Sunday , July 21 2019
Home / Ensiklopedia / Mengkaji Gejolak Mesir dari Perspektif Geopolitik Jalur Sutera

Mengkaji Gejolak Mesir dari Perspektif Geopolitik Jalur Sutera

MesirPenulis : M Arief Pranoto, Research Associate GFI

Menarik sekali menyimak maraknya telaah ataupun kajian dari berbagai sudut pandang terkait jatuhnya Mohamad Morsi di Mesir. Ada yang menganggap sebagai kegagalan demokrasi, atau menilai masih kuatnya militer dalam sistem pemerintahan Negeri Piramida, atau ternyata Ikhwanul Muslimin (IM) tidak memiliki akar (politik) kuat, dan lain-lain. Bahkan Prof. Rodney Shakespeare menilai karena dominasi rezim Israel yang selama ini mengganggu stabilitas di Timur Tengah.

Mengkaji gejolak Mesir di awal kejatuhan Morsi ibarat membidik target bergerak. Artinya besar  kemungkinan terjadi peristiwa mengejutkan lain berkenaan perkembangan situasi politik yang seringkali turbulent (tiba-tiba) serta unpredictable. Terdepaknya Morsi dari tampuk kekuasaan yang baru setahun oleh “kudeta” Junta Militer bukanlah faktor berdiri sendiri. Beberapa hal saling terkait dan mempengaruhi. Apakah peristiwa ini kelanjutan Arab Spring yang bersemi setengah hati di Jalur Sutera; ataukah “kudeta” tersebut adalah kemasan lain “US Military Roadmap”-nya Pentagon? Entahlah.

Dalam catatan tak ilmiah ini, penulis sengaja menjaga jarak dari gemuruh analisa yang akurasinya niscaya “begerak”. Bahkan konon, kebenaran ilmu pun, atau kecanggihan teori manapun yang telah diprasastikan dalam sejarah suatu bangsa, kualitas kebenarannya masih bisa bergerak seiring tuntutan zaman. Sekali lagi, saya coba berpikir hening sejenak —– menjauh dari gaduh kepentingan, kemudian mengurai gejolak politik di Mesir dari aspek geopolitik sebagai faktor (tunggal) netral dalam kajian. Inilah uraian sederhananya.

Tinjauan secara parsial geografis, Mesir itu titik mula menuju Afrika terutama bila ke Afrika Utara sampai ke ujung kawasan yaitu Maroko. Tak boleh dielak, bahwa kelompok negara di jalur tersebut rata-rata kaya minyak, gas bumi serta berbagai limpahan mineral lain kendati mereka cuma penggalan daripada Route Silk atau Jalur Sutera. Dibanding Syria contohnya, kondisi Mesir jelas tidak sama meskipun secara hakiki tak jauh berbeda. Artinya selain geopolitic of pipeline melintas antar negara dan menembus lain benua, (Syria) merupakan “titik simpul”-nya Jalur Sutera. Inilah geostrategy position yang dianggap takdir oleh kaum akademisi. Ya, geopolitik adalah takdir!

Agaknya di bawah kepemimpinan Bashar al Assad, ia mampu mengubah nasib negara setingkat lebih tinggi menjadi geopolitic leverage sehingga diperebutkan para adidaya dunia. Jangkauan Syria memang lebih luas daripada Mesir. Ia bisa melaju ke Eropa lewat utara melalui Turki, dapat juga membelok ke Afrika terutama Afrika Utara melalui selatan via Mesir, dan lainnya. Inilah “titik simpul” yang dinamai geopolitic leverage terutama aspek pipeline. Artinya selain leluasa kesana-kemari, yang terpenting yakni fee sekitar $ 5 US/per barel diperoleh pemerintah Bashar al Assad dari setiap negara yang mempunyai kepentingan atas (aliran) minyak dan gas-nya yang melalui pipa di Syria. Istilahnya uang jago, atau vulgarnya jatah preman! Jangan-jangan kontribusi terbanyak APBN Syria justru berasal dari fee? Tidak ada data pasti tentang hal ini, silahkan diabaikan.

Selanjutnya Jalur Sutera itu sendiri ialah lintasan rute yang membentang antara perbatasan Rusia/Cina, Asia Tengah-Timur Tengah, Afrika Utara hingga berujung di Maroko. Ia membelah antara Dunia Barat dan Timur. Itulah kawasan sentral pergerakan (ekonomi) barang dan jasa bahkan dikumandangkan sebagai legenda jalur militer dunia sejak dahulu kala (Silahkan dibaca: Catatan Kecil tentang Jalur Sutera di www.theglobal-review.com). Mengendalikan Jalur Sutera, identik menguasai dunia, dan menguasai Mesir dan Syria, ibarat sudah menguasai separuh jalurnya!

