan).  Nukilan Sedjarah Tjirebon Asli (NSCA) karangan Pangeran Suleman Sulendraningrat yang diterbitkan tahun 1968 dan 1972, naskah siaran kebudayaan pada Radio Leo Cirebon yang disusun oleh Marsita dan tulisan Masduki Sarpin pada Harian Umum Pikiran Rakyat Edisi Cirebon tanggal 11 September 1990 dengan judul Siapakah Sunan Gunung Jati?

2. Silsilah SGJ Berdasarkan Naskah-Naskah Tradisi Cirebon

Berdasarkan CK, silsilah SGJ dari garis ibu adalah sebagai berikut:

  1. Nabi Adam berputra
  2. Yang Widi Nurut, berputra
  3. Yang Widi Syukur, berputra
  4. Yang Widi Nubut, berputra
  5. Jalalu Purba, berputra
  6. Yang Nakiru, berputra
  7. Yang Luhur, berputra
  8. Marija, berputra
  9. Sira Sesunu, berputra
  10. Yang Marijatha Widi, berputra
  11. Bethara Anyalunyu, berputra
  12. Manon Mayasa, berputra
  13. Sambrana Aji, berputra
  14. Begawan Sakutren, berputra
  15. Sang Sakri Daraningrat, berputra
  16. Palasara, berputra
  17. Abiyasa, berputra
  18. Pandu Dewanata, berputra
  19. Dipati Arjuna, berputra
  20. Wara Bimanyu, berputra
  21. Parikesit, berputra
  22. Maharaja Udayana berputra,
  23. Prabu Sri Gendrayana, berputra
  24. Sri Jaya Naya, berputra
  25. Prabu Jaya Mijaya, berputra
  26. Jaya Misesa, berputra
  27. Kusuma Wicitra, berputra
  28. Citrasoma, berputra
  29. Anglingdriya, berputra
  30. Sang Prabu Selacala, berputra
  31. Sang Katung Mahapunggung, berputra
  32. Kendiawan alias Resi Kenduyuhan, berputra
  33. Lembu Mijaya alias Panji Rawis alias Prabu Lelehan, berputra
  34. Ciung Wenara, berputra
  35. Prabu Linggahiyang Sakti, berputra
  36. Prabu Linggawesi, berputra
  37. Prabu Wastu, berputra
  38. Prabu Susuktunggal, berputra
  39. Munding Kawati, berputra
  40. Prabu Siliwangi, berputra Walangsungsang, Rarasantang dan Raja Sengara.

Pada NSCA (Sulendraningrat, 1968:34-35) tertulis sebagai berikut:

  1. Nabi Adam a.s.
  2. Nabi Sis a.s.
  3. Sayyid Anwar alias Nuruhu alias Sanghyang Nurcahya
  4. Sanghyang Nurasa alias Su’ur
  5. Sanghyang Wenang alias Nubuh,
  6. Sanghyang Tunggal Sri Mahapunggung alias Jalalu Purba
  7. Batara Guru alias Manyikeru, beristana di Gunung Tengguru Himalaya, India
  8. Betara Brama alias Maridj
  9. Bramani Raras
  10. Yang Tritusta
  11. Bagawan Manomanasa
  12. Bagawan Sambarana
  13. Bagawan Sukrem
  14. Bagawan Sakri
  15. Palasara
  16. Bagawan Abiyasa
  17. Pandudewanata
  18. Arjuna alias Dipati Suryalaga
  19. Abimanyu alias Anom Permadi
  20. Parikesit alias Purbasengara
  21. Aji Hudayana
  22. Agendrayana
  23. Setrayana (Prabu Jayabaya)
  24. Jayamijaya Gung
  25. Jayamisena
  26. Prabu Kusumawicitra
  27. Prabu Citrasoma
  28. Prabu Pancadria Linuwih
  29. Prabu Anglingdriya
  30. Raja Selacaya Anglingdarma
  31. Yang Sri Mahapunggung Akhir
  32. Prabu Kendihawan (Dewa Natacengkar)
  33. Resi Kenduyuhan
  34. Lembu Amiluhur
  35. Rawisrangga
  36. Prabu Lelean (Maharaja Adimulya)
  37. Prabu Ciung Wanara
  38. Prabu Dewi Purbasari
  39. Prabu Lingga Hyang
  40. Prabu Lingga Wesi
  41. Prabu Wastu Kencana
  42. Prabu Susuk Tunggal
  43. Prabu Banyak Larang
  44. Prabu Banyak Wangi
  45. Prabu Mundingkawati
  46. Prabu Anggalarang
  47. Prabu Siliwangi
  48. Ratu Mas Rarasantang Syarifah Mudaim
  49. Sunan Gunung Jati Cirebon Syekh Syarif Hidayatullah.

Adapun dari garis ibu yang tidak dihubungkan dengan tokoh pewayangan terdapat dalam Sulendraningrat (1976:52-54) sebagai berikut:

  1. Prabu Lelean (Maharaja Adimulya)
  2. Prabu Ciung Wanara
  3. Prabu Dewi Purbasari
  4. Prabu Lingga Hyang
  5. Prabu Lingga Wesi
  6. Prabu Wastu Kencana
  7. Prabu Susuk Tunggal
  8. Prabu Banyak Larang
  9. Prabu Banyak Wangi
  10. Prabu Mundingkawati
  11. Prabu Anggalarang
  12. Prabu Siliwangi
  13. Ratu Mas Rarasantang Syarifah Mudaim
  14. Sunan Gunung Jati Cirebon Syekh Syarif Hidayatullah.

Marsita menulis silsilah SGJ untuk siaran kebudayaan pada Radio Leo Cirebon sebagai berikut:

