Tuesday , July 17 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Mengintai Operasi Intelijen “Anjing Gila” Donald Trump dan Netanyahu di Israel
Dynno Chressbon, (indopos.co.id)

Mengintai Operasi Intelijen “Anjing Gila” Donald Trump dan Netanyahu di Israel

Publik Korea Utara (Korut) pada Rabu, 8  November 2017 lalu menyimak pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di gedung parlemen Korea Selatan (Korsel), yang tampil berpidato mempropagandakan isu anti-Korea Utara. Pidato Trump soal Korut kali ini lebih lunak dari sebelumnya. Trump lebih banyak mengingatkan Korut untuk tidak meremehkan AS.

Bersamaan dengan pidato Trump, sejumlah pejabat Korut di Pyongyang yang memiliki kewenangan untuk berbicara mewakili Pemerintah Korut menuturkan kepada CNN, Rabu (8/11/2017), bahwa jika membahas Trump, “Kami tidak peduli soal apa yang diucapkan anjing gila itu karena kami sudah mendengar cukup banyak.”

Operasi Teror Intelijen Politik Anjing Gila

Rezim Korut menuding Trump dan otoritas AS sengaja memanaskan situasi di Semenanjung Korea hingga ke level yang belum pernah terjadi sejak Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata sejak 1953 silam.  “Amerika Serikat mengancam kami dengan kapal induk nuklir dan pengebom strategis. Mereka menantang kami dengan provokasi yang paling keji dan merendahkan, tapi kami akan menangkal ancaman-ancaman itu dengan meningkatkan kekuatan keadilan demi memusnahkan akar pemicu agresi dan perang,” kata pejabat-pejabat Korut yang tidak disebutkan namanya itu seperti dikutip CNN, Rabu, 8 November 2017.

Operasi Teror Psikolog

Skenario operasi intelijen yang terbaca dan telah dijalankan oleh AS-Israel dan didukung oleh Saudi Arabia adalah melancarkan operasi teror intelijen “Anjing Gila “, seperti yang dilakukan terhadap Korea Utara (Korut). Metode teror psikologi Proxy Cyber Psy War digunakan agar terbentuk opini publik secara langsung dan nyata menyerang wibawa politik pemimpin dunia Islam dan mayoritas kepala negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang menolak kebijakan AS-Israel-Saudi di Palestina dan Israel.

Pertemuan KTT Arab-Amerika di Riyad Saudi Arabia pada 20-21 Mei 2017 dijadikan momentum awal untuk menciptakan konflik wibawa antara negara-negara Arab dan Teluk Persia dibawah kontrol diplomatik Arab Saudi dengan negara-negara mayoritas Islam pro-kemerdekaan Palestina seperti Turki, Iran dan Indonesia.

Tahapan Prakondisi Teror Psikologi

Pertemuan prakondisi teror psikologis politik tersebut berhasil mengisolasi hubungan diplomatik Iran, Turki, Libanon, Yaman, Jordania dengan Mesir. Tetapi gagal mengisolasi hubungan diplomatik Iran, Turki, dan Qatar yang terus bersikap konsisten pro-kemerdekaan Palestina, dan menolak proposal Amerika-Israel-Saudi Arabia soal mengisolasi pengaruh Iran dan Turki di Palestina. Pertemuan lanjutan untuk membentuk “Front Pan Islam Terpadu” dibawah kontrol wibawa politik AS-Israel-Saudi, dilakukan pada Minggu, 26 November 2017 di Riyadh, antara lain diikuti oleh Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Afghanistan, Uganda, Somalia, Mauritania, Lebanon, Libya, Yaman dan Turki.

Indonesia sejak awal menyatakan tidak ikut dalam aliansi, namun akan bekerja sama di luar front politik ciptaan AS-Israel-Saudi tersebut. Pensiunan Jenderal Pakistan Raheel Sharif ditunjuk sebagai panglima tertinggi Front Pan Islam Terpadu. Pangeran Muhammad bin Salman mengatakan, 40 negara anggota  mengirimkan sinyal yang jelas bahwa mereka akan bekerja sama untuk mendukung usaha militer, keuangan, intelijen dan politik dari setiap negara anggota. Seperti dikutip oleh NDTV, Senin (27/11/2017).

Unit Khusus Teror Psikologi 999

Salah satu operasi lapangan unit-unit teror psikologi ini pernah dibongkar ke publik oleh Edward Snowden, mantan pejabat badan intelijen Amerika Serikat (NSA) yang kini menjabat Staf Khusus Presiden Rusia, Vladimir Putin. Yakni operasi teror kelompok mantan pasukan khusus Iraq Intelligent Service (IIS), Unit 999 di era Presiden Saddam  Hussein yang direkrut AS-Israel-Saudi untuk misi mendestabilisasi keamanan Iran, Irak, Suriah, Turki, Libanon, Jordania, Palestina, Pakistan, Afghanistan, Pilipina, Myanmar, dan Indonesia.

Misi unit khusus 999 tersebut adalah mempersiapkan metode target, sasaran, propaganda, rencana umpan penyesatan, kekacauan kejutan, pembunuhan dramatis, serangan pendadakan teror yang dikamuflase oleh agen-agen klandestin terlatih berperilaku seperti orang-orang yang mengalami gangguan mental (gila) di setiap negara sasaran, yang sudah direkrut oleh lembaga undercover intelijen AS-Israel dan dibantu oleh Saudi Arabia.

Unit Khusus Operasi Pengalihan Isu

Skenario pertama implementasi strategi aktual untuk peningkatan eskalasi kebijakan diplomasi, intelijen dan militer, ditujukan agar terciptanya opini internasional yang paling menguntungkan Israel dan Saudi Arabia di Timur Tengah.

Isu perang Korut dijadikan media pengalihan isu perhatian publik di kawasan Asia Pasifik, sedangkan isu perang Irak-Suriah dijadikan sebagai mekanisme pemicu kerusuhan dan konflik untuk “Kepentingan dan tujuan keamanan nasional yang luas AS-Israel-Saudi” di Iran, Turki, Yaman, Suriah, Libanon, dan Palestina.

Unit khusus teror psikologi 999 tersebut dibantu oleh unit-unit khusus Cyber Clandestine Action seperti Center Cyber Intelligence (CCI), Directorate Digital Inovation (DDI), Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA), For All Secure Consultant, Israel National Cyber Bureau (INCB), Israel Cellebrite Ponsel dan Zerodium yang mampu meretas semua jenis ponsel di dunia, bertanggung jawab mendukung misi spesifik aksi tim khusus Cyber Deception melalui program Cyber action Hoax Telegram-Twitter-Instagram-Youtube-Signal dan Thor.

Sedangkan kesemua misi ultra spesifik unit-unit tersebut dibantu oleh perusahaan penyedia solusi Contra Cyber, MIT’s Computer Science and Artificial Intelligence Laboratory (CSAIL) yang bertugas menyerang unit-unit Cyber Intelligence, Cyber Security dan Cyber Army milik negara sasaran operasi teror psikologi yang didukung oleh unit khusus Cyber Specific Intelligence Data Al Mukhabarat Al A’amah milik Saudi Intelligence Agency yang bertugas memasok semua kode rahasia metadata kelompok-kelompok Mujahidin Cyber Army (MCA) Al-Qaedah dan ISIS di berbagai kawasan, bersandi “Family Cyber Mujahidin Army (FMCA)”.

Operasi Intelijen Anjing Gila dan Orang Gila

Catur intelijen teror psikologi selanjutnya, Unit Khusus Teror Psikologi 999 akan memasukkan anggota jaringan intelijen yang telah disusupkan ke kelompok-kelompok radikal pendukung Al-Qaedah dan ISIS ke negara sasaran teror untuk memperburuk situasi kemananan dan melakukan sabotase digital milik aparat keamanan.

Kepolisian Indonesia mengumumkan telah menangkap sebanyak enam orang pelaku penyebaran isu provokatif dan pencemaran nama baik. Polisi menyebut keenam orang yang tergabung dalam kelompok Muslim Cyber Army ini turut berperan dalam penyebaran isu ulama diserang orang gila.

Kasubdit I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Pol Irwan Anwar mengatakan, kelompok ini tak hanya menyebar dan menggoreng isu penyerangan terhadap ulama. Keenam pelaku yang tergabung dalam WhatsApp Group ‘The Family MCA’ ini juga menyebarkan berita bohong soal isu kebangkitan PKI.

Iya (The Family MCA) adalah pelaku penggoreng isu ulama diserang orang gila. Pokoknya kelompok inilah yang meng-counter flow, penyebar berita bohong terkait isu kebangkitan PKI dan penculikan ulama,” kata Irwan saat dihubungi detik.com, Selasa (27/2/2018).

Irwan mengatakan, pihaknya masih mendalami motif para pelaku menyebarkan dan menggoreng isu tersebut. Polisi juga akan mendalami apakah isu penyerangan ulama dan kebangkitan PKI itu dikaitkan dengan akan digelarnya Pilkada Serentak 2018 dan Pilpres 2019 nanti.

Simpul Operasi Teror Anjing Gila & Operasi Orang Gila

Rangkaian skenario operasi proxy teror psikologi “Anjing Gila ” dan operasi klandestin “Orang Gila” secara umum telah diulas pada tujuh tulisan sebelumnya di INDOPOS berjudul antara lain 1)  Membaca 3 skenario kebijakan intelijen AS-Israel-Saudi di Timur Tengah, 2) Menilai Manuver Proxy Intelijen Iran-Rusia-Turki di Timur Tengah, 3) Memonitor Agresi Cyberwar Hizbullah-Hamas-Ansarullah di Timur Tengah, 4) Mengidentifikasi 3 Ancaman Strategis Terhadap AS-Israel-Saudi di Timur Tengah, 5) Mengkaji Implikasi Strategi Aktual Donald Trump untuk Palestina, 6) Menguji Ancaman Diplomatik Presiden Erdogan Soal Agitasi Israel, dan artikel ke 7) Mendeteksi Kecemasan PM Israel Netanyahu Soal Cyberproxy War Turki.

Memonitor perkembangan situasi dari skenario baru kebijakan intelijen AS-Irael-Saudi di Timur Tengah paska kekalahan AS dalam sidang voting pro-Palestina melawan kelompok pro-Israel di Majelis Umum PBB pada Senin, 18 Desember 2017 akhirnya Turki, Iran, dan  Indonesia sebagai negara sponsor utama pendukung kemerdekaan Palestina mengalami serangan teror intelijen “Anjing Gila” dan “Orang Gila” yang disinyalir terkait dengan aktivitas misi khusus Cyberaction Hoax yang dilakukan oleh unit-unit khusus Cyber Attack Effective AS-Israel. Ini sebagai strategi pengalihan isu menjelang proses pemindahan Kedubes AS ke Jerusalem pada 14 Mei 2018, sekaligus menciptakan opini positif di media internasional, mendukung PM Israel Benyamin Netanyahu yang sedang menghadapi isu tuduhan korupsi oleh kepolisian Israel.

Menghadapi perkembangan situasi tersebut, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Turki mengatakan, pengumuman pemindahan Kedutaan Besar AS di Israel ke Jerusalem sangat mengkhawatirkan. AS mengumumkan akan memindahkan kedutaan mereka dari Tel Aviv ke Jerusalem pada pertengahan Mei mendatang.

“Turki akan terus berupaya keras bersama dengan mayoritas masyarakat internasional untuk melindungi hak-hak sah rakyat Palestina dalam menanggapi keputusan AS yang sangat mengkhawatirkan ini,” kata Kemenlu Turki seperti dilansir Anadolu Agency pada Minggu (25/2).

Kemenlu Turki kemudian menuturkan bahwa AS membuktikan dengan pernyataan terakhir bahwa mereka tidak mendengar atau tidak ingin mendengarkan masyarakat internasional yang posisinya tercermin dalam pernyataan Organisasi Kerja sama Islam OKI dan resolusi Majelis Umum PBB.

Sebelumnya diwartakan, Wakil Menteri Luar Negeri untuk Diplomasi Publik AS Steven Goldstein pada Jumat mengumumkan bahwa pada 14 Mei AS akan memindahkan kedutaan mereka ke Jerusalem. Tanggal pemindahan itu dikenal sebagai Hari Kemerdekaan Israel atau Naqba yang menjadi bencana bagi orang-orang Palestina.

  • Oleh: Dynno Chressbon, Pengamat Intelijen
  • Source: Indopos.Co.Id

About admin

Check Also

Manfaat Dan Khasiat Kopi untuk Kesehatan Yang Harus kamu Ketahui

Pada kesempatan kali ini akan membahas mengenai beberapa manfaat kopi untuk/bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan. ...