Masih ingat George Rich mentornya John Perkins? Simak nasehatnya: “Pergilah kau ke Mesir, dan gunakan negeri itu sebagai daerah transit untuk menaklukkan Timur Tengah dan juga daerah transit untuk Afrika”. Luar biasa! Jangankan cuma economic hit man semacam Rich, bahkan seorang pakar geopolitik Inggris sekelas Halford Mackinder (1861 – 1947) telah menelorkan Teori Heartland (Jantung Dunia). Asumsinya: “Barangsiapa menguasai Heartland maka akan menguasai World Island”. Dijelaskan oleh Mackinder, bahwa Heartland itu istilah lain Asia Tengah, sedangkan World Island adalah Timur Tengah. Tidak dapat disangkal siapapun, kedua kawasan adalah wilayah yang kaya akan minyak, gas bumi dan bahan mineral lain di muka bumi. Siapa menguasai kawasan tersebut akan menjadi Global Imperium, kata Mackinder!

Itulah sepintas asumsi melegenda puluhan tahun lampau yang masih diterapkan hingga kini oleh para adidaya khususnya Paman Sam dan sekutu. “Teori Heartland” (penguasaan Asia Tengah dan Timur Tengah)-nya Mackinder sesungguhnya hanya bagian (penggalan) dari Jalur Sutera, oleh sebab teori Mackinder tidak menyertakan kawasan Afrika Utara.

Maka wajar jika mapping kolonialisasi di dunia, bagi think tank maupun man power negeri kaum penjajah dimanapun niscaya akan merekomendasi, bahwa menguasai kedua negara (Mesir dan Syria) hukumnya wajib bahkan mutlak. Tak bisa tidak. Itulah strategi awal penguasaan geopolitik di Jalur Sutera apabila ingin ‘merajai dunia’.

Jalur Sutera dalam urgensi konstalasi politik, tampaknya menginspirasi Alfred Mahan, pakar kelautan Amerika Serikat (AS) yang hingga kini “doktrin”-nya masih dianut bahkan diletakkan sebagai dogma negara terutama angkatan laut: “Barangsiapa merajai Lautan India maka ia bakal menjadi kunci percaturan di dunia internasional”. Pantas saja jika Paman Sam tidak puas hanya dengan US Africa Command (US AFRICOM) guna mengendalikan Afrika, atau US Central Command (US CENTCOM) untuk mencengkeram Dunia Arab, dan lainnya, ia membangun pangkalan militer terbesar dunia di Diego Garcia, Kepulauan Chargos, Lautan India. Setelah itu, masih dibangun pula pangkalan militer di Pulau Socotra, Yaman. Belum lagi pangkalan militer lainnya seperti di Pulau Cocos, Darwin, Subic dan lain-lain.

Perlu dicatat baik-baik, selain Socotra itu PINTU GERBANG ke Jalur Sutera melalui Teluk Aden, Laut Merah – Terusan Suez dan bermuara di Laut Mediterania, juga letak pulau tersebut hanya 3000-an Km dari Diego Garcia, artinya jika kelak terjumpai kontinjensi situasi maka permintaan perkuatan ke Socotra bisa berlangsung secara cepat.

Penelitian Ghuzilla Humied, networking associate Global Future Institute (GFI), Jakarta, menarik untuk dipertajam walau sifatnya permulaan. Ia menemukan data bahwa komando dan kendali tertinggi gerakan AS berpusat di Pulau Socotra, sedang manuver untuk wilayah Afrika dan Arab terletak di Qatar. Ia mengingatkan bahwa media mainsteam Al Jazeera yang sering menjadi propaganda Barat justru ada di Qatar.

Adanya temuan Humied dari GFI terkait Socotra, kita perlu menengok ke belakang sejenak perihal kronologis pencaplokan pulau tersebut oleh Paman Sam. Menurut dokumen GFI, tanggal 2 Januari 2010 lalu, Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh mengadakan rapat tertutup dengan Panglima Komando Militer AS Jenderal David Petraeus. Diberitakan oleh media massa pertemuan itu adalah koordinasi penanganan aksi Al-Qaeda yang berbasis di Yaman, namun akhirnya terungkap bahwa pertemuan tersebut membahas soal Socotra. Singkat cerita, Presiden Saleh pun menyerah atas “desakan” Petraeus. Pulau Socotra diserahkan kepada AS sebagai pemegang otoritas keamanan dalam rangka War on Terror (WoT) dan menumpas aksi-aksi perompakan warga Somalia. Dalam skema WoT kelak, Socotra diproyeksikan menjadi pangkalan militer, oleh karena otoritas AS diperkenankan untuk menggelar berbagai pesawat termasuk pesawat tempur dan komersil.