  1. Nabi Adam a.s
  2. Nabi Sis beristri Dewi Jelajah, berputra
  3. Sayid Anwar alias Nuruhu atau Sanghyang Nurcahya beristri Dewi Nurini, berputra
  4. Su’ur alias Sanghyang Nurasa beristri Dewi Ranatika, berputra
  5. Nubuh alias sanghyang Wenang beristri Ratna Sayuti, berputra
  6. Jalalu Purba alias Sanghyang Tunggal atau Sri Mahapunggung awal beristri Dewi Rekatawati, berputra
  7. Manyikeru alias Betara Guru atau Sanghyang Manik Maya (Iwang Pramesti Dewa Guru), berputra
  8. Maridz alias Betara Brahma beristri Sauti, berputra
  9. Naibramani atau Brahmani raras beristri Dewi Rarasati, berputra
  10. Hyang Tritusta beristri ratna Diwati, berputra
  11. Begawan Manomayasa beristri Dewi ratnawati, berputra
  12. Begawan Sambarana, berputra
  13. Begawan Suktrem (Sakutrem) beristri Ratna Nilawati, berputra
  14. Bagawan Sakri berisi Dewi Sakti (Dewi Adresyanti), berputra
  15. Bagawan Palasara beristri Dewi Durgandini berputra
  16. Bagawan Abiyasa (Krena Dwipayana) beristri Dewi Ambika, berputra
  17. Pandudewanata beristri Kunti Nalibrata, berputra
  18. Janaka (Arjuna, Dipati Suryalaga, Permadi, Dananjaya) beristri Mayangarum Sari, berputra
  19. Anom Permadi (Abimanyu, Angkawijaya)beristri Dewi Utari, berputra
  20. Purbasengara (Parikesit, Prabu Lare) beristri Dewi Tapen, berputra
  21. Aji Hudayana beristri Gendrawati Patuama, berputra
  22. Agendrayana beristri Patmawati, berputra
  23. Setyana (Prabu Jayabaya) beristri Dewi Sara, berputra
  24. Jayamijaya Gung, berputra
  25. Jayamisena, berputra
  26. Prabu Kusumawicitra, berputra
  27. Prabu Citrasoma, berputra
  28. Prabu Pancadria Linuwih, berputra
  29. Prabu Anglingdriya, berputra
  30. Raja Selacaya (Angling Darma), berputra
  31. Prabu Hyang Sri Mahapunggung (Akhir), berputra
  32. Prabu Kendiawan (Dewa Nata Cengkar), berputra
  33. Resi Kenduyuhan, berputra
  34. Prabu Lembu Amiluhur, berputra
  35. Prabu Rawisrengga, berputra
  36. Prabu Adimulya (Raden Lelean), berputra
  37. Prabu Ciung Wanara, berputra
  38. Sri Ratu Purbasari, berputra
  39. Prabu Linggahyang, berputra
  40. Prabu Linggawesi, berputra
  41. Prabu Wastu Kencana, berputra
  42. Prabu Susuk Tunggal, berputra
  43. Prabu Banyak Wangi, berputra
  44. Prabu Mundingkawati, berputra
  45. Prabu Anggalarang, berputra
  46. Prabu Siliwangi beristri Subangkranjang, berputra
  47. Sri Mangana (Pangeran Cakrabuana, Walangsungsang, Haji Abdullah Iman, Ki Sangkan, Ki Kuwu Cirebon), Rarasantang ibunda Syarif Hidayatullah, dan Raja Sengara.

Masduki Sarpin dalam harian Umum Pikiran Rakyat Edisi Cirebon1 tanggal 11 September 1990 menampilkan silsilah Sunan Gunung Jati dari garis ibu sebagai berikut:

  1. Nabi Adam a.s.
  2. Nabi Sis
  3. Anwar (Sanghyang Nurcahya)
  4. Sanghyang Nurasa
  5. Sanghyang Wenang
  6. Sanghyang Tunggal
  7. Betara Guru
  8. Brahma
  9. Brahmasada
  10. Brahmasatapa
  11. Parikenan
  12. Manumayasa
  13. Sekutrem
  14. Sakri
  15. Palasara
  16. Abiyasa
  17. Pandu Dewanata
  18. Arjuna
  19. Abimanyu
  20. Parikesit
  21. Yudayana
  22. Yudayaka
  23. Jaya Amijaya
  24. Kendrayana
  25. Sumawicitra
  26. Citrasoma
  27. Pancadriya
  28. Prabu Suwela
  29. Sri Mahapunggung
  30. Resi Kandihuwan
  31. Resi Gentay
  32. Lembu Amiluhur
  33. Panji Asmarabangun
  34. Rawis Rengga
  35. Prabu Lelea
  36. Mundingsari
  37. Mundingwangi
  38. Jaka Suruh
  39. Prabu Siliwangi
  40. Nyi Mas Rarasantang
  41. Sunan Gunung Jati

CPCN karangan Pangeran Arya Cirebon  (1720) yang diterbitkan Atja menyajikan garis keturunan SGJ dari garis ibu yang tertulis pada halaman (naskah) lima baris keenam sampai halaman enam baris keempat (Atja, 1986:118) sebagai berikut:

Naskah CPCN

Terjemahan

ika hana pwa Sang Prabu Siliwangi//

Adapun Sang Prabu Siliwangi

ika anakiran Sang Prabu Anggalarang/

adalah putera Sang Prabu Anggalarang.

Sang Prabu Anggalarang anak ing Sang Prabu Mundhingkawati/

Sang Prabu Anggalarang putera Sang Prabu Mundingkawati.

Sang Prabu Mundhingkawati anak ing Banyakwangi/

Sang Prabu Mundingkawati putera Banyakwangi.

Sang Prabu Banyakwangi anak ing//

Sang Prabu Banyakwangi putera Sang

Sang Prabu Banyaklarang/

Prabu Banyaklarang.

Sang Prabu Banyaklarang anakira Sang Prabu Susuktunggal/

Sang Prabu Banyaklarang putera Sang Prabu Susuktunggal.

Anak ing Sang Prabu Wastukancana/

Ia putera Sang Prabu Wastukancana.

Sang Wastukancana anakira Sang Prabu Linggawesi//

Sang Wastukancana putera Sang Prabu Linggawesi.

Sang Prabu Linggawesi anakira Sang Prabu Linggahiyang/

Sang Prabu Linggawesi putera Sang Prabu Linggahiyang.

Sang Prabu Linggahiyang anakira Sri Ratu Purbasari/

Sang Prabu Linggahiyang putera Sri Ratu Purbasari.

Sri Ratu Purbasari anakira Sang Prabu Ciungwanara/

Sri Ratu Purbasari puteri Sang Prabu Ciungwanara.

Prabu Ciungwanara anak ing ing Maharaja Galuh Pakwan//

Prabu Ciungwanara putera Maharaja Galuh Pakwan,

yeka Maharaja Adimulya ngaranira …

yaitu Maharaja Adimulya namanya …

(Atja, 1986:118)

(Atja, 1986:156)

Uraian di atas dapat diurutkan — dari leluhurnya—sebagai berikut:

  1. Maharaja Galuh Pakwan, Maharaja Adimulya
  2. Prabu Ciyungwanara
  3. Sri Ratu Purbasari
  4. Prabu Linggahiyang
  5. Prabu Linggawesi
  6. Prabu Wastukancana
  7. Prabu Susuktunggal
  8. Prabnu Banyaklarang
  9. Prabu Banyakwangi
  10. Prabu Mundingkawati
  11. Prabu Anggalarang
  12. Prabu Siliwangi.

Berikut ini tabel perbandingan silsilah keturunan SGJ dari garis kiwa (ibu) :

Urutan

CK

NSCA

MRST

MSDK

CPCN

1.

Nabi Adam

Nabi Adam a.s.

Nabi Adam a.s

Nabi Adam a.s.

Maharaja Galuh Pakwan, Maharaja Adimulya

2.

Yang Widi Nurut,

Nabi Sis a.s.

Nabi Sis

Nabi Sis

Prabu Ciyungwanara

3.

Yang Widi Syukur,

Sayyid Anwar/ Nuruhu/ Sanghyang Nurcahya

Sayid Anwar/Nuruhu/Sanghyang Nurcahya

Anwar (Sanghyang Nurcahya)

Sri Ratu Purbasari

4.

