Friday , December 14 2018
Home / Downloads / Menelusuri Hati Melalui Kitab Minhajul Abidin al-Ghazaly

Menelusuri Hati Melalui Kitab Minhajul Abidin al-Ghazaly

Hati di Tiga Persimpangan

Sesungguhnya Hati yang merupakan Raja ini, berada pada 3 persimpangan; pengaruh jasad (syahwat), hawa nafsu, dan nafsul muthmainnah.

Seorang manusia, yang membiarkan hatinya berada dalam dominasi syahwat dan hawa nafsunya, maka akan menjadi orang yang tersesat. Yang lambat laun bisa tergelincir menjadi orang yang dimurkai Allah.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran”. (QS. 45: 23)

Hawa Nafsu itu melingkupi segala aspek. Tidak diperbolehkan kita mengikuti hawa nafsu, dalam BERAGAMA sekalipun.

Banyak para aktivis dakwah, demikian bersemangatnya dalam berdakwah kadang kala terlena, tidak menyadari kalau dalam mengatur strategi dakwah, telah ditunggangi oleh hawa nafsunya.

Banyak pula para alim-ulama, yang demikian bangga terhadap ilmu yang dipelajarinya, sehingga merasa pendapatnya adalah pendapat yang paling benar, dan selainnya (selain golongannya) adalah pendapat yang salah.

Tidak disadari bahwa hawa nafsu telah merasuk dalam kemurnian beragamanya. Kalaulah kita dapat keluar dari dominasi Hawa Nafsu dan Syahwat ini, maka Allah menjanjikan :

“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka : “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka)”. (QS. 4: 66)

Apakah dalam ayat diatas, maksud bunuh diri adalah mengambil pisau lalu menghujamkannya ke perut? Atau mengambil racun lalu meminumnya? Bukan!!!

Inilah kesalahan yang dapat terjadi bila kita tidak mengetahui arti yang sesungguhnya dari kata an-Nafs tersebut. Dalam ayat ini dalam Arabnya dipergunkan kata Anfus (Jamak dari an-Nafs).

Bila al-Qur’an menggunakan an-Nafs dalam bentuk jamak, ini sesungguhnya me-refer kepada Jiwa-jiwa yang banyak, yaitu hawa nafsu. Karena bentuk hawa nafsu itu banyak. Seperti marah, sombong, ria, ujub, ingin dihormati, dsb.

Namun bila an-Nafs ini dalam bentuk tunggal, maka sesungguhnya ia me-refer kepada Jiwa yang tunggal yaitu nafsul muthmainnah. Karena memang nafsul muthmainnah ini tunggal. Dan ini merupakan hakikat diri manusia.

Jadi, bunuhlah dirimu dalam ayat ini, sesungguhnya mempunyai maksud; “keluar dari dominasi hawa nafsu”. Keluar dari kampungmu dalam ayat ini, sesungguhnya mempunyai maksud; “keluar dari kampung si jiwa, yaitu jasad, atau keluar dari dominasi syahwat”.

Sehingga, bila seorang dapat keluar dari dominasi hawa nafsu dan syahwatnya, sesungguhnya Allah akan menguatkan iman mereka. Namun, sangat sedikit sekali yang mau melaksanakan ini. Hawa nafsu dan syahwat ini bukan dibunuh dan dihilangkan. Tetapi dikontrol oleh nafsul muthmainnah. Ada saatnya hawa nafsu dan syahwat dikeluarkan, dan saat lain kembali dikekang.

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”. (QS. 79: 40-41)”

Kesalahpahaman pengartian an-Nafs juga berimplikasi kepada penafsiran yang kadang kala kurang tepat pada ayat-ayat seperti dibawah :

“Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat”. (QS. 4: 95)

Banyak orang sering langsung mengarah kepada ayat-ayat sejenis di atas, berjihad dengan harta dan jiwa (an-Nafs) adalah merupakan perang fisik.

Apakah memang demikian? Apakah Islam harus selalu perang sementara Islam adalah sebuah agama yang damai?

Memang betul, dalam kondisi yang mewajibkan kita berperang, ayat ini merupakan perintah pula untuk berperang. Namun, dalam kondisi damai ada yang lebih berat dibandingkan dengan perang fisik, yaitu berjihad melawan syahwat dan hawa nafsu.

Setelah melakukan perang dan akan memasuki bulan Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat; “Kita kembali dari jihad kecil kepada perjuangan besar”. (Hadits riwayat Al Baihaqy dan Jabir, dalam hadits ini ada sanad yang lemah).

Terlepas dari ke-dhoif-an hadits di atas, logikanya seperti ini; Seorang manusia yang telah dapat melepaskan hatinya dari takut kehilangan harta, keluarga, jabatan, dsb., hanya seorang yang telah mampu melawan syahwat dan hawa nafsunya.

Kalaulah kita temukan orang yang seperti ini, niscaya dia tidak takut lagi mati. Niscaya dia tidak akan pernah mengelak dari perintah untuk berperang, bila kondisinya mewajibkannya untuk berperang.

Tetapi orang yang hatinya masih takut kehilangan harta, pekerjaan, keluarga, jabatan, dsb., ia akan takut mati. Peperangan adalah sebuah hal yang sangat berat baginya.

Artinya, dalam logika sederhana tersebut, akan tergambar, kalaupun hadits tersebut dhoif dari sanadnya, namun secara ilmiah hal itu dapat dibenarkan dan secara mathan, tidak ada ayat Al Qur’an yang bertentangan dengannya.

Dalam bahasan saya di atas, saya juga mencoba menunjukkan, bahwa tasawuf yang bagi sebagian orang diidentikkan sebagai pola pendekatan Islam yang mengabaikan perintah untuk berperang adalah kurang tepat. Berperang adalah suatu kewajiban apabila kondisinya mewajibkan untuk melakukannya. Namun bila masa damai bukan lantas mencari-cari supaya ada perang! Tetapi melakukan jihad yang lebih berat, yaitu melawan hawa nafsu dan syahwat.

Dan Allah menjanjikan bagi mereka yang mampu melawan Hawa Nafsu dan Syahwatnya ini dengan menguatkan iman dan surga sebagai tempat tinggalnya. Semoga kita termasuk kedalam golongan orang yang dikuatkan Allah untuk melawan dominasi syahwat dan hawa nafsu yang ada dalam diri kita.

Kajian lebih lengkap tentang hati beserta dinamikanya dapat dibaca dalam Kitab Minhajul Abidin yang ditulis oleh Hujjatul Islam Imam al-Ghazaly di bawah ini:

About admin

Check Also

Sifat-Sifat Para Nabi dan Posisi Rasulullah (7)

Fathanah Yang dimaksud dengan “kecerdasan” (al-fathanah) ialah: “mengungguli akal dengan akal.” Pada bagian terdahulu kami ...