Kemudahan mencaplok pulau uniq tersebut, selain disebabkan pemberian konsesi ekonomi kepada petinggi Yaman sejumlah $ 14 juta US dari Kuwait Fund for Arab Economic Development guna membangun pelabuhan, juga ada isyarat Petraeus akan memberi bantuan peralatan militer. Akan tetapi, fakta menyebut bahwa pasca penyerahan Socotra kepada AS, sesaat kemudian meletus gejolak massa dalam rangka pelengserkan Ali Abdullah dari kekuasaannya —belakangan aksi massa tadi disebut Arab Spring atau Musim Semi Arab. Pertanyaan selidik muncul: adakah korelasi antara gerakan massa di Yaman yang notabene merupakan benih Arab Spring dengan keberadaan Socotra sebagai kendali tertinggi AS untuk “manuver”-nya di wilayah Afrika dan Arab? Pertanyaan lagi: siapa berani menyanggah, bahwa maksud tersembunyi pada kalimat “Lautan India” dalam uraian Doktrin Mahan makna tersiratnya ialah Jalur Sutera? Itu sekedar retorika. Let them think let them decide!

Keluar topik sebentar tetapi masih di koridor geopolitik. Ya, bahwa keterlibatan Israel —kalau tidak boleh dikatakan dominasi— terhadap setiap gejolak di Mesir dari perspektif geostrategi boleh direka motivasinya. Telaah ideologis misalnya, apabila merujuk statement Henry Bannerman (1906) tempo doeloe (baca: Geopolitik Sungai Nil, di www.theglobal-review.com), bahwa cipta (kondisi) konflik merupakan bagian dari peran yang harus dijalankan oleh Israel selaku organ pemecah belah di jantung bangsa-bangsa Arab. Sedangkan kajian secara pragmatis, semata-mata karena faktor pipanisasi gas.

Tidak dapat disangkal, betapa tinggi ketergantungan Israel terhadap Mesir dalam hal pasokan gas alam. Menurut Dirgo D. Purbo (9/7/2013), dalam diskusi terbatas di Forum KENARI (Kepentingan Nasional RI) dikatakan, bahwa pasokan gas Israel berasal dari Mesir hampir 80% lebih. Kondisi ini mirip ketergantungan Eropa Timur atas pasokan gas Rusia yang supply-nya telah mencapai 100%. Inilah “gas weapon”  Beruang Merah kepada jajaran Eropa Timur. Bisa dingin membeku Eropa Timur jika pasokan gas-nya ditutup oleh Putin. Semestinya, ketergantungan Israel atas gas dari Negeri Piramida bisa diolah menjadi gas weapon, namun dalam prakteknya tidaklah semudah itu. Kenapa? Apakah karena “kuat”-nya —kalau tak boleh mengatakan “tekanan”— hegemoni AS dan Inggris pada setiap elit yang duduk atau “diduduk”-kan di Mesir?

Fakta lain tak kalah menarik, yaitu akibat gejolak politik yang tak kunjung usai di satu sisi, kini ia mengimpor gas dari Qatar, Rusia, dan lain-lain. Tetapi di sisi lain, “pelayanan” kepada Israel dalam hal gas dengan harga murah tetap berlangsung karena pipanisasi hanya melalui Mesir. Apakah ini bermakna bahwa Mesir telah diperkuda oleh Israel? Retorikanya: apa tidak beku Israel jika supply gas-nya diputus oleh elit kekuasaan yang kelak bertakhta di Mesir tetapi kontra kepadanya?

Membaca konflik-konflik di Jalur Sutera (Asia Tengah, Timur Tengah dan Afrika Utara) dari perspektif geopolitik khususnya “geostrategi”-nya Bannerman, seolah-olah hanya Isreal sebagai biang keladi semua gejolak politik di kawasan kaya minyak tersebut. Kendati dalam praktek bukanlah hitam putih seperti demikian, namun banyak pendapat menganggapnya benar —termasuk Prof. Rodney Shakespeare— oleh karena merujuk awal perannya kenapa ia dulu didirikan tepat di jantung bangsa-bangsa Arab.