Yang Widi Nubut,

Sanghyang Nurasa/ Su’ur

Su’ur/Sanghyang Nurasa

Sanghyang Nurasa

Prabu Linggahiyang

5.

Jalalu Purba,

Sanghyang Wenang /Nubuh

Nubuh/Sanghyang Wenang

Sanghyang Wenang

Prabu Linggawesi

6.

Yang Nakiru,

Sanghyang Tunggal Sri Mahapunggung alias Jalalu Purba

Jalalu Purba/Sanghyang Tunggal/Sri Mahapunggung awal

Sanghyang Tunggal

Prabu Wastukancana

7.

Yang Luhur,

Batara Guru alias Manyikeru, beristana di Gunung Tengguru Himalaya, India

Manyikeru/Betara Guru/Sanghyang Manik Maya (Iwang Pramesti Dewa Guru),

Betara Guru

Prabu Susuktunggal

8.

Marija,

Betara Brama alias Maridj

Maridz/Betara Brahma

Brahma

Prabnu Banyaklarang

9.

Sira Sesunu,

Bramani Raras

Naibramani/Brahmaniraras

Brahmasada

Prabu Banyakwangi

10.

Yang Marijatha Widi,

Yang Tritusta

Hyang Tritusta

Brahmasatapa

Prabu Mundingkawati

11.

Bethara Anyalunyu,

Bagawan Manomanasa

Begawan Manomayasa

Parikenan

Prabu Anggalarang

12.

Manon Mayasa,

Bagawan Sambarana

Begawan Sambarana,

Manumayasa

Prabu Siliwangi.

13.

Sambrana Aji,

Bagawan Sukrem

Begawan Suktrem (Sakutrem)

Sekutrem

 

14.

Begawan Sakutren,

Bagawan Sakri

Bagawan Sakri

Sakri

 

15.

Sang Sakri Daraningrat,

Palasara

Bagawan Palasara

Palasara

 

16.

Palasara,

Bagawan Abiyasa

Bagawan Abiyasa

Abiyasa

 

17.

Abiyasa,

Pandudewanata

Pandudewanata

Pandu Dewanata

 

18.

Pandu Dewanata,

Arjuna alias Dipati Suryalaga

Janaka (Arjuna, Dipati Suryalaga, Permadi, Dananjaya)

Arjuna

 

19.

Dipati Arjuna,

Abimanyu alias Anom Permadi

Anom Permadi (Abimanyu, Angkawijaya)

Abimanyu

 

20.

Wara Bimanyu,

Parikesit alias Purbasengara

Purbasengara (Parikesit, Prabu Lare)

Parikesit

 

21.

Parikesit,

Aji Hudayana

Aji Hudayana

Yudayana

 

22.

Maharaja Udayana

Agendrayana

Agendrayana

Yudayaka

 

23.

Prabu Sri Gendrayana,

Setrayana (Prabu Jayabaya)

Setyana (Prabu Jayabaya)

Jaya Amijaya

 

24.

Sri Jaya Naya,

Jayamijaya Gung

Jayamijaya Gung,

Kendrayana

 

25.

Prabu Jaya Mijaya,

Jayamisena

Jayamisena,

Sumawicitra

 

26.

Jaya Misesa,

Prabu Kusumawicitra

Prabu Kusumawicitra,

Citrasoma

 

27.

Kusuma Wicitra,

Prabu Citrasoma

Prabu Citrasoma,

Pancadriya

 

28.

Citrasoma,

Prabu Pancadria Linuwih

Prabu Pancadria Linuwih,

Prabu Suwela

 

29.

Anglingdriya,

Prabu Anglingdriya

Prabu Anglingdriya,

Sri Mahapunggung

 

30.

Sang Prabu Selacala,

Raja Selacaya Anglingdarma

Raja Selacaya (Angling Darma),

Resi Kandihuwan

 

31.

Sang Katung Mahapunggung,

Yang Sri Mahapunggung Akhir

Prabu Hyang Sri Mahapunggung (Akhir),

Resi Gentay

 

32.

Kendiawan alias Resi Kenduyuhan,

Prabu Kendihawan (Dewa Natacengkar)

Prabu Kendiawan (Dewa Nata Cengkar),

Lembu Amiluhur

 

33.

Lembu Mijaya alias Panji Rawis alias Prabu Lelehan,

Resi Kenduyuhan

Resi Kenduyuhan,

Panji Asmarabangun

 

34.

Ciung Wenara,

Lembu Amiluhur

Prabu Lembu Amiluhur,

Rawis Rengga

 

35.

Prabu Linggahiyang Sakti,

Rawisrangga

Prabu Rawisrengga,

Prabu Lelea

 

36.

Prabu Linggawesi,

Prabu Lelean (Maharaja Adimulya)

Prabu Adimulya (Raden Lelean),

Mundingsari

 

37.

Prabu Wastu,

Prabu Ciung Wanara

Prabu Ciung Wanara,

Mundingwangi

 

38.

Prabu Susuktunggal

Prabu Dewi Purbasari

Sri Ratu Purbasari,

Jaka Suruh

 

39.

Munding Kawati,

Prabu Lingga Hyang

Prabu Linggahyang,

Prabu Siliwangi

 

40.

Prabu Siliwangi,

Prabu Lingga Wesi

Prabu Linggawesi,

Nyi Mas Rarasantang

 

41.

Walangsungsang, Rarasantang dan Raja Sengara.

Prabu Wastu Kencana

Prabu Wastu Kencana,

Sunan Gunung Jati

 

42.

 

Prabu Susuk Tunggal

Prabu Susuk Tunggal,

 

 

43.

 

Prabu Banyak Larang

Prabu Banyak Wangi,

 

 

44.

 

Prabu Banyak Wangi

Prabu Mundingkawati,

 

 

45.

 

Prabu Mundingkawati

Prabu Anggalarang,

 

 

46.

 

Prabu Anggalarang

Prabu Siliwangi beristri Subangkranjang,

 

 

47.

 

Prabu Siliwangi

Sri Mangana (Pangeran Cakrabuana, Walangsungsang, Haji Abdullah Iman, Ki Sangkan, Ki Kuwu Cirebon), Rarasantang ibunda Syarif Hidayatullah, dan Raja Sengara.

 

 

48.

 

Ratu Mas Rarasantang Syarifah Mudaim

 

 

 

49.

 

Sunan Gunung Jati Cirebon Syekh Syarif Hidayatullah.

