Tuesday , August 20 2019
Home / Relaksasi / Fakta / Mengemudi Bukanlah Aktivitas Remeh
Meremehkan mengemudi adalah jalan menuju kelalaian

Mengemudi Bukanlah Aktivitas Remeh

Rasa aman di ruang publik semakin menipis saja di Indonesia. Sembilan korban yang tewas dalam kecelakaan maut di Halte Tugu Tani, Jakarta Pusat (22 Januari 2012), membuka mata publik bahwa kelalaian dalam berkendara bukan hanya persoalan sepele. Hal ini semakin terbukti dengan terulangnya kecelakaan yang menyerupainya di Makassar, meski tanpa korban jiwa, enam hari kemudian. Dua kasus ini semata-mata pucuk dari gunung es kecerobohan pengemudi di jalanan yang tejadi hampir setiap hari tanpa liputan media.

Kini, ketika kita sedang berjalan kaki di atas trotoar, menunggu di halte bis, ataupun sedang mampir menikmati secangkir kopi di warung pinggir jalan, mestikah senantiasa merasa was-was mengamati setiap mobil yang lewat? Setiap mencoba menerka-nerka menembus ke balik kaca gelap mobil, dapatkah kita memastikan bahwa pengendaranya adalah orang yang tepat atau sebenarnya tidak layak untuk mengemudi? Realitasnya, tanpa adanya jaminan rasa aman, ruang publik tak ubahnya meja judi dengan nyawa sebagai taruhannya.

Sebagian dari pembaca ketika membaca ini mungkin berfikir, “Ah, selamat. Untung aku selalu naik kendaraan jadi tidak akan diseruduk.” Sebenarnya, kepada pembaca yang berfikir demikian, sambil mengingatkan tinggi angka kecelakaan bermotor setiap tahun, kita justru harus mengingatkan bahwa jaminan akan rasa aman itu sebenarnya berada di tangan mereka, atau kita bersama, selain di tangan pemerintah. Pemerintah memiliki andil struktural, namun namun tanggungjawab setiap individu dapat berdampak secara kolektif dalam membangun rasa aman.

Sebagai pengemudi kendaraan bermotor, tanpa disadari, seringkali dengan mudah menafikkan bahwa setiap kali menyalakan kendaraan, di kemudi kita tergenggam tanggungjawab besar yang dapat mengubah kendaraan kita menjadi alat transportasi yang berfaedah atau sekadar mesin jagal.

Sebagaimana menurut Erich Fromm, seorang psikoanalis, manusia itu cenderung melarikan diri dari  kebebasan atau tanggungjawab atas tindakannya sendiri. Manusia yang sadar bahwa ia adalah seorang pelaku dalam hidupnya senantiasa memiliki kesadaran akan dampak dari perbuatannya. Akan tetapi, sebaliknya, manusia justru melarikan diri dari realitas ini dengan menjadikan dunia eksternal sebagai penjelasan bagi perbuatannya.  Seterusnya, hal ini menyebabkan seseorang mengira jalan lalu lintas itu sekadar arena raksasa bermain petak umpet dengan polantas.

Bukan cuma itu, bahkan kepada para orang tua dan pemilik kendaraan bermotor, harus diingatkan agar lebih selektif dalam meminjamkan kendaraannya kepada orang lain dan jangan coba-coba membiarkan anak Anda mengemudi sebelum memiliki SIM. Sebagai pemilik kendaraan, tanggungjawab juga berada di tangan Anda. Ketika kendaraan yang Anda digunakan oleh orang lain dengan seizin Anda, padahal orang tersebut belum layak untuk menjadi pengemudi, Anda tidak bisa semata-mata berkelit dengan berkata, “yang penting kan bukan salah saya.”

Juga ingatlah, untuk selalu menjaga tingkat kesadaran agar tetap layak mengemudi. Bukan hanya apa saja yang kita konsumsi sebelum mengemui, entah itu alkohol atau narkoba, tapi juga soal apa yang kita lakukan ketika mengemudi. Masih banyak sekali orang yang meremehkan mengemudi sebagai aktivitas yang terlampau sederhana, yang bisa dilakukan sambil lalu dengan berbicara lewat HP atau mendengarkan musik lewat MP3 player. Itulah juga sebabnya gaji sopir tidak terlalu tinggi, karena dianggap sebagai pekejaan remeh. Demi kebaikan bersama, berhentilah menganggap enteng aktivitas mengemudi. Saat kalian mengemudi, benar-benarlah hadir di saat itu, benar-benar meletakkan seluruh diri kalian ke dalam apa yang sedang kalian lakukan. Mengemudilah dengan sepenuh hati, tanpa menjadi teralihkan perhatian dari hal-hal lainnya. Berhentilah melamun di jalan milik publik. Tunjukkan respek pada aktivitas mengemudi. Sebab mengemudi bisa menjadi soal keselamatan diri kita sendiri maupun orang lain.

Hal yang sama sebenarnya juga berlaku untuk pejalan kaki: kalau kita berjalan dengan hati-hati dan penuh kesadaran dengan ada yang sedang kita lakukan, banyak sekali kecelakaan yang bisa kita hindari: lubang di trotoar, mobil yang hampir menyerempet kita, bunyi klakson, suasana di sekitar kita. Tunjukkan respek kita pada aktivitas berjalan dan fasilitas yang dibangun dengan uang rakyat. Intinya adalah jangan menutup diri dengan mengabaikan situasi dan atmosfer di manapun kita berada atau suatu hari sebuah kendaran yang lepas kendali menyeruduk kita tatkala kita berjalan sambil melamun di atas trotoar.

Sayangnya kita seringkali adalah manusia terprogram yang terbiasa melakukan segala aktivitas kita dengan otomatis. Mengemudi dengan otomatis, berjalan dengan otomatis, menanti bus dengan otomatis, makan dengan otomatis, dan seterusnya. Hal inilah yang membuat kita merasa tidak lagi bertanggungjawab dengan apa yang sedang kita lakukan. Sebagian dari kita melanglang buana ke masa lalu dan masa depan, ketimbang hadir sepenuhnya dengan apa yang sedang kita lakukan. Itulah sebabnya semuanya yang kita lakukan tiba-tiba menjadi di luar kendali kita, tidak disadari, dan akhirnya saat kita tersadar segalanya sudah terlambat.

Jadi, jika kita menginginkan perubahan, menjadikan ruang publik menjadi lebih aman, pertama-tama yang mesti kita ubah adalah mindset kita. Ubahlah cara pandang kita tentang arti mengemudi kendaraan, berjalan kaki di trotoar, berdiri menanti bis. Berhentilah menjadikannya sebagai aktivitas otomatis dan sambil lalu: letakkan semua kesadaran yang penuh atas apa yang sedang kalian lakukan, lakukanlah dengan sepenuh hati dan penuh respek. Dengan demikianlah kita tidak melarikan diri lagi dari tanggungjawab yang memang tidak mungkin untuk dihindari. Selamat mengemudi, dan selamat berjalan kaki dengan penuh kesadaran!

by Tonny

About admin

Check Also

Membongkar Feodalisme “Calo” Agama: Percakapan Tasawuf Virtual hingga Kedaulatan Anak Milenial

Kini masuk titimangsa manakala kesalehan personal diamsalkan dan disimplifikasikan sebatas fesyen. Pakaian ditandakan sebagai ketakwaan ...