Sunday , July 21 2019
Home / Berita / Menggalang Revolusi Kebudayaan Melalui Guru

Menggalang Revolusi Kebudayaan Melalui Guru

wakil menteri

 “… kalau Indonesia mau mengejar ketinggalan dari negara-negara maju maka selain sekolah dan perguruan tinggi yang mencetak guru-guru profesional itu harus dihidupkan kembali dan dikembangkan, juga harus mampu mengubah mainset guru-guru yang ada saat ini untuk menghasilkan revolusi kebudayaan Indonesia yang berakar dari kearifan lokal dan berkekuatan besar dalam kompetisi global”

 

Jakarta, (Suara Diknas)

Guru profesional dan bermartabat menjadi impian kita semua karena akan melahirkan anak bangsa yang cerdas, kritis, inovatif, demokratis dan berakhlak. Guru profesional dan bermartabat memberikan teladan terbentuknya kualitas sumber daya manusia kuat. Namun bagaimana mewujudkan guru profesioanal dan bermartabat. Suara Diknas mewawancarai Pendiri Indonesia Future Institute Kolier Haryanto di kantornya.

Menurut Kolier, sertifikasi guru melalui uji kompetensi untuk memperhitungkan pengalaman profesionalitas guru melalui penilaian porto folio guru memang bisa menjadi salah satu upaya pemerintah untuk dalam meningkatkan profesionalitas guru. Namun yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana membangun sistem pendidikan guru yang baik dan pengembangannya melalui perubahan mainset yang mampu menghasilkan revolusi kebudayaan anak-anak bangsa.

“Saya terus terang sangat menyesalkan dihapusnya Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan diubahnya IKIP menjadi Universitas Negeri. Sepertinya bangsa dan pemerintah ini malu memiliki sekolah dan perguruan tinggi yang menghasilkan guru-guru terbaik. Kita lebih bangga kalau bisa menempuh pendidikan di sekolah umum atau universitas negeri”, ujar Kolier serius.

Untuk menjadi guru itu harus diminati sejak awal sebagai profesi. Sehingga menjadi guru profesional bersertifikat, bukan karena tidak memperoleh pekerjaan kemudian mengambil profesi sebagai guru yang memang saat ini sangat diperlukan sebagai akibat kekurangan guru. Guru yang baik dan benar itu bukan hanya mampu menyampaikan materi bahan ajar, tetapi lebih dari itu harus memiliki kompetensi kepribadian, sosial dan terutama pedagogik. Ini hanya bisa diperoleh di sekolah atau perguruan tinggi yang memang untuk mendidik pofesi guru sebagai panggilan hidup, seperti SPG dan IKIP, lanjut Kolier.

Pendiri Indonesia Future Institute ini mengingatkan, bahwa perencanaan SDM  Indonesia memang sangat lemah sehingga saat ini kita kekurangan guru, terutama guru SD yang mencapai 94 persen daerah kabupaten/kota. Ini sebagai akibat dibubarkannya Sekolah Pendidikan Guru.

“Saya teringat, betapa di negara-negara maju sekalipun seperti di Eropa, menjelang pergantian ke abad  21 mereka mengumpulkan ahli-ahli SDM untuk menata ulang jurusan dan  program studi di setiap tingkatan pendidikan sesuai dengan rencana pembangunan dan perubahan kompetisi global. Sementara kita, untuk penyedian profesi guru yang menjadi ujung tombak pembangunan SDM saja gagal”, sesal Kolier.

Terhadap profesi guru ini yang selalu kita kenang, bahwa Malaysia yang maju pesat saat ini pernah belajar dari guru-guru Indonesia di tahun 1970an. Tetapi yang dilupakan bahwa ternyata kita tidak pernah belajar dari Malaysia di tahun-tahun tersebut. Yang terjadi sesungguhnya, ketika mengontrak guru-guru kita, guru-guru muda Malaysia seluruhnya di sekolahkan ke Inggris. Sehingga pengalaman kehidupan dan percepatan pengetahuan melalui pendidikan di negara pemimpin negara-negara persemakmuran itu, telah mengubah mainset dan menghasilkan revolusi kebudayaan di Malaysia, jelas Kolier.

Oleh karena itu menurut Kolier Haryanto, kalau Indonesia mau mengejar ketinggalan dari negara-negara maju maka selain sekolah dan perguruan tinggi yang mencetak guru-guru profesional itu harus dihidupkan kembali dan dikembangkan, juga harus mampu mengubah mainset guru-guru yang ada saat ini untuk menghasilkan revolusi kebudayaan Indonesia yang berakar dari kearifan lokal dan berkekuatan besar dalam kompetisi global. Karena seperti yang pernah disampaikan  Presiden Henry Adams, seorang guru yang baik akan mampu menggandeng tangan, membuka pikiran, menyentuh hati dan membentuk masa depan. A teacher effects eternity; he can never tell where his infulence stops. *FAY

 

About admin

Check Also

Bahaya di Balik Aturan Data Center Perusahaan Boleh di Luar Negeri

Kebijakan membolehkan data center ada di luar negeri mengancam keamanan data pribadi dan membuat ekonomi ...