 

 

 

Dari tabel di atas terdapat kesamaan silsilah Sunan Gunung Jati dari pihak ibu yang menampilkan nama dari tokoh-tokoh pewayangan, kecuali naskah CPCN yang mengawali silsilah keturunannya dari Maharaja Galuh Pakwan, Maharaja Adimulya.  Persamaan dari keempat naskah tersebut adalah:

  1. Nabi Adam
  2. Nabi Sis 2
  3. Sanghyang Nurcahya 3
  4. Sanghyanhg Nurasa 4
  5. Sanghyang Wenang 5
  6. Sanghyang Tunggal/Jalalu Purba
  7. Betara Guru/Manyikeru 6
  8. Betara Brahma/Maridj 7
  9. Bramanai Raras 8
  10. Yang Tritusta
  11. Bagawan Manonmayasa
  12. Bagawan Sambarana 9
  13. Bagawan Sukrem 10
  14. Bagawan Sakri
  15. Palasara
  16. Bagawan Abiyasa
  17. Pandudewanata
  18. Arjuna
  19. Abimanyu
  20. Parikesit
  21. Aji Hudayana 11
  22. Agendrayana
  23. Prabu Jayabaya 12
  24. Jayamijaya Gung 13
  25. Jayamisena 14
  26. Prabu Kusumawicitra
  27. Prabu Citrasoma
  28. Prabu Pancadria 15
  29. Prabu Anglingdriya
  30. Raja Selacaya
  31. Sri Mahapunggung (Akhir)
  32. Prabu Kendihawan 16
  33. Resi Kenduyuhan
  34. Lembu Amiluhur 17
  35. Rawisrangga
  36. Prabu Lelean (Maharaja Adimulya)
  37. Ciung Wanara
  38. Dewi Purbasari 18
  39. Linggahiyang
  40. Linggawesi
  41. Wastukancana
  42. Susuktunggal
  43. Banyaklarang 19
  44. Banyakwangi
  45. Mundingkawati
  46. Anggalarang 20
  47. Siliwangi
  48. Ratu Mas Rarasantang Syarifah Mudaim
  49. Sunan Gunung Jati Cirebon Syekh Syarif Hidayatullah.

Munculnya nama Nabi Adam dan Nabi Sis kemudian diselingi oleh nama-nama para dewa dan tokoh pewayangan mengisyaratkan adanya proses sinkretis dalam pemahaman ajaran agama — dan tradisi masyarakat Jawa — terutama pada masa peralihan dari agama Hindu-Budha kepada agama Islam.  Pola akomodatif dan sinkretis yang dilakukan para penyebar agama Islam dalam tahap awal menyebabkan pengaruh yang besar dalam tulisan-tulisan mengenai tokoh-tokoh Islam seperti SGJ.  Munculnya nama-nama Sanghyang Nurcahya, Sanghyang Nurasa, Sanghyang Wenang, Sanghyang Tunggal/Jalalu Purba dan Betara Guru/Manyikeru, misalnya, menunjukkan upaya pemasukan unsur-unsur kepercayaan tradisional Sunda dan pengaruh Hindu Budha kepada garis keturunan SGJ sebagai upaya legitimasi bahwa SGJ merupakan keturunan dari para dewa dalam tradisi Sunda. 21

Demikian pula munculnya nama-nama dari dunia pewayangan yang berawal dari Nabi Adam dan Nabi Sis dalam silsilah di atas menunjukkan adanya pengaruh “rekayasa”sebagaimana dikemukakan Montana (1995:16) bahwa tokh wali yang silsilahnya ditarik mundur sampai ke Nabi Adam adalah rekayasa belaka. Apalagi jika dihubungkan dengan tokoh-tokoh pewayangan yang — jika ditelusuri ke masa awal penyebaran agama Islam — diambil dari pertunjukan wayang sebagai media dalam proses Islamisasi.  Dalam pertunjukan wayang pada masa itu tidak hanya diartikan secara harfiah saja sebagai entertainment tetapi lebih dimanfaatkan sebagai perlambnag.  Sunan Kalijaga, misalnya, dapat meyakinkan bahwa kalimasada yang semula berarti sebuah jimat yang sakti adalah perubahan ucapan dari Kalimah Syahadat, padahal pengertian semula dari bahasa Sanskerta Kali Maha Usadha yang artinya Dewa Kali (Durga) Maha Tabib, maksudnya barangsiapa mengabdi kepad Dewa Kali akan selalu mendapat keselamatan, kesehatan dan kebahadiaan.  Akan tetapi, dalam proses Islamisasi masyarakat Jawa, ucapan kalimasada dimaksudkan sebagai Kalimah Syahadat yang ucapannya memang mirip.

Sunan Kalijaga menyatakan bahwa pertunjukan wayang sebenarnya adalah perhiasan tunggal yang dinamakan perhiasan syariat (syarenga).  Wayang-wayang itu adalah manusia sejagat, dalangnya adalah Allah, sang pencipta jagat (alam semesta).  Wayang tidak akan bergerak dengan sendirinya kalau tidak digerakkan dalang, demikian pula semua mahluk itu tidak akan bergerak tanpa kersaning Pangeran (kehendak Tuhan) Yang Mahagung, yang mencipta jagat (Montana, 1995:18).  Adapun hakikat wayang — yang ditampilkan sebagai garis keturunan SGJ — yang teradapat dalam naskah-naskah tradisi Cirebon mungkin merupakan penuturan kembali dari berbagai kisah pewayangan.  Munculnya nama-nama Pandudewanata, Arjuna dan Abimanyu, misalnya menunjukkan tradisi masyarakat yang selalu mengagungkan nama-nama ini.  Arjuna dengan ketampanannya, misalnya, dikaitkan dengan keturunan anak laki-laki yang ditampilkan dalam upacara tujuh bulanan dengan menggambar tokoh Arjuna pada buah kelapa. Dalam pandangan Wiryamartana (1990:328) perlambang Arjuna adalah perlambang sebagai manusia sakti dan pertapa, kesatria dan manusia teladan, sehingga tidak mengherankan apabila penulis naskah memasukkah Arjuna dalam silsilah SGJ dari pihak ibu.

Sementara silsilah SGJ dari garis ayah (tengen) tidak menghubungkannya dengan tokoh-tokoh pewayangan yang berasal dari silsilah raja-raja dan agama Hindu dari garius kiwa, namun dihubungkan dengan para nabi dari agama Islam.  Beberapa naskah, buku dan hasil penelitian yang menampilkan silsilah SGJ tanpa menghubungkan dengan tokoh-tokoh pewayangan antara lain Babad Tanah Sunda (tt), Nukilan Sedjarah Tjirebon Asli (1968, 1972) dan Sejarah Cirebon (1976) yang ditulis oleh Pangeran Suleman Sulendraningrat, naskah siaran kebudayaan pada Radio Leo yang disusun oleh Marsita, tulisan Masduki Sarpin (Pikiran Rakyat, 11 September 1990), Carita Purwaka Caruban Nagari(CPCN) karya Pangeran Arya Cirebon yang diterbitkan oleh Atja (1972,1986) serta hasil penelitian Abdullah bin Nuh (1978).

