Monday , November 18 2019
Home / Deep Secret / Intelijen / Mengenal Pionir Persatuan dan Strategi Pendekatan Antarmazhab

Nikmat terbesar yang dianugerahkan Allah Swt kepada umat Islam adalah solidaritas, cinta dan persatuan. Karena dalam periode sebelum kedatangan Islam, dunia dikuasai oleh kebodohan dan permusuhan di antara masyarakat. Allah Swt berfirman, "..., dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara ..." (Ali Imran: 103) dan di ayat lain Allah berfirman, "Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana."(Al Anfal: 63) 

Mengenal Pionir Persatuan dan Strategi Pendekatan Antarmazhab

Berikut ini akan kami bawakan ucapan Syeikh Muhammad Arafah, ulama besar al-Azhar yang mengingatkan pentingnya persatuan umat Islam dengan bersandarkan pada ayat-ayat ilahi. Beliau menyebut ulama dan cendikiawan Islam sangat berpengaruh besar dalam terciptanya perpecahan atau persatuan umat Islam. Ia menulis, “Ulama dan cendikiawan di setiap mazhab punya saham terkait meluasnya perselihan dan perpecahan di antara umat Islam. Terkadang muncul perpecahan akibat ucapan seorang ulama yang dipublikasikan. Dalam membahas isu-isu akidah dan teologi, mereka kadang menggunakan istilah untuk menolak pendapat mazhab lain yang justru menjadi penyebab tersebarnya benih-benih kebencian. Tanpa disadari kebencian ini menyebar ke seluruh masyarakat Islam, seperti yang dapat kita saksikan dewasa ini.”

Tapi peran positif ulama dalam mempersatukan dan membangkitkan umat Islam juga sangat besar. Di dekade 50-an di pelbagai negara-negara Islam, banyak cendikiawan dan ulama besar Syiah dan Sunni yang berusaha mendekatkan antarmazhab, termasuk Syeikh Musthafa Abdul Razzaq, Syeikh Abdul Majid Salim dan Mufti Agung Mesir, Syeikh Mahmoud Syaltut dari ulama Ahli Sunnah. Sementara Ayatullah Syeikh Muhammad Husein Kasyif al-Ghita, Sayid Syarafuddin al-Musawi, Ayatullah Boroujerdi, Sayid Hibatullah Syahrastani dari ulama Syiah merupakan pionir gerakan pendekatan antarmazhab.

Dalam satu abad terakhir, para pembaharu di negeri-negeri Islam telah berusaha keras untuk menciptakan persatuan Islam. Yang ada dalam pemikirannya adalah bagaimana membangun benteng kokoh bernama umat Islam yang satu. Bila hal itu tercipta, dengan mudah mereka akan menghadapi imperialisme Barat. Sayid Jamaluddin al-Afghani adalah satu di antara pionir persatuan Islam. Beliau meneriakkan suara persatuan di saat kemuliaan umat Islam terlihat lemah dan dunia Islam berada dalam kemunduran.

Di dekade 1960-an Imam Khomeini ra mengumandangkan seruan persatuan dunia Islam. Dalam pelbagai periode Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini ra senantiasa menyampaikan pentingnya persatuan umat Islam. Penetapan Hari Quds Sedunia di Jumat terakhir bulan Ramadhan dan Pekan Persatuan dari 12 hingga 17 Rabiul Awal merupakan langkah-langkah Imam Khomeini ra untuk mewujudkan persatuan di dunia Islam.

Ayatollah Khamenei, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran demi terciptanya persatuan Islam mengusulkan pendirian Majma Taqrib Madzahib Islami (Forum Pendekatan Antarmazhab Islam). Sekaitan dengan pendirian forum ini beliau berkata, “Republik Islam Iran ada untuk membentuk Majma Taqrib dan menjadi tuan rumah tokoh-tokoh ilmuwan Islam. … Tujuan dari pendirian Taqrib baina Madzahib Islami untuk mendekatkan pelbagai mazhab Islam di bidang pemikiran. Dengan cara ini diharapkan segala bentuk kesalahpahaman dapat dihilangkan dan pemikiran ekstrim dapat diseimbangkan.”