Sebaiknya disimak kembali statement Henry Bannerman, PM Inggris (1906) yang sangat melegenda:

Ada sebuah bangsa (Bangsa Arab/Umat Islam) yang mengendalikan kawasan kaya akan sumber daya alam. Mereka mendominasi pada persilangan jalur perdagangan dunia. Tanah mereka adalah tempat lahirnya peradaban dan agama-agama. Bangsa ini memiliki keyakinan, suatu bahasa, sejarah dan aspirasi sama. Tidak ada batas alam yang memisahkan mereka satu sama lainnya. Jika suatu saat bangsa ini menyatukan diri dalam suatu negara; maka nasib dunia akan di tangan mereka dan mereka bisa memisahkan Eropa dari bagian dunia lainnya (Asia dan Afrika). Dengan mempertimbangkan hal ini secara seksama, sebuah “organ asing” harus ditanamkan ke jantung bangsa tersebut, guna mencegah terkembangnya sayap mereka. Sehingga dapat menjerumuskan mereka dalam pertikaian tak kunjung henti. “Organ” itu juga dapat difungsikan oleh Barat untuk mendapatkan objek-objek yang diinginkan” (JW Lotz, 2010).

Pointers yang layak dicermati pada asumsi Bannerman di atas ialah: (1) jika bangsa-bangsa Arab bersatu maka Barat akan kehilangan kendali, bahkan nasibnya akan berada dalam genggaman bangsa Arab; (2) maka perlu ditancapkan “organ” di jantung bangsa Arab guna mencegah (persatuan)-nya berkembang menjadi kuat; (3) dan “organ” tersebut, selain berfungsi menciptakan pertikaian atau konflik yang tak kunjung henti, juga sebagai alat Barat dalam rangka mendapatkan target-target yang diinginkan.

Dan syahdan, sekian dekade kemudian berdirilah Israel di lintasan Jalur Sutera atas prakarsa Inggris!

Sekali lagi, pada konstalasi politik global sebenarnya tidak bisa dikatakan hitam putih seperti itu, banyak faktor berpengaruh, meskipun Israel sendiri dalam konflik geopolitik di jajaran negara aliran Sungai Nil bermain di “dua kaki”, yaitu berpihak pada negara-negara hilir di satu pihak, tetapi di pihak lain ia bermain pula di hulu (pembangunan dam-dam atau bendungan di Ethiopia, dll). Pertanyaannya: apa faktor-faktor yang mempengaruhi sebagaimana diurai di atas?

“Lingkaran Setan”

Tak boleh dipungkiri, dalam konteks konflik-konflik sebagaimana yang kini berlangsung di Jalur Sutera, tampaknya ada “lingkaran setan” yang ditanam dalam-dalam oleh asing, terutama terhadap para elit politik di Mesir. Lingkaran itu berupa siklus ketergantungan. Misalnya, Israel memiliki ketergantungan tinggi atas pasokan gas dari Mesir di satu sisi, namun Negeri Piramida itu sendiri dalam kendali Paman Sam di sisi lain. Bantuan $ 1,5 milyar per tahun oleh AS kepada militer Mesir sebagai misal, itu ciricumstance evidence (bukti keadaan) yang tak terbantah bahwa gilirannya “tindakan” apapun militer bila terkait politik niscaya seizin Washington, termasuk dalam hal ini adalah “kudeta” baik terhadap Mobarak, Morsi dan kemungkinan besar kepada “Mobarak” atau “Morsi-Morsi” lainnya yang akan duduk atau “diduduk”-kan berikutnya. Fakta lain tak bisa dielak lagi justru Israel itu sendiri merupakan sekutu (dekat, anak emas) tradisioanal Barat (AS) di Dunia Arab. Itulah sekilas lingkaran setan dimaksud.

Dengan demikian telah jelas, sampai kapanpun Mesir tak bakalan mampu memainkan gas weapon-nya terhadap Israel sebagaimana Putin mengendalikan Eropa Timur sebab ketergantungan (100%) atas gas Rusia. Selain itu Mesir sendiri dalam kendali AS, juga Israel sendiri mampu “bermain” dengan negara-negara Hulu dalam konteks geopolitik Sungai Nil.

Singkat kata, analisa Hendrajit, Direktur Eksekutif GFI agaknya terbukti nyata, betapa militer Mesir-lah yang sejatinya memegang kendali permainan politik model apapun di Negeri Piramida. Tak bisa tidak. Lalu jika dianalogikan pada panggung atau sebuah pagelaran, bahwa siapapun Presiden Mesir maka ia hanya sekedar “wayang”, sedang “dalang”-nya adalah militer, sementara “pemilik hajatan”-nya justru Washington!

Terimakasih

 

About admin

Check Also

Selamat Datang di Entikong: Jalur Padat Perdagangan Manusia

Dari kampung halaman, Anda berbekal impian penuh bisa mengangkat kemiskinan. Anda tahu terlambat telah terjebak ...