Pada NSCA Sulendraningrat (1968:33-34) menyajikan silsilah SGJ dari garis ayah sebagai berikut:

  1. Siti Fatimah binti Muhammad SAW menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Tahlib ra.
  2. Husain Assabti
  3. Jaenal Abidin
  4. Muhammad Al Bakir
  5. Jafar Shadiq
  6. Kasim al Kamil (Ali al Uraid)
  7. Muhammad an(Idris)
  8. Isa al Basri (al Bakir)
  9. Ahmad al Muhajir
  10. Uabaidillah
  11. Muhammad
  12. Alwi
  13. Ali al Gazam
  14. Muhammad
  15. Alwi Amir Faqih
  16. Abdul Malik
  17. Abdullah Khan Nurdin (Amir)
  18. Al Amir Ahmad Syejh Jalaludin
  19. Jamaluddin al Husein
  20. Ali Nurul Alim
  21. Syarif Abdullah (Sultan Mesir)
  22. Syarif Hidayatullah.

Marsita menyajikan Silsilah sebagai berikut:

  1. Nabi Adam as.
  2. Nabi Sis
  3. Anwas
  4. Qinan
  5. Makail
  6. Yarid
  7. Sam
  8. Arfakhsyadz
  9. Finan
  10. Syalikh
  11. Abir
  12. Urgu
  13. Sarug
  14. Nakhur
  15. Tarikh
  16. Nabi Ibrahim as
  17. Nabi Ismail as
  18. Haidar
  19. Jamal
  20. Sahail
  21. Binta
  22. Salaman
  23. Hamyasa
  24. Adad
  25. Addi
  26. Adnan
  27. Ma’ad
  28. Nizar
  29. Mudhor
  30. Ilyas
  31. Mudrikhah
  32. Khuzaimah
  33. Kinaan
  34. Nadhar
  35. Malik
  36. Fihir
  37. Ghalib
  38. Lauiy
  39. Kaab
  40. Murrah
  41. Kilab
  42. Qushay
  43. Abdul Manap
  44. Hasyim
  45. Abdul Muthalib
  46. Abdullah
  47. Nabi Muhammad SAW
  48. Fatimah Azzahra, menikah dengan Ali, berputra
  49. Sayyid Husein Assabti
  50. Iman Zaenal Abidin
  51. Muhammad al Bakir
  52. Jafarus Shadiq
  53. Ali al-Uraidi Kasim al Kamil
  54. Muhammad an Nakib Ibris
  55. Isa al Basri al Bakir
  56. Ahmad al Muhair
  57. Ubaidillah
  58. Muhammad
  59. Alwi
  60. Ali ag Gajam
  61. Muhammad
  62. Alwi Amirfakih
  63. Maulana Abdulmalik
  64. Abdul Khan Nurdin Amir
  65. Al Amir Ahmad Syekh Jalaludin
  66. Ali Nurul Alim
  67. Syarif Abdullah, menikah dengan Rara Santang, berputra
  68. Syarif Hidayatullah.

Masduki Sarpin dalam Harian Umum Pikiran Rakyat Edisi Cirebon tanggal 11 September 1990 menampilkan silsilah sebagai berikut:

  1. Nabi Adam as
  2. Nabi Sis
  3. Anwas
  4. Qinan
  5. Makhqil
  6. Yarid
  7. Makhnukh
  8. Matusalh
  9. Lamiq
  10. Nabi Nuh as
  11. Syams
  12. Arfakhsyal
  13. Finan
  14. Syalikh
  15. Abir
  16. Urghu
  17. Surogh
  18. Nakhur
  19. Trikh
  20. Nabi Ibrahim as
  21. Nabi Ismail
  22. Haidar
  23. Jamal
  24. Sahail
  25. Biniah
  26. Saiman
  27. Hamyasa
  28. Adad
  29. Addi
  30. Adnan
  31. Ma’ad
  32. Nizar
  33. Mudhor
  34. Ilyas
  35. Mudrikhah
  36. Kinanah
  37. Kuarenah
  38. Nadhor
  39. Malik
  40. Fihrin
  41. Gholib
  42. Luaiy
  43. Ka’ad
  44. Murroh
  45. Kilab
  46. Qusay
  47. Abdul Manaf
  48. Hasyim
  49. Abdul Muthalib
  50. Abdullah
  51. Nabi Muhammad SAW
  52. Siti Fatimah
  53. Sayid Husain
  54. Zainal Abidin
  55. Zainal Alim
  56. Zainal Kubro
  57. Zainal Husain
  58. Sultan Khut
  59. Sunan Gunung Jati.

Pada CPCN halaman (naskah) 59 baris pertama sampai halaman 60 baris ke-13 (Atja, 1986:137-138) ditampilkan sebagai berikut:

Naskah CPCN

Terjemahan

Kawruhan ta  dheng sakweh[wa]an/59

Ketauilah oleh sekalian  bahwa

Susuhunan Jati Purba ika anakira Sarip Abdullah kang atemu tangan lawan putri sakeng Mesir nagari// Nurul Alim anak ing Jamaludin kapernah ing Kemboja nagari yata anak ing Jamaludin/

Susuhunan Jati Purba itu putera Sarip Abdullah yang beristrikan puteri dari negeri Mesir.  (Ali) Nurul Alim putera Jamaludin berasal dari negeri Kemboja, ialah putera Jamaludin.

Jamaludin anak ing Amir/

Jamaludin putera Amir,

Amir anak ing Abdulmalik kapernah ing Indiya nagari//

Amir putera Abdulmalik berasal dari negeri India,

Anak ing Alwi kapernah ing Mesir nagari/

Ia adalah putera Alwi berasal dari negeri M0esir.

Alwi anak ing Muhamad/

Alwi putera Muhamad.

Muhamad anak ing Ali Gajam/

Muhamad putera Ali Gajam

Ali anak ing Alwi

Ali putera Alwi

Alwi anakira Muhamad/

Alwi putera Muhamad

Muhamad anak ing Baidillah//60

Muhamad putera Baidilah

Baidillah anak ing Ahmad/

Baidilah putera Ahmad

Ahmad anakira Al Bakir/

Ahmad putera al Bakir

Al Bakir anak ing Idris/

Al Bakir putera Idris

Idris anak ing Kasim al Malik/

Idris putera Kasim al malik

Kasim anakira Japar Sadik/

Kasim al Malik putera Japar Sadik

Kapernah ing Parsi/

Dari Parsi

Japar Sadik anak ing Muhamad Bakir/

Japar Sadik putera Muhamad Bakir

Muhamad Bakir anakira Jenal Abidin/

Muhamad Bakir putera Jenal Abidin

Jenal Abidin anak ing Sayid Husen/

Jenal Abidin putera Sayid Husen

Sayid Husen anak ing Sayidina Ali kang atemu tangan lawan Siti Patimah anak ing Rasul Muhammad nabi kang luhung …

Sayid Husen putera Sayidina Ali yang beristrikan Siti Patimah, puteri Rasul Muhammad Nabi yang mulia…

(Atja, 1986:137-138)

 (Atja, 1986:174-175)

Uraian di atas dapat diurutkan sebagai berikut:

  1. Rasul Muhammad
  2. Sayid Ali yang beristrikan Fatimah
  3. Sayid Husen
  4. Sayid Abidin
  5. Muhamad Bakir
  6. Japar Sadik dari Parsi
  7. Kasim al Malik
  8. Idris
  9. Al Bakir
  10. Ahmad
  11. Baidillah
  12. Muhammad
  13. Alwi dari Mesir
  14. Abdulmalik
  15. Amir
  16. Jamaludin dari Kamboja
  17. Ali Nurul Alim beristri putri Mesir
  18. Sarip Abdullah

Sementara itu Abdllah bin Nuh (Syamsu As, 1996:68-69) menyusun silsilah Sunan Gunung Jati dari garis ayah dengan merujuk pada hasil susunan Sayid Ahmad Abdullah Assegaf yang ditulis dalam bahasa Arab yang diambil dari Pakem Banten sebagai berikut:

  1. Sayidina Muhammad Rasulullah Saw.
  2. Sayidina Ali, suami Sayidina Fatimah
  3. Sayidina Husein
  4. Ali Zainal Abidin
  5. Muhammad Al Baqir
  6. Ja’far ash Shadiq
  7. Ali al Uraidhi di Madinah
  8. Sayid Isa di Basrah
  9. Ahmad al Muhajir di Hadramaut
  10. Sayid Abdullah al-Ardh Bur,  hadramaut
  11. Sayid Ali di Samal, Hadramaut
  12. Sayid Ali di Bait Juber, Hadramaut
  13. Sayid Ali Khali’di Tarim, Hadramaut
  14. Sayid Muhammad Shahib Mirbath di Zafar, Hadramaut
  15. Sayid Alwi di Tarim, Hadramaut
  16. Amir Abdl Muluk di Hindustan
  17. Ahmad Syah Jalal di Hindustan
  18. Maulana Jamaludin al Akbar al Husein di Bugis
  19. Ali Nurul Alam di Siam/ Thailand
  20. Raja Umdatuddin Abdullah di Cempa
  21. Syarif Hidayatullah di Cirebon.

Berikut ini tabel perbandingan silsilah keturunan SGJ dari garis tengen (garis ayah) :

No.

NSCA

MRST

MSDK

CPCN

PB

1.

Siti Fatimah binti Muhammad SAW menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Tahlib ra.

Nabi Adam as.

Nabi Adam as

Rasul Muhammad

Sayidina Muhammad Rasulullah Saw.

2.

Husain Assabti

Nabi Sis

Nabi Sis

Sayid Ali yang beristrikan Fatimah

Sayidina Ali, suami Sayidina Fatimah

3.

Jaenal Abidin

Anwas

Anwas

Sayid Husen

Sayidina Husein

4.

Muhammad Al Bakir

Qinan

Qinan

Sayid Abidin

Ali Zainal Abidin

5.

Jafar Shadiq

Makail

Makhqil

Muhamad Bakir

Muhammad Al Baqir

6.

Kasim al Kamil (Ali al Uraid)

Yarid

Yarid

Japar Sadik dari Parsi

Ja’far ash Shadiq

7.

Muhammad an-Naghib (Idris)

Sam

Makhnukh

Kasim al Malik

Ali al Uraidhi di Madinah

8.

Isa al Basri (al Bakir)

Arfakhsyadz

Matusalh

Idris

Sayid Isa di Basrah

9.

Ahmad al Muhajir

Finan

Lamiq

Al Bakir

Ahmad al Muhajir di Hadramaut

10.

Uabaidillah

Syalikh

Nabi Nuh as

Ahmad

Sayid Abdullah al-Ardh Bur,  hadramaut

11.

Muhammad

Abir

Syams

Baidillah

Sayid Ali di Samal, Hadramaut

12.

Alwi

Urgu

Arfakhsyal

Muhammad

Sayid Ali di Bait Juber, Hadramaut

13.

Ali al Gazam

Sarug

Finan

Alwi dari Mesir

Sayid Ali Khali’ Gasam  di Tarim, Hadramaut

14.

Muhammad

Nakhur

Syalikh

Abdulmalik

Sayid Muhammad Shahib Mirbath di Zafar, Hadramaut

15.

Alwi Amir Faqih

Tarikh

Abir

Amir

Sayid Alwi di Tarim, Hadramaut

16.

Abdul Malik

Nabi Ibrahim as

Urghu

Jamaludin dari Kamboja

Amir Abdl Muluk di Hindustan

17.

Abdullah Khan Nurdin (Amir)

Nabi Ismail as

Surogh

Ali Nurul Alim beristri putri Mesir

Ahmad Syah Jalal di Hindustan

18.

Al Amir Ahmad Syekh Jalaludin

Haidar

Nakhur

Sarip Abdullah

Maulana Jamaludin al Akbar al Husein di Bugis

19.

Jamaluddin al Husein

Jamal

Trikh

 

Ali Nurul Alam di Siam/ Thailand

20.

Ali Nurul Alim

Sahail

Nabi Ibrahim as

 

Raja Umdatuddin Abdullah di Cempa

21.

Syarif Abdullah (Sultan Mesir)

Binta

Nabi Ismail

 

Syarif Hidayatullah di Cirebon.

22.

Syarif Hidayatullah.

Salaman

Haidar

 

 

23.

 

Hamyasa

Jamal

 

 

24.

 

Adad

Sahail

 

 

25.

 

Addi

Biniah

 

 

26.

 

Adnan

Saiman

 

 

27.

 

Ma’ad

Hamyasa

 

 

28.

 

Nizar

Adad

 

 

29.

 

Mudhor

Addi

 

 

30.

 

Ilyas

Adnan

 

 

31.

 

Mudrikhah

Ma’ad

 

 

32.

 

Khuzaimah

Nizar

 

 

33.

 

Kinaan

Mudhor

 

 

34.

 

Nadhar

Ilyas

 

 

35.

 

Malik

Mudrikhah

 

 

36.

 

Fihir

Kinanah

 

 

37.

 

Ghalib

Kuarenah

 

 

38.

 

Lauiy

Nadhor

 

 

39.

 

Kaab

Malik

 

 

40.

 

Murrah

Fihrin

 

 

41.

 

Kilab

Gholib

 

 

42.

 

Qushay

Luaiy

 

 

43.

 

Abdul Manap

Ka’ad

 

 

44.

 

Hasyim

Murroh

 

 

45.

 

Abdul Muthalib

Kilab

 

 

46.

 

Abdullah

Qusay

 

 

47.

 

Nabi Muhammad SAW

Abdul Manaf

 

 

48.

 

Fatimah Azzahra, menikah dengan Ali, berputra

Hasyim

 

 

49.

 

Sayyid Husein Assabti

Abdul Muthalib

 

 

50.

 

Iman Zaenal Abidin

Abdullah

 

 

51.

 

Muhammad al Bakir

Nabi Muhammad SAW

 

 

52.

 

Jafarus Shadiq

Siti Fatimah

 

 

53.

 

Ali al-Uraidi Kasim al Kamil

Sayid Husain

 

 

54.

 

Muhammad an Nakib Ibris

Zainal Abidin

 

 

55.

 

Isa al Basri al Bakir

Zainal Alim

 

 

56.

 

Ahmad al Muhair

Zainal Kubro

 

 

57.

 

Ubaidillah

Zainal Husain

 

 

58.

 

Muhammad

Sultan Khut

 

 

59.

 

Alwi

Sunan Gunung Jati.

 

 

60.

 

Ali al-Gajam

 

 

 

61.

 

Muhammad

 

 

 

62.

 

Alwi Amirfakih

 

 

 

63.

 

Maulana Abdulmalik

 

 

 

64.

 

Abdul Khan Nurdin Amir

 

 

 

65.

 

Al Amir Ahmad Syekh Jalaludin

 

 

 

66.

 

Ali Nurul Alim

 

 

 

67.

 

Syarif Abdullah, menikah dengan Rara Santang, berputra

 

 

 

68.

 

Syarif Hidayatullah.

 

 

 

Dari tabel di atas teradapat kesamaan silsilah SGJ dari garis ayah yang menampilkan nama dari para nabi.  Silsilah yang ditulis oleh Marsita dan Masduki Sarpin mengawalinya dari Nabi Adam, sementara NSCA, CPCN dan PB memulainya dari Nabi Muhammad  Saw atau Sti Fatimah binti Muhammad. Jika diurutkan silsilah SGJ dari garis ayah dengan memadukan seluruh sumber di atas akan diperoleh urutan sebagai berikut:

  1. Nabi Adam as.
  2. Nabi Sis
  3. Anwas
  4. Qinan
  5. Makail
  6. Yarid 22
  7. Sam
  8. Arfakhsyadz
  9. Finan
  10. Syalikh
  11. Abir
  12. Urgu
  13. Sarug
  14. Nakhur
  15. Tarikh
  16. Nabi Ibrahim as
  17. Nabi Ismail as
  18. Haidar
  19. Jamal
  20. Sahail
  21. Binta
  22. Salaman
  23. Hamyasa
  24. Adad
  25. Addi
  26. Adnan
  27. Ma’ad
  28. Nizar
  29. Mudhor
  30. Ilyas
  31. Mudrikhah
  32. Khuzaimah
  33. Kinaan
  34. Nadhar
  35. Malik
  36. Fihir
  37. Ghalib
  38. Lauiy
  39. Kaab
  40. Murrah
  41. Kilab
  42. Qushay
  43. Abdul Manap
  44. Hasyim
  45. Abdul Muthalib
  46. Abdullah
  47. Nabi Muhammad SAW23
  48. Fatimah Azzahra, menikah dengan Ali, berputra
  49. Sayyid Husein Assabti
  50. Iman Zaenal Abidin
  51. Muhammad al Bakir
  52. Jafarus Shadiq
  53. Ali al-Uraidi Kasim al Kamil24
  54. Muhammad an Nakib Ibris
  55. Isa al Basri al Bakir
  56. Ahmad al Muhair
  57. Ubaidillah25
  58. Muhammad26
  59. Alwi
  60. Ali al Gajam
  61. Muhammad
  62. Alwi Amirfakih
  63. Maulana Abdulmalik
  64. Abdul Khan Nurdin Amir
  65. Al Amir Ahmad Syekh Jalaludin27
  66. Ali Nurul Alim
  67. Syarif Abdullah, menikah dengan Rara Santang, berputra
  68. Syarif Hidayatullah.

Pada urutan di atas yang dimulai dari Nabi Adam As, antara  tulisan MRST dengan MSDK terdapat persamaan hingga urutan keenam, Yarid.  Dari Yarid, Msdk masih menulis keturunan berikutnya yakni Makhnukh, Matusalh, Lamiq dan nabi Nuh As, lalu ke Sayams, sementara MRST dari Yarid langsung ke Syams.  Dari Syams hingga Nabi Muhammad urutan MRST dengan MSDK sama.  Secara umum dilihat dari persamaan keturunan dari masing-masing sumber, SGJ adalah keturunan ke-21 dari Nabi Muhammad Saw. Perbedaan yang mencolok terdapat pada MSDK setelah urutan dari Nabi Muhammad, pada MSDK hanya mencantumkan delapan keturunan yakni Siti fatimah, Sayyid Husain, Zainal Abidin, Zainal Alim, Zainal Kubro, Zainal Husain, Sultan Khut dan Sunan Gunung Jati, sementara sumber lain mencantumkan lebih banyak dan bervariasi, NSCA hingga 23 keturunan, MRST 22 keturunan, CPCN 18 keturunan dan PB 21 keturunan.

Dari beberapa silsilah SGJ di atas terdapat perbedaan dan persamaan di antara urutan nama dan sumber rujukan, baik dari garis ayah maupun dari garis ibu.  Perbedaan mencolok terdapat pada silsilah SGJ dari garis ibu yang mencantumkan nama-nama dari tokoh pewayangan yang bersumber dari ajaran agama Hindu, sementara dari garis ayah justru mencantumkan para nabi dalam agama Islam.

3. Makna yang Terkandung dalam Silsilah SGJ

Makna yang terkandung di dalam silsilah SGJ di atas menunjukkan adanya upaya legitimasi SGJ senbagai orang yang mempunyai otoritas kekuasaan sebagai Sultan Cirebon dengan menghubungkan silsilah keturunan dari garis ibu dengan Prabu Siliwangi penguasa kerajaan Pajajaran di Jawa Barat dan otoritas keilmuan (agama Islam) dengan menghubungkan silsilah keturunannya dari garis ayah dengan Nabi Muhammad Saw.

Dalam silsilah ini teradpat motif para dewa yang dalam indeks motif Thompson termasuk dalam kelompok A100-a499; gods dengan munculnya tokoh-tokoh para dewa  — sebagaimana cerita tentang dewa yang tinggal dan mati di dunia lain (A108; god of the living and the dead in the otherworld) dalam cerita rakyat Cina (Thompson, 1955:74) — terutama para dewa dari dunia pewayangan dalam silsilah SGJ dari garis ibu; dan A500-599; demigods and culture heroes motif para tokoh setengah dewa dan pembawa kebudayaan dalam kelompok A501; groups of demigods (kelompok tokoh setengah dewa)(Thompson, 1955:116) dengan munculnya tokoh-tokoh pembawa ajaranagama dan kebudayaan (Islam) yakni para nabi, dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad dan para guru agama Islam dari silsilah SGJ dari garis ayah.

Munculnya silsilah ini merupakan ciri khas dari cerita legenda yang menghubungkan keturunan seseorang dengan tokoh-tokoh tertentu yang mempunyai tujuan tertentu pula, baik sebagai upaya untuk mensucikan tokoh itu maupun melegitimasikan keberadaannya sesuai dengan kedudukannya.