Selama ini umat Islam lupa bahwa mereka memiliki kapasitas luar biasa. Mereka memiliki segala anasir untuk menciptakan persatuan seperti mazhab pemikiran yang realistis, sumber kekayaan alam dan sumber daya manusia yang berlimpah. Kekuatan arogan dunia tahu benar akan kapasitas luar biasa yang dimiliki umat Islam. Oleh karenanya, dengan segala kekuatan yang dimilikinya mereka berusaha merusak unsur utama yang dimiliki umat Islam, yaitu persatuan. Mereka menggunakan segala macam cara untuk merealisasikan tujuan buruknya. Sekalipun demikian, umat Islam masih tetap berusaha menciptakan persatuan. Sekaitan dengan hal ini, fatwa-fatwa ulama dan cendikiawan muslim tentang pentingnya persatuan bermanfaat mencerahkan umat Islam dan dengan cepat mereka berusaha mewujudkannya.

Berikut ini adalah fatwa-fatwa ulama dan cendikiawan Islam yang mengajak umat Islam agar bersatu. Syeikh Mahmoud Syaltut, Mufti Agung al-Azhar mengeluarkan fatwa bersejarah tentang diperbolehkannya mengikuti mazhab Syiah Imamiyah. Dalam fatwanya Syeikh Syaltut mengatakan, “Agama islam tidak memerintahkan umatnya untuk mengikuti mazhab tertentu. Setiap muslim boleh mengikuti mazhab apapun yang benar riwayatnya dan mempunyai kitab fikih khusus. Setiap muslim yang mengikuti mazhab tertentu dapat merujuk ke mazhab lain (mazhab apapun) dan tidak ada masalah. Mazhab Ja’fari yang dikenal sebagai mazhab Syiah Dua Belas Imam adalah mazhab yang secara syariat boleh diikuti seperti mazhab-mazhab Ahli Sunah lainnya.”

Kebanyakan ulama besar di masa itu mendukung fatwa bersejarah Syeikh Mahmoud Syaltut itu. Salah satu ulama yang menguatkan fatwa itu adalah Allamah Thabathabai, penulis buku tafsir al-Mizan. Dalam dukungannya beliau menulis, “Menurut akal dan logika, tidak ada keraguan dalam menerima dan memprioritaskan persatuan atau pendekatan Islam. Atas dasar ini, pengikut Syiah di masa periode awal Islam tidak menjauh dari barisan mayoritas, bahkan membantu kemajuan Islam dan urusan umat Islam di masa itu. Para marji Syiah mendukung pemikiran pendekatan mazhab-mazhab Islam dengan alasan seperti ini. Syeikh al-Azhar menjelaskan hakikat ini secara transparan dan menunjukkan kepada dunia akan persatuan Syiah dan Sunni.”

Ayatollah Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengeluarkan fatwa haram menghina isteri Nabi Muhammad Saw dan segala hal yang disucikan oleh pengikut Ahli Sunnah. Ketika fatwa ini dikeluarkan oleh beliau, dunia Islam menyambutnya dengan suka cita. Saat dimintai fatwa oleh ulama dan cendikiawan Syiah Arab Saudi, beliau menyatakan, “Menghina simbol-simbol saudara Ahli Sunnah, termasuk menuduh isteri Nabi Muhammad Saw adalah haram. Masalah ini mencakup seluruh nabi, khususnya penghulu para nabi, Muhammad Saw.”

Ayatollah Vahid Khorasani, Marji Syiah dalam masalah persatuan Islam menulis, “Siapa saja yang bersaksi akan keesaan Allah dan risalah Nabi Muhammad Saw adalah muslim. Jiwa, kehormatan dan hartanya terhormat sama seperti jiwa, kehormatan dan harta seseorang yang mengikuti mazhab Ja’fari. Kewajiban kalian adalah memperlakukan baik setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadah. Bila salah satu dari mereka sakit, maka kalian hendaknya pergi menjenguknya dan bila meninggal dunia, maka hadir dalam upacara berkabungnya. Bila ia membutuhkan sesuatu, maka hendaknya kalian menolongnya.

Kalian harus berserah diri dalam hukum-hukum Allah. Karena Allah dalam surat al-Maidah ayat 8 berfirman, “…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” Begitu juga dalam surat an-Nisa’ ayat 94 Allah Swt berfirman, “… Dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin”.” (IRIB Indonesia)

 

About admin

Check Also

Geopolitik Membedah Gerakan LGBT

Bila dianalogikan arus liberalisasi ini seperti arus besar yang sengaja di buka dari sebuah dam ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *