Tuesday , July 17 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Menguji Strategi Putin & Operasi Intelijen ‘Topi Hitam’ di Rusia-Turki-Suriah

Menguji Strategi Putin & Operasi Intelijen ‘Topi Hitam’ di Rusia-Turki-Suriah

Arab Saudi beberapa waktu lalu menetapkan, KTT Liga Arab ke-29 akan diselenggarakan di Riyadh pada pekan pertama April 2018. Ini seperti dilansir kantor berita Yordania, PETRA, Selasa (13/3) lalu. Selain membahas isu Al-Quds dan pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Al-Quds, menyusul keputusan Trump, Liga Arab dalam KTT itu juga membahas isu-isu penting lain termasuk perang Suriah. Selain itu, juga membahas kondisi Irak pasca ISIS, perang Yaman, krisis Libya, dan apa yang disebut oleh Saudi dan sekutunya sebagai ‘campur tangan’ Iran dalam urusan negara-negara Arab.

Sebelum KTT Liga Arab berlangsung di Saudi nanti, pakar-pakar intelijen timur tengah sudah memonitor implementasi aktual dari salah satu poin penting yang diputuskan oleh konferensi organisasi pro Israel sedunia, AIPAC (America-Israel Public Affair Committe). Yang menjadi kesepakatan adalah, merangkul Arab Saudi sebagai sekutu melawan Iran di Timur Tengah.

Bersamaan dengan lahirnya kesepakatan AIPAC tersebut, Arab Saudi telah membangun persekutuan serupa dengan Inggris dan AS. Hal tersebut tergambar dari kunjungan Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman ke Inggris, Kamis (8/3), mencapai kesepakatan dengan PM Inggris Theresa May. Ini untuk bekerjasama dalam melawan aktivitas regional Iran yang dinilai membuat Timur Tengah kian tak stabil, seperti di kutip oleh Al-Arabiyaa, Sabtu (10/3). Sedangkan agenda pematangan kerjasama dengan AS akan disepakati dengan Presiden Donald Trump dalam kunjungan pangeran Saudi Muhammad bin Salman di Gedung Putih ‪pada tanggal 20 Maret 20 18.

MISI PROVOKASI KOMUNITAS TOPI HITAM DI RUSIA-TURKI-IRAN-SURIAH

Seluruh petinggi progresif AIPAC yang terkenal dengan sebutan “Penyihir politik topi hitam “, mendukung usulan untuk merangkul Saudi Arabia dalam konflik melawan Iran, Irak, Suriah, Libanon, Turki, dan Rusia. Komunitas ‘Topi Hitam’ terdiri dari organisasi Zionis seperti, Gerakan Untuk Sinagog, Gerakan Revava dan Al-Sanhedrin suatu gerakan radikal Yahudi yang sedang memegang pucuk pimpinan keagamaan Yahudi Zion.

Selain itu gerakan Ottzumah (Israel kuat), Gerakan Penjaga Tempat Ibadah dan Forum Nihlal  (Gerakan Untuk Tanah Israel Raya). Semua gerakan Zionis di atas bekerja guna mewujudkan Haikal ketiga yang diklaim berada di bawah Masjid al Aqsha. Mereka tergabung dalam payung Organisasi pengacara Honenu (Pembela Semua Orga nisasi Radikal Zionis) untuk menghancurkan Masjid Aqsa di Jerusalem.

Presiden Rusia, Vladimir Putin dalam wawancara dengan NBC News hari Minggu, (10/3) mengatakan, dia menduga orang-orang yang mengganggu cyber pemilu AS itu adalah orang-orang Yahudi dari banyak negara, termasuk Ukraina atau Tartar, Rusia dan negara lain. Putin menyindir AS yang selama ini menuduh Kremlin dalang intervensi cyber pemilu yang memenangkan Donald Trump sebagai presiden AS.

“Mungkin mereka memiliki kewarganegaraan ganda atau greencard. Mungkin AS membayar mereka untuk ini,” imbuh Putin.

Pemimpin Anti-Defamation League (kelompok Yahudi AS) Jonathan Greenblatt mengecam komentar Putin yang dia anggap bernuanasa anti Semit. ”Presiden Putin dengan aneh telah memilih untuk menyalahkan permainan dengan menunjuk pada orang Yahudi dan minoritas lainnya di negaranya,” ujar Greenblatt dalam sebuah pernyataan.

”Sangat meresahkan untuk melihat presiden Rusia memberikan kehidupan baru pada stereotip anti-Semit klasik yang telah melanda negaranya selama ratusan tahun, dengan sebuah komentar yang terdengar seolah-olah dirubuhkan dari halaman ke halaman ‘Protocols of the Elders of Zion’,” katanya. Seperti dikutip Jerusalem Post, Selasa (‪13/ 3).

RUSIA MENGANDASKAN OPERASI INTELIJEN TOPI HITAM DI TURKI

Kepala Pusat Komando Amerika Se rikat (AS), Jenderal Joseph Votel menyebut bahwa Rusia berada di belakang ketegangan  antara AS dan Turki, dengan peran Moskow di Suriah yang berdampak pada hubungan antara dua sekutu NATO.

Berbicara dalam sidang Komite Senat Angkatan Bersenjata,  Votel mengatakan, dukungan Rusia terhadap rezim Bashar al-Assad di Suriah meningkatkan kompleksitas kampanye anti-ISIS karena Moskow memainkan peran pembakar dan pemadam kebakaran.

Hal ini, lanjut Votel, memicu ketegangan di antara berbagai pihak di kawasan ini, termasuk AS dan mitra koalisi lainnya, dan kemudian bertindak sebagai arbiter untuk menyelesaikan perselisihan.

“Jadi saya khawatir dengan peran yang dimainkan Rusia di Suriah utara dan bagaimana hal itu mempengaruhi semua hubungan kita dan terutama hubungan antara kita dan Turki,” katanya, seperti dilansir Anadolu Agency pada Rabu (14/3).

Menanggapi sikap AS, Rusia tidak mempedulikannya, malah menyatakan siap mempercepat pengiriman sistem rudal pertahanan udara S-400 ke Ankara seperti yang diminta Turki untuk mengganjal tekanan militer AS dan sekutunya di Timur Tengah.

Kesepakatan itu memicu ketegangan antara Turki dan sekutu NATO-nya, Amerika Serikat. Washington dengan gigih menentang kesepakatan tersebut, memperingatkan Ankara pada bulan Oktober bahwa keputusannya membeli sistem pertahanan Rusia akan menghadapi konsekuensi.

Dalam skenario terburuk, Washington telah mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada sekutunya di Timur Tengah tersebut. Sanksi merujuk pada Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA), yang ditandatangani pada bulan Agustus dan ditujukan unt uk menghambat ekspor senjata Rusia keseluruh dunia. seperti dikutip Hurriyet Daily News, Kamis (‪15/3/2 018).

Tapi, pemerintah Presiden Tayyip Erdogan bersumpah untuk tetap teguh pada kesepakatan tersebut meski mendapat tekanan dari AS.

Pada hari Selasa lalu, Cavusoglu menekankan bahwa keanggotaan Turki di NATO tidak menjadikannya sebagai bawahan AS.

Ramalan Putin Mengandaskan Operasi Intelijen Penunggang Kuda Hitam dan Penyihir Politik Topi Hitam-AIPAC

Presiden Rusia Vladimir Putin secara resmi memenangkan pemilu dengan memperoleh 76,66% suara. Dia akan menjadi pemimpin terlama di bekas negara Uni Soviet tersebut, dengan jabatan baru selama enam tahun mendatang hingga 2024.

Kemenangan Putin itu menunjukkan dominasinya dalam perpolitikan Rusia setelah berkuasa selama 18 tahun. Dengan kemenangan pemilu yang digelar pada Minggu (‪18/3) lalu, dia nantinya bisa berkuasa hingga hampir seperempat abad atau 24 tahun. Dia akan menjadi pemimpin terlama setelah Josef Stalin yang pernah berkuasa di Uni Soviet. Jika tidak ada halangan, Putin akan berkuasa hingga usia 71 tahun.

Baba Vanga, perempuan buta beberapa dekade silam sudah meramalkan serangan teror ‪9/11 di Amerika Serikat dan Brexit, ternyata juga meninggalkan ramalan tentang pemimpin Rusia Vladimir Putin.

Menurut ramalan perempuan yang sudah meninggal tahun 1996 ini, Putin suatu hari akan menguasai dunia dan tidak ada seorangpun yang bisa mencegah. Pemimpin Kremlin itu akan berjaya di dunia setelah Eropa berubah seperti yang disebut Vanga sebagai “gurun pasir”.

Baba Vanga dikenal sebagai “Nostradamus of the Balkans”. Ramalan Vanga itu disampaikan pada tahun 1979 saat bertemu penulis Valent in Sidorov. ”Semua akan mencair, seolah-olah es, hanya satu yang tak tersentuh—kejayaan Vladimir, kejayaan Rusia,” kata Vanga seperti diceritakan Sidorov, seperti dikutip The Sun, Senin (19/3)

Sebelum kematiannya, Vanga juga meramalkan bahwa akan ada “perang besar” yang mencatut nama “Muslim”. Prediksinya itu diyakini sebagai perang yang melibatkan kelompok Islamic State atau ISIS.

 

 

About admin

Check Also

Manfaat Dan Khasiat Kopi untuk Kesehatan Yang Harus kamu Ketahui

Pada kesempatan kali ini akan membahas mengenai beberapa manfaat kopi untuk/bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan. ...