Adapun motif para dewa dan pembawa kebudayaan diduga penulis karya ini mempunyai maksud melegitimasikan SGJ sebagai penguasa kerajaan Cirebon yang ada hubungan genealogis dengan tokoh-tokoh pewayangan dan para raja di kerajaan Pakuan Pajajaran.  Dengan disajikannya tokoh-tokoh tersebut, maka SGJ adalah sah sebagai penguasa (susuhunan) di kerajaan Cirebon.  Sementara ditampilkannya tokh pembawa ajaran agama Islam adalah sebagai legitimasi SGJ sebagai penyebar agama Islam, hal ini ditunjukkan dengan ditampilkannya SGJ sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw sebagai pembawa ajaran Islam.

4. Penutup

Berdasarkan sumber informasi dari naskah-naskah tradisi Cirebon mengenai SGJ dapat disimpulkan bahwa SGJ ternyata berbeda dengan Fatahillah , ia bukan tokoh yang identik, melainkan tokoh yang berbeda dari aspek keturunan (silsilah) berdasarkan naskah tradisi Cirebon.

Upaya memunculkan SGJ dengan dua garis keturunan Islam dan kerajaan Sunda merupakan upaya legitimasi yang sah bahwa SGJ adalah penyebar agam Islam sekaligus juga sebagai penegak kekuasaan Islam di Jawa Barat. ***

 


1. Menurut redaksinya, surat kabar tersebut banyak sekali menerima surat pembaca yang bertanya tentang siapakah sesungguhnya Sunan Gunung Jati.  masduki sarpin menjawab keinginan pembaca dengan menampilkan silsilah Sunan Gunung Jati dari garis ayah dan ibu  tanpa menyebut sumber rujukannya.

2. CK idak menyebut Nabi Sis setelah Nabi Adam tetapi langsung kepada Yang Widi Nurut

3. CK tidak menyebut Sayid Anwar atau Nuruhu atau Sanghayang Nurcahya, tetapi Yang Widi Nurut.  Dari kata Nurut kemungkinan besar nama ini adalah nama lain dari Sanghyang Nurcahya.

4. CK tidak menyebut nama Sanghyang Nurasa tetapi langsung kepada yang Widi Nubut.

5. CK = Yang Widi Nubut

6. CK = yang Nakiru

7.CK=Yang Widi  Nubut

8. Mulai keturunan kesembilan hingga kesebelas antara CK, MSDK, NSCA dan MRST menampilkan nama-nama dan urutan yang berbeda.  Pada CK dan MSDK keturunan dari Marija ke Manonmayasa diselingi tiga nama yakni keturunan kesembilan hingga kesebelas mulai dari Sira Sesunu, Marijatha Widi dan Betara Anyalunyu, pada MSDK adalah Brahmasada, Brahmasatapa dan Parikenan.  Sementara pada NSCA dan MRST hanya diselingi oleh dua nama yakni Bramani Raras dan Yang Tritusta.  Mulai keturunan ke-12 pada CK dan MSDK dan ke-11 pada NSCA dan MRST terdapat kesamaan, yakni Manonmayasa.

9. MSDK tidak menyebut Sambarana tetapi langsung ke Sakutrem

10. CK= Sakutren

11. CK = Maharaja Udayana, MSD Yudayana

12. CK = Sri Jayanaya

13. MSDK=Jayamisena Gung

14. CK=Jayamisena

15. CK tidak menyebut Pancadriya tetapi langsung ke Anglingdriya

16. CK menyebut Kendiawan alias Resi Kenduyuhan sedangkan yang lain membedakannya.

17. CK menyebut Lembu Wijaya alias Panji Rawis atau Prabu Lelean sebagai nama untuk satu orang sementara NSCA dan MRST membedakannya, yakni Lembu Amiluhur, Rawisrangga dan Prabu Lelean.  Adapun MSDK setelah menyebut nama Lembu Amiluhur keturunan ke bawahnya berbeda dengan naskah lain yakni Panji Asmarabangun,  Rawis Rengga, Prabu Lelean, Mundingwangi, Jaka Suruh, lalu ke Prabu Siliwangi.

18. CK tidak menyebut nama Dewi Purbasari tetapi dari Ciung Wanara langsung ke Linggahiyang

19. CK tida menyebut nama Banyaklarang dan Banyakwangi, dari Susuktunggal langsung ke Mundingkawati.

20. CK tidak menyebut nama Anggalarang, dari mUndingkawati langsung ke Prabu Siliwangi.

21. Dalam kosmologi Pantun Sunda dikenal adanya Mandala Agung yakni termpat Sanghyang Tunggal berada.  Mandala Agung ini berada di luar jangkauan pemahaman manusia karena Sanghyang Tunggal ini “tidak dapat dikatakan apa dan tidak dapat dijelaskan bagaiman”.  Dalam agama Hindu-Buda yang pernah berkembang di Jawa BaratSang Hyang Tunggal ini disebut Sunya Suksma atau kekosongan agung.  Ia adalah Esa Mutlak dalam dirinya, tak dapat dicapai oleh kodrat manusia.  Maka, agar dirinya dikenal oleh manusia ia menurunkan dirinya dalam wujud Batara Sanghyang Kala, penguasa waktu.  Dalam Pantun Sunda Sanghyang Kala ini juga disebut Dewa Batara Seda Niskala, Sang Hiyang Dewakala, atau Batara Seda.  Dialah Dewa dari para Batara, dewa dari para dewa.  Sehingga munculnya nama-nama Sanghyang dalam silsilah SGJ menunjukkan bahwa SGJ bukanlah manusia biasa dalam tradisi kosmologi Sunda, ia masih keturunan para nabi, sekaligus juga keturunan para dewa (Lihat Sumardjo, PR. 4 Pebruari 2001).

22.Dari Yarid, MSDK masih mencantumkan 4 keturunan yakni Makhnukh, Matusalh, Lamiq dan Nabi Nuh As lalu Syams, sementara MRST dari Yarid langsung ke Syams.

23. MRST, MSDK, CPCN dan PB mencantumkan Nabi Muhammad, sementara NSCA memulainya dari Siti Fatimah binti Muhammad

24. CPCN=Kasim al Malik

25. PB=Sayid Abdullah

26. Pada NSCA dan MRST dari Muhammad urutannya Alwi, Ali al Gazam, Muhammad lalu ke Alwi Amir Fakih.  Pada CPCN dari Muhammad langsung ke Alwi, sementara pada PB dari Abdullah ke Alwi, Sayid Ali di Bait Juber, Sayid Ali Khali Gasam di Tahrim, lalu ke Muhammad.

27. Pada CPCN tidak tercantum nama Sekh Jalaludin, dari Amir langsung ke Jamaludin, sementara PB tertulis Ahmad Syah Jalal.

Ditulis oleh :

Dr. H. Dadan Wildan, Drs., M.Hum.

Staf Pengajar FKIP Universitas galuh Ciamis, Doktor Filologi dari Universitas Padjadjaran Tahun 2001.

Sumber : El-Asgary.Wordpress


About admin

Check Also

Menguak Motif Geopolitik Islamisasi dari Batu Nisan

  Nampaknya cukup janggal bila hadirnya Islam di Nusantara ini karena sebab perdagangan yang di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *